Pengungkapan Lab Narkoba di Pidie dan Penyelundupan Ketamin di Belawan

oleh -83 Dilihat
oleh
Pengungkapan Lab Narkoba di Pidie dan Penyelundupan Ketamin di Belawan

Kabupaten Pidie | Tim gabungan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai membongkar laboratorium narkotika rahasia di Kabupaten Pidie, Aceh. Sumber menyebut fasilitas tersebut sebagai laboratorium narkotika terbesar di Indonesia. Pengungkapan ini menyoroti pemanfaatan bangunan komersial yang tampak biasa sebagai lokasi pengolahan narkotika. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengecek langsung tempat tersebut setelah operasi dilakukan. Kehadiran pimpinan Polri di lokasi menunjukkan perhatian terhadap pengungkapan fasilitas produksi itu, yang berada di lingkungan ruko. Informasi dan dokumentasi mengenai penggerebekan diterima pada Jumat (23/10/2026), dengan gambaran awal tentang bangunan serta dua unit yang diduga menjadi bagian penting dari kegiatan terlarang tersebut.

Lokasi laboratorium berada di deretan ruko kawasan Mutiara Timur. Dari luar, bangunan bertingkat itu tidak langsung memperlihatkan fungsi sebenarnya. Cat dan pintunya bernuansa putih, sehingga tampil seperti ruko biasa di tengah kawasan usaha. Namun, bagian depan bangunan telah dipasangi garis polisi setelah pengungkapan. Penampilan yang lazim tersebut berlawanan dengan aktivitas di dalamnya: dua unit ruko digunakan untuk mengolah sabu cair menjadi sabu siap edar. Informasi ini memberikan gambaran tentang tahapan produksi yang berlangsung di tempat itu, tanpa menunjukkan bahwa seluruh deretan ruko terlibat. Penempatan laboratorium di ruang komersial juga menjadi salah satu aspek yang membuat lokasi tersebut terlihat tidak mencolok dari luar.

Pembongkaran di Pidie merupakan hasil kerja bersama sejumlah lembaga penegak hukum dan pengawasan. Polri, BNN, serta Bea Cukai disebut terlibat dalam operasi tersebut, sementara Kapolri meninjau langsung lokasi setelah laboratorium ditemukan. Rincian yang tersedia menegaskan bahwa dua ruko menjadi tempat pengolahan sabu cair hingga menjadi produk siap edar. Garis polisi di bagian depan menandai bahwa lokasi sedang berada dalam penanganan aparat. Penyebutan fasilitas ini sebagai laboratorium narkotika terbesar di Indonesia berasal dari sumber informasi mengenai pengungkapan tersebut. Adapun rincian lanjutan mengenai barang bukti, pihak yang diamankan, ataupun proses hukum belum dijelaskan dalam keterangan yang disampaikan. Untuk sementara, fokus peristiwa tertuju pada skala fasilitas, lokasi, dan fungsi kedua unit ruko itu.

Bagian dalam ruko yang diungkap dalam operasi gabungan itu tampak terbagi menjadi sejumlah ruangan. Pembagian tersebut menunjukkan bahwa lokasi digunakan untuk beberapa tahapan produksi, bukan hanya sebagai tempat penyimpanan. Dari satu sudut ke sudut lain, ruangan dipenuhi peralatan dan bahan kimia yang berkaitan dengan pembuatan narkotika. Kondisi ini memperlihatkan besarnya aktivitas yang berlangsung di dalam bangunan tersebut, sementara keberadaan berbagai barang di lokasi menjadi bagian penting dari temuan petugas.

Di barang yang terlihat terdapat persediaan sabu cair, tabung gas, dan kompor. Peralatan lain yang ditemukan mencakup alat penyinaran, mesin pendingin, timbangan, serta sejumlah ember. Barang-barang itu berada di beberapa bagian ruko bersama bahan kimia yang digunakan dalam kegiatan produksi. Keberadaan alat dan bahan tersebut menggambarkan bahwa ruangan-ruangan di dalam bangunan memiliki fungsi yang saling berkaitan dalam proses yang berlangsung di sana. Namun, temuan yang disampaikan tidak merinci fungsi khusus setiap ruangan maupun penggunaan masing-masing peralatan.

Petugas juga menemukan paket sabu yang telah dikemas dan siap diedarkan. Temuan tersebut berbeda dari persediaan sabu cair dan peralatan produksi, karena menunjukkan adanya narkotika yang telah disiapkan dalam bentuk paket. Secara keseluruhan, barang bukti yang terlihat mencakup bahan, perlengkapan, serta hasil yang sudah dikemas. Ruko itu pun menjadi lokasi yang memuat berbagai unsur kegiatan, mulai dari perlengkapan di dalam ruangan hingga paket yang diduga akan beredar.

Dalam operasi gabungan tersebut, petugas menyita sekitar 1,2 ton sabu. Sejumlah orang yang berada di lokasi juga diamankan. Penyitaan dalam jumlah besar, disertai temuan ruangan berisi peralatan dan bahan kimia, menegaskan skala pengungkapan di tempat itu. Rincian mengenai jumlah orang yang diamankan tidak disebutkan, demikian pula keterangan lebih jauh tentang pembagian fungsi tiap ruang. Informasi yang tersedia berfokus pada kondisi ruko, barang-barang yang ditemukan, jumlah sabu yang disita, serta tindakan petugas terhadap orang-orang di lokasi.

Laboratorium narkoba yang diungkap di Pidie diduga kuat terhubung dengan jaringan narkoba internasional lintas negara. Dugaan tersebut mengarah pada keterlibatan sindikat yang berasal dari China, Malaysia, dan Indonesia. Keterkaitan lintas negara ini memberi konteks penting terhadap pengungkapan fasilitas produksi di Aceh, yang penanganannya merupakan bagian dari upaya aparat menelusuri jaringan di balik peredaran narkoba. Meski demikian, hubungan para pihak masih berstatus dugaan dan perlu dibuktikan melalui penyidikan lebih lanjut. Informasi mengenai dugaan jaringan tersebut disampaikan dalam rangkaian pengungkapan kasus, bukan sebagai putusan hukum terhadap pihak tertentu. Aparat juga perlu menelusuri kemungkinan hubungan produksi, pengiriman, dan distribusi agar peran masing-masing pihak dapat diketahui secara terang.

Sebelum menuju lokasi laboratorium di Aceh, Suyudi lebih dahulu memimpin konferensi pers di dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan, Sumatera Utara. Dalam kesempatan itu, aparat mengungkap penyelundupan 1,16 ton ketamin HCl dengan nilai yang disebut mencapai Rp3,48 triliun. Barang tersebut ditemukan dari kapal MT Global 168. Pengungkapan di Belawan ini menunjukkan skala besar penyelundupan yang ditangani aparat, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan penindakan narkoba. Dalam operasi gabungan tersebut, petugas mengamankan delapan orang kru kapal, terdiri atas tujuh warga negara Indonesia dan satu warga negara asing asal Taiwan. Identitas serta kedudukan para kru disampaikan Suyudi dalam keterangan kepada awak media mengenai penindakan tersebut.

Suyudi merinci, IC bertugas sebagai nakhoda sekaligus kapten kapal, sedangkan RS menjabat chief officer. JA disebut sebagai kepala kamar mesin dan IAE sebagai masinis dua. JMR berperan sebagai oiler, sementara RF, DPB, dan YCY bertugas sebagai juru mudi. Di delapan kru yang diamankan, YCY disebut sebagai warga negara asing; keterangan yang disampaikan menyebut asalnya Taiwan. Rincian posisi tersebut membantu menjelaskan komposisi kru MT Global 168 saat kapal diamankan, tanpa dengan sendirinya menetapkan tingkat keterlibatan setiap orang dalam dugaan penyelundupan. Penetapan peran hukum masing-masing tetap bergantung pada hasil pemeriksaan dan proses penyidikan. Dengan memaparkan identitas pekerjaan para kru, aparat memberikan gambaran awal tentang siapa saja yang berada di kapal ketika ketamin HCl ditemukan dalam operasi di Belawan.Menurut Suyudi, penindakan terhadap MT Global 168 bermula dari deteksi intelijen atas anomali rute kapal tersebut. Pergerakannya di Selat Malaka diketahui melintasi Laut Andaman, sehingga memunculkan kecurigaan dan menjadi dasar bagi aparat untuk menindaklanjuti informasi itu. Temuan tersebut kemudian dikoordinasikan dalam operasi gabungan yang melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, dan Bareskrim Polri. Pemantauan serta persiapan dilakukan untuk memastikan kapal dapat dicegat dan diperiksa, sekaligus mengungkap kemungkinan adanya muatan narkotika yang dibawa melalui jalur laut. Informasi mengenai pola perjalanan kapal menjadi bagian penting dalam menyusun langkah penindakan berikutnya.

Pada Senin (19/10), tim gabungan bersiap di Kuala Tanjung sebelum melaksanakan pencegatan. Bea Cukai mengerahkan kapal patroli BC 20006, sedangkan KP Murai 4018 turut digunakan dalam operasi tersebut. Kedua kapal patroli itu bergerak untuk menghadang MT Global 168 setelah anomali rutenya terdeteksi. Kapal sasaran kemudian dicegat di perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Setelah pencegatan, petugas mengawal MT Global 168 menuju dermaga Pelabuhan Belawan agar pemeriksaan dapat dilakukan.