Mahasiswa Trisakti Tinggalkan Patung Kuda dengan Tertib Usai Aksi

oleh -81 Dilihat
oleh
Mahasiswa Trisakti Tinggalkan Patung Kuda dengan Tertib Usai Aksi

Jakarta | Mahasiswa Universitas Trisakti mengakhiri unjuk rasa dan meninggalkan kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026). Aksi yang dimulai pada pukul 15.53 WIB itu berakhir ketika massa membubarkan diri secara tertib pada pukul 18.51 WIB. Dengan demikian, kegiatan berlangsung selama hampir tiga jam sebelum para peserta meninggalkan lokasi. Berakhirnya aksi menandai selesainya kehadiran massa di kawasan tersebut pada sore hari itu.

Patung Kuda menjadi titik berlangsungnya unjuk rasa mahasiswa tersebut. Setelah aksi berakhir, para peserta bergerak meninggalkan area secara tertib. Keterangan mengenai waktu dimulainya kegiatan dan pembubaran massa memberikan gambaran jelas mengenai rangkaian waktunya, dari awal aksi hingga para mahasiswa mengakhiri kehadiran mereka di lokasi. Informasi bahwa massa membubarkan diri dengan tertib juga menegaskan cara aksi tersebut ditutup, tanpa menambahkan asumsi mengenai hal-hal yang tidak disebutkan.

Peristiwa ini berlangsung di Jalan Medan Merdeka Selatan, kawasan pusat Jakarta yang menjadi lokasi aksi. Pada pukul 18.51 WIB, massa telah membubarkan diri, setelah sebelumnya berkumpul untuk menyampaikan aksi. Waktu tersebut menjadi penanda berakhirnya kegiatan mahasiswa Universitas Trisakti di Patung Kuda pada Kamis itu. Penyebutan lokasi dan waktu secara spesifik membantu pembaca memahami kapan dan di mana aksi berlangsung, sekaligus membedakan waktu awal kegiatan dari saat peserta meninggalkan kawasan.

Dengan berlangsungnya pembubaran secara tertib, unjuk rasa tersebut ditutup tanpa keterangan adanya gangguan dalam informasi yang tersedia. Mahasiswa meninggalkan kawasan setelah aksi yang dimulai pukul 15.53 WIB itu selesai, dan kegiatan berakhir pada pukul 18.51 WIB. Rangkaian waktu ini menunjukkan bahwa para peserta berada di lokasi selama hampir tiga jam. Aksi di kawasan Patung Kuda itu pun berakhir pada sore hari, saat massa meninggalkan Jalan Medan Merdeka Selatan dengan tertib.

Sebelum meninggalkan kawasan Patung Kuda, mahasiswa Trisakti terlebih dahulu menyampaikan orasi. Kegiatan tersebut berlangsung sebelum mereka menunaikan salat Magrib berjemaah, sehingga urutan aktivitas massa di lokasi dimulai dengan penyampaian orasi dan dilanjutkan dengan ibadah bersama. Tidak ada rincian mengenai isi orasi yang dapat disampaikan, tetapi kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian aksi mahasiswa sebelum mereka beranjak dari kawasan tersebut.

Setelah berorasi, para mahasiswa menunaikan salat Magrib secara berjemaah di jalan. Mereka menggunakan almamater sebagai alas untuk beribadah. Dengan demikian, jalan yang sebelumnya menjadi tempat berlangsungnya aksi juga digunakan sebagai tempat salat bersama. Pelaksanaan ibadah di lokasi itu berlangsung sebelum massa meninggalkan Patung Kuda, dan menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan mahasiswa pada penghujung aksi.

Urutan kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa massa tidak langsung pergi setelah berorasi. Mereka lebih dulu berhenti untuk melaksanakan salat Magrib bersama, dengan almamater yang mereka kenakan dimanfaatkan sebagai alas di jalan. Informasi yang tersedia menggambarkan tindakan-tindakan itu secara sederhana: orasi, salat berjemaah, lalu persiapan untuk meninggalkan lokasi. Tidak terdapat keterangan lebih lanjut tentang durasi masing-masing kegiatan ataupun rincian pelaksanaan salat, sehingga aspek-aspek tersebut tidak dapat dipastikan.

Salat Magrib berjemaah menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sebelum mahasiswa meninggalkan area aksi. Para peserta melaksanakan ibadah di jalan, dengan almamater sebagai alas, setelah terlebih dahulu berorasi. Rangkaian ini berlangsung di kawasan Patung Kuda dan mendahului kepergian mereka dari lokasi. Penyebutan urutan tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas massa tanpa menambahkan informasi mengenai jumlah peserta, isi penyampaian dalam orasi, atau detail lain yang tidak tersedia. Dengan begitu, perhatian tetap tertuju pada kegiatan yang diketahui: mahasiswa Trisakti berorasi, kemudian menunaikan salat Magrib bersama di jalan, sebelum meninggalkan kawasan Patung Kuda dengan tertib.

Sebelum membubarkan diri, mahasiswa yang berkumpul di kawasan Patung Kuda sempat membakar flare. Momen tersebut berlangsung menjelang kepulangan massa setelah aksi. Flare dinyalakan ketika para peserta masih berada di area itu, sebelum mereka meninggalkan lokasi secara bersama-sama. Setelah itu, mahasiswa mulai bergerak meninggalkan kawasan Patung Kuda dengan menggunakan beberapa jenis kendaraan. Peristiwa pembakaran flare menjadi bagian dari rangkaian akhir kegiatan, sebelum peserta menempuh perjalanan pulang dari lokasi aksi.

Mahasiswa meninggalkan kawasan tersebut bersama-sama dengan menaiki mobil komando, angkutan kota, bus kota, dan sepeda motor. Kendaraan-kendaraan itu digunakan oleh para peserta untuk pulang setelah kegiatan di Patung Kuda berakhir. Mobil komando turut menjadi salah satu kendaraan yang dinaiki massa, sementara sebagian mahasiswa menggunakan angkutan kota dan bus kota. Peserta lainnya meninggalkan lokasi dengan sepeda motor. Kepulangan berlangsung sebagai pergerakan bersama dari kawasan aksi, dengan mahasiswa berangkat menggunakan pilihan kendaraan tersebut.

Rangkaian kepulangan itu terjadi setelah mahasiswa sempat membakar flare. Sesudahnya, mereka meninggalkan Patung Kuda secara bersama-sama dengan menggunakan mobil komando, angkutan kota, bus kota, serta sepeda motor. Dengan demikian, momen sebelum bubar mencakup pembakaran flare dan keberangkatan peserta dari lokasi. Kepulangan mahasiswa berlangsung tertib. Informasi mengenai rangkaian akhir ini mencakup urutan kegiatan tersebut: flare dibakar sebelum massa meninggalkan kawasan, kemudian para mahasiswa pulang dengan menaiki kendaraan yang digunakan bersama maupun kendaraan masing-masing. Para peserta pun meninggalkan kawasan Patung Kuda secara tertib setelah aksi, dengan menaiki mobil komando, angkutan kota, bus kota, dan sepeda motor.

Dalam aksi di kawasan Patung Kuda, mahasiswa Universitas Trisakti menyuarakan tiga tuntutan rakyat atau Tritura sebagai pokok aspirasi yang mereka bawa. Tuntutan tersebut diposisikan sebagai seruan untuk mendorong pemulihan di berbagai sektor nasional sekaligus menegaskan pentingnya supremasi sipil. Dengan demikian, inti pesan aksi tidak hanya berkaitan dengan situasi sesaat, tetapi juga menyentuh kebutuhan akan perbaikan yang lebih luas. Para peserta menyampaikan aspirasi itu di ruang publik, dengan menempatkan kepentingan masyarakat dan kehidupan bernegara sebagai landasan. Rumusan Tritura menjadi kerangka utama untuk memahami tujuan kehadiran mahasiswa di lokasi aksi.

Penekanan pada pemulihan nasional menunjukkan bahwa tuntutan mahasiswa mencakup perhatian terhadap kondisi sejumlah sektor, tanpa membatasi maknanya pada satu bidang tertentu. Seruan tersebut menggambarkan harapan agar perbaikan dapat berlangsung secara menyeluruh dan memberi dampak bagi masyarakat. Dalam menyampaikan pokok tuntutan ini, mahasiswa mengangkat kebutuhan untuk memulihkan keadaan di berbagai ranah kehidupan nasional. Pesan itu disampaikan sebagai bagian dari aspirasi publik, bukan sebagai uraian terperinci mengenai langkah teknis atau daftar kebijakan. Karena itu, Tritura dalam aksi ini dapat dipahami melalui dua fokus yang disebutkan: pemulihan lintas sektor dan penguatan supremasi sipil.

Supremasi sipil menjadi bagian lain dari pesan yang disuarakan. Gagasan ini menegaskan pentingnya menempatkan kehidupan sipil sebagai unsur utama dalam tata kelola negara. Bersama seruan pemulihan nasional, tuntutan tersebut membentuk arah umum aspirasi mahasiswa Trisakti. Keduanya disampaikan sebagai pokok tuntutan rakyat yang menjadi perhatian dalam aksi di Patung Kuda. Penyebutan tiga tuntutan rakyat merujuk pada kerangka Tritura, sementara pokok yang dijelaskan di sini terbatas pada pemulihan di berbagai sektor nasional dan penegakan supremasi sipil. Dengan menjaga fokus pada hal tersebut, isi aspirasi dapat dipaparkan secara jelas tanpa menambahkan rincian tuntutan lain yang tidak tersedia dalam keterangan mengenai aksi. Pesan mahasiswa pun tercermin sebagai seruan untuk perbaikan nasional dan penghormatan terhadap prinsip sipil.

Baca juga: Aksi Mahasiswa Trisakti di Patung Kuda Usai, Aspirasi Disampaikan kepada Stafsus Mensesneg | Aksi Mahasiswa Trisakti di Patung Kuda Usai Hampir Tiga Jam, Pemerintah Tanggapi Aspirasi | Tiga Seruan Mahasiswa Trisakti dalam Aksi di Patung Kuda