Menjemput Peluang Kerja Bersama Ibu: Pilihan Reza Menyiapkan Masa Depan

oleh -105 Dilihat
oleh
Menjemput Peluang Kerja Bersama Ibu: Pilihan Reza Menyiapkan Masa Depan

Kota Tangerang | Reza, 19 tahun, datang dari Kota Tangerang bersama ibunya ke Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Expo 2026 di SMESCO, Jakarta Selatan. Mereka berangkat sejak pagi dengan tujuan mencari peluang kerja tetap yang dapat menjadi pijakan bagi masa depan Reza. Perjalanan dari Tangerang ke lokasi bursa kerja itu mereka tempuh bersama, membawa harapan bahwa pertemuan dengan berbagai perusahaan dapat membuka kesempatan baru. Bagi Reza, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat pilihan kerja secara langsung dan mengetahui lowongan yang tersedia.

Setibanya di area expo, Reza menyusuri stan perusahaan untuk mencari informasi mengenai peluang yang sesuai. Ibunya mendampingi langkah demi langkah, menemani Reza berpindah dari satu stan ke stan lain. Kehadiran sang ibu memberi dukungan selama mereka mencari informasi dan mempertimbangkan kesempatan yang ditawarkan. Mereka dapat melihat langsung pilihan dari perusahaan yang hadir, sekaligus memperoleh gambaran tentang proses pencarian kerja di sebuah bursa kerja. Tujuan utama mereka tetap jelas: menemukan peluang yang mengarah pada pekerjaan tetap.

Keputusan untuk datang bersama menunjukkan bahwa persiapan memasuki dunia kerja dapat menjadi usaha keluarga. Reza menjalani pencarian itu, sementara ibunya hadir sebagai pendamping yang memberikan dukungan. Di tengah stan-stan perusahaan, mereka berupaya mencari informasi yang dapat membantu Reza menentukan langkah berikutnya. Kunjungan dari Kota Tangerang ke SMESCO tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan masa depan melalui akses terhadap peluang kerja. Bagi Reza dan ibunya, mengikuti Karir Jakarta dan TKM Expo 2026 bukan sekadar mendatangi acara, melainkan kesempatan untuk mencari pilihan yang nyata dan berharap menemukan jalan menuju pekerjaan tetap.Reza memandang pendidikan dan pengalaman kerja sebagai dua hal yang dapat disiapkan secara bersamaan. Ia merupakan lulusan desain komunikasi visual, lalu melanjutkan kuliah di jurusan manajemen Universitas Terbuka. Perpindahan bidang tersebut menjadi bagian dari upayanya memperluas bekal untuk masa depan. Dengan latar pendidikan yang berbeda, Reza dapat mengembangkan keterampilan kreatif sekaligus mempelajari pengetahuan manajemen yang berguna dalam dunia kerja.

Sebelumnya, Reza menempuh jalur kuliah reguler di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Namun, ia kemudian memilih beralih agar memiliki kesempatan untuk bekerja penuh waktu. Keputusan itu bukan berarti mengesampingkan pendidikan. Sebaliknya, ia menata pilihan kuliah supaya tetap dapat melanjutkan studi sambil memperoleh pengalaman profesional. Sistem pembelajaran Universitas Terbuka memberinya ruang untuk mengatur kegiatan akademik agar selaras dengan tanggung jawab pekerjaan.

Langkah merancang karier sejak dini juga didukung oleh pengalaman magang selama tiga bulan di PT GMF AeroAsia. Masa magang tersebut memberinya kesempatan mengenal lingkungan kerja secara langsung, memahami ritme kegiatan profesional, serta melihat penerapan keterampilan dalam praktik. Pengalaman itu menjadi bekal penting ketika ia menimbang langkah berikutnya, sekaligus membantu Reza membangun pemahaman bahwa persiapan karier tidak hanya berlangsung di ruang kuliah.

Menurut Reza, persaingan kerja perlu diantisipasi sejak awal, bukan baru dipikirkan setelah seseorang menyelesaikan pendidikan. Lulusan akan menghadapi kebutuhan dan kualifikasi yang beragam, sehingga bekal akademik perlu disertai pengalaman yang relevan. Bekerja sambil kuliah menjadi salah satu cara untuk memperkuat kesiapan tersebut. Ia berharap pengalaman kerja yang dikumpulkan sebelum lulus S1 dapat menambah nilai saat mencari peluang kerja berikutnya dan membantunya menghadapi persaingan dengan lebih percaya diri.

Pilihan Reza menunjukkan pentingnya menyusun jalur pendidikan sesuai tujuan dan keadaan pribadi. Dengan mengatur kuliah agar memungkinkan pekerjaan penuh waktu, ia berusaha memperoleh manfaat dari kedua kegiatan tanpa meninggalkan target meraih gelar. Perencanaan sejak dini juga memberinya kesempatan untuk mengenali dunia profesional sebelum lulus, mengembangkan kemampuan, dan membangun pengalaman yang dapat mendukung langkah kariernya pada masa mendatang.

Sambil menunggu panggilan kerja yang belum datang, Reza memilih tetap produktif dengan bekerja sebagai kurir paket untuk sebuah ekspedisi daring. Setiap hari ia menerima dan mengantarkan kiriman sesuai jadwal, memastikan paket sampai kepada penerima dengan baik. Pekerjaan itu memberinya pemasukan sekaligus rutinitas yang membantu menjaga semangat di tengah proses pencarian kerja. Ia memahami bahwa kesempatan tidak selalu hadir dalam bentuk pekerjaan yang sejak awal direncanakan, sehingga ia bersedia mengambil peran yang tersedia sambil terus menyusun langkah berikutnya. Bagi Reza, bekerja bukan sekadar menunggu posisi ideal, melainkan cara memenuhi kebutuhan dan membangun pengalaman hidup. Selama pekerjaan itu halal dan dijalani secara bertanggung jawab, ia tidak melihat alasan untuk merasa malu.

Reza memandang pekerjaan kurir sebagai latihan disiplin, meskipun tugasnya berbeda dari pekerjaan yang mungkin dibayangkan setelah menempuh pendidikan. Ia berusaha datang tepat waktu, mengatur rute, menjaga komunikasi, serta menuntaskan tanggung jawab kepada pelanggan dan perusahaan. Pengalaman tersebut juga mengajarkannya mengelola tenaga dan waktu, menghadapi perubahan kondisi di lapangan, serta tetap bersikap sopan ketika berinteraksi dengan banyak orang. Menurutnya, nilai sebuah pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh status atau kesesuaiannya dengan ijazah, tetapi juga oleh kejujuran dan kesungguhan dalam menjalankannya. Prinsip itu membuatnya tidak malu bercerita tentang pekerjaan yang sedang ia lakukan, sekaligus mendorongnya mempertahankan kebiasaan kerja yang baik untuk masa mendatang.

Dalam mencari pekerjaan, Reza tidak membatasi pilihan pada bidang yang selaras dengan latar pendidikannya. Ia terbuka mempertimbangkan berbagai peluang selama tanggung jawab dan penghasilannya jelas. Baginya, memperoleh pemasukan yang teratur dan membangun stabilitas finansial sedini mungkin merupakan prioritas, sementara pengalaman kerja dapat menjadi bekal untuk berkembang. Ia juga aktif mengirim lamaran secara digital, walaupun tidak setiap pengajuan mendapat jawaban atau kepastian dari perusahaan. Ketidakjelasan itu kadang mengecewakan, tetapi tidak membuatnya berhenti mencoba. Reza menggunakan setiap proses sebagai kesempatan mengevaluasi diri, mulai dari cara menyusun lamaran hingga kesiapan menghadapi wawancara. Ia berusaha memperbaiki penampilan dan mempersiapkan jawaban dengan lebih baik untuk kesempatan berikutnya. Dengan tetap bekerja sambil mencari peluang lain, ia menjaga kemandirian sekaligus membuka ruang bagi masa depan yang lebih stabil.

Di tengah suasana pencarian kerja, ibu Reza hadir bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai rekan diskusi yang membantunya mempertimbangkan berbagai peluang. Kehadirannya memberi ruang bagi Reza untuk membicarakan pilihan yang tersedia dan menimbang langkah berikutnya. Bagi pelamar dengan kualifikasi awal, kesempatan untuk memilih pekerjaan secara leluasa belum tentu terbuka. Karena itu, mencoba peluang yang ada dapat menjadi bagian dari proses mengenali dunia kerja, selama pekerjaan tersebut halal. Pandangan ini mendorong Reza untuk tidak terpaku pada satu jenis posisi, melainkan melihat kesempatan yang tersedia sebagai sesuatu yang dapat dipertimbangkan dengan saksama.

Dukungan sang ibu juga tampak dalam dorongannya agar Reza berani mencoba. Pekerjaan yang tersedia dapat memberikan pengalaman serta pembelajaran, meskipun belum tentu sepenuhnya sesuai dengan gambaran pekerjaan yang diinginkan sejak awal. Dari pekerjaan, seseorang dapat mengenal tanggung jawab, lingkungan kerja, dan kebutuhan untuk terus mengembangkan kemampuan. Bagi Reza, diskusi dengan ibunya menjadi kesempatan untuk melihat bahwa langkah awal tidak selalu harus berupa pilihan yang sempurna. Selama peluang itu halal dan dapat dijalani, pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bagian dari proses belajar. Ibu Reza menyampaikan dorongan tersebut dengan mempertimbangkan kondisi pelamar yang masih berada pada tahap awal karier.

Sikap belajar sepanjang hidup juga tercermin dari teladan ibunya sendiri. Ia mempelajari kecerdasan buatan agar tetap relevan di tengah perubahan pada era digital.

Baca juga: Pilihan Pemulihan Pelari Usai Berlaga di Jakarta Running Festival 2026 | Hari Ke-10, Satgas TMMD Ke-130 Bersama Masyarakat Terus Lanjutkan Pembangunan MCK di Kampung Yamboi | Jaga Kelestarian Lingkungan, Babinsa Ngadirejo Bersama Warga Gotong Royong Tanam Pohon Saman Dan Trembesi