Polri Perkuat Respons Karhutla Sumsel dengan Tambahan 200 Personel Brimob

oleh -566 Dilihat
oleh
Polri Perkuat Respons Karhutla Sumsel dengan Tambahan 200 Personel Brimob

Kabupaten Ogan Komering Ilir | Polri mengirimkan tambahan 200 personel dari Pasbrimob I Korbrimob Polri ke Sumatera Selatan untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Personel tersebut diperbantukan kepada Polda Sumatera Selatan sebagai bantuan kendali operasi dalam Operasi Aman Nusa II. Kehadiran pasukan tambahan ini ditujukan untuk mendukung upaya yang telah berjalan, sekaligus menambah kapasitas kepolisian dalam menghadapi potensi kebakaran di berbagai wilayah rawan.

Dalam operasi tersebut, personel Brimob akan bekerja bersama petugas gabungan yang telah bersiaga di lapangan. Dukungan diarahkan untuk mengoptimalkan langkah pencegahan, meningkatkan pemantauan di kawasan yang memiliki risiko karhutla, serta membantu pemadaman apabila ditemukan titik api. Pemantauan yang lebih intensif diharapkan membuat potensi kebakaran dapat diketahui lebih dini, sehingga respons dapat dilakukan secara tepat dan terkoordinasi. Upaya pencegahan dan penanganan juga memerlukan kerja sama lintas instansi, khususnya di wilayah yang kondisi lahannya rentan terbakar.

Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menyampaikan bahwa kesiapsiagaan dan langkah terukur diperlukan untuk menangani karhutla. Menurutnya, pengerahan personel tambahan merupakan bagian dari dukungan Polri kepada jajaran di daerah agar pelaksanaan operasi dapat berlangsung lebih optimal. Penguatan di lapangan diharapkan membantu petugas menjalankan pemantauan dan pemadaman secara lebih efektif, dengan tetap memperhatikan keselamatan personel serta masyarakat. Kehadiran pasukan juga mendukung koordinasi dengan unsur gabungan yang telah lebih dahulu bertugas.

Melalui bantuan kendali operasi ini, Polda Sumatera Selatan diharapkan memiliki dukungan yang memadai untuk merespons perkembangan situasi di kawasan rawan. Penanganan yang cepat, terukur, dan terpadu penting untuk membatasi penyebaran api serta mencegah meluasnya kerusakan. Polri berharap tambahan personel dapat berkontribusi pada penanganan yang lebih efektif, sekaligus mengurangi dampak karhutla terhadap kehidupan masyarakat, kesehatan, aktivitas sehari-hari, dan lingkungan di Sumatera Selatan.

Seluruh 200 personel Brimob diberangkatkan secara serentak pada Kamis, 15 Oktober 2026, untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Pengiriman dilakukan melalui dua jalur agar dukungan dapat bergerak dari wilayah berbeda. Sebanyak 100 personel menempuh perjalanan darat dari Lampung, sementara 100 personel lainnya dikirim melalui jalur udara dari Sumatera Utara. Pembagian ini menjadi bagian dari pengerahan personel tambahan dalam mendukung respons di lapangan.

Mobilisasi melalui jalur darat dan udara disertai dengan perlengkapan operasional yang dibutuhkan untuk mendukung tugas personel. Kendaraan khusus disiapkan untuk membantu pergerakan di lokasi, sedangkan perangkat komunikasi memungkinkan koordinasi selama pemantauan maupun penanganan. Drone pemantau hotspot turut dibawa untuk membantu mengamati titik panas dari udara. Informasi pemantauan tersebut dapat mendukung petugas dalam mengenali kondisi area dan menentukan kebutuhan tindak lanjut.

Perlengkapan lain yang disiapkan mencakup mesin pompa air serta peralatan pencarian dan penyelamatan. Mesin pompa mendukung upaya pemadaman, sementara perlengkapan pencarian dan penyelamatan berguna untuk membantu personel menghadapi situasi darurat di area operasi. Setiap anggota juga dibekali alat pelindung diri untuk mendukung keselamatan ketika bertugas di lingkungan yang berisiko. Logistik kesehatan melengkapi dukungan agar kebutuhan medis personel selama penugasan dapat diperhatikan.

Kelengkapan tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan karakter medan karhutla di Sumatera Selatan. Lahan gambut dapat menyulitkan upaya pemadaman, sedangkan sejumlah kawasan sulit dijangkau oleh kendaraan atau petugas. Karena itu, pengerahan tidak hanya mengandalkan jumlah personel, tetapi juga sarana yang mendukung mobilitas, komunikasi, pemantauan, dan keselamatan. Kombinasi kendaraan khusus, drone, pompa air, perlengkapan penyelamatan, alat pelindung diri, serta logistik kesehatan diharapkan membantu pelaksanaan tugas di lokasi. Dukungan lintas jalur ini memberi kemampuan operasional yang lebih lengkap bagi tim, sekaligus menunjang koordinasi dalam menghadapi titik panas dan kondisi lapangan yang berubah. Dengan personel dan perlengkapan diberangkatkan bersama, satuan dapat menyiapkan respons yang lebih terarah ketika memasuki area tugas, termasuk lokasi bergambut atau kawasan yang aksesnya terbatas.

Polda Sumatera Selatan telah memetakan lima wilayah prioritas yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Daerah tersebut meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Pemetaan ini menjadi acuan dalam mengarahkan penguatan operasi, termasuk penempatan dan kegiatan tambahan personel Brimob. Dengan fokus wilayah yang lebih jelas, pemantauan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lapangan serta perkembangan potensi kebakaran di masing-masing daerah.

Di wilayah prioritas, pasukan akan menjalankan patroli pencegahan untuk mengurangi risiko munculnya api dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Patroli juga menjadi kesempatan bagi petugas untuk memeriksa area yang berpotensi terbakar, menyampaikan imbauan, serta berkoordinasi dengan pihak setempat. Selain itu, personel diarahkan untuk melakukan deteksi dini terhadap titik api. Informasi yang diperoleh dari pemantauan lapangan dapat membantu petugas mengenali kejadian sedini mungkin dan menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Apabila kebakaran terjadi, kegiatan pasukan mencakup pemadaman langsung bersama unsur terkait. Kecepatan penanganan penting untuk mencegah api meluas ke area lain dan menimbulkan dampak yang lebih besar. Di samping upaya pencegahan dan pemadaman, kepolisian juga menegaskan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan secara ilegal. Penindakan tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah tindakan yang dapat memicu karhutla, sekaligus memastikan dugaan pelanggaran ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

Trunoyudo menyampaikan bahwa pengerahan tambahan personel merupakan bagian dari upaya penanganan karhutla yang telah berjalan, bukan langkah yang berdiri sendiri. Kegiatan di lapangan tetap mengutamakan kesiapsiagaan, respons cepat, dan sinergi dengan pihak terkait. Koordinasi dengan pemerintah daerah, petugas pemadam, unsur masyarakat, serta instansi lain diperlukan agar informasi dan sumber daya dapat dimanfaatkan secara terpadu. Dengan pendekatan tersebut, penguatan operasi di OKI, OI, Muba, Banyuasin, dan PALI diharapkan mendukung pencegahan serta penanganan karhutla secara lebih terarah dan konsisten.

Data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) mencatat 1.818 titik panas atau hotspot di 14 kabupaten/kota di Sumatera Selatan pada Kamis, 15 Oktober 2026. Angka tersebut menunjukkan luasnya wilayah yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika cuaca dan kondisi lahan dapat mendukung munculnya kebakaran. Pemantauan titik panas menjadi salah satu cara untuk mengenali indikasi kebakaran lebih awal, tetapi temuan tersebut tetap perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan langsung oleh petugas.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menyebut jumlah hotspot terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), dan Banyuasin. Sebaran ini memperlihatkan bahwa sejumlah kawasan di Sumatera Selatan menghadapi risiko kebakaran yang perlu direspons secara terkoordinasi. Data tersebut juga mencakup titik panas pada dua jenis lahan, yakni gambut dan mineral, yang memiliki karakteristik berbeda dalam penanganan kebakaran.

Dari keseluruhan titik yang terpantau, sebanyak 1.131 berada di lahan gambut, sedangkan 687 lainnya terdeteksi di lahan mineral. OKI tercatat sebagai wilayah dengan hotspot lahan gambut terbanyak. Kebakaran di lahan gambut dapat menjadi tantangan tersendiri karena api berpotensi merambat di bawah permukaan dan sulit diketahui hanya dari kondisi permukaan. Karena itu, laporan warga dan pemeriksaan lapangan penting untuk membantu memastikan lokasi serta keadaan api.

Polri mengimbau masyarakat maupun korporasi agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang melihat titik api diminta segera melaporkannya ke pos kepolisian terdekat agar informasi dapat diteruskan kepada petugas terkait. Trunoyudo menjelaskan bahwa informasi dini membantu petugas memeriksa lokasi dan menangani api sebelum kebakaran meluas.

Baca juga: Asap Karhutla Ganggu Pernapasan Warga Palembang, PM2.5 Tercatat Berbahaya | Asap Karhutla Terdeteksi di Atmosfer, BMKG Imbau Warga Waspadai Kualitas Udara | Asap Karhutla Tekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Indonesia