JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Penyempitan pembuluh darah tidak selalu langsung menimbulkan keluhan yang mudah dikenali. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan, sementara seseorang tetap merasa sehat dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Karena itu, ketiadaan keluhan tidak dapat dijadikan tanda bahwa pembuluh darah berada dalam keadaan aman atau bebas dari masalah.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A. Damay, menjelaskan bahwa penyempitan sekitar 30–40 persen belum tentu menimbulkan keluhan. Pada tahap tersebut, perubahan pada pembuluh darah dapat berlangsung tanpa disadari oleh orang yang mengalaminya. Keadaan yang tampak tenang ini berpotensi membuat seseorang mengabaikan kondisi tersebut karena tidak merasakan adanya gangguan.
Meski belum menimbulkan keluhan, penyempitan tetap memiliki kemungkinan untuk berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah berkembangnya penyempitan pembuluh darah menjadi serangan jantung. Proses tersebut menunjukkan bahwa kondisi awal yang tidak terasa bukan berarti tidak memiliki dampak terhadap kesehatan jantung.
Penjelasan ini menegaskan pentingnya memahami bahwa gangguan pada pembuluh darah dapat hadir tanpa tanda yang jelas. Seseorang tidak seharusnya menganggap pembuluh darahnya aman hanya karena tidak merasakan keluhan. Penyempitan sekitar 30–40 persen mungkin belum mengganggu, tetapi tetap dapat menjadi bagian dari proses yang berlanjut dan berpotensi berakhir pada serangan jantung.
Dengan demikian, informasi mengenai penyempitan pembuluh darah perlu dipahami secara cermat. Tidak adanya keluhan hanya menunjukkan bahwa kondisi tersebut belum terasa, bukan jaminan bahwa tidak ada perubahan pada pembuluh darah. Keterangan dokter tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan menuju serangan jantung dapat bermula dari penyempitan yang awalnya berlangsung secara diam-diam.
Minimnya aktivitas fisik dapat membuat penyempitan pembuluh darah pada tahap awal sulit dikenali. Ketika seseorang lebih banyak duduk, jarang berjalan, dan hampir tidak pernah berolahraga, tubuh tidak memperoleh cukup rangsangan untuk memperlihatkan perubahan kemampuan fisik secara jelas. Akibatnya, keluhan seperti nyeri dada, napas pendek, atau mudah lelah mungkin belum muncul, terutama saat kebutuhan tubuh terhadap aliran darah masih rendah.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan anggapan bahwa tubuh berada dalam keadaan baik. Seseorang yang menjalani rutinitas dengan aktivitas ringan mungkin tidak menyadari bahwa pembuluh darahnya mulai menyempit. Ia juga tidak sering menguji kemampuan tubuh melalui kegiatan yang membutuhkan kerja jantung lebih besar, seperti berjalan cepat, menaiki tangga, atau berolahraga. Karena itu, tidak adanya keluhan belum tentu menunjukkan bahwa tidak ada gangguan pada pembuluh darah.
Vito menjelaskan hal tersebut di Jakarta pada Rabu (8/10/2026). “Seseorang bisa merasa tidak memiliki keluhan karena memang tidak mengetahui kondisinya, sekaligus karena jarang bergerak atau terlalu lama duduk,” ujarnya. Pernyataan ini membantu menjelaskan mengapa penyempitan pembuluh darah tanpa gejala dapat luput dari perhatian. Keluhan mungkin baru terasa ketika seseorang melakukan aktivitas yang lebih berat atau ketika penyempitan telah berkembang dan mengurangi aliran darah secara signifikan.
Pola hidup sedentari juga dapat berjalan bersamaan dengan faktor risiko lain, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak sehat, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok. Tanpa pemeriksaan, faktor-faktor tersebut dapat berkembang selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan tanda yang mudah dikenali. Oleh sebab itu, orang yang jarang bergerak perlu tetap memperhatikan pemeriksaan kesehatan, meskipun merasa bugar. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, profil lemak, serta evaluasi dokter dapat membantu menemukan risiko lebih awal. Menambah aktivitas secara bertahap, mengurangi waktu duduk, dan melakukan jeda gerak secara berkala juga menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah.
Pencegahan penyempitan pembuluh darah perlu dimulai dengan kesadaran untuk mengenali faktor risikonya. Vito mengimbau masyarakat agar tidak menunggu munculnya keluhan, melainkan memperhatikan kebiasaan sehari-hari yang dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Langkah tersebut penting karena perubahan pada pembuluh darah dapat berkembang secara perlahan dan tidak selalu menimbulkan tanda yang mudah dikenali.
Perbaikan kebiasaan dapat dilakukan melalui beberapa hal sederhana, tetapi perlu dijalankan secara konsisten. Masyarakat dianjurkan berolahraga sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan, mengatur pola makan, mencukupi waktu tidur, serta berhenti merokok. Pengaturan makan dapat membantu membangun pilihan yang lebih seimbang, sedangkan aktivitas fisik teratur mendukung kebugaran dan membantu tubuh bekerja secara lebih optimal. Berhenti merokok juga menjadi bagian penting karena paparan rokok berkaitan dengan berbagai risiko terhadap sistem kardiovaskular.
Menurut Vito, perubahan pola hidup, tidur yang lebih teratur, penurunan berat badan dengan komposisi yang baik, latihan, olahraga, dan pengaturan makan dapat membantu mengubah kekakuan pembuluh darah. Pernyataan ini menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu kebiasaan atau satu jenis aktivitas. Perubahan dapat dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan, rutinitas, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.
Mengenali faktor risiko juga membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih tepat mengenai gaya hidupnya. Mereka yang memiliki kebiasaan merokok, pola makan kurang teratur, waktu tidur terbatas, atau jarang bergerak dapat mulai mengevaluasi rutinitas tersebut. Upaya pencegahan sebaiknya dipandang sebagai proses berkelanjutan yang membutuhkan kedisiplinan dan pemantauan. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan sebelum masalah pembuluh darah berkembang lebih jauh, tanpa menganggap perubahan gaya hidup sebagai jaminan kesembuhan.
Menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan mengandalkan obat. Dalam pengalamannya menangani pasien, Vito menyampaikan bahwa sekitar 90 persen pasien yang ditanganinya tidak berolahraga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik perlu mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, bukan sekadar pilihan tambahan setelah seseorang mengalami gangguan jantung.
Aktivitas fisik dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing orang. Selain berolahraga, pengaturan pola makan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kebiasaan sehari-hari, termasuk pilihan makanan dan tingkat aktivitas, memiliki peran dalam upaya menjaga kesehatan tubuh. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan jantung perlu dilakukan melalui perubahan kebiasaan secara menyeluruh, bukan hanya melalui konsumsi obat.
Vito juga mengingatkan bahwa tidur sering kali dianggap remeh. Padahal, tidur menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan bersama pola makan, aktivitas fisik, dan stres. Keempat aspek tersebut merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari yang perlu dikelola. Kesibukan atau tuntutan aktivitas tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan waktu istirahat dan kondisi mentalnya.
Selain itu, rokok juga perlu menjadi perhatian. Berhenti merokok disebut sebagai salah satu perubahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor risiko. Keputusan tersebut, menurut Vito, merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan. “Keputusan untuk berhenti merokok merupakan hal yang sangat baik,” ujar Vito. Perubahan kebiasaan, mulai dari lebih aktif bergerak, mengatur pola makan, memperhatikan tidur dan stres, hingga meninggalkan rokok, menjadi bagian dari perhatian terhadap kesehatan jantung.


