Ritual Baremah Menjadi Bagian dari Peremajaan Sawit di Kalimantan Barat

oleh -81 Dilihat
oleh
Ritual Baremah Menjadi Bagian dari Peremajaan Sawit di Kalimantan Barat

Jakarta | PTPN IV Palmco melibatkan masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat dalam tahapan penting operasional perkebunan kelapa sawit, termasuk kegiatan peremajaan kebun. Ritual Baremah menjadi bagian dari pendekatan tersebut, menandai bahwa pembaruan tanaman tidak hanya dipahami sebagai pekerjaan teknis perusahaan. Keterlibatan warga setempat memberi ruang bagi tradisi dan nilai komunitas untuk tetap dihormati ketika kegiatan usaha berlangsung di wilayah yang memiliki hubungan sosial dan budaya yang kuat. Dengan demikian, peremajaan kebun berjalan berdampingan dengan penghargaan terhadap masyarakat adat di sekitar wilayah operasi.

Pelibatan ini penting karena perkebunan skala besar beroperasi di tengah kehidupan masyarakat, bukan terpisah dari konteks sosial setempat. Mengikutsertakan masyarakat adat dalam tahapan kegiatan mencerminkan perhatian terhadap keberadaan komunitas yang tinggal di sekitar kebun. Ritual Baremah menghadirkan unsur adat dalam proses operasional, sehingga kegiatan peremajaan dapat dipandang sebagai bagian dari hubungan perusahaan, masyarakat, dan lingkungan sosial di Kalimantan Barat. Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa agenda produktivitas dan penghormatan terhadap tradisi dapat ditempatkan dalam satu kerangka pelaksanaan usaha.

Peremajaan kelapa sawit merupakan tahap penting dalam pengelolaan perkebunan, sementara pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat sekitar. Dengan melibatkan warga Dayak dan memberi tempat bagi ritual Baremah, PTPN IV Palmco memperlihatkan upaya menjalankan kegiatan perusahaan dengan memperhatikan tradisi yang hidup di wilayah tersebut. Hal ini tidak berarti bahwa praktik adat menggantikan proses teknis perkebunan, melainkan menunjukkan bahwa keduanya dapat hadir bersamaan dalam rangkaian kegiatan. Bagi masyarakat, pengakuan atas tradisi menjadi unsur penting dalam interaksi dengan perusahaan. Bagi perusahaan, keterlibatan komunitas dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang saling menghormati. Praktik ini menegaskan bahwa operasional perkebunan dapat dilakukan dengan tetap mengakui identitas budaya masyarakat adat di Kalimantan Barat.

Bagi masyarakat adat Dayak, tanah tidak dapat dipahami hanya sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi. Tanah juga merupakan ruang hidup: tempat kehidupan berlangsung dan hubungan dengan wilayah di sekitarnya terbentuk. Karena itu, pembicaraan mengenai penggunaan atau perubahan fungsi lahan dapat menyentuh lebih dari urusan produksi dan pengelolaan. Ada makna sosial dan spiritual yang melekat pada cara masyarakat memandang tanah, sehingga pemahaman tersebut perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam kegiatan yang berlangsung di wilayah mereka.

Perspektif ini penting ketika peremajaan sawit direncanakan. Peremajaan berkaitan dengan perubahan dan pengelolaan kebun, tetapi konteksnya tidak terlepas dari hubungan masyarakat dengan wilayah hidupnya. Memperhatikan nilai tanah berarti melihat proses tersebut secara lebih menyeluruh, bukan semata-mata menilai kebutuhan teknis atau ekonomi. Pendekatan yang peka terhadap konteks setempat memberi ruang untuk memahami bahwa tanah dapat memiliki arti yang berbeda bagi pihak-pihak yang terlibat. Bagi masyarakat adat Dayak, dimensi kehidupan dan spiritual menjadi bagian dari arti itu.

Pemahaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pendekatan Palmco melalui wilayah kerja Regional V di Kalimantan. Dalam konteks ini, perhatian terhadap hubungan masyarakat Dayak dengan tanah membantu menempatkan kegiatan peremajaan dalam kerangka yang lebih luas daripada pembaruan tanaman. Pendekatan yang mempertimbangkan makna ruang hidup dapat mendukung komunikasi dan proses kerja yang menghormati konteks masyarakat, tanpa menganggap bahwa nilai tanah hanya dapat diukur melalui manfaat ekonomi. Hal ini juga mengingatkan bahwa perencanaan kegiatan perlu memperhatikan cara masyarakat memahami wilayah tempat mereka menjalani kehidupan.

Dengan demikian, hubungan masyarakat Dayak dengan tanah merupakan konteks penting dalam pembahasan peremajaan sawit di Kalimantan Barat. Pengakuan atas nilai ekonomi sekaligus makna ruang hidup dan dimensi spiritualnya membantu menjelaskan mengapa pendekatan Palmco di Regional V perlu mempertimbangkan konteks tersebut. Uraian ini tidak menggeneralisasi praktik adat tertentu, melainkan menegaskan bahwa pemahaman tentang arti tanah merupakan landasan untuk melihat kegiatan peremajaan secara lebih cermat dan menghormati masyarakat yang memiliki keterikatan dengan wilayah hidupnya.

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV Palmco, Arya Sandhiyudha, menyampaikan bahwa penghormatan terhadap adat istiadat merupakan bagian dari identitas dan nilai perusahaan. Dalam menjalankan perannya sebagai agen pembangunan daerah, perusahaan memandang tradisi masyarakat setempat sebagai unsur penting yang perlu dihargai, bukan dipisahkan dari kegiatan operasional. Pandangan tersebut disampaikan pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Menurut Arya, keberlanjutan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kegiatan produksi dan capaian ekonomi. Dukungan masyarakat di sekitar wilayah operasi serta hubungan yang harmonis dengan komunitas setempat juga berperan dalam menjaga keberlangsungan usaha. Karena itu, hubungan perusahaan dengan masyarakat perlu dibangun melalui sikap saling menghormati, komunikasi, dan pemahaman terhadap nilai budaya yang hidup di lingkungan tersebut.

Dalam konteks peremajaan sawit di Kalimantan Barat, penerapan ritual Baremah disebut tidak sekadar menjadi seremoni sebelum kegiatan berlangsung. Ritual itu mencerminkan pengakuan terhadap adat dan tata nilai masyarakat setempat, sekaligus menunjukkan bahwa proses pembangunan perlu memperhatikan dimensi sosial dan budaya. Pelibatan tradisi lokal juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat hubungan perusahaan dan warga, selama pelaksanaannya menghormati makna serta ketentuan adat yang berlaku.

Prinsip keberlanjutan yang tercermin melalui Baremah menempatkan aspek sosial dan budaya, lingkungan, serta ekonomi secara setara. Artinya, keberhasilan kegiatan tidak cukup dinilai dari manfaat ekonomi semata, tetapi juga dari perhatian terhadap kehidupan masyarakat dan kondisi lingkungan. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendukung kegiatan yang bertanggung jawab dan berjangka panjang.

Pendekatan ini menegaskan bahwa penghormatan terhadap adat dapat berjalan seiring dengan agenda pembangunan dan peremajaan perkebunan. Dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian dari lingkungan operasional, perusahaan berupaya menjaga keharmonisan serta dukungan yang dibutuhkan bagi keberlanjutan bisnis. Baremah, dalam kerangka tersebut, menjadi penanda bahwa nilai budaya memiliki tempat dalam cara perusahaan menjalankan kegiatan dan membangun hubungan di daerah.

Thomas, Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Kembayan, menyampaikan apresiasi terhadap komitmen jangka panjang perusahaan dalam melibatkan masyarakat adat serta menjalankan ritual tradisional Baremah. Bagi Thomas, pelibatan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan adat dan tradisi setempat diperhatikan dalam kegiatan perusahaan. Ia menilai pelaksanaan Baremah sebagai bagian dari kegiatan operasional bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan terhadap hak kultural masyarakat lokal. Apresiasi ini berkaitan dengan upaya perusahaan untuk terus melibatkan masyarakat adat dan memberi ruang bagi ritual tradisional dalam kegiatan peremajaan sawit di Kalimantan Barat.

Menurut Thomas, Baremah merupakan warisan leluhur yang memiliki makna penting bagi masyarakat Dayak. Ritual ini dipahami sebagai ikhtiar untuk menjaga keseimbangan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Makna tersebut menjadi dasar bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam pandangannya, pelaksanaan Baremah tetap relevan ketika kegiatan perusahaan berlangsung di wilayah yang memiliki ikatan adat dan budaya. Karena itu, keterlibatan masyarakat dan dijalankannya ritual tradisional dipandang sejalan dengan penghormatan terhadap nilai-nilai yang hidup di lingkungan setempat.

Thomas mengapresiasi komitmen jangka panjang perusahaan karena pelibatan masyarakat adat dan pelaksanaan Baremah memberi pengakuan pada tradisi lokal dalam konteks kegiatan operasional. Ia menekankan bahwa Baremah berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta, sehingga tidak dapat dilepaskan dari warisan leluhur masyarakat Dayak. Dengan menjalankan ritual tersebut, perusahaan menunjukkan penghormatan terhadap hak kultural masyarakat lokal. Pernyataan Thomas menempatkan pelestarian Baremah sebagai bagian dari penghargaan terhadap adat, sekaligus menegaskan arti penting pelibatan masyarakat adat dalam kegiatan peremajaan sawit.

Baca juga: Saat Kabut Asap Menghambat Penerbangan, Kapal Menjadi Pilihan dari Kotawaringin Barat