Mantan Pegawai NCS Hapus 180 Server Virtual, Perusahaan Rugi Rp12,9 Miliar

oleh -152 Dilihat
oleh
Mantan Pegawai NCS Hapus 180 Server Virtual, Perusahaan Rugi Rp12,9 Miliar

Jakarta | Seorang mantan pegawai NCS, perusahaan layanan informasi, komunikasi, dan teknologi yang berkantor pusat di Singapura, menghapus 180 server virtual milik perusahaan setelah kontrak kerjanya dihentikan. Tindakan tersebut mengganggu sistem dan layanan yang bergantung pada server-server itu, sekaligus menimbulkan kerugian finansial yang besar bagi perusahaan. Nilai kerugian tercatat mencapai S7.832, atau sekitar Rp12,9 miliar. Peristiwa ini terjadi dan diproses secara hukum di Singapura, bukan di Indonesia.

Penghapusan server dilakukan setelah hubungan kerja pelaku dengan NCS berakhir. Server virtual merupakan sumber daya komputasi berbasis perangkat lunak yang dapat menjalankan sistem dan aplikasi, sehingga penghapusan dalam jumlah besar berpotensi mengganggu berbagai operasi digital. Dalam perkara ini, hilangnya 180 server berdampak pada aset dan layanan perusahaan. Besarnya nilai kerugian yang disebut dalam proses perkara menunjukkan bahwa tindakan terhadap infrastruktur teknologi dapat membawa konsekuensi nyata, baik bagi operasional organisasi maupun secara finansial.

Kasus tersebut kemudian dibawa ke ranah hukum. Setelah diproses, mantan pegawai itu dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan atas tindakannya. Putusan tersebut menandai konsekuensi hukum yang harus dihadapi pelaku setelah menghapus server perusahaan. Perkara ini juga menjadi pengingat bahwa akses terhadap sistem teknologi informasi perlu dikelola secara hati-hati, terutama ketika hubungan kerja berakhir. Perusahaan umumnya mengandalkan kontrol akses, prosedur penonaktifan akun, serta pencatatan aktivitas sistem untuk melindungi aset digitalnya. Namun, inti berita ini adalah tindakan seorang mantan pekerja NCS di Singapura yang menghapus 180 server virtual, menyebabkan kerugian sekitar Rp12,9 miliar, dan akhirnya menerima hukuman penjara. Kasus ini tidak berlangsung di Indonesia; nilai kerugian rupiah merupakan perkiraan konversi dari jumlah dalam dolar Singapura yang dilaporkan.

Kandula Nagaraju, pria asal India berusia 39 tahun, bekerja di NCS sebagai bagian dari tim yang mengelola sistem komputer jaminan kualitas atau quality assurance (QA). Catatan perkara menyebutkan bahwa ia bergabung dengan tim tersebut sekitar November 2021 dan tetap bekerja di sana hingga kontraknya dihentikan pada Oktober 2022. Tim itu beranggotakan 20 orang dan bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan QA perusahaan.

Sistem QA memiliki fungsi penting dalam proses pengembangan teknologi. NCS menggunakannya untuk menguji perangkat lunak dan program sebelum produk atau pembaruan diluncurkan. Pengujian memungkinkan perusahaan memeriksa apakah perangkat lunak berfungsi sebagaimana mestinya, menemukan masalah, serta mengurangi risiko gangguan setelah peluncuran. Dengan demikian, pengelolaan sistem tersebut menjadi bagian dari proses operasional yang mendukung mutu produk dan layanan.

Menurut dokumen pengadilan, kontrak Nagaraju dihentikan pada Oktober 2022 karena kinerjanya dinilai buruk. Hari terakhirnya bekerja di NCS tercatat pada 16 November 2022. Informasi mengenai pemutusan kontrak dan tanggal terakhir bekerja itu memberi konteks tentang hubungannya dengan perusahaan sebelum insiden penghapusan server virtual yang kemudian menjadi perkara hukum. Rincian tersebut juga menjelaskan bahwa ia pernah memiliki akses dan tanggung jawab dalam lingkungan sistem QA saat menjadi anggota tim.

Dokumen pengadilan turut menggambarkan perasaan Nagaraju setelah kontraknya dihentikan. Ia disebut merasa bingung dan kesal karena menilai dirinya telah bekerja dengan baik serta memberikan kontribusi kepada perusahaan. Penilaian tersebut berbeda dari alasan yang disampaikan untuk mengakhiri kontraknya, yakni kinerja yang buruk. Catatan mengenai reaksinya disajikan sebagai bagian dari uraian perkara, bukan sebagai penilaian independen atas kualitas pekerjaannya.

Riwayat pekerjaan ini penting untuk memahami latar belakang kasus, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh motif maupun tindakan yang terjadi kemudian. Nagaraju adalah mantan anggota tim QA yang mengenal lingkungan sistem tempat pengujian perangkat lunak berlangsung. Setelah kontraknya berakhir, ia tidak lagi bekerja di NCS. Fakta-fakta yang tercantum dalam dokumen pengadilan menjadi dasar untuk menempatkan hubungan kerja, tanggung jawab sebelumnya, dan pemutusan kontrak dalam urutan peristiwa yang relevan dengan perkara tersebut.

Setelah kontrak kerjanya dengan NCS berakhir, Kandula kembali ke India. Namun, menurut kronologi kasus, ia kemudian menggunakan laptop dan kredensial login administrator untuk masuk ke sistem perusahaan tanpa izin. Akses tersebut berlangsung ketika ia sudah tidak lagi bekerja di NCS. Pada Januari 2023, ia tercatat mengakses sistem sebanyak enam kali, yakni pada 6 dan 17 Januari. Rangkaian akses ini menjadi bagian awal dari tindakan yang kemudian berujung pada penghapusan server virtual milik perusahaan.

Pada Februari 2023, Kandula kembali ke Singapura untuk mencari pekerjaan. Ia menyewa kamar bersama seorang mantan rekan kerja dan, pada 23 Februari, menggunakan jaringan Wi-Fi rekan tersebut untuk mengakses sistem NCS satu kali. Dengan demikian, akses pada Februari terjadi setelah ia kembali ke Singapura, sementara akses sebelumnya berlangsung setelah ia pulang ke India. Rincian waktu dan cara akses ini menggambarkan perubahan lokasi dalam periode tersebut, tanpa mengubah fakta bahwa ia tidak memiliki izin untuk masuk ke sistem perusahaan.

Selama rentang sekitar dua bulan, Kandula menulis sejumlah skrip untuk menguji kemungkinan menghapus server. Informasi yang tersedia tidak merinci isi skrip maupun cara kerjanya, sehingga kronologi ini terbatas pada tujuan pengujian yang disebutkan. Pada Maret, ia mengakses sistem QA sebanyak 13 kali. Aktivitas tersebut mendahului tindakan penghapusan server virtual pada 18 dan 19 Maret. Urutan ini menunjukkan bahwa pengujian skrip berlangsung dalam periode yang sama dengan sejumlah akses ke sistem, sebelum penghapusan benar-benar dilakukan.

Pada 18 dan 19 Maret, Kandula menjalankan skrip yang menghapus 180 server virtual secara bertahap, satu per satu. Penghapusan itu bukan satu tindakan serentak, melainkan berlangsung melalui rangkaian eksekusi selama dua hari. Secara keseluruhan, kronologi mencakup akses tanpa izin pada Januari dan Februari, penulisan skrip selama periode dua bulan, akses ke sistem QA pada Maret, lalu penghapusan server pada 18 dan 19 Maret. Rangkaian tersebut menjadi dasar untuk memahami bagaimana akses administrator yang masih dimilikinya digunakan setelah kontrak kerja berakhir.Sehari setelah skrip dijalankan, tim NCS mendapati bahwa sistem yang mereka gunakan tidak dapat diakses. Perusahaan kemudian berupaya memecahkan masalah tersebut, tetapi langkah-langkah pemulihan yang dilakukan tidak berhasil mengembalikan akses. Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, NCS menemukan bahwa server-server di dalam sistem itu telah dihapus. Temuan tersebut mendorong perusahaan untuk menelusuri penyebab gangguan dan memeriksa kemungkinan adanya tindakan yang disengaja.

NCS menjelaskan bahwa sistem yang terdampak merupakan sistem pengujian mandiri, bukan lingkungan yang menyimpan informasi sensitif. Infrastruktur tersebut terdiri dari sekitar 180 server virtual. Meski tidak memuat data sensitif, penghapusan server membuat sistem pengujian itu tidak dapat digunakan. Penjelasan mengenai sifat sistem tersebut menjadi bagian dari keterangan perusahaan dalam proses pemeriksaan atas insiden yang terjadi.

Setelah penyelidikan internal, NCS menemukan sejumlah alamat IP yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Perusahaan menyerahkan informasi alamat IP itu kepada polisi dan membuat laporan pada 11 April 2023. Polisi kemudian menyita laptop Kandula sebagai bagian dari penyelidikan. Dalam pemeriksaan perangkat tersebut, polisi menemukan skrip yang digunakan untuk menghapus server-server virtual milik NCS.

Investigasi juga mengungkap bahwa Kandula sebelumnya mencari skrip untuk menghapus server virtual melalui Google. Ia kemudian menggunakan skrip yang ditemukan sebagai dasar untuk membuat skripnya sendiri. Temuan pada laptop itu membantu menghubungkan pencarian tersebut dengan perangkat lunak yang dipakai dalam penghapusan server.

Baca juga: Netflix Pangkas Sekitar 1.000 Pegawai di Tengah Persaingan Mencari Perhatian Penonton | Klaster Tanpa Izin di Lapas Cibinong Berujung Sanksi bagi Narapidana dan Pegawai