Rupiah Melemah ke Rp18.145, Tekanan Eksternal dan Defisit Transaksi Berjalan Jadi Sorotan

oleh -71 Dilihat
oleh
Rupiah Melemah ke Rp18.145, Tekanan Eksternal dan Defisit Transaksi Berjalan Jadi Sorotan

Jakarta | Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Rupiah ditutup di level Rp18.145 per dolar AS, turun 0,19% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang telah terlihat pada Senin, ketika mata uang Indonesia tersebut berakhir di Rp18.110 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah kehilangan Rp35 dalam dua sesi perdagangan berturut-turut.

Penutupan Selasa itu menempatkan rupiah hanya berjarak 25 poin dari rekor penutupan terlemah, yakni Rp18.170 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026. Kedekatan dengan level tersebut menjadi sorotan karena menggambarkan besarnya tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Meski belum menyentuh rekor, pergerakan terbaru menunjukkan bahwa ruang pelemahan masih perlu dicermati, terutama jika sentimen pasar terhadap mata uang negara berkembang terus memburuk.

Pergerakan intrahari turut memperlihatkan kecenderungan melemah. Rupiah dibuka turun 0,06% ke posisi Rp18.120 per dolar AS, lalu bergerak dalam rentang Rp18.120 hingga Rp18.155 sepanjang perdagangan. Mata uang ini sempat mencapai titik terlemahnya di Rp18.155 sebelum akhirnya ditutup pada Rp18.145, atau 10 poin lebih kuat daripada posisi terendah hari itu. Namun, pemulihan terbatas menjelang penutupan belum cukup untuk menghapus pelemahan harian.

Perubahan dari pembukaan hingga penutupan menunjukkan tekanan jual tetap mendominasi, meskipun nilainya berfluktuasi selama sesi berlangsung. Perbandingan dengan penutupan Senin juga menegaskan bahwa pelemahan bukan sekadar pergerakan sesaat pada awal perdagangan. Investor akan mencermati apakah rupiah mampu bertahan di sekitar level tersebut atau kembali bergerak mendekati rekor terendah. Perkembangan dolar AS dan kondisi eksternal dapat memengaruhi arah perdagangan berikutnya, sementara perhatian terhadap defisit transaksi berjalan turut membentuk penilaian atas ketahanan ekonomi dan kebutuhan pembiayaan domestik. Kombinasi faktor-faktor itu membuat posisi rupiah terhadap dolar menjadi indikator penting yang dipantau pelaku pasar dalam jangka pendek.

Indeks dolar AS (DXY) kembali bergerak menguat dan menambah tekanan terhadap rupiah. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat naik 0,16% ke level 102,122. Pergerakan ini menunjukkan bahwa dolar masih memperoleh dukungan di pasar valuta asing, sehingga ruang gerak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas. Ketika dolar menguat, permintaan terhadap aset berdenominasi dolar dapat meningkat, sementara mata uang lain menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilainya.

Penguatan indeks tersebut juga ditopang oleh pelemahan euro. Karena euro memiliki porsi besar dalam keranjang pembentuk DXY, perubahan nilai mata uang Eropa itu dapat memengaruhi arah indeks dolar secara keseluruhan. Dengan euro yang melemah, penguatan DXY mendapat dorongan tambahan dan kembali menjadi faktor eksternal yang dicermati pelaku pasar. Kondisi ini berlangsung di tengah perhatian terhadap pergerakan rupiah, yang juga dipengaruhi sentimen global dan keseimbangan eksternal Indonesia. Tekanan dari dolar yang lebih kuat dapat membuat pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati dalam menempatkan dana.

Fokus berikutnya tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan dua hari yang berakhir pada Rabu waktu AS, atau Kamis dini hari WIB. Namun, keputusan untuk menahan suku bunga kali ini belum tentu menutup kemungkinan perubahan kebijakan berikutnya. Pelaku pasar masih memperhitungkan peluang pengetatan lanjutan sebelum akhir tahun, sehingga komunikasi dan petunjuk kebijakan dari The Fed akan diperhatikan dengan saksama. Sinyal mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah suku bunga dapat memengaruhi ekspektasi terhadap imbal hasil aset AS serta pergerakan dolar. Jika pasar menilai suku bunga berpotensi tetap tinggi lebih lama, dolar dapat memperoleh dukungan tambahan. Bagi rupiah, kombinasi DXY yang menguat, euro yang melemah, dan ketidakpastian kebijakan moneter AS dapat menjaga tekanan dalam jangka pendek. Karena itu, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, tetapi juga pada pandangan bank sentral mengenai prospek kebijakan selanjutnya.Perhatian pelaku pasar tertuju pada kebijakan Federal Reserve atau The Fed, terutama setelah ekspektasi suku bunga berubah. Menurut perangkat CME FedWatch pada Senin, peluang kenaikan suku bunga setidaknya satu kali hingga Desember berada di sekitar 73%. Angka tersebut mencerminkan perkiraan pasar, bukan keputusan resmi bank sentral, tetapi tetap menjadi acuan penting dalam membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Jika suku bunga dipertahankan lebih tinggi atau kembali dinaikkan, imbal hasil aset berdenominasi dolar AS berpotensi tetap menarik bagi investor global. Kondisi itu dapat menopang permintaan terhadap dolar dan menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain memantau komunikasi pejabat The Fed, investor menunggu sejumlah rilis ekonomi Amerika Serikat pekan ini. Pada Selasa, perhatian tertuju pada data pesanan barang tahan lama dan indeks kepercayaan konsumen. Pesanan barang tahan lama memberi gambaran mengenai permintaan untuk produk bernilai besar dan rencana belanja dunia usaha, sementara kepercayaan konsumen dapat mengindikasikan kecenderungan rumah tangga untuk berbelanja. Keduanya membantu pasar menilai apakah aktivitas ekonomi masih cukup kuat untuk bertahan di tengah biaya pinjaman yang tinggi. Hasil yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan bahwa bank sentral memiliki ruang untuk menjaga suku bunga ketat lebih lama. Sebaliknya, pelemahan data dapat meredakan sebagian kekhawatiran tersebut.

Agenda utama berikutnya dijadwalkan pada Kamis, ketika data pertumbuhan ekonomi kuartal III dan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) September dirilis. Pertumbuhan produk domestik bruto memberikan ukuran luas tentang laju aktivitas ekonomi, sedangkan PCE menjadi salah satu indikator inflasi yang diperhatikan The Fed. Pasar akan mencermati bukan hanya angka utama, tetapi juga rincian komponennya, termasuk konsumsi rumah tangga dan tekanan harga. Kombinasi ekonomi yang kuat dengan inflasi yang tetap tinggi berpotensi mendorong investor memperkirakan suku bunga bertahan tinggi atau naik kembali. Namun, tanda perlambatan pertumbuhan dan meredanya inflasi dapat mengubah proyeksi kebijakan. Karena itu, rangkaian rilis tersebut menjadi petunjuk penting untuk mengukur ketahanan ekonomi, tekanan inflasi, dan kemungkinan arah suku bunga berikutnya. Perubahan ekspektasi itu selanjutnya dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan arus modal lintas negara.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyoroti defisit transaksi berjalan sebagai salah satu faktor yang membuat rupiah lebih rentan ketika pasar global bergejolak. Dalam kondisi tersebut, kebutuhan Indonesia terhadap pendanaan dari luar negeri meningkat untuk menutup selisih penerimaan dan pembayaran lintas negara. Ketergantungan pada sumber pembiayaan eksternal dapat menjadi tantangan ketika investor mengurangi penempatan dana atau menarik investasinya.

Dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026, Destry menjelaskan bahwa posisi transaksi berjalan perlu dicermati di tengah tekanan eksternal. Defisit pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$12,49 miliar, setara 3,34% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan kuartal sebelumnya, ketika defisit mencapai US$3,58 miliar atau 0,97% dari PDB.

Transaksi berjalan mencakup penerimaan dan pembayaran yang berkaitan dengan perdagangan barang, jasa, serta pendapatan penduduk suatu negara dan pihak di luar negeri. Defisit terjadi ketika penerimaan dari kegiatan-kegiatan tersebut belum cukup untuk membayar kewajiban ke luar negeri. Selisih itu perlu dibiayai melalui sumber lain, termasuk investasi asing dan aliran modal eksternal lainnya.

Ketika pasar internasional stabil ketersediaan pembiayaan dari luar negeri dapat membantu.

Baca juga: IHSG Berbalik Melemah, Tekanan Jual Membayangi Perdagangan | BI Bali Soroti Kerawanan Transaksi Digital di Tengah Ramainya Pariwisata | BPJS Kesehatan Tegaskan Layanan JKN Tetap Berjalan di Tengah Isu Penghapusan