Jakarta | Silaturahmi Presiden Pemuda Masjid Dunia, Said Aldi Al Idrus, dengan jajaran pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI berlangsung di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas peluang sinergi program sosial dan pemberdayaan masyarakat. Kedua pihak dapat bertukar pandangan mengenai kebutuhan warga, potensi jaringan masjid, serta cara mengembangkan kegiatan yang menjangkau kelompok rentan secara lebih terarah.
Dalam pertemuan itu, Said Aldi Al Idrus hadir bersama Sekretaris Jenderal Bustomi Mukhtar, Bendahara Umum Ali Kamal Smith, dan Wakil Presiden Alwi Muhdar. Sejumlah pengurus Pemuda Masjid Dunia turut serta, yakni Sedek Bahta, Diesty, Marlini, Faradina, Liana Piliang, dan Shanaz. Kehadiran para pengurus mencerminkan keterlibatan organisasi dalam membangun komunikasi dan menjajaki kerja sama yang dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Pemuda Masjid Dunia menyampaikan apresiasi terhadap program-program Baznas yang dinilai konsisten menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Apresiasi tersebut juga ditujukan pada upaya Baznas memperkuat peran masjid, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi. Dengan dukungan program yang tepat, masjid dapat menjadi ruang yang dekat dengan kebutuhan warga sekaligus membantu menghubungkan penerima manfaat dengan layanan dan kesempatan yang tersedia.
Pembahasan sinergi membuka kemungkinan bagi kedua lembaga untuk mengidentifikasi bidang kolaborasi, menyelaraskan sumber daya, dan merancang kegiatan sesuai kondisi masyarakat setempat. Jaringan pemuda masjid berpotensi mendukung komunikasi langsung dengan warga, sementara pengalaman Baznas dalam pengelolaan program sosial dapat menjadi landasan untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan. Kerja sama semacam ini memerlukan perencanaan yang jelas, pembagian peran, serta pemantauan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan tepat sasaran.
Silaturahmi tersebut menjadi langkah awal untuk menjaga komunikasi Pemuda Masjid Dunia dan Baznas RI. Pertukaran gagasan dalam pertemuan di Jakarta diharapkan dapat berkembang menjadi kolaborasi nyata yang mendukung pemberdayaan, memperluas manfaat program, dan memperkuat kontribusi masjid bagi warga yang membutuhkan.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menekankan pentingnya membangun kemitraan untuk memperluas jangkauan program sosial. Menurutnya, upaya membantu warga rentan dan keluarga kurang mampu membutuhkan kerja bersama berbagai pihak, termasuk lembaga zakat, pengurus masjid, komunitas pemuda, serta unsur masyarakat lainnya. Kemitraan memungkinkan sumber daya, pengetahuan, dan jaringan yang dimiliki setiap pihak saling melengkapi. Dengan koordinasi yang baik, program dapat dirancang agar lebih sesuai dengan kebutuhan warga dan memberi dampak langsung bagi mereka yang memerlukan dukungan.
Dalam pandangan tersebut, masjid memiliki potensi yang melampaui fungsinya sebagai tempat ibadah. Masjid dapat menjadi ruang pelayanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari umat, sekaligus tempat masyarakat memperoleh informasi, dukungan, dan akses terhadap berbagai kegiatan pemberdayaan. Peran ini dapat diwujudkan melalui program yang menjawab kebutuhan setempat, misalnya pendampingan sosial dan kegiatan peningkatan kapasitas. Pelaksanaannya tetap memerlukan perencanaan, tata kelola, serta kerja sama agar bantuan tersalurkan secara tepat dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran.
Harapan agar masjid menjalankan peran sosial bukan berarti mengurangi kedudukannya sebagai pusat ibadah. Sebaliknya, pelayanan dan pemberdayaan dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan keagamaan. Dengan membuka ruang bagi kegiatan kemasyarakatan, masjid dapat memperkuat kepedulian, kebersamaan, dan partisipasi umat. Pendekatan ini juga membantu menghubungkan warga yang membutuhkan dengan pihak yang dapat memberikan dukungan. Karena itu, kemitraan yang terarah penting untuk memastikan kegiatan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi berkembang menjadi program yang relevan dan berkelanjutan.
Sodik Mudjahid juga melihat Pemuda Masjid Dunia sebagai salah satu pihak yang dapat terlibat dalam agenda penguatan program tersebut. Keterlibatan pemuda dapat mendukung pelaksanaan kegiatan, memperluas jejaring, serta mendorong partisipasi masyarakat di lingkungan masjid. Peran itu dapat dikembangkan bersama Baznas dan mitra lain sesuai kebutuhan serta kapasitas masing-masing. Melalui kolaborasi, masjid berpeluang menjadi simpul pelayanan dan pemberdayaan umat yang lebih tanggap terhadap kondisi warga rentan, sekaligus menjaga agar program sosial berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat kurang mampu.
Menurut Said Aldi Al Idrus, sejumlah inisiatif sosial telah berjalan dan memiliki peluang untuk disinergikan lebih lanjut dengan Baznas RI. Ragam kegiatan tersebut menyasar kebutuhan dasar warga rentan, dukungan bagi kelompok pekerja tertentu, serta bantuan kemanusiaan lintas negara. Penyebutan program-program ini menggambarkan cakupan inisiatif yang dapat dibahas untuk memperkuat jangkauan dan dampaknya, bukan berarti seluruhnya telah menjadi kerja sama resmi dengan Baznas.
Cakupan bantuan yang disebutkan meliputi:
1. Penerangan melalui Rumah Terang, yakni upaya membantu warga memperoleh akses penerangan yang lebih memadai. Inisiatif ini dapat mendukung aktivitas keluarga pada malam hari dan meningkatkan kenyamanan lingkungan tempat tinggal.
2. Akses air bersih, untuk membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan sumber air layak. Ketersediaan air bersih berhubungan langsung dengan kebutuhan sehari-hari, kebersihan, dan kesehatan keluarga.
3. Sembako bagi fakir miskin, sebagai dukungan pemenuhan kebutuhan pangan pokok. Bantuan semacam ini dapat membantu meringankan pengeluaran rumah tangga yang menghadapi tekanan ekonomi.
4. Perlindungan bagi pekerja rentan, dengan perhatian pada kelompok yang penghasilannya tidak menentu atau memiliki keterbatasan perlindungan sosial. Bentuk dukungan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi penerima.
5. Bantuan bagi pengemudi pembersih masjid, kelompok pekerja yang berperan menjaga kebersihan rumah ibadah. Dukungan ini menunjukkan perhatian terhadap mereka yang menjalankan pekerjaan penting, tetapi kerap luput dari perhatian.
6. Misi kemanusiaan untuk Palestina dan sejumlah wilayah di Asia Tenggara, termasuk Kamboja, Thailand Selatan, dan Vietnam. Bantuan lintas negara tersebut mencerminkan cakupan kepedulian yang melampaui lingkungan lokal.
Ragam program tersebut dapat menjadi bahan penjajakan sinergi, dengan pemetaan kebutuhan, sasaran, dan mekanisme penyaluran yang jelas. Melalui koordinasi yang terukur, inisiatif yang telah berjalan berpotensi menjangkau lebih banyak warga dan kelompok yang membutuhkan, sembari memastikan peran setiap pihak serta status kemitraan disampaikan secara tepat.
Usulan Masjid Peduli Kemiskinan menempatkan masjid sebagai pusat koordinasi bantuan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Peran ini dapat mempertemukan pemuda masjid, pengurus, Baznas, relawan, dan warga dalam upaya yang terarah serta berkelanjutan. Dengan memanfaatkan kedekatan masjid dengan lingkungan, kebutuhan keluarga rentan dapat dikenali lebih cepat, sementara bantuan disalurkan secara tertib dan sesuai kondisi penerima. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan dan solidaritas sosial.
Salah satu komponennya adalah pembentukan food bank atau bank pangan. Masjid dapat mengoordinasikan pengumpulan bahan makanan layak konsumsi dari donatur, pelaku usaha, dan warga, kemudian menyimpannya serta menyalurkannya kepada keluarga yang membutuhkan. Pengelolaan perlu memiliki pencatatan persediaan, jadwal distribusi, dan mekanisme pemeriksaan agar bantuan aman, tepat guna, serta tidak terbuang. Keterlibatan pemuda dapat mendukung pengemasan, pendataan, dan pengantaran, khususnya bagi warga yang kesulitan datang ke masjid.
Penyaluran kebutuhan pokok sebaiknya didasarkan pada pendataan penerima manfaat, bukan semata-mata pembagian umum. Pendataan yang dilakukan dengan menjaga privasi dapat memuat kondisi keluarga, jumlah tanggungan, sumber penghasilan, dan kebutuhan mendesak. Informasi tersebut membantu menentukan bentuk maupun frekuensi dukungan secara adil, sekaligus mengurangi risiko bantuan berulang kepada pihak yang sama sementara keluarga lain terlewat. Data perlu diperbarui berkala melalui komunikasi dengan warga dan koordinasi bersama lembaga terkait.
Program ini juga perlu mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan masjid, misalnya melalui pelatihan keterampilan, pendampingan usaha kecil, akses jejaring pemasaran, atau kelompok usaha warga.
Baca juga: Danantara Dorong Investasi Teknologi dan Kolaborasi untuk Industri Nasional | Kolaborasi Spesialis dan Teknologi untuk Memperkuat Penanganan Saraf di Indonesia | Kolaborasi Swasta Dorong Pembenahan Sejumlah Kawasan Jakarta



































