Puluhan Orangutan Diselamatkan dari Karhutla Kalimantan Barat, Delapan Dipindahkan ke Batu Nyambu

oleh -75 Dilihat
oleh
Puluhan Orangutan Diselamatkan dari Karhutla Kalimantan Barat, Delapan Dipindahkan ke Batu Nyambu

Kabupaten Ketapang. Pemindahan | Sebanyak 46 individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) diselamatkan dari habitat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Penyelamatan tersebut dilakukan untuk mengeluarkan satwa dari kawasan yang menghadapi ancaman kebakaran serta memastikan mereka mendapatkan penanganan yang lebih aman. Proses evakuasi menjadi bagian dari upaya perlindungan terhadap orangutan kalimantan, yang habitatnya mengalami tekanan akibat kebakaran hutan dan lahan.

Evakuasi dilaksanakan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Kalimantan Barat. Kegiatan itu berlangsung sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026. Dalam rentang tersebut, tim gabungan melakukan penyelamatan terhadap puluhan orangutan dari sejumlah lokasi yang terdampak karhutla. Orangutan-orangutan yang dievakuasi berasal dari beberapa lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menyampaikan bahwa penyelamatan satwa bukan menjadi satu-satunya pekerjaan yang harus diselesaikan setelah evakuasi. Penyediaan habitat yang aman masih menjadi tantangan lanjutan bagi upaya konservasi orangutan kalimantan. Tantangan tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk memastikan satwa dapat berada di lingkungan yang terlindungi setelah dikeluarkan dari wilayah terdampak kebakaran.

Jumlah 46 orangutan yang berhasil diselamatkan menunjukkan besarnya dampak karhutla terhadap satwa dan habitatnya di Kalimantan Barat. Kerja sama BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI Kalimantan Barat menjadi langkah penting dalam merespons kondisi tersebut. Selain menyelamatkan individu orangutan dari lokasi terdampak, penanganan berikutnya perlu memperhatikan ketersediaan habitat yang aman agar upaya perlindungan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sebanyak delapan orangutan yang telah dinyatakan sehat mulai ditranslokasikan pada 9 Oktober 2026 ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pemindahan ini dilakukan setelah seluruh satwa dievakuasi dari habitat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjalani pemeriksaan kesehatan, serta melewati masa observasi. Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi fisik dan perilaku mereka cukup baik sebelum kembali menempati kawasan hutan yang lebih aman.

Proses translokasi tidak dilakukan secara terburu-buru. Tim terlebih dahulu memantau kondisi setiap individu, termasuk kemampuan makan, pergerakan, dan respons terhadap lingkungan. Setelah dinyatakan sehat, orangutan dipindahkan ke habitat yang diharapkan dapat mendukung pemulihan dan kelangsungan hidupnya. Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih sebagai lokasi tujuan karena menyediakan kawasan berhutan yang lebih sesuai dibandingkan area asal mereka yang telah terdegradasi atau terbakar.

Murlan menjelaskan bahwa penyelamatan dan translokasi bukanlah akhir dari upaya konservasi, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas. Setelah dilepasliarkan, orangutan tetap membutuhkan pemantauan untuk menilai kemampuan beradaptasi, kondisi kesehatan, serta keamanan habitatnya. Upaya perlindungan juga harus mencakup pencegahan kebakaran, pemulihan kawasan, dan penjagaan koridor agar satwa dapat bergerak tanpa terisolasi.

Sejumlah orangutan yang diselamatkan sebelumnya ditemukan dalam kondisi terisolasi. Mama Lifa dan anaknya, Lifa, berada di atas pohon akasia pada lahan sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Ketapang. Mama Man dan anaknya, Man, dievakuasi dari Desa Tempurukan, Ketapang, pada 3 September 2026 setelah api mendekati habitat mereka. Sehari kemudian, Mama Nopi dan anaknya, Nopi, bersama dua jantan remaja bernama Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kayong Utara. Rangkaian evakuasi tersebut menunjukkan pentingnya respons cepat sekaligus penanganan berkelanjutan bagi satwa yang kehilangan tempat berlindung akibat karhutla.

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengubah struktur habitat orangutan secara mendasar. Hilangnya tutupan hutan mengurangi tempat berlindung, pohon pakan, serta jalur pergerakan yang sebelumnya menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain. Ketika keterhubungan antarkawasan terputus, orangutan dapat terisolasi di area perkebunan atau fragmen hutan yang tersisa. Kondisi tersebut membatasi akses mereka terhadap sumber makanan, air, dan ruang jelajah yang diperlukan untuk bertahan hidup.

Sebagian orangutan bahkan ditemukan bertahan di kawasan perkebunan yang hanya menyisakan pepohonan. Lingkungan seperti itu tidak selalu mampu menyediakan keragaman pakan sepanjang tahun. Ruang geraknya pun cenderung sempit dan berisiko karena berdekatan dengan aktivitas manusia. Keterbatasan tersebut dapat meningkatkan kemungkinan konflik, terutama ketika satwa keluar dari kawasan berhutan untuk mencari makanan atau berpindah menuju lokasi yang lebih aman.

Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih sebagai salah satu lokasi pelepasliaran setelah mempertimbangkan sejumlah faktor ekologis. Direktur Operasional Yayasan IAR Indonesia (YIARI), Argitoeranting, menjelaskan bahwa penilaian lokasi mencakup ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, serta keterhubungannya dengan kawasan hutan lain. Pertimbangan itu penting agar orangutan yang dilepas tidak hanya memperoleh tempat tinggal, tetapi juga memiliki peluang untuk membentuk wilayah jelajah dan beradaptasi secara alami.

Kawasan Batu Nyambu memiliki luas sekitar 23.000 hektare, dengan tutupan hutan primer dan sekunder. Wilayah ini juga terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung dalam lanskap Arabella-Schwaner, sehingga menawarkan bentang habitat yang lebih luas dan tidak terisolasi. Survei pada 2023 menilai kawasan tersebut sebagai habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang memadai. Hasil penilaian itu memperkuat dasar pemilihan Batu Nyambu sebagai tempat pelepasliaran, khususnya bagi satwa yang kehilangan habitat akibat kebakaran dan membutuhkan lingkungan hutan dengan sumber daya yang berkelanjutan.

Setelah proses evakuasi dan pemindahan, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh orangutan memperoleh perawatan sesuai kondisi kesehatannya. CEO Yayasan IAR Indonesia (YIARI), Karmele Llano Sánchez, menyampaikan bahwa sejumlah orangutan lain yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjalani perawatan intensif. Sebagian mengalami luka bakar, malnutrisi, anemia berat, serta gangguan kesehatan lainnya. Kondisi tersebut membuat mereka memerlukan waktu untuk memulihkan stamina dan fungsi tubuh sebelum dapat dipindahkan ke habitat alami yang aman dan sesuai.

Perawatan pascaevakuasi mencakup pemantauan medis, pemenuhan kebutuhan nutrisi, penanganan luka, dan observasi perilaku. Tahapan ini penting untuk memastikan orangutan benar-benar memiliki kemampuan bertahan ketika kembali ke alam. Pelepasliaran tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan pemulihan fisik sementara, tetapi juga harus mempertimbangkan kesiapan individu, ketersediaan pakan, keamanan kawasan, serta potensi konflik dengan manusia.

Argitoeranting menegaskan bahwa translokasi bukan solusi akhir selama kebakaran dan ancaman terhadap habitat masih berlangsung. Penyelamatan satwa harus berjalan bersama perlindungan hutan yang tersisa agar orangutan tidak terusir dari wilayah hidupnya atau kembali menghadapi risiko serupa. Upaya tersebut membutuhkan pengawasan terhadap titik rawan kebakaran, pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar, serta koordinasi berkelanjutan pengelola kawasan, pemerintah, dan masyarakat.

Kepala KPH Ketapang Utara, Ya' Suharnoto, berharap translokasi diikuti patroli pengamanan rutin dan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar habitat. Ia juga mendorong penanaman pohon penghasil bunga dan buah sebagai sumber pakan alami bagi orangutan. Ketersediaan pakan dan perlindungan kawasan akan mendukung kelangsungan hidup satwa setelah dilepasliarkan, sekaligus membantu menjaga habitat dari ancaman kebakaran, perburuan, dan gangguan berikutnya.

Baca juga: Menyelamatkan 46 Orangutan dari Habitat Terbakar di Kalimantan Barat | Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla, Lanud Sjamsudin Noor Bersama Satgas Gabungan Lakukan Pemadaman di Gambut | Asap Karhutla Mengusik 1.673 Penerbangan Domestik, Keselamatan Jadi Prioritas