Kabupaten Aceh Tengah | Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh membangun kembali Jembatan Krueng Pelang di Kabupaten Aceh Tengah setelah jembatan tersebut terdampak bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025. Upaya ini menjadi bagian dari pemulihan akses yang diperlukan masyarakat setelah bencana mengganggu infrastruktur penghubung di wilayah tersebut. Pembangunan kembali dilakukan agar jembatan dapat kembali menjalankan fungsi pentingnya dalam mendukung konektivitas antarlokasi di Aceh Tengah.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.2 BPJN Aceh, Chandra, menyampaikan bahwa progres pembangunan Jembatan Krueng Pelang telah mencapai 60 persen. Capaian itu menunjukkan pekerjaan telah berjalan lebih dari separuh tahapan yang direncanakan, sementara proses pembangunan masih berlanjut hingga jembatan siap difungsikan. Informasi mengenai persentase progres tersebut memberikan gambaran perkembangan penanganan infrastruktur pascabencana tanpa mengubah target penyelesaian yang telah ditetapkan.
Jembatan Krueng Pelang ditargetkan dapat difungsikan pada akhir November 2026. Dengan demikian, tahapan pekerjaan berikutnya diarahkan untuk menyelesaikan pembangunan hingga infrastruktur tersebut dapat digunakan kembali. Pemulihan jembatan ini diharapkan mendukung kelancaran akses masyarakat dan membantu menghubungkan kembali kawasan yang terdampak. Keberadaan jembatan yang berfungsi juga penting bagi pergerakan warga serta aktivitas sehari-hari yang bergantung pada jalur penghubung tersebut.
Pembangunan kembali setelah dampak bencana hidrometeorologi merupakan bagian dari upaya memulihkan sarana transportasi di Aceh Tengah. Progres 60 persen menjadi penanda bahwa pekerjaan sudah berlangsung, sedangkan target akhir November 2026 menjadi acuan waktu agar jembatan dapat kembali melayani pengguna. Hingga target itu tercapai, penyelesaian pekerjaan perlu terus dilakukan sesuai tahapan pembangunan. Masyarakat menantikan pulihnya akses melalui Jembatan Krueng Pelang sebagai salah satu infrastruktur yang terdampak bencana pada 25 November 2025. Informasi dari BPJN Aceh menegaskan bahwa pembangunan masih berjalan dan sasaran utamanya adalah mengembalikan fungsi jembatan bagi konektivitas setempat.
Pekerjaan pembangunan Jembatan Krueng Pelang di Aceh Tengah kini berfokus pada pemasangan rangka baja, salah satu tahapan utama sebelum struktur jembatan dapat dilengkapi dengan lantai. Proses ini terus berlangsung pada bentang sepanjang 55 meter. Dari total 11 segmen rangka yang direncanakan, sebanyak sembilan segmen telah terpasang. Dengan demikian, pekerjaan pemasangan sudah memasuki tahap akhir, meski masih terdapat dua segmen yang perlu disambungkan agar rangka baja membentuk bentang jembatan secara utuh.
Chandra menyampaikan bahwa pihaknya berharap seluruh rangka baja dapat tersambung pada pekan berikutnya. Target tersebut menjadi penanda penting bagi kelanjutan pekerjaan, karena pemasangan lantai baru dapat dimulai setelah rangka jembatan tersambung. Penyelesaian rangka dilakukan secara bertahap sesuai urutan pemasangan, dengan memastikan seluruh segmen terhubung pada bentang yang telah ditentukan. Setelah tahap ini rampung, pekerjaan akan beralih dari struktur rangka menuju pembangunan bagian lantai yang nantinya menjadi permukaan lintasan bagi pengguna jembatan.
Tahapan lantai jembatan mencakup pembesian, pengecoran beton, kemudian pengaspalan. Pembesian menjadi proses awal untuk menyiapkan tulangan sebelum beton dicor, sementara pengecoran membentuk lapisan lantai yang menyatu dengan struktur jembatan. Setelah beton siap, pengaspalan dilakukan sebagai tahap akhir pada permukaan lintasan. Urutan pekerjaan tersebut perlu diselesaikan sebelum jembatan dapat digunakan masyarakat. Karena itu, tersambungnya seluruh rangka baja akan membuka jalan bagi dimulainya pekerjaan lantai, sekaligus membawa pembangunan Jembatan Krueng Pelang lebih dekat menuju pemanfaatan sebagai akses penghubung di Aceh Tengah. Masyarakat masih perlu menunggu hingga keseluruhan tahapan konstruksi tersebut selesai, termasuk pekerjaan pada lantai, agar jembatan siap dilalui. Kemajuan pemasangan sembilan segmen menunjukkan pekerjaan terus bergerak, sedangkan penyelesaian dua segmen tersisa menjadi sasaran terdekat sebelum rangka dinyatakan tersambung sepenuhnya.
Chandra menyampaikan bahwa perubahan ketinggian muka air sungai menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan Jembatan Krueng Pelang. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kondisi aliran berubah, sehingga permukaan air dapat naik dan turun dalam waktu yang relatif singkat. Situasi tersebut membuat pekerjaan di sekitar sungai perlu menyesuaikan kondisi lapangan, terutama ketika hujan meningkatkan debit dan mengubah tingkat keamanan area kerja. Cuaca dan kondisi sungai dengan demikian turut memengaruhi kelancaran tahapan konstruksi yang sedang berlangsung.
Dampak perubahan muka air paling terasa pada pengerjaan fondasi dan abutmen. Fondasi merupakan bagian struktur yang meneruskan beban jembatan ke tanah, sedangkan abutmen adalah struktur penyangga pada kedua ujung jembatan. Keduanya membutuhkan pekerjaan yang cermat dan kondisi lokasi yang memungkinkan tim bekerja secara aman serta sesuai tahapan teknis. Ketika air sungai meningkat, akses dan ruang kerja di sekitar titik konstruksi dapat terganggu. Akibatnya, pekerjaan fondasi maupun abutmen berpotensi tertahan atau harus diatur ulang mengikuti perubahan keadaan sungai. Penyesuaian ini penting agar pelaksanaan konstruksi tetap memperhatikan keselamatan dan mutu struktur, bukan sekadar mengejar kecepatan penyelesaian.
Untuk membantu mengendalikan dampak aliran terhadap area jembatan, pekerjaan penanganan aliran sungai atau river training dilakukan di bagian hulu dan hilir. Penanganan tersebut ditujukan untuk membantu melindungi infrastruktur jembatan dengan mengatur aliran di sekitar lokasi pembangunan. Upaya di kedua sisi aliran ini menjadi bagian pendukung pekerjaan utama, khususnya saat muka air berubah akibat hujan. Berdasarkan keterangan Chandra, progres pekerjaan river training telah mencapai sekitar 30 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan perlindungan aliran masih berlangsung dan belum selesai, sehingga pemantauan kondisi sungai serta penyesuaian metode kerja tetap diperlukan. Kombinasi penyelesaian fondasi, abutmen, dan penanganan aliran akan menentukan kesiapan struktur menghadapi kondisi sungai selama pembangunan berlanjut. Dengan demikian, perubahan muka air bukan hanya persoalan cuaca, tetapi juga faktor lapangan yang perlu diperhitungkan dalam urutan dan pengamanan pekerjaan konstruksi Jembatan Krueng Pelang.
Pembangunan kembali Jembatan Krueng Pelang terus dipercepat agar target pekerjaan dapat dikejar dan akses masyarakat segera pulih. Untuk menjaga kemajuan di lapangan, pekerjaan dilakukan pada siang dan malam hari dengan pembagian dua shift. Pola kerja bergiliran ini memungkinkan kegiatan konstruksi berlangsung lebih panjang setiap harinya, sekaligus memastikan pekerjaan tetap terorganisasi dan dapat diawasi. Dengan demikian, upaya pemulihan tidak hanya bergantung pada penambahan waktu kerja, tetapi juga pada koordinasi antartim dan ketersediaan kebutuhan pembangunan.
Sekitar 70 pekerja terlibat dalam pekerjaan tersebut. Mereka menjalankan tugas secara bergantian sesuai pembagian shift, sehingga aktivitas pembangunan dapat berlanjut tanpa jeda panjang. Kelancaran pekerjaan turut didukung oleh pasokan semen, material bangunan, dan bahan bakar minyak yang sebelumnya sempat terkendala. Kini, pasokan berbagai kebutuhan tersebut kembali lancar. Ketersediaan bahan dan bahan bakar menjadi faktor penting untuk mendukung kegiatan konstruksi di lapangan, menjaga ritme pekerjaan, serta membantu pelaksanaan pembangunan sesuai target yang telah ditetapkan.
Jembatan Krueng Pelang memiliki fungsi penting dalam jaringan transportasi setempat. Keberadaannya menghubungkan Kecamatan Silih Nara dan Kecamatan Rusip, sehingga mendukung pergerakan masyarakat serta kelancaran hubungan antarkawasan. Jembatan ini juga merupakan bagian dari ruas penghubung Pameu di Aceh Tengah menuju Geumpang di Kabupaten Pidie. Karena itu, pemulihan jembatan tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian sebuah bangunan, tetapi juga dengan tersambungnya kembali jalur transportasi yang dibutuhkan warga. Pembangunan kembali infrastruktur ini merupakan bagian dari pemulihan akses transportasi pascabencana di Aceh. Pekerjaan yang berlangsung bergiliran, didukung keterlibatan puluhan pekerja dan kembalinya kelancaran pasokan, diarahkan untuk memulihkan konektivitas pada jalur tersebut. Ketika jembatan kembali berfungsi, hubungan kecamatan dan lintasan menuju Kabupaten Pidie dapat ditunjang oleh infrastruktur yang lebih memadai, sehingga akses yang terdampak bencana dapat dipulihkan secara bertahap.
Baca juga: Pemulihan Air Minum Pascabencana di Sumatera Utara Dikebut Lewat Proyek SPAM | Satgas TMMD ke-130 Bangun Jembatan, Permudah Akses Jalan Masyarakat | Asap Karhutla Bergeser dari Jabodetabek, Pemantauan Udara Tetap Berlanjut



































