Relawan Pemadam Amang Udin Meninggal Usai Tangani Karhutla di Barito Kuala

oleh -63 Dilihat
oleh
Relawan Pemadam Amang Udin Meninggal Usai Tangani Karhutla di Barito Kuala

Kabupaten Barito Kuala | Nurdin, 51 tahun, yang dikenal dengan sapaan Amang Udin, meninggal dunia setelah bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ia merupakan relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Sarimi Kayu Bulan. Kepergiannya menjadi kehilangan bagi lingkungan relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran tersebut. Kabar duka ini dirasakan oleh sesama relawan pemadam kebakaran, terutama mereka yang menjalankan tugas di bidang penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Peristiwa itu menempatkan pengabdian para relawan di tengah perhatian, sekaligus mengingatkan bahwa penanganan karhutla berlangsung dalam situasi yang menuntut kewaspadaan. Amang Udin diketahui sedang bertugas di kawasan Handil Bakti sebelum meninggal dunia. Informasi yang tersedia menyebutkan keterlibatannya dalam upaya memadamkan kebakaran, tanpa merinci penyebab kematian ataupun keadaan yang dialaminya secara lebih lanjut. Karena itu, kabar mengenai dirinya dapat disampaikan dengan berpegang pada fakta yang telah diketahui: nama, usia, kesatuan relawan, lokasi, dan tanggal kejadian.

Bagi komunitas pemadam kebakaran, wafatnya seorang relawan saat menjalankan tugas merupakan kabar yang menyentuh banyak pihak. Duka tersebut tidak perlu dilebihkan dengan dugaan mengenai kronologi atau pernyataan dari pihak tertentu. Cukup diketahui bahwa Nurdin, atau Amang Udin, ikut bertugas menangani karhutla di wilayah Barito Kuala dan meninggal dunia pada hari itu. Kepergiannya menjadi pengingat atas peran relawan dalam membantu penanganan kebakaran di daerah, serta atas kehilangan yang dirasakan oleh rekan-rekan sesama relawan. Kisahnya kini melekat pada tugas kemanusiaan yang ia jalani sebagai anggota BPK Sarimi Kayu Bulan.

Amang Udin sedang berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Barito Kuala ketika keluhan mulai muncul. Di lokasi, asap tebal menyelimuti area kerja dan membuat upaya pemadaman berlangsung dalam kondisi yang berat. Di tengah aktivitas tersebut, ia mengalami sesak napas dan nyeri dada. Keluhan itu muncul saat ia berada di bagian depan lokasi kebakaran, ketika api masih perlu ditangani oleh para relawan. Situasi di lapangan menuntut kewaspadaan, sementara jarak pandang dan udara di sekitar titik kebakaran dipengaruhi oleh kepulan asap.

Nyeri dada yang dirasakan Amang Udin sempat disampaikan kepada rekan-rekannya saat mereka berada di bagian depan area kebakaran. Sesudah keluhan itu muncul, kondisinya kemudian memburuk. Rekan-rekan yang berada bersamanya segera mengambil langkah untuk menjauhkannya dari titik api. Mereka membawanya ke tempat yang lebih jauh dari area kebakaran agar ia tidak terus berada di tengah kondisi tersebut. Tindakan itu dilakukan ketika Amang Udin membutuhkan bantuan dan tidak dapat melanjutkan kegiatan pemadaman seperti sebelumnya.

Setelah dibawa menjauh, rekan-rekannya memberikan bantuan oksigen menggunakan Oxycan. Bantuan tersebut diberikan menyusul sesak napas yang dialaminya di lokasi. Kejadian ini berlangsung saat para relawan tengah menangani kebakaran di tengah asap tebal, dan menjadi momen ketika keluhan Amang Udin terlihat semakin serius bagi orang-orang di sekitarnya. Informasi mengenai keluhan dan upaya pertolongan itu menjelaskan apa yang dialami serta tindakan yang dilakukan rekan-rekannya pada saat itu. Penjelasan mengenai sesak napas, nyeri dada, pemindahan dari titik api, dan pemberian oksigen tidak dengan sendirinya menetapkan diagnosis medis maupun penyebab kematiannya. Hal-hal tersebut perlu dibedakan dari keterangan tentang kejadian di lapangan.

Ketika kondisi Amang Udin membutuhkan pertolongan, tiga unit relawan berada di kawasan belakang Kantor Kecamatan Alalak. Situasi tersebut menjadi titik awal upaya rekan-rekannya untuk membawa korban agar segera mendapatkan penanganan. Mereka berada di lokasi yang sama, sehingga dapat membantu ketika keadaan Amang Udin memburuk. Namun, ambulans belum tiba pada saat itu. Dalam kondisi menunggu, para relawan berupaya mencari cara agar korban tidak terlalu lama berada di lokasi dan dapat dibawa menuju fasilitas kesehatan.

Karena ambulans belum datang, rekan-rekan Amang Udin kemudian berinisiatif menggunakan mobil BPK untuk membawanya. Keputusan tersebut diambil sebagai upaya memberikan pertolongan secepat mungkin, sembari menunggu kendaraan medis tiba. Amang Udin dibawa ke dalam mobil bersama para relawan yang mendampinginya. Namun, di dalam kendaraan itu, ia kehilangan kesadaran. Peristiwa tersebut membuat upaya membawa korban berlangsung dalam situasi yang semakin mendesak. Rekan-rekannya tetap berusaha mengantarkannya untuk memperoleh bantuan medis, sementara ambulans masih dinantikan.

Setelah ambulans tiba, penanganan terhadap Amang Udin dilanjutkan dengan membawa korban menggunakan kendaraan tersebut. Ia segera dibawa ke Klinik Utama Setara Handil Bakti untuk memperoleh penanganan medis. Perpindahan dari mobil BPK ke ambulans menjadi bagian dari rangkaian upaya relawan dalam mengantarkan korban ke klinik. Informasi mengenai lokasi awal, kendaraan yang digunakan sebelum ambulans datang, serta klinik tujuan menggambarkan langkah-langkah pertolongan yang dilakukan rekan-rekannya. Dalam keadaan yang serba terbatas, mereka berupaya memastikan Amang Udin dapat segera dibawa untuk mendapatkan perawatan. Namun, setelah menjalani penanganan, relawan pemadam kebakaran yang dikenal sebagai Amang Udin tersebut meninggal dunia. Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa rekan-rekannya berusaha memberikan bantuan sejak berada di kawasan belakang kantor kecamatan hingga ambulans mengantarkannya ke fasilitas kesehatan di Handil Bakti.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menempatkan relawan pada situasi yang berisiko. Dalam upaya menghadapi api, mereka dapat bekerja di area dengan asap tebal dan kondisi lingkungan yang berbahaya. Keadaan seperti itu dapat membuat tugas di lapangan semakin berat, sementara relawan tetap harus menjalankan penanganan sesuai kebutuhan. Peristiwa yang menimpa Amang Udin menjadi pengingat bahwa keterlibatan warga dalam penanganan karhutla tidak terlepas dari risiko keselamatan. Risiko tersebut penting diperhatikan, terutama ketika kegiatan dilakukan di tengah paparan asap dan bahaya di sekitar lokasi kebakaran.

Informasi mengenai peristiwa ini menggambarkan tantangan yang dihadapi relawan saat membantu menangani karhutla di Barito Kuala. Namun, keterangan yang tersedia tidak menjelaskan secara terperinci kondisi medis yang dialami Amang Udin ataupun penyebab pasti kematiannya. Karena itu, tidak tepat untuk menyimpulkan lebih jauh mengenai faktor yang membuat kondisinya memburuk. Hal yang dapat dicatat secara terbatas adalah bahwa tugas pemadaman dilakukan dalam lingkungan yang berbahaya, termasuk ketika asap tebal berada di sekitar area kerja. Situasi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan relawan merupakan bagian penting dalam penanganan kebakaran.

Risiko di lapangan tidak hanya berkaitan dengan api, tetapi juga dengan keadaan sekitar yang dapat menyulitkan relawan saat bekerja. Paparan asap tebal dan lingkungan berbahaya merupakan kondisi yang perlu diperhitungkan ketika relawan terlibat dalam penanganan karhutla. Meski demikian, peristiwa Amang Udin tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan adanya penyebab khusus di luar keterangan yang telah disampaikan. Fakta yang dapat dipastikan adalah ia dibawa untuk memperoleh penanganan medis setelah peristiwa tersebut. Upaya mendapatkan bantuan medis telah dilakukan, tetapi nyawanya tidak tertolong. Amang Udin meninggal dunia meski telah dibawa untuk mendapat penanganan medis.

Baca juga: Penanganan Karhutla Diperkuat: Personel Gabungan, Bantuan Daerah, dan Rencana Kolaborasi Kampus | Dampak Bencana pada Usaha: Konstruksi Rentan, Karhutla Ganggu Properti | Api Karhutla Tanjung Puting Mendekati Feeding Camp Tanjung Harapan