Penanganan Karhutla Berlanjut, Ratusan Hektare Lahan Masih Terbakar

oleh -34 Dilihat
oleh
BNPB Catat 639,23 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi

Kabupaten Kotawaringin Barat | Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah. Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 639,23 hektare lahan pada hari pelaporan masih terbakar dan sedang ditangani oleh satuan tugas di lapangan.

Laporan mengenai luas lahan yang belum padam itu disampaikan dalam rapat terbatas penanganan kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung di Istana , Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Dalam rapat tersebut, Suharyanto menyampaikan perkembangan penanganan karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk total luasan lahan yang masih terbakar.

Pernyataan Kepala BNPB itu kemudian dipublikasikan melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa, 13 Oktober 2026. Publikasi tersebut memuat laporan bahwa proses pemadaman dan penanganan di lapangan masih berlangsung. Dengan demikian, kebakaran belum sepenuhnya padam pada saat laporan disampaikan.

Suharyanto menyebutkan, total lahan yang pada hari laporan masih terbakar mencapai 639,23 hektare. Luasan tersebut menjadi bagian yang masih ditangani oleh satuan tugas di lapangan. Laporan BNPB ini menegaskan bahwa upaya penanganan karhutla belum selesai, karena ratusan hektare lahan masih memerlukan penanganan hingga api benar-benar padam.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Lahan yang belum sepenuhnya padam tersebar di enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa upaya pemadaman membutuhkan koordinasi lintas daerah, terutama karena karakter lahan dan akses menuju lokasi kebakaran berbeda-beda.

Sebagian besar wilayah terdampak berada di kawasan gambut. Lahan jenis ini memiliki lapisan organik yang mudah terbakar dan dapat menyimpan bara di bawah permukaan, sehingga api berpotensi muncul kembali meskipun asap di permukaan telah berkurang. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak cukup dilakukan dengan membasahi titik api, tetapi juga memerlukan pendinginan menyeluruh, pemantauan berkelanjutan, serta penguatan sumber daya di sekitar lokasi.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar dalam perkembangan penanganan terbaru. Titik api baru ditemukan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, yang mencakup wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan. Luasan area yang terbakar di lokasi tersebut tercatat mencapai 513,89 hektare. Besarnya area terdampak menjadikan kawasan ini salah satu fokus utama dalam operasi pemadaman dan pengendalian karhutla.

Meski berada di kawasan yang dikenal memiliki ekosistem gambut, area yang terbakar di lokasi Taman Nasional Tanjung Puting tersebut disebut merupakan lahan mineral, bukan lahan gambut. Perbedaan karakteristik ini berpengaruh terhadap pola penyebaran api, teknik pemadaman, dan pemantauan setelah api berhasil dikendalikan. Petugas tetap perlu memastikan tidak terdapat bara yang tertinggal serta mencegah api meluas ke vegetasi dan kawasan gambut di sekitarnya.

Pada hari laporan, Pangdam Kalimantan Tengah turut memimpin langsung penanganan di lapangan. Kehadiran pimpinan dalam operasi tersebut memperkuat koordinasi unsur militer, pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat. Penanganan terpadu diharapkan dapat mempercepat pemadaman, memperjelas pembagian tugas, serta memastikan kondisi di Taman Nasional Tanjung Puting tetap dipantau setelah operasi utama selesai.

Pemerintah memperkuat operasi darat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih meluas di sejumlah wilayah. Penambahan personel dilakukan melalui satuan tugas darat dengan melibatkan unsur pemadam kebakaran, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat. Selain memperbesar kekuatan personel, dukungan peralatan juga ditingkatkan agar pemadaman dan pendinginan lahan dapat berlangsung lebih cepat. Tim di lapangan diarahkan menyisir titik api, membuat sekat bakar, membasahi area rawan, serta memantau kemungkinan munculnya kembali bara di lahan gambut.

Penanganan dari udara tetap diupayakan melalui pengerahan helikopter water bombing. Armada tersebut diharapkan dapat menjangkau lokasi yang sulit didatangi melalui jalur darat dan membantu menjatuhkan air secara langsung ke titik kebakaran. Namun, kabut asap tebal menurunkan jarak pandang sehingga menghambat pergerakan dan keselamatan penerbangan. Kondisi itu membuat operasi udara dari Palangka Raya melalui Bandara Tjilik Riwut belum dapat menembus wilayah terdampak secara optimal.

Hambatan serupa terjadi pada dukungan penerbangan dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin. Rendahnya jarak pandang menyebabkan armada harus menunggu hingga kondisi membaik sebelum dapat menjalankan misi. Di Kalimantan Tengah, helikopter water bombing, operasi modifikasi cuaca, dan penerbangan pesawat komersial untuk sementara tidak dapat berlangsung. Penghentian sementara tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan dan risiko yang ditimbulkan oleh asap pekat.

Karena kendala penerbangan, penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan untuk sementara dipusatkan pada operasi darat. Satuan tugas memperkuat koordinasi antarlembaga, memprioritaskan wilayah dengan api aktif, dan memastikan distribusi pompa, selang, tangki air, serta perlengkapan perlindungan bagi petugas. Pemerintah juga terus memantau perubahan cuaca dan jarak pandang agar operasi udara dapat kembali digelar segera setelah kondisi memungkinkan.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dilanjutkan melalui penguatan operasi udara di dua wilayah utama, yakni Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Di Sumatra Selatan, armada baru dapat melakukan penerbangan pada hari laporan. Kegiatan tersebut akan dipadukan dengan operasi modifikasi cuaca serta penambahan armada agar dukungan pemadaman dari udara dapat diperluas sesuai kebutuhan di lapangan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat penanganan titik api dan mengurangi dampak asap di wilayah terdampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan empat pesawat untuk mendukung operasi di Kalimantan Tengah. Sementara itu, dua pesawat yang berada di Pangkal Pinang disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla di Sumatra Selatan. Pengerahan armada tersebut diharapkan memperkuat respons terhadap area yang masih terbakar, terutama ketika kondisi medan dan luas wilayah membuat pemadaman darat menghadapi kendala. Pelaksanaan operasi tetap disesuaikan dengan perkembangan situasi, kebutuhan di masing-masing daerah, serta faktor keselamatan penerbangan.

Pemerintah juga memantau prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya mengenai potensi hujan di wilayah yang terdampak kebakaran. Hujan alami diperkirakan mulai turun pada pertengahan Oktober hingga November dan diharapkan membantu memperbaiki kondisi kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, pemerintah tetap bersiap mengerahkan seluruh kemampuan yang tersedia untuk menangani karhutla sebelum musim hujan berlangsung. Kesiapan tersebut mencakup penguatan operasi udara, koordinasi antarlembaga, serta penyesuaian langkah penanganan berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi lapangan.

Baca juga: Penanganan Karhutla di Enam Provinsi Menyisakan 639,23 Hektare Lahan Terbakar | BNPB Catat 639,23 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi | Penanganan Karhutla Mencakup 639,23 Hektare, Tanjung Puting Jadi Titik Terluas