Menguji Peran Dry Ice dalam Mengurai Kabut Asap Karhutla di Sumatera Selatan

oleh -65 Dilihat
oleh
Menguji Peran Dry Ice dalam Mengurai Kabut Asap Karhutla di Sumatera Selatan

Kota Palembang | Teknologi penyemaian dry ice atau karbon dioksida padat sedang dikaji sebagai salah satu alternatif untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Gagasan tersebut muncul di tengah kebutuhan untuk mencari metode tambahan dalam menangani dampak kebakaran, terutama ketika asap menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat. Penyemaian dry ice dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya modifikasi cuaca, meskipun penerapan dan efektivitasnya masih perlu diuji secara cermat.

Sumatera Selatan disiapkan sebagai salah satu wilayah prioritas untuk pelaksanaan uji coba tersebut. Palembang menjadi perhatian khusus karena ibu kota provinsi ini turut terdampak kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Uji coba diharapkan dapat memberikan data mengenai kemungkinan penggunaan karbon dioksida padat dalam mendukung penanganan kabut asap. Namun, pelaksanaannya tetap memerlukan kajian teknis, koordinasi antarlembaga, serta penyesuaian terhadap kondisi cuaca dan lokasi kebakaran.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa rencana itu merupakan inovasi baru hasil kerja sama Indonesia dan Thailand. Informasi mengenai pengkajian tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang berlangsung secara daring pada Senin. Herman mengikuti rapat dari Palembang, ketika pembahasan berfokus pada langkah-langkah menghadapi kebakaran serta kabut asap yang menyertainya. Kerja sama kedua negara tersebut menjadi dasar untuk mengeksplorasi pendekatan baru, sementara pemerintah daerah tetap menjalankan upaya pencegahan dan pemadaman melalui koordinasi yang sudah berlangsung.

Rencana penyemaian dry ice diarahkan untuk dilakukan di sejumlah lokasi strategis yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Lokasi tersebut mencakup bandara serta lapangan udara milik TNI yang dinilai memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, pelayanan penerbangan, dan kegiatan penanganan bencana. Penerapan di titik-titik strategis diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menguji kemungkinan penggunaan dry ice dalam membantu mengurai kabut asap.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa penerapan awal dapat dipertimbangkan di tempat-tempat strategis, termasuk bandara dan lapangan udara TNI yang terdampak. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa lokasi dengan tingkat kepentingan tinggi dapat menjadi sasaran awal pengujian, sebelum metode ini diterapkan dalam cakupan yang lebih luas. Namun, pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan hasil kajian dan kesiapan di lapangan.

Uji coba dengan skala yang lebih besar direncanakan berlangsung di Sumatera Selatan. Rencana ini menunjukkan bahwa pengujian tidak hanya diarahkan pada satu titik, melainkan dapat mencakup wilayah terdampak yang memerlukan penanganan kabut asap. Perluasan skala uji coba juga diharapkan memberikan gambaran mengenai potensi penerapan dry ice sebagai salah satu pendekatan dalam menghadapi dampak karhutla.

Dalam pelaksanaannya, pengangkutan dry ice akan didukung oleh pesawat Hercules. Dukungan tersebut dilakukan berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, sehingga kebutuhan pemindahan material menuju wilayah pengujian dapat disiapkan melalui koordinasi antarlembaga. Rencana ini masih ditempatkan sebagai tahap pengujian, dengan penerapan awal di lokasi strategis dan pengembangan skala yang lebih besar di Sumatera Selatan.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa penyemaian dry ice masih berada pada tahap kajian. Gagasan tersebut dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif untuk menangani kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bukan sebagai metode yang efektivitasnya telah dipastikan. Karena masih dikaji, penerapannya perlu mempertimbangkan kondisi atmosfer, karakteristik awan, serta situasi kebakaran di wilayah terdampak.

Salah satu kondisi atmosfer yang menjadi perhatian adalah lapisan inversi. Pada keadaan normal, suhu udara cenderung menurun ketika ketinggian bertambah. Namun, dalam lapisan inversi, suhu justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu. Perubahan susunan suhu ini dapat membentuk kondisi atmosfer yang lebih stabil dan mengurangi pergerakan udara secara vertikal.

Terhambatnya pergerakan vertikal membuat udara di dekat permukaan lebih sulit naik dan bercampur dengan lapisan udara di atasnya. Apabila asap karhutla berada dalam kondisi tersebut, partikel asap dapat terperangkap dan menumpuk di suatu wilayah. Akibatnya, konsentrasi kabut asap dapat bertahan lebih lama, terutama ketika angin lemah atau sirkulasi udara tidak cukup kuat untuk memindahkannya.

Lapisan inversi juga dapat menghambat pertumbuhan awan karena gerak naik udara menjadi terbatas. Kondisi ini relevan dalam pembahasan penyemaian dry ice, sebab proses tersebut berkaitan dengan upaya memengaruhi pembentukan awan dan atmosfer di sekitarnya. Meski demikian, keberadaan lapisan inversi menunjukkan bahwa penguraian kabut asap tidak hanya bergantung pada satu intervensi, tetapi juga pada dinamika cuaca dan atmosfer. Oleh karena itu, kajian terhadap dry ice perlu dilakukan secara hati-hati, dengan menilai kesesuaian kondisi lapangan serta tidak menganggapnya sebagai solusi yang hasilnya sudah terbukti.

Penggunaan dry ice dalam penanganan kabut asap karhutla di Sumatera Selatan dipandang sebagai upaya konseptual untuk membantu mengurangi hambatan atmosfer terhadap pertumbuhan awan. Dalam gagasan ini, dry ice diharapkan dapat memengaruhi kondisi atmosfer sehingga pembentukan atau perkembangan awan berlangsung lebih memungkinkan. Awan yang tumbuh kemudian diharapkan membantu membuka kondisi udara di sekitar wilayah terdampak, sehingga asap yang masih terperangkap dapat bergerak keluar mengikuti arah angin.

Harapan tersebut tidak berarti dry ice secara langsung menghilangkan sumber asap atau membersihkan udara secara seketika. Mekanisme yang dibicarakan berkaitan dengan upaya menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan awan, lalu membantu pergerakan massa udara yang membawa asap. Dengan demikian, arah angin tetap menjadi faktor penting dalam proses yang diperkirakan terjadi. Apabila asap dapat terdorong mengikuti aliran angin, konsentrasinya di wilayah tertentu diharapkan berkurang, meskipun tingkat keberhasilannya masih bergantung pada keadaan atmosfer dan perkembangan awan.

Wandayantolis menjelaskan bahwa pendekatan tersebut secara konsep agak berbeda dari teknik penyemaian awan. Penyemaian awan umumnya diarahkan untuk memicu atau meningkatkan peluang terjadinya hujan melalui penambahan bahan tertentu pada awan yang sudah tersedia. Sementara itu, penggunaan dry ice dalam pembahasan ini lebih menitikberatkan pada pengurangan penghambat pertumbuhan awan dan kemungkinan membantu asap bergerak keluar dari wilayah yang terdampak. Perbedaan tujuan konseptual itu menjadi salah satu hal yang masih perlu dikaji lebih lanjut.

Teknologi tersebut masih berada dalam tahap kajian. Sumber informasi ini hanya menyampaikan harapan dan mekanisme yang diperkirakan, bukan hasil uji coba maupun bukti bahwa metode tersebut telah berhasil mengurai kabut asap. Seperti disampaikan narasumber, upaya yang dilakukan adalah menghilangkan penghambat pertumbuhan awan agar awan dapat berkembang dan membantu pergerakan asap mengikuti arah angin.

Baca juga: Kabut Asap Karhutla Alihkan Pembelajaran di Tiga Kabupaten Papua Selatan | Kabut Asap Karhutla Selimuti Palangkaraya dan Ganggu Aktivitas Warga | Kabut Asap Karhutla Ganggu Pandangan, Tiga SUV Terlibat Kecelakaan Beruntun di Barito Kuala