Jakarta | Beeru Indonesia menghentikan sementara penjualan pemanis Beeru Stevia setelah hasil uji laboratorium yang dibagikan influencer yang dikenal sebagai Dokter Detektif (Doktif) ramai diperbincangkan. Perhatian publik terutama tertuju pada perbedaan keterangan produk dan hasil pengujian yang ditampilkan dalam unggahan tersebut. Informasi produk menyebut Beeru Stevia mengandung stevia murni, sementara Doktif menyampaikan bahwa sampel yang diuji menunjukkan adanya sukralosa dan neotam.
Perbedaan informasi itu memicu pertanyaan konsumen mengenai kandungan pemanis dalam produk. Di tengah percakapan yang berkembang di media sosial, sejumlah orang meminta penjelasan lebih lanjut tentang metode pengujian, sampel yang digunakan, serta cara membaca hasil laboratorium. Rincian-rincian tersebut penting karena hasil uji perlu dipahami dengan konteks yang memadai, termasuk jenis sampel dan parameter yang dianalisis.
Temuan yang ditampilkan Doktif merupakan informasi yang beredar dan menjadi sorotan, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan adanya pelanggaran. Penetapan kepatuhan produk terhadap ketentuan yang berlaku memerlukan penilaian dari pihak berwenang serta pemeriksaan atas dokumen dan bukti yang relevan. Karena itu, klaim mengenai komposisi maupun dugaan ketidaksesuaian sebaiknya dipisahkan dari kesimpulan resmi yang belum diumumkan.
Keputusan menghentikan penjualan untuk sementara memberi ruang bagi perusahaan untuk menanggapi perhatian tersebut dan meninjau informasi terkait produknya. Bagi konsumen, langkah ini juga menjadi pengingat untuk memeriksa keterangan pada kemasan dan mengikuti pembaruan dari perusahaan maupun otoritas terkait. Penjelasan yang transparan mengenai hasil pemeriksaan, termasuk jika ada klarifikasi atas perbedaan data, dapat membantu publik memahami persoalan tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan.
Hingga terdapat keterangan lanjutan yang dapat diverifikasi, inti peristiwa ini adalah penghentian sementara penjualan setelah hasil laboratorium yang dibagikan Doktif mendapat perhatian luas. Informasi komposisi yang dicantumkan produk dan hasil yang ditampilkan dalam unggahan tersebut belum sebaiknya diperlakukan sebagai keputusan akhir tentang keamanan atau kepatuhan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada klarifikasi perusahaan dan hasil penilaian pihak berwenang.
Polemik mengenai Beeru Stevia bermula setelah Doktif mengulas produk pemanis tersebut dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Beeru Stevia dipasarkan sebagai alternatif pemanis, termasuk bagi masyarakat yang hidup dengan diabetes maupun orang yang ingin mengurangi asupan kalori. Karena itu, keterangan mengenai nilai gizi dan kandungan kalorinya menjadi perhatian dalam pembahasan yang disampaikan Doktif. Ulasan tersebut kemudian menarik perhatian pengguna media sosial dan memunculkan pertanyaan tentang kesesuaian klaim produk dengan hasil pengujian yang ditampilkan.
Dalam video itu, Doktif menyoroti klaim nol kalori pada Beeru Stevia. Ia memperlihatkan hasil pengujian laboratorium yang, menurut uraian dalam video, menunjukkan adanya kandungan karbohidrat. Perbedaan klaim pada produk dan hasil yang ditampilkan menjadi dasar keberatannya. Doktif mengatakan hasil laboratorium tersebut membuatnya kurang setuju dengan klaim nol kalori. Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan terhadap informasi yang beredar dan tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh komposisi produk ataupun konteks metode pengujiannya.
Informasi yang dikaitkan dengan pernyataan Doktif mencantumkan Jumat, 30 Oktober 2026. Sejauh yang ditunjukkan dalam polemik ini, pembahasan berpusat pada hasil laboratorium yang dipaparkan di media sosial serta bagaimana hasil itu dibandingkan dengan klaim pemasaran. Kandungan karbohidrat yang terlihat dalam pengujian menjadi sorotan karena konsumen dapat mengaitkan informasi tersebut dengan nilai kalori dan kebutuhan diet. Namun, penilaian atas label dan hasil uji perlu mempertimbangkan rincian seperti ukuran sampel, satuan pengukuran, metode yang digunakan, serta keterangan resmi terkait produk. Unsur-unsur tersebut membantu menempatkan klaim dan hasil pengujian dalam konteks yang tepat, tanpa menyamakan satu cuplikan video dengan pemeriksaan menyeluruh. Reaksi Doktif inilah yang menjadi awal perhatian publik terhadap Beeru Stevia dan klaim nol kalorinya.
Dokumen hasil uji laboratorium yang ditampilkan memuat sejumlah angka yang menjadi perhatian dalam polemik mengenai Beeru Stevia. Pada bagian kandungan gizi, tercatat karbohidrat sebesar 47,21 persen dan energi total 188,84 kilokalori per 100 gram sampel. Angka-angka tersebut merujuk pada sampel yang diuji, sebagaimana dicantumkan dalam dokumen, dan bukan dengan sendirinya penjelasan tentang seluruh karakteristik produk atau setiap batch yang dipasarkan. Karena itu, pembacaan hasilnya perlu memperhatikan konteks pengujian dan informasi lain pada label.
Dokumen yang sama juga mencantumkan sukralosa sebesar 101.297,89 miligram per liter serta neotam sebesar 5.280,99 mg/l. Temuan dua jenis pemanis buatan ini disoroti oleh Doktif. Menurutnya, sukralosa dan neotam tidak tercantum dalam daftar komposisi produk. Perbedaan kandungan yang tertera pada hasil uji dan daftar komposisi pada kemasan menjadi pokok perhatian dalam pembahasan tersebut. Angka yang ditampilkan merupakan isi dokumen yang menjadi sorotan; penentuan makna maupun kepatuhan produk tetap memerlukan pemeriksaan dan penjelasan dari pihak terkait, termasuk kejelasan metode, satuan, serta konteks sampel yang dianalisis.
Perhatian itu juga berkaitan dengan pemahaman konsumen mengenai stevia. Stevia berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana dan kerap digunakan sebagai pemanis. Stevia murni disebut tidak mengandung kalori maupun karbohidrat serta memiliki indeks glikemik nol. Namun, karakteristik stevia murni tidak serta-merta menggambarkan produk yang menggunakan nama atau rasa stevia, sebab formulasi dapat mencakup bahan lain. Karena itu, konsumen dapat membandingkan daftar komposisi pada kemasan dengan informasi hasil uji yang beredar, sambil membedakan bahan stevia dari pemanis tambahan. Dalam kasus ini, angka karbohidrat dan energi serta pencantuman sukralosa dan neotam dalam dokumen menjadi informasi yang perlu dijelaskan secara terbuka agar konsumen memahami apa yang diuji dan bagaimana hasil tersebut berkaitan dengan komposisi produk. Penjelasan yang berbasis dokumen dan konfirmasi pihak berwenang membantu menghindari kesimpulan yang melampaui bukti yang tersedia.Dalam menanggapi hasil uji laboratorium yang menjadi sorotan, Doktif membandingkan kadar pemanis yang ditemukan pada produk dengan ketentuan BPOM mengenai batas penggunaan pemanis buatan. Berdasarkan perbandingan tersebut, ia mengklaim kadar kedua zat yang diuji jauh melampaui batas yang diperbolehkan. Pernyataan itu membuat angka hasil uji dan rujukan regulasi menjadi perhatian, tetapi keduanya perlu dibaca dengan cermat sebelum kesimpulan tentang kepatuhan produk ditarik. Klaim mengenai selisih kadar merupakan penilaian Doktif atas hasil yang ia sampaikan, bukan dengan sendirinya keputusan resmi mengenai status produk.
Ketentuan batas penggunaan bahan tambahan pangan tidak selalu dapat diterapkan secara terpisah dari jenis dan cara penggunaan produk. Penilaian kepatuhan perlu mempertimbangkan kategori pangan yang relevan, bentuk produk, serta takaran penggunaannya. Karena itu, angka dalam hasil uji harus dibandingkan dengan ketentuan yang tepat untuk kategori dan kondisi penggunaan tersebut. Informasi yang tersedia dalam sumber tidak menguraikan secara lengkap konteks-konteks itu maupun rincian yang diperlukan untuk memastikan bahwa nilai batas yang dipakai merupakan acuan yang sesuai. Tanpa informasi tersebut, perbandingan yang disampaikan dapat menunjukkan alasan untuk meminta pemeriksaan, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap aturan BPOM.
Pembedaan ini penting agar klaim tentang kadar dan status kepatuhan tidak dianggap sebagai hal yang sama. Hasil pengujian yang dipublikasikan dapat menjadi dasar bagi pihak berwenang untuk menelaah produk, metode pengujian, kategori pangan, serta takaran pemakaian secara lebih menyeluruh. Namun, penetapan apakah suatu produk memenuhi ketentuan memerlukan penilaian berdasarkan konteks regulasi dan pemeriksaan yang berwenang. Sumber yang tersedia belum memberikan hasil pemeriksaan resmi yang dapat menjawab hal tersebut.
Baca juga: BGN Tahan Dana dan Hentikan Sementara Dapur MBG yang Belum Melapor | Kebakaran di Laboratorium Savannah River Picu Status Darurat, Aktivitas Kembali Normal | Rupiah di Tengah Sorotan MSCI: Kekhawatiran Hashim dan Respons Bank Indonesia



































