Mengapa Mahasiswa Berdemo Tanpa Almamater di Jakarta?

oleh -112 Dilihat
oleh
Mengapa Mahasiswa Berdemo Tanpa Almamater di Jakarta?

Jakarta | Pada Rabu, 28 Oktober 2026, kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, dipadati sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat yang berkumpul dalam aksi. Kehadiran massa membuat ruang publik di sekitar simpang tersebut menjadi titik perhatian, sementara sebagian peserta lain masih tertahan di depan Gedung UOB. Situasi ini memperlihatkan bahwa pergerakan peserta tidak berlangsung serentak di satu titik. Ada kelompok yang telah berada di sekitar Bundaran HI, sedangkan kelompok lainnya masih berada di lokasi berbeda. Di tengah kerumunan, tampak mahasiswa yang mengikuti aksi tanpa mengenakan almamater kampus.

Alih-alih memakai jaket identitas universitas, sebagian mahasiswa terlihat mengenakan pakaian bebas, seperti busana sehari-hari. Penampilan tersebut menjadi pemandangan yang menonjol karena almamater biasanya mudah dikenali dalam kegiatan mahasiswa di ruang publik. Namun, tidak memakai jaket kampus tidak serta-merta berarti mereka hadir tanpa identitas. Sejumlah peserta tetap membawa simbol atau bendera organisasi, yang menunjukkan afiliasi mereka melalui penanda lain. Dengan demikian, keragaman atribut yang terlihat di lokasi mencerminkan hadirnya berbagai kelompok, meskipun tidak semua peserta menampilkan identitas kampus secara langsung.

Pemandangan mahasiswa tanpa almamater dapat diamati sebagai bagian dari cara peserta menampilkan diri dalam aksi, tetapi alasan di balik pilihan pakaian itu tidak dapat dipastikan hanya dari penampilan. Tidak tepat menyimpulkan bahwa semua peserta menghindari identitas kampus atau memiliki motif yang sama. Keputusan untuk mengenakan pakaian bebas mungkin berbeda pada tiap orang dan kelompok; penjelasan yang lebih kuat memerlukan keterangan langsung dari peserta atau organisasi terkait. Sementara itu, simbol organisasi dan bendera yang dibawa memberi petunjuk tentang identitas kelompok yang ingin ditampilkan. Gambaran di Bundaran HI pada hari itu karena itu memuat dua hal sekaligus: massa yang berkumpul di kawasan pusat Jakarta dan ragam cara mahasiswa memperlihatkan keterlibatan mereka dalam aksi. Sebagian berada di titik utama, sebagian masih tertahan di depan Gedung UOB, dan sebagian memilih atribut selain almamater untuk menandai kehadiran mereka.Rafif Luqmanul Aziz, mahasiswa Ilmu Politik UPN Veteran Jakarta sekaligus perwakilan Amnesty International Chapter UPN Veteran Jakarta, memandang keputusan mahasiswa untuk melepas almamater sebagai simbol gerakan yang organik. Dalam pandangannya, pilihan tersebut bukan sekadar soal pakaian, melainkan cara menunjukkan bahwa aksi tidak hanya dimiliki oleh lingkungan kampus. Mahasiswa ingin hadir sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, tanpa penanda institusi yang dapat membatasi kesan tentang siapa yang terlibat.

Dengan tidak mengenakan almamater, mahasiswa berupaya melebur bersama warga dan pekerja yang berada di sekitar lokasi aksi. Mereka ingin berada dalam ruang sosial yang sama dengan masyarakat, termasuk warga pinggiran kota dan para pekerja di sekitar Bundaran HI. Kehadiran kelompok-kelompok ini menjadi bagian dari konteks yang ingin diperhatikan mahasiswa ketika menyampaikan suara di ruang publik. Gerakan organik, dalam pemaknaan Rafif, bertolak dari kedekatan tersebut dan bukan semata-mata dari identitas formal sebagai mahasiswa.

Upaya berbaur itu juga berkaitan dengan keinginan untuk menyuarakan tuntutan bersama. Mahasiswa tidak ingin menempatkan diri seolah-olah berbicara terpisah dari masyarakat yang berada di sekitar mereka. Sebaliknya, mereka ingin membangun ruang agar suara mahasiswa dan masyarakat dapat hadir berdampingan. Dalam kerangka ini, melepas almamater menjadi isyarat bahwa aksi berusaha melampaui batas kelompok kampus dan membuka kemungkinan solidaritas dengan warga serta pekerja.

Pandangan Rafif menekankan makna simbolis dari keputusan tersebut: mahasiswa berusaha menjadi bagian dari gerakan yang tumbuh bersama masyarakat. Almamater biasanya menandai afiliasi kampus, sedangkan ketiadaannya dapat membantu peserta tampil tanpa identitas institusional yang menonjol. Namun, yang ditekankan bukan penolakan terhadap kampus, melainkan kehendak untuk berbaur dan menyampaikan suara secara kolektif. Dengan demikian, pilihan berpakaian itu mencerminkan upaya mendekatkan aksi kepada kehidupan masyarakat di sekitar Bundaran HI dan memperjuangkan tuntutan bersama, tanpa memisahkan mahasiswa dari lingkungan sosial tempat aksi berlangsung.

Di tengah aksi mahasiswa di Jakarta, Rafif menyampaikan harapan agar para pekerja yang berada di kawasan Bundaran HI dapat ikut bergabung setelah menyelesaikan kewajiban kerja mereka. Harapan itu menunjukkan bahwa aksi tidak semata-mata ditujukan bagi mahasiswa, tetapi juga membuka ruang bagi warga lain yang memiliki perhatian terhadap persoalan yang disuarakan. Namun, ajakan tersebut tetap berupa harapan dari Rafif, bukan keterangan bahwa para pekerja sudah hadir atau memutuskan untuk terlibat. Mereka mungkin perlu menuntaskan tanggung jawab profesional lebih dahulu sebelum menentukan apakah akan bergabung dengan massa aksi.

Keterlibatan pekerja, menurut gagasan yang disampaikan Rafif, dapat membuat aksi terasa lebih organik karena kehadiran peserta tumbuh dari pilihan dan kepedulian masing-masing. Mereka tidak harus datang sebagai bagian dari kelompok yang terorganisasi atau mengikuti arahan tertentu. Setelah jam kerja atau kewajiban lain selesai, pekerja yang merasa sejalan dapat memilih untuk menyampaikan dukungan secara langsung. Dengan demikian, gambaran aksi tidak hanya bertumpu pada mahasiswa, melainkan juga mencerminkan kemungkinan partisipasi masyarakat yang lebih luas. Kehadiran beragam warga dapat memperlihatkan bahwa isu yang dibicarakan memiliki relevansi di luar lingkungan kampus.

Harapan tersebut juga berkaitan dengan gagasan tentang aksi yang inklusif. Ruang partisipasi yang terbuka memungkinkan orang dari latar belakang berbeda menunjukkan kepedulian dengan cara dan waktu yang sesuai bagi mereka. Bagi pekerja di sekitar Bundaran HI, kesempatan untuk bergabung setelah pekerjaan selesai dapat menjadi bentuk keterlibatan yang realistis tanpa mengabaikan tanggung jawab sehari-hari. Meski begitu, belum tentu semua orang dapat atau ingin ikut serta. Karena itu, pernyataan Rafif sebaiknya dipahami sebagai ajakan dan harapan, bukan bukti bahwa para pekerja telah bergabung. Penekanannya terletak pada kemungkinan membangun dukungan lintas kelompok secara sukarela.

Aksi mahasiswa di kawasan Tugu Tani pada Selasa, 20 Oktober 2026, dirancang dengan pendekatan yang berbeda dari demonstrasi sebelumnya. Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI 2026, menjelaskan bahwa mahasiswa mencoba format yang lebih cair, termasuk dengan tidak mengenakan almamater. Pilihan tersebut bukan sekadar perubahan penampilan, melainkan bagian dari upaya menguji cara berkumpul dan menyampaikan sikap yang berbeda. Dalam pertimbangan penyelenggara, atribut kampus yang biasanya mudah dikenali tidak menjadi pusat identitas aksi kali ini. Mahasiswa hadir sebagai peserta dari berbagai elemen, sementara pola pelaksanaan dibuat lebih terbuka dan tidak terlalu bergantung pada struktur komando tunggal. Pendekatan ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi kemungkinan provokasi, sehingga mahasiswa dapat menjaga ruang gerak dan konsentrasi selama kegiatan berlangsung.

Menurut Fathimah, rancangan tersebut mengurangi penggunaan komando terpusat yang lazim menjadi pengarah utama dalam demonstrasi. Tiap elemen mahasiswa diminta datang langsung ke lokasi, alih-alih menunggu instruksi melalui satu jalur koordinasi. Dengan demikian, peserta diharapkan lebih mudah berkumpul tanpa bergantung pada satu penghubung atau mekanisme mobilisasi tertentu. Pola ini memberi ruang bagi setiap kelompok untuk bergerak secara mandiri, tetapi tetap berada di lokasi aksi yang sama. Model koordinasi yang lebih tersebar itu dinilai sesuai dengan karakter kegiatan yang hendak dibangun: tidak terlalu kaku, tidak dikendalikan oleh satu pusat, dan memungkinkan peserta menyesuaikan diri dengan situasi lapangan. Namun, keluwesan tersebut tetap memerlukan pemahaman bersama mengenai tujuan kegiatan dan sikap yang perlu dijaga.

Aksi di Tugu Tani sekaligus menjadi uji coba demonstrasi tanpa almamater dan tanpa orasi yang mendominasi.

Baca juga: Budi Luhur Jakarta Menang Telak atas IPB Bogor di Liga Voli Mahasiswa 2026 | Pramono: Sekolah di Jakarta Tetap Berlangsung Saat Aksi 28 Oktober | Aksi Mahasiswa di Bundaran HI: Salam Tiga Jari dan Spanduk Tuntutan