Kabupaten Merauke | Pemerintah mempercepat Program Cetak Sawah Rakyat di Merauke, Papua Selatan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas lahan dan memperkuat produksi pangan nasional. Program ini diarahkan untuk membuka potensi lahan pertanian baru sekaligus mendukung ketersediaan pangan dalam jangka panjang. Namun, pencetakan sawah tidak cukup hanya dengan menyiapkan lahan. Keberhasilan program bergantung pada kesiapan berbagai unsur pendukung, mulai dari tahap perencanaan hingga sawah dapat ditanami dan menghasilkan panen.
Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa meninjau lokasi program di Desa Muram Sari, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pemantauan pelaksanaan program di lapangan. Dalam kesempatan itu, ia menekankan perlunya dukungan menyeluruh agar lahan yang telah dibuka dapat digunakan secara optimal. Peninjauan langsung juga penting untuk melihat perkembangan pekerjaan serta mengenali kebutuhan yang perlu ditangani supaya proses pembukaan lahan berlanjut menjadi kegiatan budidaya yang produktif.
Dukungan dari hulu hingga hilir diperlukan agar hasil pembangunan sawah tidak berhenti pada tersedianya petak lahan. Persiapan lahan perlu selaras dengan ketersediaan sarana produksi, pengelolaan air, akses terhadap alat dan pendampingan teknis, serta kesiapan petani untuk mengolah sawah. Setelah masa tanam, perhatian juga perlu diberikan pada penanganan hasil panen, penyimpanan, dan distribusi. Keterpaduan tahapan tersebut dapat membantu memastikan sawah baru berfungsi sesuai tujuan dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Merauke memiliki peran penting dalam penguatan pangan, sehingga percepatan program perlu diiringi koordinasi yang konsisten pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaksana di lapangan, dan petani. Pemantauan berkala dapat membantu mengatasi kendala lebih cepat serta menjaga agar dukungan sesuai dengan kondisi setempat. Dengan demikian, cetak sawah rakyat tidak hanya menambah luas lahan pertanian, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas dan memperkuat kontribusi wilayah terhadap produksi pangan nasional.
Di Papua Selatan, luas lahan yang masuk dalam program cetak sawah tercatat mencapai 45.993 hektare. Angka tersebut merupakan akumulasi dari dua tahap pelaksanaan, yakni 17.693 hektare pada 2025 dan 28.300 hektare pada 2026. Rincian ini menunjukkan skala pekerjaan yang perlu ditangani secara bertahap, sekaligus menggambarkan besarnya kebutuhan untuk menghubungkan pembukaan lahan dengan kesiapan kegiatan pertanian berikutnya. Data luas tersebut menjelaskan cakupan lahan yang dicetak, bukan ukuran hasil produksi atau bukti bahwa seluruh areal telah siap ditanami.
Perbedaan luasan antartahun juga menegaskan pentingnya perencanaan yang sesuai dengan jadwal dan kondisi setiap lokasi. Areal yang telah dibuka perlu segera diarahkan menuju penggunaan produktif melalui dukungan yang memadai, termasuk memastikan prasyarat kegiatan budidaya tersedia. Karena itu, perhatian tidak cukup berhenti pada besarnya angka hektare yang dicetak. Pengelolaan setelah pembukaan lahan perlu berjalan seiring, agar lahan yang masuk dalam program dapat berfungsi sesuai tujuan dan tidak tertahan sebelum dimanfaatkan.
Dengan cakupan total 45.993 hektare, tahapan lanjutan menjadi bagian penting dari upaya percepatan di Papua Selatan. Pemerintah dan pihak terkait perlu memperhatikan kesinambungan pekerjaan dari hulu hingga hilir, dengan mengacu pada kondisi aktual di lapangan serta kebutuhan petani. Fokus tersebut membantu memastikan bahwa lahan yang telah dicetak memperoleh dukungan untuk segera produktif, tanpa menganggap bahwa pembukaan lahan dengan sendirinya menjamin pemanfaatan atau hasil tertentu. Data 17.693 hektare pada 2025 dan 28.300 hektare pada 2026 dapat menjadi dasar untuk menata prioritas pendampingan, kesiapan sarana, serta langkah pemanfaatan secara terukur. Dengan demikian, capaian luasan dapat diikuti perhatian yang seimbang terhadap proses setelahnya, sehingga tujuan program tidak hanya dinilai dari hektare yang dibuka, tetapi juga dari kesiapan lahan untuk digunakan dalam kegiatan pertanian.
Dalam upaya mempercepat cetak sawah di Merauke, perhatian terhadap kebutuhan petani di lapangan menjadi bagian penting dari dukungan produksi. Saleh berdialog dengan kelompok tani untuk menyerap aspirasi dan mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam kegiatan usaha tani. Dialog tersebut memberi ruang bagi petani untuk menyampaikan kondisi yang mereka hadapi, sekaligus membantu memastikan dukungan yang disiapkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kebutuhan itu mencakup sarana dan prasarana serta pendampingan selama proses produksi.
Sejumlah hal menjadi perhatian dalam pembahasan bersama kelompok tani, mulai dari jalan usaha tani dan irigasi hingga mekanisasi pertanian. Jalan yang mendukung akses ke lahan dan irigasi yang memadai berkaitan dengan kelancaran kegiatan tanam. Di sisi lain, mekanisasi dapat membantu pekerjaan pertanian, terutama ketika pengolahan lahan dan penanaman perlu dilakukan dengan cepat. Ketersediaan pupuk dan benih juga dibahas sebagai kebutuhan pokok yang perlu diperhatikan agar petani dapat menjalankan tahapan produksi.
Pendampingan bagi petani turut menjadi bagian dari dukungan yang diperlukan. Ketersediaan pupuk, benih, air, alat, dan mesin pertanian dipandang penting untuk menopang percepatan tanam. Setiap unsur tersebut mendukung kegiatan di lahan, dari persiapan hingga penanaman, sehingga perlu diperhatikan bersama. Dengan menyerap kebutuhan petani secara langsung, dukungan produksi dapat diarahkan pada sarana yang benar-benar diperlukan untuk mendorong kegiatan tanam berjalan sesuai rencana.
Saleh menekankan agar kebutuhan pupuk dan benih petani tidak terabaikan. Ia menyampaikan bahwa “jangan sampai ada petani yang kekurangan pupuk maupun benih.” Pernyataan itu menegaskan pentingnya memastikan ketersediaan kedua input tersebut bagi petani. Perhatian pada pupuk dan benih berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan air, alat, mesin pertanian, serta dukungan irigasi dan akses usaha tani. Melalui dialog dan pendampingan, kebutuhan di lapangan dapat dikenali, sehingga upaya percepatan tanam ditopang oleh dukungan produksi yang dibutuhkan petani.
Saleh berpandangan bahwa Merauke memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Wilayah yang luas dan peluang pengembangan pertanian memberikan ruang bagi daerah ini untuk berkontribusi lebih besar terhadap pasokan pangan. Namun, potensi tersebut tidak otomatis terwujud hanya dengan membuka lahan baru. Pengembangan perlu disertai pengelolaan terencana, pemanfaatan lahan secara optimal, serta perhatian terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan pertanian dapat menghasilkan manfaat jangka panjang dan memperkuat ketahanan pangan dalam menghadapi perubahan kebutuhan serta gangguan pasokan.
Menurut Saleh, optimalisasi lahan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas. Artinya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari bertambahnya luas sawah, tetapi juga dari kemampuan lahan menghasilkan panen yang baik dan konsisten. Petani membutuhkan dukungan sarana pertanian yang memadai, mulai dari pengairan dan akses terhadap benih hingga jalan usaha tani dan pendampingan teknis. Ketersediaan sarana tersebut perlu direncanakan secara berkelanjutan, agar lahan yang dibuka dapat dikelola secara efektif dan produktivitas tidak menurun setelah program awal selesai. Perencanaan yang memperhatikan kondisi setempat juga membantu memastikan dukungan sesuai dengan kebutuhan petani.
Program cetak sawah, dalam pandangan Saleh, merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Karena itu, perluasan lahan harus disertai langkah untuk meningkatkan hasil panen serta memastikan manfaat ekonomi dirasakan masyarakat. Produksi yang meningkat dapat memperkuat pasokan pangan, sementara akses pasar dan pendapatan yang lebih baik berpotensi mendukung kehidupan petani. Saleh menekankan bahwa agenda pangan tidak berhenti pada pembangunan lahan, melainkan memerlukan dukungan yang terus berjalan dari hulu hingga hilir. Menjaga kesinambungan upaya tersebut dan meningkatkan kesejahteraan petani menjadi hal penting agar potensi Merauke benar-benar memberi kontribusi bagi ketahanan pangan nasional.



































