Kabupaten Cianjur | Dukungan kepada Metty Triantika untuk memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Cianjur menguat menjelang musyawarah daerah (Musda). Salah satu pihak yang menyatakan dukungan tersebut adalah Sodikman, Ketua PK Partai Golkar Kecamatan Pasirkuda. Keterangan Sodikman disampaikan pada Sabtu, 25 Oktober 2026, saat perhatian terhadap sosok yang akan memimpin organisasi tingkat kabupaten semakin meningkat. Pernyataan itu menambah dukungan yang kini mengarah kepada Metty dalam menyongsong agenda penting partai di Cianjur.
Musda menjadi forum bagi kader untuk membahas kepemimpinan dan arah organisasi ke depan. Karena itu, dukungan dari unsur pengurus kecamatan dapat menjadi bagian penting dari dinamika menjelang pemilihan ketua. Sikap Sodikman menunjukkan bahwa Metty memperoleh perhatian dari salah satu struktur Partai Golkar di tingkat kecamatan. Meski demikian, dukungan tersebut merupakan pandangan pihak yang menyampaikannya, sementara proses dan keputusan mengenai kepemimpinan tetap akan mengikuti mekanisme yang berlaku dalam Musda.
Menguatnya dukungan kepada Metty menempatkan namanya dalam pembicaraan menjelang pemilihan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Cianjur. Perkembangan ini mencerminkan adanya dukungan kader terhadap kemungkinan dirinya memimpin partai di tingkat daerah. Namun, belum ada rincian lebih lanjut mengenai dukungan dari pengurus lain ataupun tahapan Musda yang disampaikan dalam keterangan tersebut. Dengan demikian, pernyataan Sodikman menjadi salah satu perkembangan yang menandai dinamika politik internal Partai Golkar Cianjur. Perhatian selanjutnya tertuju pada proses Musda dan bagaimana aspirasi dari berbagai unsur partai akan disampaikan dalam forum itu. Hingga keputusan organisasi ditetapkan, dukungan yang muncul menjadi bagian dari proses menuju penentuan kepemimpinan, bukan penetapan hasil akhir. Bagi kader dan masyarakat yang mengikuti perkembangan ini, nama Metty kini menjadi salah satu perhatian menjelang agenda tersebut.
Dukungan Sodikman terhadap Metty Triantika sebagai kandidat Ketua DPD Golkar Cianjur tidak hanya bertumpu pada kapasitas personal, tetapi juga pada posisi yang kini diembannya sebagai Ketua DPRD Cianjur. Jabatan tersebut, menurutnya, merupakan modal strategis untuk memperkuat hubungan dan koordinasi partai dengan unsur pemerintahan daerah. Sebagai pimpinan lembaga legislatif, Metty memiliki ruang komunikasi yang penting dalam memahami dinamika kebijakan, aspirasi masyarakat, serta kerja sama lembaga daerah. Pengalaman menjalankan tugas itu dinilai relevan bagi kader yang akan memimpin organisasi politik di tingkat kabupaten.
Sodikman berpandangan bahwa kepemimpinan DPD Golkar idealnya dipegang kader yang memiliki pengalaman langsung dalam pemerintahan, baik sebagai kepala daerah maupun sebagai ketua DPRD. Kedudukan tersebut, menurut pandangannya, dapat memudahkan komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan membantu koordinasi partai serta pemerintahan daerah. Pemimpin partai juga perlu memahami proses pengambilan keputusan dan tantangan tata kelola daerah, sehingga arah organisasi dapat disusun dengan mempertimbangkan kondisi nyata di Cianjur. Pengalaman institusional dianggap memberi bekal untuk menjembatani kepentingan partai, pemerintahan, dan masyarakat.
Dalam pandangan itu, jabatan publik bukan semata-mata ukuran kelayakan, melainkan salah satu pertimbangan praktis bagi partai ketika menentukan pemimpin. Apabila tidak ada kader Golkar yang sedang menjabat kepala daerah, Sodikman menilai kader yang memimpin DPRD layak dipertimbangkan untuk memimpin partai. Posisi Metty sebagai Ketua DPRD, dengan demikian, menjadi dasar yang memperkuat dukungan terhadap pencalonannya menjelang Musda. Pertimbangan tersebut menempatkan pengalaman dan kemampuan koordinasi sebagai unsur penting dalam kepemimpinan DPD. Bagi Sodikman, pemimpin yang memahami relasi antarlembaga berpeluang menjaga komunikasi yang lebih terarah, sekaligus memperkuat peran Golkar dalam dinamika pembangunan dan politik daerah.
Menurut Sodikman, pengalaman Metty Triantika menjalankan fungsi legislatif menjadi salah satu modal yang dapat menunjang kepemimpinannya di Partai Golkar Cianjur. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai peran lembaga perwakilan, proses kerja pemerintahan, serta hubungan fungsi legislatif dan kebutuhan masyarakat. Bekal seperti ini dinilai relevan ketika seorang pemimpin partai perlu menyusun arah organisasi, mengelola komunikasi internal, dan membangun kerja sama dengan berbagai unsur daerah. Penilaian itu menempatkan pengalaman Metty bukan semata sebagai catatan jabatan, melainkan sebagai kemampuan yang dapat digunakan dalam menjalankan tanggung jawab kepartaian.
Sodikman juga menyoroti komunikasi Metty dengan unsur pimpinan daerah. Dalam pandangannya, kemampuan berhubungan dengan unsur-unsur tersebut dapat mendukung upaya membangun partai dan menjalankan kepemimpinan secara efektif. Komunikasi kelembagaan penting karena urusan pemerintahan di tingkat kabupaten dan kota melibatkan sejumlah institusi yang memiliki fungsi berbeda. Pengalaman berinteraksi dalam lingkungan tersebut dapat membantu pemimpin memahami jalur koordinasi dan menjaga hubungan kerja. Namun, konteks yang disampaikan itu berkaitan dengan kapasitas dan pengalaman, bukan klaim mengenai kegiatan tertentu atau dukungan dari pihak-pihak yang disebutkan.
Dalam konteks kelembagaan yang dijelaskan, ketua DPRD kabupaten atau kota merupakan anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), bersama pimpinan kepolisian, kejaksaan, serta satuan teritorial TNI. Forum tersebut diketuai oleh kepala daerah dan keberadaannya ditujukan untuk menunjang kelancaran urusan pemerintahan umum. Posisi ketua DPRD di dalam forum itu memperlihatkan adanya ruang komunikasi unsur legislatif dan pimpinan lembaga daerah. Karena itu, pengalaman menjalankan fungsi legislatif sekaligus berkomunikasi dengan unsur pimpinan daerah dapat menjadi bekal yang dipertimbangkan dalam menilai kesiapan Metty memimpin partai. Sodikman melihat kapasitas tersebut sebagai faktor yang berpotensi memperkuat upaya membangun organisasi, tanpa mengabaikan kebutuhan konsolidasi dan kerja bersama di dalam partai menjelang Musda Golkar Cianjur. Penilaian itu tetap merupakan pandangan Sodikman mengenai pengalaman dan kemampuan Metty, bukan penetapan hasil Musda ataupun kepastian atas kepemimpinan berikutnya.
Menurut Sodikman, pengalaman Metty Triantika berkomunikasi dalam forum-forum kelembagaan dapat menjadi bekal penting untuk memahami beragam persoalan yang dihadapi masyarakat Cianjur. Kemampuan menyimak pandangan, menyampaikan gagasan secara terukur, dan membaca kebutuhan daerah dinilai dapat membantu seorang pemimpin partai merumuskan perhatian yang lebih dekat dengan keadaan warga. Dengan pemahaman tersebut, aspirasi masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai keluhan yang terdengar sesaat, tetapi dapat dicatat, dibahas, dan diperjuangkan melalui saluran yang sesuai. Sodikman memandang pendekatan semacam ini perlu ditopang keterbukaan terhadap masukan dari berbagai kelompok, termasuk kader dan warga yang berhadapan langsung dengan persoalan di lingkungannya. Penilaian itu berkaitan dengan potensi pengalaman Metty, bukan gambaran tentang keputusan organisasi yang telah ditetapkan.
Ia juga menilai komunikasi di forum kelembagaan berpeluang membantu Metty membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan. Hubungan yang terjalin secara baik dapat membuka ruang dialog partai, unsur pemerintahan, komunitas, dan kelompok masyarakat lainnya. Bagi Sodikman, komunikasi yang konstruktif bukan semata-mata sarana memperkenalkan gagasan, melainkan juga cara memahami batas kewenangan serta mekanisme yang tersedia dalam memperjuangkan kebutuhan daerah. Melalui proses tersebut, partai dapat menyampaikan aspirasi warga secara lebih tertata dan bertanggung jawab. Peran itu tentu memerlukan kerja bersama, karena penyaluran aspirasi tidak hanya bergantung pada satu tokoh, tetapi juga pada keterlibatan pengurus dan kader dalam menghimpun serta meneruskan masukan masyarakat.
Harapan lain yang disampaikan Sodikman adalah agar komunikasi tersebut ikut memperkuat hubungan pengurus dengan kader di tingkat kecamatan dan desa. Kedekatan organisasi dengan kader di berbagai wilayah dapat membantu partai mengetahui persoalan setempat dan menjaga alur komunikasi dua arah. Kader dapat menyampaikan perkembangan di lapangan, sementara pengurus memperoleh kesempatan menjelaskan arah kerja dan tindak lanjut yang memungkinkan. Menurut Sodikman, bila pengalaman Metty dimanfaatkan untuk membangun pola komunikasi yang terbuka, partai berpeluang lebih tanggap dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui mekanisme kelembagaan. Seluruh manfaat tersebut merupakan penilaian dan harapan Sodikman terhadap kapasitas Metty.
Baca juga: Saat Kandidat Tak Hadir: Cerita Rekruter Menghadapi Ghosting dalam Seleksi Kerja



































