Kepercayaan pada Sains Menurun, Bagaimana Posisi Indonesia dalam Survei Global?

oleh -81 Dilihat
oleh
Kepercayaan pada Sains Menurun, Bagaimana Posisi Indonesia dalam Survei Global?

Jakarta | Temuan Wellcome Global Monitor 2026 menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sains mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, sebanyak 80% responden di seluruh dunia mengaku percaya terhadap sains. Dalam survei 2025, proporsi tersebut tercatat sebesar 72%. Dengan demikian, angka terbaru lebih rendah delapan poin persentase dibandingkan hasil survei lima tahun sebelumnya.

Perbandingan dengan survei pertama pada 2018 memberikan gambaran tambahan mengenai perubahan ini. Ketika survei tersebut dilakukan, 77% responden menyatakan percaya terhadap sains. Angka pada 2025 juga berada lima poin persentase di bawah tingkat yang tercatat pada 2018. Data ini memperlihatkan bahwa persentase orang yang mengaku percaya tidak bergerak dalam satu arah yang sama sepanjang periode pengukuran: angkanya sempat meningkat dari 2018 ke 2020, lalu menurun pada 2025.

Perubahan juga terlihat pada kelompok yang menyatakan tingkat kepercayaan lebih rendah. Pada 2025, sebanyak 19% responden mengatakan bahwa mereka tidak terlalu percaya atau sama sekali tidak percaya terhadap sains. Porsi ini lebih besar dibandingkan angka 13% yang tercatat pada 2018 maupun 2020. Selisih tersebut menunjukkan peningkatan enam poin persentase dalam kelompok yang menyampaikan keraguan atau ketidakpercayaan, jika dibandingkan dengan kedua survei sebelumnya.

Angka-angka itu menggambarkan sikap publik terhadap sains sebagaimana dinyatakan oleh para responden dalam survei. Persentase kepercayaan yang lebih rendah dan porsi ketidakpercayaan yang lebih tinggi menjadi bagian penting dari hasil pengukuran terbaru, tetapi data tersebut perlu dibaca sesuai cakupannya. Perubahan angka saja tidak menjelaskan mengapa sikap masyarakat bergeser. Karena itu, temuan ini tidak dengan sendirinya membuktikan penyebab tertentu, ataupun menunjukkan bahwa semua kelompok masyarakat mengalami perubahan yang sama. Kesimpulan yang dapat diambil dari perbandingan tersebut terbatas pada perubahan proporsi jawaban yang dilaporkan 2018, 2020, dan 2025. Hasil global ini juga menjadi konteks untuk memahami posisi Indonesia dalam pembahasan yang lebih luas tentang kepercayaan terhadap sains.

Survei mengenai kepercayaan publik terhadap sains ini dilakukan pada 2025 sebagai bagian dari Gallup World Poll, sebuah program penelitian lintas negara. Pengumpulan data mencakup lebih dari 140.000 responden di 140 negara, sehingga hasilnya memungkinkan gambaran yang luas tentang pandangan masyarakat di berbagai wilayah. Cakupan geografis tersebut juga memberi konteks untuk membandingkan tingkat kepercayaan di Indonesia dengan temuan dari negara lain, selama perbedaan metode dan situasi nasional tetap diperhatikan.

Di setiap negara, sampel dirancang agar mewakili populasi nasional, bukan hanya kelompok tertentu yang mudah dijangkau. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka, telepon, maupun daring. Metode yang digunakan dapat berbeda sesuai kondisi dan infrastruktur di masing-masing negara, tetapi tujuannya adalah menjaring pandangan responden secara sistematis. Seperti survei berskala besar lainnya, hasil tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan desain sampel, cara pertanyaan diajukan, serta kemungkinan variasi dalam pelaksanaan di negara. Angka survei menggambarkan jawaban responden, bukan ukuran langsung atas pengetahuan ilmiah atau mutu pendidikan sains setiap individu.

Analisis juga mempertimbangkan sejumlah indikator sosial-ekonomi untuk menelaah faktor yang berkaitan dengan kepercayaan publik. Aspek yang diperhitungkan meliputi pendidikan, pendapatan, pekerjaan, kesejahteraan, dan ketimpangan. Dengan melihat karakteristik tersebut, peneliti dapat menguji apakah pola kepercayaan berbeda di kelompok masyarakat dan bagaimana kondisi sosial-ekonomi mungkin berkaitan dengan penilaian terhadap sains. Hubungan yang ditemukan tidak dengan sendirinya membuktikan sebab-akibat; hasilnya lebih tepat dipahami sebagai pola keterkaitan dalam data survei. Perlu pula dicatat bahwa laporan tidak menyajikan daftar negara paling tidak percaya pada sains secara langsung. Perbandingan peringkat yang dibahas dalam bahan sumber mengacu pada proporsi responden yang menyatakan sangat percaya terhadap sains. Karena itu, posisi suatu negara berdasarkan ukuran tersebut tidak otomatis menunjukkan proporsi warga yang tidak percaya, dan kategori jawaban lain juga perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan.

Dalam survei global mengenai kepercayaan terhadap sains, Indonesia menempati urutan ke-89 dari 140 negara berdasarkan tingkat kepercayaan tinggi yang dilaporkan responden. Posisi ini menempatkan Indonesia di bagian tengah bawah daftar, tetapi angka peringkat perlu dibaca sesuai ukuran yang digunakan. Survei tersebut tidak sekadar menghitung orang yang menganggap sains bermanfaat atau percaya pada temuan ilmiah secara umum. Ukuran yang dimaksud secara khusus merujuk pada responden yang menyatakan sangat percaya terhadap sains. Karena itu, peringkat ini menggambarkan proporsi sikap dengan tingkat keyakinan tertinggi, bukan keseluruhan penerimaan publik terhadap ilmu pengetahuan.

Perbandingan dengan sejumlah negara Asia Tenggara memperlihatkan variasi yang cukup lebar. Filipina mencatat 37,6 persen responden dalam kategori sangat percaya, sedangkan Singapura berada pada 32 persen dan Vietnam pada 31,7 persen. Ketiganya berada di atas Indonesia dalam indikator tersebut. Di sisi lain, Malaysia mencatat 18,7 persen, Kamboja 18,4 persen, dan Thailand 13,2 persen, sehingga ketiganya berada di bawah Indonesia. Angka-angka ini memberikan konteks regional bagi posisi Indonesia, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab perbedaan antarnegara. Perbedaan hasil dapat berkaitan dengan banyak faktor, dan diperlukan data tambahan untuk menilai faktor-faktor tersebut.

Penting untuk tidak menafsirkan persentase di atas sebagai jumlah seluruh masyarakat yang percaya pada sains. Sebagai contoh, angka 37,6 persen untuk Filipina bukan berarti hanya sebesar itu bagian masyarakat Filipina yang memiliki kepercayaan apa pun terhadap ilmu pengetahuan; angka tersebut menunjukkan bagian responden yang menyatakan sangat percaya. Responden yang memilih tingkat kepercayaan lain tidak tercakup dalam persentase kategori tertinggi itu. Demikian pula, posisi Indonesia di urutan ke-89 tidak berarti masyarakat Indonesia secara keseluruhan menolak sains. Peringkat tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran perbandingan proporsi responden dengan keyakinan sangat tinggi, sesuai definisi dan metode survei yang dipakai.

Pola peringkat dalam survei menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap sains tidak selalu mengikuti ukuran kemajuan ekonomi atau kekuatan industri riset sebuah negara. Spanyol menempati posisi teratas, dengan 67,9% responden menyatakan kepercayaan pada sains. Finlandia berada di urutan berikutnya dengan 65,9%, disusul Uzbekistan sebesar 63,8% dan Tajikistan sebesar 60,7%. Angka-angka tersebut memperlihatkan variasi yang cukup lebar antarnegara, sekaligus menantang anggapan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat otomatis lebih tinggi di negara dengan fasilitas penelitian paling maju. Peringkat ini menggambarkan respons publik dalam survei, bukan penilaian langsung atas mutu riset nasional atau kemampuan ilmiah penduduknya.

Yang menarik, Uzbekistan dan Tajikistan mencatat tingkat kepercayaan lebih tinggi daripada sejumlah negara yang dikenal memiliki industri penelitian dan teknologi lebih maju. Amerika Serikat memperoleh 52,5%, Inggris 51,2%, sedangkan Prancis mencatat 50,2%. Selisih ini mengingatkan bahwa kapasitas teknologi, investasi riset, dan penerimaan publik terhadap sains merupakan hal yang berkaitan, tetapi tidak dapat dianggap sama. Negara dengan laboratorium, universitas, dan perusahaan teknologi besar belum tentu memiliki skor kepercayaan tertinggi. Pada saat yang sama, hasil survei tidak berarti bahwa masyarakat di negara berperingkat tinggi lebih memahami semua persoalan ilmiah. Persentase tersebut terutama menunjukkan tingkat kepercayaan yang dilaporkan responden dalam konteks pertanyaan dan metode survei yang digunakan.

Sejumlah negara Eropa tetap menonjol dalam daftar: Finlandia, Jerman, dan Swedia termasuk dalam 10 besar. Namun, susunan ini tidak membentuk pola sederhana kemakmuran nasional dan kepercayaan.

Baca juga: Media di Persimpangan AI, Kreator Konten, dan Kepercayaan Publik