Surabaya | Pemerintah Kota Surabaya menghentikan operasional rumah potong unggas (RPU) yang berada di kawasan permukiman Bratang Gede, Kelurahan Ngagelrejo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menerima keluhan warga mengenai aktivitas RPU, terutama kebisingan dan bau yang dirasakan di lingkungan sekitar. Penghentian operasional menjadi inti penanganan atas persoalan yang berkembang di kawasan tersebut, tempat kegiatan pemotongan unggas berlangsung berdekatan dengan rumah warga.
Keluhan yang menjadi latar pemberitaan ini berkaitan dengan keadaan sebelum RPU ditutup. Dengan demikian, suara bising dan bau yang disampaikan warga merujuk pada kondisi ketika tempat usaha itu masih beroperasi, bukan gambaran bahwa kegiatan tersebut tetap berlangsung setelah penghentian. Pembedaan waktu ini penting agar informasi mengenai dampak yang dikeluhkan tidak disalahartikan sebagai keadaan terkini di lokasi. Pemerintah kota menghentikan kegiatan RPU setelah menerima laporan warga, sementara rincian mengenai pengalaman mereka menggambarkan persoalan yang muncul selama operasional sebelumnya.
Lokasi RPU di tengah kawasan permukiman membuat kegiatan tersebut bersentuhan langsung dengan kenyamanan warga Bratang Gede. Kebisingan dan bau merupakan dua hal yang disebut dalam keluhan, dan keduanya menjadi alasan yang mendorong perhatian pemerintah terhadap keberadaan fasilitas itu. Setelah operasional dihentikan, persoalan tersebut menjadi sorotan dalam hubungan aktivitas usaha dan lingkungan tempat tinggal. Informasi yang tersedia menegaskan keputusan penutupan serta keluhan yang mendahuluinya, tanpa menyamakan kondisi sebelum dan sesudah penutupan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa laporan warga mengenai gangguan di lingkungan permukiman dapat menjadi perhatian pemerintah setempat. Dalam konteks ini, penghentian RPU di Ngagelrejo merupakan respons terhadap keluhan tentang dampak operasionalnya di sekitar rumah warga. Bagi pembaca, urutan peristiwa tersebut memberi konteks yang jelas: warga menyampaikan keluhan saat RPU beroperasi, lalu Pemerintah Kota Surabaya menghentikan kegiatan tempat pemotongan unggas itu. Karena itu, setiap penyebutan kebisingan dan bau dalam pemberitaan merujuk pada kondisi sebelum keputusan penghentian diberlakukan, bukan pada aktivitas RPU setelah penutupan.
Saski, warga Bratang Gede, menyampaikan bahwa aktivitas Rumah Potong Unggas (RPU) pada malam hari mengganggu waktu istirahatnya. Menurut pengalamannya, suara dari kegiatan di lokasi tersebut membuatnya kesulitan tidur. Gangguan itu juga dirasakan warga lain di sekitar RPU, sehingga persoalan kebisingan tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan satu orang, tetapi turut memengaruhi ketenangan lingkungan tempat tinggal mereka.
Sumber suara yang disebut Saski mencakup kendaraan pengangkut yang beraktivitas, suara ayam, mesin, serta keramaian para pekerja. Berbagai bunyi tersebut terdengar sebagai bagian dari kegiatan RPU pada malam hari dan mengusik suasana yang semestinya mendukung warga untuk beristirahat. Keterangan Saski menggambarkan dampak aktivitas operasional terhadap kehidupan sehari-hari warga, khususnya saat mereka membutuhkan suasana yang lebih tenang untuk tidur.
Pengalaman itu menjadi salah satu keluhan yang disampaikan warga setempat mengenai keberadaan RPU. Bagi Saski, gabungan suara kendaraan pengangkut, ayam, mesin, dan aktivitas para pekerja membuat istirahat terasa terganggu. Keluhan tersebut menunjukkan bahwa kebisingan dari kegiatan di sekitar permukiman dapat dirasakan langsung oleh warga yang tinggal berdekatan dengan lokasi. Ia menuturkan dampaknya pada dirinya dan warga lain tanpa merinci durasi maupun frekuensi gangguan. Karena itu, pokok keterangannya berpusat pada suara yang timbul dari kegiatan malam dan kesulitan tidur yang menyertainya. Dalam konteks keluhan warga Bratang Gede, pengalaman Saski memberi gambaran konkret tentang bagaimana suara operasional RPU masuk ke lingkungan hunian dan memengaruhi ketenangan malam. Penjelasan ini tetap mengacu pada hal-hal yang ia sebutkan, tanpa menambahkan ukuran kebisingan atau rincian lain yang tidak disampaikan. Dengan demikian, persoalan yang ia soroti adalah dampak nyata suara kegiatan terhadap istirahat, bukan penilaian teknis atas sumber suara tersebut. Keluhan warga ini menjadi bagian dari perhatian terhadap kenyamanan lingkungan di sekitar rumah potong unggas.
Saski menceritakan keluhan yang dirasakan keluarganya terkait keadaan di sekitar rumah mereka di Bratang Gede. Menurut pengalamannya, ibunya kerap mengeluhkan kotoran ayam yang berada di lingkungan sekitar rumah. Keluhan tersebut muncul karena kondisi itu dirasakan mengganggu kenyamanan sehari-hari. Saski juga menyebut adanya tembok yang retak di rumahnya, dan hal itu menjadi bagian dari kekhawatiran yang disampaikan keluarganya. Cerita tersebut menggambarkan pengalaman warga yang tinggal berdekatan dengan rumah potong unggas, bukan hasil pemeriksaan terpisah mengenai penyebab maupun kondisi bangunan. Bagi keluarga Saski, kotoran ayam dan tembok retak merupakan persoalan yang mereka rasakan langsung di lingkungan tempat tinggal.
Selain keluhan Saski dan ibunya, warga juga menyampaikan bahwa mereka menemukan kotoran ayam serta sampah berserakan di sekitar area tersebut. Keberadaan kotoran dan sampah itu, sebagaimana diceritakan warga, menimbulkan ketidaknyamanan dan membuat lingkungan terasa kurang terawat. Keluhan ini berangkat dari apa yang mereka lihat atau alami, sehingga perlu dibedakan dari temuan yang telah diverifikasi oleh pihak lain. Warga berharap persoalan kebersihan di sekitar rumah potong unggas mendapat perhatian, termasuk penanganan sisa kotoran dan sampah agar tidak terus mengganggu aktivitas di sekitar rumah. Bagi mereka, kebersihan lingkungan berkaitan langsung dengan kenyamanan tinggal dan keseharian keluarga.
Pengalaman yang disampaikan Saski memperlihatkan bahwa dampak yang dirasakan warga tidak hanya berkaitan dengan kegiatan rumah potong unggas, tetapi juga dengan keadaan lingkungan dekat rumah. Ibunya mengeluhkan kotoran ayam, sementara tembok retak menambah hal yang dikhawatirkan keluarga. Warga lain turut menyuarakan soal kotoran ayam dan sampah yang, menurut mereka, berserakan. Rangkaian keluhan tersebut menjadi bagian dari alasan keresahan warga Bratang Gede. Namun, keterangan itu sebaiknya dipahami sebagai kesaksian dan keluhan warga, bukan sebagai kesimpulan bahwa setiap kondisi telah diperiksa atau dipastikan penyebabnya. Penjelasan dari pihak terkait serta pemeriksaan lingkungan dapat membantu memberi gambaran lebih lengkap atas persoalan yang mereka sampaikan.
Saski menyampaikan rasa syukurnya setelah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi merespons aduan yang ia kirimkan melalui pesan di Instagram. Bagi Saski, tanggapan tersebut menunjukkan bahwa keluhan warga mengenai keberadaan Rumah Potong Unggas (RPU) di Bratang Gede mendapat perhatian dari pemerintah kota. Ia sebelumnya mengungkapkan kekhawatiran yang dirasakan keluarganya, terutama oleh sang ibu, serta warga yang tinggal di sekitar lokasi. Respons wali kota itu kemudian diikuti langkah pemerintah untuk menghentikan pengoperasian RPU tersebut. Keterangan Saski disampaikan dalam keterangan pers Pemerintah Kota Surabaya pada Minggu (25/10), tanpa keterangan tahun.
Penghentian operasional RPU menjadi tindak lanjut yang diharapkan dapat menjawab keresahan warga. Dalam keterangannya, Saski mengaitkan respons terhadap aduan dengan keputusan pemerintah untuk menghentikan kegiatan di tempat tersebut. Aduan melalui Instagram menjadi jalur yang ia gunakan untuk menyampaikan persoalan secara langsung kepada wali kota. Setelah menerima respons, pemerintah mengambil langkah terkait pengoperasian RPU. Informasi yang disampaikan Pemkot Surabaya menempatkan pengalaman Saski sebagai bagian dari keluhan warga Bratang Gede, sekaligus menjelaskan bahwa pengaduan tersebut mendapat perhatian. Bagi warga yang menyampaikan keresahan, adanya tanggapan dan tindak lanjut merupakan hal penting agar kekhawatiran mereka tidak diabaikan.
Saski berharap penghentian pengoperasian RPU dapat membawa ketenangan bagi keluarganya dan masyarakat di sekitar lokasi. Secara khusus, ia ingin ibunya dapat merasa lebih tenang setelah keluhan yang disampaikan mendapat respons. Ia juga berharap warga tidak lagi harus menghadapi kekhawatiran yang sebelumnya ia ungkapkan. Harapan tersebut menjadi penutup dari keterangan Saski mengenai aduannya kepada Wali Kota Surabaya dan tindak lanjut pemerintah kota.
Baca juga: Salah Paham Berujung Maut dalam Pengeroyokan Juru Parkir di Bandung | Selesai Perbaiki Atap, Satgas TMMD Ke-130 Lanjutkan Perbaikan Plafon Rumah Warga Yang Rusak | Satgas TMMD Ke-130 Kodim 1808/Mansel Kembali Cek Kondisi Rumah Warga di Kampung Yamboi



































