Jakarta | Ananta Rispo menyampaikan nazar untuk membuat video ucapan bagi penonton film GJLS: Berapi-api. Janji tersebut ditujukan kepada penonton yang mengajukan permintaan, dengan beragam kebutuhan pribadi maupun usaha. Rispo menyatakan kesediaannya merekam pesan singkat sesuai permintaan yang masuk, sebagai bentuk interaksi langsung dengan publik yang datang menyaksikan film tersebut di bioskop. Gagasan ini menjadi salah satu cara untuk menyambut penayangan film sekaligus memberi pengalaman yang lebih personal bagi sebagian penonton. Video ucapan itu dapat diminta untuk menyampaikan pesan kepada seseorang atau membantu memperkenalkan usaha, sepanjang pengajuannya mengikuti batas yang telah ditetapkan. Rispo tidak menjanjikan layanan tanpa batas, karena jumlah permintaan yang dapat dipenuhi setiap hari dibatasi.
Jenis permintaan yang disebutkan mencakup ucapan ulang tahun, selamat atas kelulusan atau wisuda, serta pesan untuk pasangan yang sedang menikah. Selain kebutuhan tersebut, penonton juga dapat meminta video promosi bagi dagangan atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan demikian, format ucapan yang ditawarkan tidak hanya berkaitan dengan perayaan pribadi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan jual beli. Ragam contoh itu memberi gambaran mengenai pesan yang bisa diajukan, tanpa mengubah inti nazar Rispo: membuat video berdasarkan permintaan penonton. Permintaan promosi UMKM menjadi pilihan yang dapat menarik perhatian pelaku usaha, sementara ucapan ulang tahun, wisuda, dan pernikahan dapat ditujukan kepada keluarga, teman, atau orang terdekat.
Rispo menetapkan batas maksimal 20 orang per hari untuk menerima video ucapan. Kuota tersebut membuat jumlah permintaan yang dipenuhi setiap hari tetap terbatas, sehingga tidak semua pengajuan dapat langsung memperoleh video. Janji ini mulai berlaku pada 5 November 2026, bertepatan dengan jadwal tayang GJLS: Berapi-api. Pernyataan mengenai nazar tersebut disampaikan Rispo dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 29 Oktober 2026. Dengan dimulainya penayangan film, penonton dapat mengajukan permintaan sesuai jenis pesan yang telah disebutkan, dengan memperhatikan kuota harian. Ketentuan waktu dan jumlah itu menjadi bagian dari janji yang disampaikan Rispo kepada publik menjelang film hadir di bioskop.
Rigen Rakelna menjelaskan bahwa penonton yang ingin mengajukan permintaan video ucapan dari Ananta Rispo perlu mengikuti mekanisme yang telah disampaikan. Langkah yang diminta adalah memotret tiket bioskop, kemudian mengunggah foto tersebut ke media sosial. Pada unggahan itu, penonton harus menandai akun GJLS: Berapi-api, GJLS Entertainment, dan Ananta Rispo. Dengan demikian, unggahan tiket menjadi dasar permintaan sekaligus cara agar akun-akun terkait dapat melihatnya.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah tanggal pada tiket. Tiket yang digunakan harus berasal dari hari dan tanggal yang sama dengan waktu unggahan dibuat. Jadi, penonton perlu memastikan bahwa tiket yang difoto menunjukkan jadwal menonton yang sesuai dengan hari unggahan di media sosial. Ketentuan ini menjadi bagian dari mekanisme yang diterangkan Rigen, sehingga bukan sekadar mengunggah foto tiket dari waktu menonton yang berbeda.
Dalam praktiknya, urutan yang perlu diingat cukup sederhana: potret tiket bioskop, unggah fotonya ke media sosial, lalu tandai ketiga akun yang disebutkan. Pastikan foto tiket yang diunggah berkaitan dengan hari dan tanggal unggahan tersebut. Keterangan Rigen menekankan unsur-unsur itu sebagai cara penonton menyampaikan permintaan video ucapan untuk penonton film GJLS: Berapi-api. Mengikuti informasi ini membantu penonton memahami apa yang perlu dilakukan tanpa menambahkan langkah lain di luar mekanisme tersebut.
Penonton dapat merujuk pada penjelasan Rigen Rakelna ketika menyiapkan unggahan. Periksa kembali bahwa tiket bioskop sudah difoto, foto itu telah dipasang di media sosial, dan akun GJLS: Berapi-api, GJLS Entertainment, serta Ananta Rispo telah ditandai. Yang tidak kalah penting, tanggal tiket harus cocok dengan hari dan tanggal unggahan. Itulah ketentuan yang disebutkan dalam mekanisme pengajuan ini. Tidak ada prosedur tambahan yang perlu diasumsikan dari keterangan tersebut; inti permintaan adalah unggahan foto tiket bertanggal sesuai, disertai penandaan akun-akun terkait.
Pilihan nazar Ananta Rispo kali ini memiliki kaitan dengan pengalaman sebelumnya dalam film GJLS: Ibuku Ibu-ibu, yang tayang pada 12 Juni 2025. Saat itu, ia membuat janji yang berhubungan langsung dengan pencapaian jumlah penonton. Rispo menyatakan akan membiayai pembuatan 10 surat izin mengemudi (SIM) apabila film tersebut berhasil meraih 500 ribu penonton. Target itu akhirnya tercapai, sehingga ia menunaikan nazar yang telah disampaikan.
Janji tersebut bukan sekadar ungkapan untuk meramaikan promosi. Rispo kemudian mengaku benar-benar mengeluarkan uang pribadi untuk membiayai pembuatan SIM sesuai komitmennya. Ia juga menceritakan bahwa keuntungan film pada saat itu belum menutup biaya produksi. Kondisi tersebut membuat pengeluaran tambahan terasa lebih berat, sebab uang untuk memenuhi nazar datang dari kantongnya sendiri, bukan dari keuntungan yang sudah diperoleh film.
Dalam membicarakan biaya itu, Rispo menyelipkan kelakar mengenai pengeluarannya. Gaya bercanda tersebut memberi warna pada cerita, tetapi tidak mengubah fakta bahwa ia menepati janji setelah target penonton tercapai. Pengalaman ini menjadi latar yang relevan untuk memahami nazar berikutnya. Ia pernah menetapkan sasaran yang konkret, menyampaikan janji kepada publik, lalu menjalankannya ketika film mencapai angka yang ditentukan.
Untuk film GJLS: Berapi-api, bentuk ucapan yang dipilih kali ini lebih ringan dari sisi biaya dibandingkan membiayai pembuatan SIM. Rispo menyampaikan nazar melalui video ucapan kepada penonton, sehingga komitmen dapat diwujudkan tanpa pengeluaran sebesar pengalaman sebelumnya. Meski sederhana, video itu tetap diharapkan terasa berkesan bagi mereka yang mendukung film. Pilihan ini menunjukkan bahwa nazar tidak selalu harus berbentuk bantuan dengan biaya besar; pesan personal yang disampaikan langsung juga dapat menjadi cara untuk mengapresiasi penonton. Dengan demikian, pengalaman dari film terdahulu turut membentuk pendekatan Rispo dalam menyampaikan rasa terima kasih pada proyek berikutnya.GJLS: Berapi-api menjadi proyek layar lebar yang mempertemukan kembali trio komedi GJLS, yaitu Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir. Film garapan Monty Tiwa ini juga menghadirkan Ebel Cobra dan Yono Bakrie. Kehadiran para komika tersebut memberi warna tersendiri pada cerita, sekaligus membawa dinamika khas mereka ke dalam sebuah film yang memadukan humor dengan situasi penuh ketegangan.
Kisahnya berpusat pada para petugas pemadam kebakaran. Latar pekerjaan itu membuka ruang bagi adegan aksi yang melibatkan tugas berisiko, keadaan darurat, dan kerja sama tim. Di sisi lain, unsur komedi hadir melalui interaksi para tokohnya, sehingga film ini tidak hanya mengandalkan ketegangan. Perpaduan tersebut menjadi salah satu daya tarik GJLS: Berapi-api, terutama bagi penonton yang ingin menyaksikan aksi dan hiburan dalam satu tontonan.
Rigen, Rispo, dan Hifdzi kembali tampil bersama setelah dikenal sebagai trio yang kerap melontarkan humor dengan gaya masing-masing. Kali ini, mereka berada dalam cerita yang membawa karakter ke lingkungan kerja pemadam kebakaran. Kehadiran Ebel Cobra serta Yono Bakrie turut melengkapi jajaran pemain. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 November 2026, sehingga penonton dapat menantikan bagaimana kisah dan komedi mereka berkembang di layar lebar.
Menjelang penayangan, perhatian juga tertuju pada nazar baru Ananta Rispo untuk penonton. Rigen melontarkan gurauan bahwa jika film tersebut mampu bertahan selama 30 hari di bioskop, ia mungkin harus membuat hingga 600 video. Candaan itu menjadi bagian dari obrolan mengenai dukungan penonton dan komitmen Rispo.



































