Palembang | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menyelenggarakan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan nelayan dalam menghadapi kondisi cuaca yang berubah. Kegiatan ini ditujukan terutama kepada nelayan, yang aktivitasnya sangat bergantung pada keadaan atmosfer dan perairan. Melalui pembelajaran yang dekat dengan kebutuhan lapangan, peserta diharapkan dapat memahami informasi meteorologi dengan lebih baik serta menggunakannya sebagai bahan pertimbangan sebelum dan selama melaut. Penguatan pemahaman tersebut penting untuk membantu nelayan mengenali potensi perubahan cuaca, menyusun rencana kerja, dan mengambil keputusan yang lebih aman bagi diri sendiri maupun rekan.
SLCN dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan nelayan dalam memanfaatkan informasi cuaca dan iklim. Materi yang diberikan diharapkan membantu peserta membaca serta mengartikan informasi yang disampaikan BMKG, lalu menghubungkannya dengan kondisi dan kebutuhan kegiatan penangkapan ikan. Dengan bekal tersebut, nelayan dapat mempertimbangkan perkembangan cuaca saat menentukan waktu berangkat, memperkirakan kondisi selama perjalanan, dan merencanakan aktivitas di perairan. Informasi cuaca bukan sekadar data, melainkan salah satu dasar untuk mengurangi risiko ketika kondisi lingkungan berubah. Pemahaman yang memadai juga mendukung komunikasi yang lebih baik nelayan dan penyedia informasi meteorologi, sehingga peringatan maupun prakiraan dapat digunakan secara tepat dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SMB II Palembang, Siswanto, menyampaikan keterangan mengenai kegiatan tersebut pada Selasa (27/10). Informasi itu dimuat dalam berita yang diterbitkan pada 28 Oktober 2026. Pelaksanaan sekolah lapang menjadi bagian dari upaya BMKG untuk mendekatkan layanan informasi cuaca kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, termasuk nelayan di wilayah Sungai Musi. Dengan pembekalan yang sesuai, peserta diharapkan semakin terbiasa menjadikan informasi cuaca dan iklim sebagai bagian dari perencanaan melaut, bukan hanya sebagai rujukan ketika cuaca memburuk. Pada akhirnya, peningkatan kemampuan tersebut diharapkan dapat mendukung keselamatan nelayan sekaligus membantu mereka menjalankan kegiatan dengan pertimbangan yang lebih terukur.
Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) dirancang untuk mendekatkan informasi meteorologi dan klimatologi kepada masyarakat yang aktivitas ekonomi serta keselamatannya sangat dipengaruhi keadaan alam. Bagi nelayan di Sungai Musi, perubahan cuaca, arah dan kekuatan angin, hujan, maupun kondisi perairan dapat memengaruhi pilihan waktu berangkat, rute, serta cara bekerja. Informasi tersebut akan lebih bermanfaat apabila disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dikaitkan langsung dengan pengalaman sehari-hari nelayan.
Melalui pembekalan ini, nelayan diharapkan mampu memahami informasi cuaca dan memanfaatkan teknologi meteorologi sebagai bahan pertimbangan sebelum maupun selama beraktivitas. Prakiraan dan tanda-tanda cuaca dapat membantu mereka menilai risiko, menyiapkan perlengkapan, menentukan waktu perjalanan, atau menunda kegiatan ketika kondisi tidak mendukung. Pemahaman itu bukan jaminan bahwa semua perubahan alam dapat diperkirakan secara pasti, tetapi dapat memperkuat kesiapan dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih terukur. Informasi cuaca juga dapat digunakan untuk berdiskusi dengan sesama nelayan dan keluarga mengenai rencana melaut atau bekerja di sungai.
Siswanto memandang teknologi meteorologi perlu dipahami bersama pengetahuan otodidak yang tumbuh dari pengamatan dan kearifan lokal. Pengalaman nelayan membaca perubahan alam selama bertahun-tahun merupakan bekal yang bernilai, sementara informasi dan perangkat meteorologi dapat memberikan sudut pandang tambahan. Keduanya dapat saling melengkapi: pengetahuan lokal membantu menafsirkan keadaan di lingkungan sekitar, sedangkan data cuaca menyediakan informasi yang lebih luas sebagai pembanding. Dengan demikian, pembelajaran SLCN tidak dimaksudkan untuk menggantikan cara masyarakat memahami sungai, melainkan memperkaya pengetahuan tersebut agar dapat dimanfaatkan secara tepat.
Pendekatan yang menghubungkan teknologi dengan pengalaman setempat juga membuat informasi lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat. Nelayan dapat mengenali manfaat prakiraan, memahami keterbatasannya, dan mempertimbangkan berbagai sumber sebelum mengambil keputusan. Pada akhirnya, pemahaman cuaca yang dibangun melalui SLCN diharapkan mendukung kegiatan nelayan yang lebih siap, aman, dan sesuai dengan kondisi alam Sungai Musi.
Dalam kehidupan masyarakat Palembang, Sungai Musi bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang yang membentuk sejarah dan kebudayaan. Sejak dahulu, alirannya menjadi jalur transportasi yang menghubungkan permukiman dan wilayah perdagangan, sekaligus sumber pangan bagi keluarga yang tinggal di tepiannya. Perahu membawa orang dan barang, sementara kegiatan jual beli tumbuh di kawasan sungai. Musi juga menjadi tempat warga bertemu, bertukar kabar, dan menjalankan aktivitas bersama. Hubungan yang berlangsung lintas generasi itu menempatkan sungai sebagai bagian penting dari cara masyarakat memahami lingkungan, mengatur kehidupan sehari-hari, serta menjaga keterikatan dengan tempat tinggal mereka.
Bagi nelayan, sungai dan perairan di sekitarnya mempunyai makna yang lebih khusus. Kegiatan mencari ikan menyediakan penghidupan, tetapi juga meneruskan keterampilan, kebiasaan, dan nilai yang diwariskan dalam keluarga maupun komunitas. Pengetahuan tentang waktu melaut, lokasi tangkapan, dan perubahan kondisi perairan sering dipelajari melalui pengalaman langsung serta pengamatan para pendahulu. Dengan demikian, hubungan nelayan dengan Musi tidak hanya bersifat ekonomi. Sungai menjadi bagian dari identitas dan tradisi antargenerasi, yang tercermin dalam cara mereka bekerja, berbagi pengetahuan, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terus berubah.
Kearifan lokal tersebut mencakup kemampuan membaca perubahan langit, mengenali arah dan kekuatan angin, mengamati arus, serta memahami pasang surut. Tanda-tanda alam membantu nelayan memperkirakan kondisi perjalanan dan menentukan langkah di perairan. Modal pengalaman ini tetap penting, tetapi tidak selalu cukup untuk menjawab perubahan cuaca yang dapat berlangsung cepat. Siswanto menekankan perlunya melengkapi pengetahuan setempat dengan informasi meteorologi yang terukur, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan. Perpaduan pengamatan turun-temurun dan data cuaca resmi dapat memperkaya pertimbangan sebelum melaut. Pendekatan tersebut menghargai tradisi sekaligus membantu nelayan mengenali risiko atmosfer yang semakin kompleks, sehingga keputusan keselamatan dapat dibuat dengan dasar yang lebih luas dan jelas.
Siswanto menjelaskan bahwa keselamatan nelayan memerlukan dukungan yang melibatkan berbagai pihak, dengan tugas yang saling melengkapi. BMKG menyediakan informasi meteorologi dan klimatologi yang dapat menjadi bahan pertimbangan masyarakat perikanan sebelum dan selama beraktivitas. Informasi mengenai kondisi cuaca dan potensi perubahan alam membantu nelayan menilai situasi, merencanakan perjalanan, serta menentukan langkah yang lebih aman. Dengan memahami informasi tersebut, keputusan untuk melaut maupun menunda kegiatan dapat dibuat secara lebih terukur, bukan hanya berdasarkan kebiasaan atau perkiraan semata.
Dalam menghadapi keadaan darurat, BPBD serta kantor pencarian dan pertolongan berperan dalam kesiapsiagaan dan penanganan sesuai tugas masing-masing. Keberadaan dukungan ini penting, tetapi tidak menggantikan kewaspadaan dan persiapan nelayan sendiri. Pemahaman tentang keselamatan, kemampuan mengenali risiko, dan kesiapan mengikuti arahan dapat mendukung respons yang lebih baik apabila keadaan berubah. Karena itu, pengetahuan cuaca perlu berjalan seiring dengan kebiasaan menjaga keselamatan, kesiapan menghadapi kondisi tak terduga, serta komunikasi yang baik dengan pihak terkait. Upaya tersebut membantu mengurangi kerentanan nelayan dan membuat kegiatan di sungai berlangsung dengan pertimbangan yang lebih matang.
Harapannya, nelayan yang memahami cuaca dan keselamatan akan lebih siap menghadapi perubahan alam, mengelola risiko, dan menjaga produktivitas usaha perikanan. Kesiapan bukan berarti seluruh bahaya dapat dihilangkan, melainkan memberi bekal untuk mengenali keadaan dan mengambil keputusan yang sesuai. Dalam konteks ini, kesejahteraan tidak semestinya dinilai hanya dari banyaknya hasil tangkapan atau pendapatan pada satu waktu. Kemampuan untuk pulang dengan selamat merupakan bagian mendasar dari keberhasilan bekerja.
Baca juga: 52 Lurah Peserta BSA 2026 Dibekali Keterampilan Pemasaran dan Konten | IFRC 2026 di Timika, Ruang Belajar Keselamatan bagi Papua dan Indonesia



































