Megawati Dorong Anak Muda Kuasai Iptek dan Berpegang pada Pancasila

oleh -81 Dilihat
oleh
Megawati Dorong Anak Muda Kuasai Iptek dan Berpegang pada Pancasila

Jakarta | Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mengajak generasi muda untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan karakter bangsa. Pesan tersebut disampaikan melalui tayangan video pada puncak Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu malam. Dalam pidato politiknya, Megawati menekankan bahwa kemampuan teknis perlu berjalan seiring dengan nilai-nilai kebangsaan, termasuk Pancasila. Bekal pengetahuan dapat membantu anak muda menghadapi perubahan, sementara karakter yang kuat menjadi pedoman dalam menggunakan kemampuan tersebut secara bertanggung jawab.

Megawati mendorong kaum muda mempersiapkan diri sejak sekarang untuk menghadapi tantangan masa depan. Perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat menuntut generasi baru untuk terus belajar, terbuka terhadap perkembangan, serta mampu menilai persoalan secara cermat. Penguasaan ilmu pengetahuan, menurut pesan yang disampaikan, bukan sekadar mengejar kemajuan atau mengikuti tren. Pengetahuan dan teknologi sebaiknya diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan kesiapan itu, anak muda dapat mengambil peran lebih besar dalam menjawab kebutuhan di lingkungan sekitarnya maupun menghadapi persoalan yang lebih luas.

Salah satu hal yang disoroti ialah pentingnya mempelajari teknologi terapan. Megawati mengajak generasi muda memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan konkret dan membantu mengatasi berbagai persoalan nyata. Pendekatan tersebut mendorong pembelajaran yang tidak berhenti pada teori, tetapi juga memperhatikan penerapan dan dampaknya. Anak muda dapat mengembangkan gagasan, keterampilan, dan solusi dengan melihat kondisi masyarakat sebagai titik berangkat. Pada saat yang sama, penguatan karakter bangsa menjadi unsur penting agar pemanfaatan teknologi mempertimbangkan kepentingan bersama. Pesan Megawati menempatkan penguasaan iptek dan nilai Pancasila sebagai bekal yang saling melengkapi bagi generasi penerus Indonesia.

Dalam pandangan Megawati, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bekal penting bagi anak muda untuk menghadapi perubahan zaman serta berkontribusi bagi bangsa. Namun, kecakapan intelektual tidak seharusnya dipandang sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan jati diri, moralitas, keberanian, dan integritas. Tanpa landasan tersebut, kemampuan yang tinggi belum tentu digunakan untuk tujuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, pendidikan dan pengembangan diri perlu membentuk manusia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memahami tanggung jawab atas ilmu dan keterampilan yang dimilikinya. Kecerdasan, dalam kerangka ini, menuntut kesadaran untuk mempertimbangkan dampak tindakan serta kepentingan bersama.

Penekanan pada nilai Pancasila menunjukkan bahwa kemajuan tidak dapat dilepaskan dari prinsip-prinsip yang menjadi pegangan dalam kehidupan berbangsa. Megawati mengingatkan bahwa seseorang dapat menguasai berbagai bidang ilmu, tetapi penguasaan itu tidak cukup apabila ia tidak teguh memegang nilai-nilai Pancasila. Nilai tersebut memberi arah ketika seseorang mengambil keputusan, menghadapi perbedaan, dan menjalankan peran di tengah masyarakat. Sikap berintegritas berarti menjaga kesesuaian pengetahuan, ucapan, dan tindakan, sedangkan keberanian membantu generasi muda menyuarakan kebenaran serta bertanggung jawab atas pilihan mereka. Dengan demikian, pengembangan teknologi dan keahlian profesional perlu disertai komitmen pada kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan kepentingan Indonesia.

Pesan itu menempatkan karakter sebagai unsur penting dalam menentukan masa depan bangsa. Kemajuan Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa luas ilmu yang dikuasai generasi mudanya, tetapi juga pada kekuatan karakter yang membimbing penggunaan ilmu tersebut. Anak muda yang berpengetahuan sekaligus bermoral dapat memanfaatkan kemampuannya untuk menjawab persoalan, bekerja secara jujur, dan membangun kehidupan bersama. Sebaliknya, kecakapan tanpa keteguhan nilai berisiko kehilangan arah dan tidak memberi manfaat yang sepadan. Karena itu, generasi muda didorong untuk terus belajar sekaligus memelihara jati diri, memperkuat integritas, dan menjadikan Pancasila sebagai pedoman. Perpaduan iptek dan karakter inilah yang membantu memastikan kemajuan berjalan selaras dengan cita-cita kebangsaan.

Megawati mengingatkan kaum muda agar tidak berhenti pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menggunakan pengetahuan serta keberanian mereka untuk membela kepentingan masyarakat. Anak muda, menurut pesan yang disampaikannya, perlu berani menyuarakan kebenaran, menolak ketidakadilan, dan berpihak kepada rakyat. Kepekaan tersebut terutama penting ketika berhadapan dengan persoalan kelompok lemah yang suaranya kerap kurang terdengar dan membutuhkan pembelaan. Sikap kritis bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan kesediaan memahami keadaan, menilai persoalan secara jernih, serta mengambil tanggung jawab sosial. Dengan demikian, kemajuan generasi muda dapat memberi manfaat nyata bagi kehidupan bersama dan memperkuat nilai kemanusiaan dalam masyarakat.

Untuk menjelaskan arti keberanian dan kebersamaan, Megawati mengajak kaum muda mengingat sejarah Lapangan Banteng di Jakarta, yang dahulu dikenal sebagai Waterlooplein. Di kawasan itu, tepatnya di Gedung Katholieke Jongelingen Bond, pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan mengadakan rapat pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928. Mereka berasal, lain, dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi. Para peserta datang dengan latar dan organisasi berbeda, tetapi memilih bertemu serta membicarakan cita-cita bersama. Kisah tempat tersebut menunjukkan bahwa sejarah persatuan nasional tumbuh melalui perjumpaan dan kerja bersama.

Megawati menjadikan keputusan para pemuda itu untuk bersatu di tengah kolonialisme Belanda sebagai teladan bagi generasi sekarang. Mereka membangun persatuan sebelum Indonesia merdeka, ketika keadaan politik dan sosial masih berada di bawah kekuasaan kolonial. Kesediaan melampaui batas kedaerahan memperlihatkan bahwa tujuan bersama dapat menguatkan perjuangan menghadapi ketidakadilan. Bagi kaum muda masa kini, teladan itu dapat diterapkan dengan merawat solidaritas, mendengarkan kelompok yang berbeda, dan tidak membiarkan kepentingan rakyat tersisih. Keberanian menyuarakan kebenaran akan lebih bermakna apabila disertai kepedulian dan semangat persatuan. Pesan tersebut menghubungkan pembelaan terhadap kelompok rentan dengan tanggung jawab menjaga kebersamaan sebagai dasar kehidupan berbangsa.

Megawati mengingatkan bahwa perayaan tidak seharusnya berhenti pada rangkaian acara atau menjadi seremoni semata. Makna sebuah peringatan, menurut pesan yang disampaikannya, perlu diteruskan melalui sikap dan tindakan nyata. Karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenang perjuangan, tetapi juga mengambil bagian dalam melanjutkan semangat yang diwariskan oleh para pendahulu.

Ajakan tersebut menempatkan anak muda sebagai pelaku yang dapat mewujudkan nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari. Keberanian diperlukan agar mereka tidak ragu mengambil langkah, menyampaikan gagasan, dan berbuat sesuai tanggung jawabnya. Semangat itu bukan sekadar seruan, melainkan dorongan agar anak muda mengubah tekad menjadi aksi yang dapat dilakukan secara konkret.

Megawati juga menyerukan agar keberanian dan tindakan tersebut berjalan bersama persatuan. Anak muda diajak menjaga kesadaran bahwa mereka berada dalam satu nusa dan satu bangsa. Perbedaan tidak semestinya menghapus ikatan kebangsaan; sebaliknya, semangat kebersamaan perlu menjadi landasan dalam melanjutkan perjuangan. Pesan ini menegaskan bahwa kerja nyata dan persatuan merupakan bagian dari komitmen yang sama.

Dalam seruannya, Megawati turut mengingatkan pentingnya kemanusiaan. Tindakan yang dilakukan generasi muda hendaknya tetap berakar pada kepedulian terhadap sesama dan penghormatan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, keberanian bukan hanya soal berani bertindak, tetapi juga tentang memastikan bahwa tindakan itu sejalan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian.

Perayaan, pada akhirnya, perlu menjadi pengingat untuk terus bergerak, bukan penanda bahwa tugas telah selesai. Pesan Megawati mengajak generasi muda meneruskan semangat perjuangan melalui aksi nyata, berani mengambil peran, menjaga persatuan dalam satu nusa dan satu bangsa, serta menjunjung kemanusiaan. Seruan tersebut menjadi dorongan agar nilai perjuangan hadir dalam tindakan, bukan hanya dalam kata-kata atau seremoni peringatan.

Baca juga: Megawati Ajak Generasi Muda Berani Membela Rakyat dan Menguasai Teknologi