Jakarta | Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa penanganan gangguan penglihatan merupakan investasi penting untuk meningkatkan angka harapan hidup sehat atau health-adjusted life expectancy (HALE). Ukuran ini tidak hanya melihat berapa lama seseorang hidup, tetapi juga memperhitungkan lamanya seseorang dapat menjalani kehidupan tanpa kondisi kesehatan buruk atau disabilitas. Dengan demikian, peningkatan HALE berkaitan erat dengan upaya menjaga agar masyarakat tetap sehat dan mampu beraktivitas secara mandiri sepanjang hidupnya.
Gangguan penglihatan, termasuk katarak, tidak secara langsung memicu kematian. Namun, dampaknya terhadap kualitas hidup dapat sangat besar, terutama ketika kondisi tersebut tidak terdeteksi atau tidak ditangani dalam waktu yang tepat. Penglihatan yang menurun dapat menyulitkan seseorang membaca, mengenali lingkungan, bekerja, belajar, maupun melakukan kegiatan sehari-hari. Hambatan itu berpotensi mengurangi kemandirian dan partisipasi seseorang dalam kehidupan keluarga serta masyarakat. Karena itu, dampak gangguan mata tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan risiko kematian, tetapi juga berdasarkan pengaruhnya pada kemampuan seseorang menjalani hidup dengan sehat dan produktif.
Katarak merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang dapat menghambat berbagai aktivitas, khususnya pada kelompok usia lanjut. Ketika penglihatan semakin kabur, kegiatan sederhana seperti berjalan dengan aman, menyiapkan makanan, atau membaca informasi dapat menjadi lebih sulit. Kesulitan tersebut bisa menimbulkan ketergantungan kepada orang lain dan membatasi ruang gerak. Penanganan yang tepat, termasuk operasi katarak ketika direkomendasikan tenaga kesehatan, dapat membantu memulihkan fungsi penglihatan dan mendukung kemandirian pasien. Pemeriksaan mata secara berkala juga penting agar perubahan penglihatan dikenali lebih awal dan pilihan penanganannya dapat dibahas sebelum gangguan semakin membatasi aktivitas.
Perspektif HALE menempatkan kesehatan mata sebagai bagian dari kesehatan menyeluruh. Upaya memperluas akses pemeriksaan, deteksi dini, dan layanan operasi bukan semata-mata bertujuan menangani penyakit, melainkan menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang. Dengan penglihatan yang lebih baik, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk tetap beraktivitas, berinteraksi, dan menjalankan peran sosialnya. Oleh sebab itu, perhatian terhadap gangguan penglihatan perlu menjadi bagian penting dari layanan kesehatan dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kementerian Kesehatan menetapkan sasaran perluasan operasi katarak agar lebih banyak penderita dapat memperoleh penanganan yang dibutuhkan. Salah satu ukuran yang digunakan ialah cataract surgical rate (CSR), yaitu jumlah tindakan operasi katarak per satu juta penduduk dalam kurun satu tahun. Target yang ingin dicapai adalah CSR minimal 3.000 tindakan per satu juta penduduk per tahun. Sasaran ini menunjukkan kebutuhan untuk memperluas akses terhadap operasi, terutama bagi orang yang mengalami katarak dan berisiko kehilangan penglihatan apabila kondisinya tidak ditangani.
Selain jumlah tindakan, target juga mencakup jangkauan kepada penderita. Operasi diharapkan dapat menjangkau 80 persen orang dengan katarak tingkat sedang hingga berat. Dengan cakupan tersebut, upaya penanganan diarahkan kepada kelompok yang kondisi penglihatannya telah cukup terganggu dan memerlukan perhatian. Pencapaian target jangkauan menjadi penting agar kesempatan menjalani operasi tidak hanya tercermin dalam angka keseluruhan, tetapi juga dirasakan oleh sebagian besar penderita pada tingkat keparahan tersebut. Sasaran ini berhubungan dengan tujuan mengurangi risiko gangguan penglihatan yang semakin berat dan kebutaan akibat katarak.
Keberhasilan penanganan juga dinilai dari hasil setelah operasi. Sedikitnya 80 persen pasien pascaoperasi diharapkan memperoleh pemulihan tajam penglihatan yang baik. Ukuran ini menegaskan bahwa perluasan layanan perlu disertai perhatian pada hasil penglihatan pasien, bukan semata-mata pada banyaknya tindakan yang dilakukan. Pemulihan yang baik dapat membantu pasien menjalani kegiatan sehari-hari dengan penglihatan yang lebih memadai, sehingga mendukung kualitas hidup mereka. Ketiga sasaran—CSR minimal 3.000 tindakan per satu juta penduduk dalam setahun, jangkauan operasi bagi 80 persen penderita katarak sedang hingga berat, serta hasil pemulihan tajam penglihatan yang baik pada sedikitnya 80 persen pasien—menggambarkan arah upaya Kementerian Kesehatan. Dengan memenuhi sasaran tersebut, penanganan katarak diharapkan dapat menekan risiko kebutaan dan memberikan manfaat nyata bagi penglihatan serta kehidupan pasien.
Pemerintah menyatakan komitmennya untuk bekerja bersama Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dalam memperluas layanan operasi katarak dan mengurai antrean pasien. Upaya tersebut juga mencakup percepatan pemerataan dokter spesialis mata, termasuk agar layanan dapat menjangkau masyarakat di wilayah terpencil. Komitmen ini menempatkan ketersediaan layanan dan tenaga ahli sebagai bagian penting dari upaya menangani gangguan penglihatan.
Pernyataan Dante disampaikan dalam peringatan World Sight Day 2026 yang diselenggarakan Perdami di Jakarta pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti perlunya kerja bersama pemerintah dan organisasi profesi untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap operasi katarak. Antrean yang panjang dapat menjadi hambatan bagi pasien untuk memperoleh penanganan, sementara keterbatasan sebaran dokter spesialis membuat akses layanan belum merata di semua daerah.
Perluasan operasi katarak dan pemerataan dokter mata saling berkaitan. Bertambahnya jangkauan layanan perlu ditopang tenaga spesialis yang tersedia, sedangkan distribusi dokter yang lebih merata dapat membantu masyarakat di luar pusat-pusat layanan memperoleh akses yang lebih baik. Karena itu, kolaborasi pemerintah dengan Perdami menjadi penting dalam mendorong agar penanganan katarak tidak hanya terpusat di wilayah tertentu.
Perhatian terhadap daerah terpencil juga mencerminkan tantangan geografis dalam pemerataan layanan kesehatan mata. Warga yang tinggal jauh dari fasilitas atau tenaga spesialis dapat menghadapi kesulitan untuk mengakses pemeriksaan dan operasi. Komitmen yang disampaikan Dante menggarisbawahi pentingnya memperluas jangkauan penanganan sekaligus mengurangi hambatan yang berkaitan dengan antrean dan ketersediaan dokter.
Pernyataan tersebut menegaskan arah kerja sama yang hendak didorong, bukan rincian mengenai tahapan atau target pelaksanaan tertentu. Pemerintah dan Perdami sama-sama disebut sebagai pihak yang berkomitmen mendukung upaya ini. Dengan perhatian pada antrean operasi serta persebaran spesialis, pembahasan layanan katarak dikaitkan dengan kebutuhan untuk menghadirkan akses kesehatan mata yang lebih merata bagi masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
Perluasan penanganan gangguan mata tidak hanya berkaitan dengan operasi katarak, tetapi juga dapat mencakup layanan medis tingkat dasar. Salah satu pemeriksaan yang dapat dimanfaatkan pada tingkat tersebut adalah funduskopi, atau oftalmoskopi. Pemeriksaan ini memungkinkan tenaga medis melihat bagian dalam mata, termasuk retina dan pembuluh darahnya. Dengan memeriksa struktur tersebut, tenaga medis dapat mencari tanda awal kelainan mata berat yang mungkin memerlukan perhatian lebih lanjut. Langkah ini menempatkan deteksi dini sebagai bagian dari penanganan, bukan hanya tindakan ketika gangguan telah menghambat penglihatan.
Dante menyampaikan bahwa pemeriksaan funduskopi oleh dokter umum dapat membantu menemukan lebih banyak kelainan mata. Pemanfaatan pemeriksaan ini di layanan dasar memberi dokter kesempatan untuk melihat kondisi bagian dalam mata saat menilai pasien. Pemeriksaan tersebut bukan pengganti penilaian atau penanganan oleh dokter mata, tetapi dapat menjadi cara untuk mengenali kemungkinan adanya masalah. Apabila ditemukan indikasi kelainan, pasien dapat diarahkan untuk menjalani pemeriksaan atau penanganan lanjutan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, dokter umum berperan dalam mengenali tanda yang perlu diperhatikan sejak awal.
Pemeriksaan funduskopi juga dapat dimanfaatkan oleh dokter endokrin untuk meningkatkan deteksi dini retinopati diabetik. Kondisi ini merupakan kerusakan pada pembuluh darah retina akibat komplikasi diabetes. Karena retina berada di bagian dalam mata, pemeriksaan fundus dapat membantu dokter melihatnya secara langsung dan menilai adanya tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Baca juga: Delapan Orang Diamankan dalam Operasi Narkoba di Kampung Berlan | Gangguan KRL Jakarta–Bogor Usai Percikan Api, Penumpang Dialihkan | Hari Pertama Operasi Patuh Jaya: 103.779 Kendaraan Terekam ETLE



































