Polutan Udara Jakarta Menurun, Pemprov Soroti Cuaca dan Modifikasi Hujan

oleh -81 Dilihat
oleh
Polutan Udara Jakarta Menurun, Pemprov Soroti Cuaca dan Modifikasi Hujan

Jakarta | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat penurunan konsentrasi sejumlah polutan udara di beberapa wilayah Ibu Kota pada Sabtu pagi, 24 Oktober. Parameter yang menunjukkan kecenderungan menurun meliputi PM2,5, PM10, serta sulfur dioksida atau SO2. Perubahan tersebut terpantau terutama pada rentang pukul 04.00 hingga 07.00 WIB, berdasarkan data dari stasiun pemantauan kualitas udara yang berada di Jakarta.

Kecenderungan penurunan itu teramati di lima wilayah Jakarta. Data stasiun pemantauan menjadi dasar bagi DLH untuk melihat perubahan konsentrasi polutan pada waktu tersebut. Dengan demikian, temuan yang disampaikan merujuk pada hasil pencatatan di lokasi pemantauan, bukan pada satu wilayah saja. PM2,5 dan PM10 merupakan dua jenis partikel yang dipantau, sementara SO2 menjadi parameter polutan lain yang turut menunjukkan penurunan pada pagi hari.

Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menyampaikan keterangan mengenai hasil pemantauan tersebut pada Minggu, 25 Oktober. Ia menyebut bahwa konsentrasi PM2,5, PM10, dan SO2 menurun di sejumlah wilayah pada Sabtu pagi, dengan kecenderungan serupa terlihat di lima wilayah Jakarta. Rentang waktu yang menjadi perhatian dalam pencatatan itu adalah pukul 04.00–07.00 WIB. Keterangan tersebut menggambarkan hasil yang diperoleh dari data stasiun pemantauan kualitas udara di wilayah Ibu Kota.

Temuan ini menunjukkan bahwa pada waktu pengamatan tersebut, beberapa parameter kualitas udara tercatat bergerak turun di berbagai bagian Jakarta. Penurunan yang dilaporkan mencakup tiga polutan dan terpantau pada lebih dari satu lokasi, menurut data stasiun pemantauan. Informasi dari DLH itu menjadi catatan kondisi kualitas udara pada Sabtu pagi, bukan keterangan mengenai perubahan sepanjang hari atau hasil pengukuran pada waktu lainnya. Dudi menyampaikan informasi tersebut sehari setelah periode pemantauan yang disebutkan, yakni pada Minggu, 25 Oktober.

Data pemantauan menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2,5 berada pada tingkat yang relatif rendah di beberapa kawasan Jakarta pada waktu pengukuran yang dilaporkan. Di Jakarta Selatan, kadar PM2,5 pada pukul 04.00–05.00 WIB tercatat sekitar 12–32 mikrogram per meter kubik. Rentang tersebut berada di bawah baku mutu 55 mikrogram per meter kubik yang menjadi pembanding dalam laporan pemantauan. Angka ini menggambarkan kondisi pada rentang waktu tersebut, bukan nilai tetap sepanjang hari. Konsentrasi polutan dapat berubah dari jam ke jam, sehingga pembacaan perlu dikaitkan dengan waktu dan lokasi pengambilan data. Dengan demikian, angka pagi hari ini memberi gambaran setempat, bukan rata-rata seluruh wilayah Jakarta Selatan.

Di kawasan pesisir Jakarta Utara, PM2,5 tercatat berkisar 9–17 mikrogram per meter kubik selama pukul 04.00–07.00 WIB. Rentang itu menunjukkan kadar yang terukur di lokasi pemantauan pada tiga jam pengamatan, tanpa berarti seluruh kawasan pesisir memiliki kondisi seragam. Sementara itu, di Jakarta Pusat, pengukuran pagi hari mencatat PM2,5 dan PM10 pada kisaran 12–43 mikrogram per meter kubik. Kedua jenis partikel tersebut merupakan parameter yang berbeda, sehingga hasilnya sebaiknya dibaca sesuai jenis polutan yang diukur. Angka yang tersedia memberi dasar untuk melihat kondisi pada sejumlah titik, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan tingkat paparan setiap warga maupun keadaan udara pada waktu lain.

Tren penurunan juga terpantau di Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Namun, tidak tersedia angka rinci untuk kedua wilayah tersebut dalam informasi yang dilaporkan, sehingga kisaran konsentrasi tertentu tidak dapat dicantumkan. Pembedaan data kuantitatif dan keterangan tren penting agar gambaran kualitas udara tetap akurat. Hasil di Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat menunjukkan bahwa konsentrasi yang terukur pada waktu pengamatan berada dalam kisaran yang dilaporkan, dengan nilai Jakarta Selatan di bawah pembanding baku mutu 55 mikrogram per meter kubik. Pemantauan lanjutan di berbagai lokasi dan jam diperlukan untuk menilai apakah penurunan berlangsung konsisten, serta untuk memahami variasi paparan antarwilayah dan sepanjang hari.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyebut perubahan konsentrasi polutan di Jakarta perlu dibaca dengan mempertimbangkan kondisi meteorologi sekaligus kegiatan yang berlangsung di wilayah perkotaan. Kecepatan dan arah angin, suhu, kelembapan, serta stabilitas atmosfer dapat memengaruhi penyebaran atau penumpukan pencemar. Ketika udara bergerak lebih baik, polutan dapat tersebar; sebaliknya, kondisi atmosfer tertentu dapat membuatnya bertahan di dekat permukaan. Karena faktor-faktor ini berubah dari waktu ke waktu, angka pemantauan kualitas udara juga dapat mengalami fluktuasi tanpa menunjukkan satu penyebab tunggal.

Selain cuaca, aktivitas sumber emisi lokal turut berpengaruh terhadap kadar pencemar yang terukur. Lalu lintas kendaraan, kegiatan industri, konstruksi, pembakaran, dan aktivitas lain dapat menghasilkan emisi dalam jumlah serta waktu yang berbeda. Perubahan intensitas kegiatan tersebut, jika terjadi bersamaan dengan perubahan cuaca, dapat memengaruhi konsentrasi polutan di sejumlah titik pemantauan. Oleh sebab itu, penilaian terhadap tren kualitas udara memerlukan pengamatan yang memperhitungkan lokasi, jenis polutan, waktu pengukuran, dan kemungkinan perubahan sumber emisi.

Hujan yang terjadi dalam periode operasi modifikasi cuaca (OMC) juga menjadi salah satu faktor yang dikaji. Secara umum, air hujan dapat menangkap partikel yang berada di atmosfer dan membawanya turun ke permukaan melalui proses deposisi basah. Proses tersebut berpotensi mengurangi partikulat di udara, tetapi besarnya dampak bergantung pada intensitas dan sebaran hujan, jenis partikel, serta kondisi atmosfer setempat. Karena itu, adanya hujan selama pelaksanaan OMC belum dengan sendirinya membuktikan bahwa operasi tersebut menjadi penyebab penurunan polutan yang tercatat.

Dudi menegaskan bahwa analisis lanjutan masih diperlukan untuk mengukur kontribusi setiap faktor, termasuk meteorologi, emisi lokal, dan hujan yang berkaitan dengan OMC. Data pemantauan dalam rentang waktu yang memadai perlu dibandingkan dengan informasi cuaca dan aktivitas sumber emisi agar hubungan di faktor-faktor itu dapat dinilai secara lebih cermat. Kajian tersebut juga dibutuhkan untuk mengetahui apakah perbaikan kualitas udara hanya bersifat sementara atau berpeluang berlanjut. Dengan demikian, perubahan konsentrasi polutan sebaiknya dipahami sebagai hasil yang mungkin dipengaruhi beberapa kondisi, bukan dikaitkan secara pasti dengan satu intervensi.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ditujukan untuk mengoptimalkan potensi hujan dan membantu menciptakan kondisi yang lebih nyaman bagi masyarakat. Pelaksanaan operasi tersebut mempertimbangkan perkembangan cuaca yang dipantau bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemantauan ini menjadi bagian penting dalam menentukan waktu serta lokasi kegiatan, sehingga upaya penyemaian awan dapat disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan potensi hujan di wilayah sekitar Jakarta.

Menurut laporan BPBD DKI Jakarta, OMC dilaksanakan dalam empat sorti penerbangan pada 21–23 Oktober menggunakan pesawat PK-SNH. Dalam operasi tersebut, natrium klorida disebarkan di sejumlah wilayah, yakni Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan. Selama periode pelaksanaan, hujan dengan intensitas bervariasi tercatat di sejumlah daerah sekitar Jakarta. Pada Jumat, 23 Oktober, hujan ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, serta Tangerang Selatan. Kondisi hujan di beberapa kawasan itu sejalan dengan tujuan OMC untuk mengoptimalkan potensi pembentukan hujan, meskipun intensitas dan sebarannya dapat berbeda-beda menurut keadaan cuaca setempat.

Selain OMC, pemerintah daerah juga melakukan penyemprotan kabut air di ruas jalan yang menjadi lintasan Jakarta Running Festival 2026.

Baca juga: Udara Jakarta Membaik pada Sabtu Pagi, Pemantauan Catat Penurunan Polutan | Pemantauan Pagi Catat Penurunan Polutan di Sejumlah Wilayah Jakarta | Intensifkan Modifikasi Cuaca di Palembang, Satgas Udara Tabur 10,4 Ton Bahan Semai