Korban Jiwa Karhutla Bertambah, Enam Orang Meninggal di Kawasan Bromo

oleh -367 Dilihat
oleh
Korban Jiwa Kebakaran Bromo Bertambah, Munawi Meninggal Setelah Dirawat

Kabupaten Probolinggo. Kepergian Suraji | Suraji, petugas sekuriti DW Artotel PT Mitra Indo Permai, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat luka yang dialaminya saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Ia menjadi korban terakhir dalam rangkaian kebakaran tersebut. Kabar duka ini menambah jumlah korban jiwa dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan bahwa Suraji meninggal pada Jumat, 23 Oktober, sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelum meninggal, ia sempat mendapatkan perawatan intensif. Suraji mengalami luka ketika ikut membantu upaya pemadaman api di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo.

Peristiwa yang menimpa Suraji menunjukkan bahwa risiko kebakaran tidak hanya berdampak pada kawasan alam, tetapi juga mengancam keselamatan orang-orang yang berada di lokasi dan terlibat dalam penanganan. Petugas yang berupaya menghadang penyebaran api dapat menghadapi kondisi berbahaya, terutama ketika kebakaran berlangsung di area terbuka dan sulit dijangkau. Dalam kejadian ini, Suraji terluka saat ikut memadamkan api, lalu harus menjalani penanganan medis intensif sebelum akhirnya meninggal.

Kepergian Suraji menjadi bagian dari kabar duka yang menyertai rangkaian kebakaran di TNBTS. Informasi mengenai waktu meninggal dan lokasi tempat ia mengalami luka disampaikan oleh Kepala BB TNBTS. Peristiwa tersebut berlangsung di kawasan Cemorolawang, salah satu wilayah dalam pengelolaan taman nasional di Kabupaten Probolinggo. Upaya pemadaman di Resort Tengger Laut Pasir melibatkan orang-orang yang berusaha mengendalikan api, termasuk Suraji.

Dengan meninggalnya Suraji, perhatian kembali tertuju pada keselamatan petugas dan pihak lain yang membantu menangani kebakaran di kawasan Bromo. Penanganan api perlu disertai perlindungan memadai bagi mereka yang berada di lapangan. Namun, dalam kejadian ini, Suraji tidak dapat diselamatkan meski telah menjalani perawatan intensif. Kepergiannya menambah daftar korban jiwa akibat kebakaran di TNBTS dan meninggalkan duka bagi keluarga, rekan kerja, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan peristiwa tersebut.

Meninggalnya Suraji menambah jumlah korban jiwa dalam kebakaran yang melanda kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak 15 Oktober. Dengan wafatnya Suraji, total orang yang meninggal akibat peristiwa tersebut menjadi enam orang. Sebelum kabar kematian Suraji, lima orang telah lebih dahulu tewas ketika berupaya memadamkan api di titik Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo. Peristiwa itu menimpa orang-orang dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda, mulai dari petugas konservasi hingga pekerja hotel dan anggota kelompok masyarakat yang membantu pengamanan hutan.

Dua korban yang merupakan petugas Balai Besar TNBTS (BB TNBTS) adalah Sukaris, berusia 55 tahun, dan Hendra Rony Wagiyanata, berusia 33 tahun. Keduanya tercatat berada di lokasi saat upaya memadamkan api berlangsung. Selain petugas tersebut, Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19), yang bekerja sebagai karyawan hotel di sekitar lokasi, juga meninggal dunia. Kehadiran mereka dalam daftar korban menggambarkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya dirasakan oleh personel yang bertugas mengelola kawasan konservasi, tetapi juga oleh pekerja yang beraktivitas di sekitar area terdampak.

Korban kelima yang lebih dahulu meninggal adalah Munawi, berusia 44 tahun. Ia merupakan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), kelompok masyarakat yang bermitra dengan polisi kehutanan. Munawi turut berada dalam upaya penanganan kebakaran di Pusung Lingker bersama para korban lainnya. Lima nama tersebut—Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, Wisnu Yuda Pratama, Sefriel Ardiansyah, dan Munawi—menjadi korban sebelum Suraji, yang kematiannya membuat jumlah korban meninggal mencapai enam orang. Rangkaian korban jiwa ini menegaskan besarnya risiko yang dihadapi mereka yang terlibat dalam penanganan api di kawasan Bromo. Informasi mengenai jumlah korban dan identitas mereka juga menunjukkan bahwa insiden tersebut melibatkan berbagai unsur di sekitar kawasan, bukan hanya petugas taman nasional. Hingga Suraji meninggal, total korban jiwa dalam kebakaran konservasi Bromo sejak 15 Oktober tercatat enam orang.

Di luar peristiwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo, korban jiwa juga dilaporkan dalam insiden kebakaran di Samarinda, Kalimantan Timur. Kedua kejadian tersebut berlangsung di lokasi dan dalam konteks yang berbeda, sehingga tidak dapat dipandang sebagai satu rangkaian peristiwa. Di Samarinda, seorang warga berinisial LJ, berusia 60 tahun, meninggal setelah terbakar saat api melalap kawasan perkebunan di Jalan Anggur, Kelurahan Sidodadi, pada 13 Oktober.

Sebelum kejadian berujung fatal, LJ bersama warga di sekitar lokasi berupaya memadamkan api secara mandiri. Upaya tersebut dilakukan agar kobaran tidak meluas dan merambat ke permukiman. Warga menghadapi situasi yang berisiko ketika api bergerak di area perkebunan, sementara mereka berusaha membatasi dampaknya sebelum menjangkau rumah-rumah di sekitar lokasi. Dalam proses itu, LJ mengalami luka bakar dan terpapar hawa panas.

Kapolsek Samarinda Ulu, AKP Asriadi Jafar, menyampaikan bahwa pemeriksaan awal tim medis mengonfirmasi korban meninggal dunia akibat luka bakar serius dan paparan hawa panas. Keterangan tersebut menjelaskan penyebab kematian berdasarkan pemeriksaan awal, tanpa mengubah fakta bahwa insiden di Sidodadi merupakan kejadian tersendiri dari kebakaran di Bromo. Rincian mengenai keadaan korban dan penanganan medis menjadi bagian penting dalam memahami dampak langsung kebakaran terhadap warga yang berada di sekitar titik api.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebakaran di lahan yang berdekatan dengan permukiman dapat menimbulkan bahaya bagi warga, terutama ketika mereka berusaha menanggulangi api tanpa perlindungan maupun dukungan memadai. Niat mencegah kobaran mencapai rumah tidak menghilangkan risiko paparan panas dan luka bakar. Karena itu, keselamatan warga perlu menjadi pertimbangan utama dalam menghadapi kebakaran: menghindari area berbahaya, segera menjauh ketika api membesar, dan menghubungi petugas agar penanganan dapat dilakukan dengan peralatan serta prosedur yang sesuai. Catatan tentang kejadian Samarinda memperluas gambaran dampak kebakaran di berbagai wilayah, namun tetap harus dibedakan secara jelas dari laporan korban di kawasan Bromo.

Selain korban jiwa yang dilaporkan di kawasan Bromo, kejadian kebakaran hutan dan lahan di daerah lain juga merenggut nyawa orang yang terlibat dalam penanganan api. Di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Akhmad Rizani, berusia 53 tahun, meninggal dunia pada 27 Agustus. Ia merupakan Ketua Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK) Jekan Raya dan ikut memadamkan kebakaran lahan di Jalan Rungan, kawasan belakang kantor Kecamatan Jekan Raya.

Informasi mengenai peristiwa tersebut menyebutkan bahwa Rizani ditemukan dalam keadaan duduk meringkuk dan kesakitan setelah ikut dalam upaya pemadaman. Keterangan yang tersedia tidak memuat rincian lebih lanjut mengenai kondisi yang dialaminya maupun penyebab kematiannya. Karena itu, kejadian ini dapat dicatat sebagai laporan meninggalnya seorang relawan setelah terlibat dalam pemadaman kebakaran lahan, tanpa menyimpulkan hal lain yang tidak disebutkan.

Peristiwa di Palangka Raya memperluas perhatian pada dampak karhutla di luar kawasan Bromo. Mereka yang berada di lokasi kebakaran, termasuk anggota tim pemadam, ikut menghadapi situasi saat api perlu ditangani. Namun, setiap laporan memiliki informasi yang terbatas dan perlu disampaikan sesuai keterangan yang tersedia. Dalam kasus Rizani, informasi utama mencakup identitas dan perannya, tanggal meninggal, lokasi kebakaran yang ditangani, serta keadaan saat ia ditemukan. Tidak ada rincian tambahan yang dapat dipastikan dari keterangan tersebut.

Dampak kabut asap juga dilaporkan mengenai anak-anak. Setidaknya tiga anak di Kalimantan dilaporkan meninggal akibat kabut asap.

Baca juga: Korban Jiwa Kebakaran di Bromo Bertambah Menjadi Enam Setelah Petugas Keamanan Meninggal | Korban Jiwa Kebakaran Bromo Bertambah Setelah Suraji Meninggal di Surabaya | Asap Karhutla Way Kambas Ganggu Warga di Sekitar Kawasan Hutan