Jakarta | Bimbingan teknis pengolahan sampah berbasis masyarakat yang mengedepankan prinsip inklusif berlangsung selama dua hari, pada 20–21 Oktober 2026. Kegiatan ini bertempat di Yayasan Lentera Asa Peduli Autis, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pelaksanaan di lingkungan yayasan tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi peserta untuk mengenal pendekatan pengelolaan sampah yang dapat melibatkan masyarakat dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.
Dalam kegiatan ini, MNC University turut ambil bagian sebagai salah satu pihak yang berpartisipasi. Kehadiran universitas tersebut menunjukkan keterlibatan unsur pendidikan dalam kegiatan pengembangan kapasitas masyarakat, tanpa menempatkannya sebagai penyelenggara utama. Bimbingan teknis ini berfokus pada pengolahan sampah sekaligus mendorong keterlibatan peserta secara aktif dalam proses pembelajaran. Prinsip inklusif menjadi perhatian agar kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keterampilan dapat terbuka bagi seluruh peserta.
Format kegiatan selama dua hari memberi ruang bagi peserta untuk mengikuti rangkaian pembelajaran secara bertahap. Dalam konteks pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemahaman mengenai cara mengolah sampah dapat menjadi bekal untuk mengenali potensi bahan yang kerap dianggap tidak terpakai. Pendekatan semacam ini juga dapat mendorong tumbuhnya kreativitas, terutama ketika peserta diajak melihat sampah sebagai bahan yang masih mungkin dimanfaatkan melalui proses yang sesuai.
Pemilihan lokasi di Yayasan Lentera Asa Peduli Autis, Gunung Putri, turut menegaskan pentingnya menghadirkan kegiatan pembelajaran di lingkungan yang mendukung partisipasi. Bimbingan teknis ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan pengolahan sampah, tetapi juga dengan upaya menciptakan pengalaman belajar yang memberi ruang bagi peserta untuk terlibat. Dengan demikian, kegiatan pada 20–21 Oktober 2026 tersebut mempertemukan isu lingkungan dan pemberdayaan melalui pembelajaran yang berorientasi pada masyarakat. Partisipasi MNC University menjadi bagian dari kolaborasi yang mendukung berlangsungnya kegiatan, sementara fokus utamanya tetap pada penguatan keterampilan dan kreativitas peserta dalam pendekatan pengolahan sampah yang inklusif.
Pelatihan pengolahan sampah inklusif di Bogor diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal (BBPPMDDT) Jakarta melalui kerja sama dengan Yayasan Lentera Asa Peduli Autis. Kolaborasi ini menyatukan pengalaman lembaga dalam pemberdayaan masyarakat dengan pendampingan yang memperhatikan kebutuhan penyandang autisme dan peserta disabilitas lainnya. Kegiatan dirancang agar akses terhadap pembelajaran praktis terbuka bagi peserta dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.
Program ini berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab. Peserta memperoleh pemahaman mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenis, upaya mengurangi timbulan sampah, serta cara mengolah bahan yang masih dapat dimanfaatkan. Materi juga menekankan aspek keselamatan, mulai dari mengenali risiko bahan tertentu hingga menggunakan alat dan menjaga kebersihan selama praktik. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya dipahami sebagai kegiatan rutin, tetapi juga sebagai kebiasaan yang mendukung lingkungan lebih sehat.
Perhatian khusus diberikan pada keterlibatan penyandang disabilitas, sehingga materi dan praktik diupayakan dapat diikuti secara inklusif. Pendampingan dari Yayasan Lentera Asa Peduli Autis membantu membangun suasana belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta, sementara BBPPMDDT Jakarta mendukung penyampaian materi pemberdayaan dan praktik pengolahan. Kerja sama ini membuka ruang bagi peserta untuk bertanya, mencoba tahapan kerja, serta mengembangkan keterampilan sesuai kemampuan masing-masing. Hasil pembelajaran diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun lingkungan komunitas. Selain membantu mengurangi sampah, keterampilan tersebut berpotensi mendorong kreativitas dan partisipasi masyarakat, termasuk kelompok yang kerap menghadapi hambatan dalam memperoleh pelatihan. Kolaborasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk memastikan edukasi lingkungan berjalan aman, bermanfaat, dan dapat diakses oleh lebih banyak orang.
Pada hari pertama pelatihan, Selasa, 20 Oktober 2026, Direktur Pengembangan Bisnis dan Jejaring Industri MNC University, Liena Prajogi, hadir untuk memberikan sambutan sekaligus motivasi kepada peserta. Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pengolahan sampah inklusif di Bogor, yang dirancang untuk mendorong keterampilan dan kreativitas. Dalam kesempatan tersebut, Liena menyampaikan pesan mengenai bekal penting yang dapat membantu peserta mengembangkan potensi, baik selama mengikuti pelatihan maupun saat menerapkan pengetahuan dalam kegiatan sehari-hari.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan. Pola pikir ini berkaitan dengan kemampuan melihat peluang, memahami kebutuhan, dan mempertimbangkan cara agar suatu gagasan dapat memberi nilai. Dalam konteks pengolahan sampah, cara pandang tersebut dapat membantu peserta mengenali potensi bahan yang kerap dianggap tidak berguna. Sampah dapat dipelajari dan diolah menjadi produk atau gagasan bernilai, selama prosesnya dilakukan dengan pengetahuan, perencanaan, dan pertimbangan yang sesuai. Dengan demikian, keterampilan teknis dapat berjalan berdampingan dengan sikap proaktif dalam mencari solusi.
Liena juga mendorong peserta untuk terus mengasah kreativitas. Kreativitas diperlukan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan pemanfaatan bahan, mengembangkan ide, serta menemukan pendekatan yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Dalam pelatihan inklusif, ruang belajar yang mendorong kreativitas dapat menjadi kesempatan bagi setiap peserta untuk mengenali kekuatan diri dan berkontribusi melalui gagasan. Pesan tersebut menempatkan proses belajar sebagai langkah untuk membangun kepercayaan dalam mencoba, berpikir terbuka, dan mengembangkan kemampuan secara bertahap. Perpaduan pola pikir kewirausahaan dan kreativitas diharapkan menjadi dasar bagi peserta untuk melihat pengolahan sampah bukan hanya sebagai kegiatan teknis, tetapi juga sebagai ruang untuk bertumbuh dan menghasilkan inisiatif yang bermanfaat.
Liena mengarahkan peserta untuk melihat limbah anorganik bukan semata-mata sebagai bahan buangan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat diolah secara kreatif. Pesan ini mendorong peserta untuk mengamati bahan yang tersedia, mempertimbangkan kemungkinan pemanfaatannya, lalu mengembangkan gagasan dengan tetap memperhatikan proses pengelolaan sampah. Kreativitas menjadi bagian penting dalam mengubah cara pandang terhadap limbah, sekaligus membuka ruang bagi peserta untuk belajar melalui kegiatan yang terarah.
Dalam pelatihan ini, pengolahan limbah anorganik diarahkan pada penciptaan produk seni kreatif yang berpotensi memiliki nilai tambah ekonomi. Penekanan pada potensi tersebut bukan berarti setiap bahan atau gagasan otomatis menghasilkan nilai jual. Peserta perlu memahami bahwa pemilihan bahan, pengolahan yang tepat, dan gagasan yang dikembangkan berperan dalam membentuk suatu produk. Karena itu, arahan Liena menempatkan kreativitas sebagai bekal untuk mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatan limbah secara bertanggung jawab.
Tujuan pelatihan berkaitan dengan pembekalan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan sampah bagi peserta, termasuk penyandang disabilitas. Melalui pembelajaran tersebut, peserta diharapkan memperoleh pemahaman mengenai cara menangani limbah anorganik dan kesempatan untuk mengasah kemampuan dalam proses pengolahannya. Pendekatan yang inklusif penting agar penyandang disabilitas dapat terlibat dalam kegiatan, menerima materi, dan mengembangkan keterampilan sesuai ruang belajar yang disediakan. Pelatihan ini menghubungkan pengetahuan dasar pengelolaan sampah dengan dorongan untuk berkarya.
Arahan untuk berkreasi juga memberi konteks bahwa keterampilan mengolah limbah dapat dipelajari sebagai bagian dari upaya menghasilkan karya yang mempunyai nilai lebih. Peserta didorong untuk mengembangkan ide, bukan sekadar mengikuti pemanfaatan bahan secara mekanis. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan, mereka dapat memahami tahapan pengelolaan serta melihat peluang kreatif dari bahan anorganik. Pelatihan tersebut menyediakan dasar pembelajaran, tanpa menjanjikan hasil tertentu. Pesan Liena menegaskan pentingnya kreativitas, partisipasi, dan penguasaan keterampilan dalam menjadikan pengelolaan sampah sebagai kegiatan yang produktif dan inklusif.
Baca juga: 52 Lurah Peserta BSA 2026 Dibekali Keterampilan Pemasaran dan Konten | BRIN dan Kampus Didorong Bawa Teknologi Pengolahan Sampah ke Desa



































