SeaBank di Balik Layar: Pemilik, Perubahan Nama, dan Kekayaan Forrest Li

oleh -51 Dilihat
oleh
SeaBank di Balik Layar: Pemilik, Perubahan Nama, dan Kekayaan Forrest Li

Jakarta | SeaBank Indonesia merupakan bagian dari ekosistem Sea Limited, perusahaan teknologi multinasional yang berkantor pusat di Singapura. Sea Limited dikenal sebagai grup internet konsumen dengan sejumlah usaha yang melayani kebutuhan hiburan, perdagangan, dan layanan keuangan digital. Karena itu, pembahasan mengenai pihak di balik SeaBank perlu melihat struktur grup perusahaan tersebut, bukan hanya nama bank yang digunakan di Indonesia.

Salah satu tokoh penting dalam perjalanan Sea Limited adalah Forrest Li, yang juga dikenal dengan nama lahir Li Xiaodong. Ia merupakan pendiri sekaligus CEO perusahaan dan dipandang sebagai sosok pengendali utama grup. Li adalah pengusaha berkebangsaan Singapura yang lahir di Tianjin, Tiongkok, pada 1977. Pada 2009, ia mendirikan perusahaan yang mula-mula dikenal sebagai Garena, sebelum bisnisnya berkembang menjadi kelompok usaha dengan cakupan lebih luas.

Perkembangan itu tercermin dalam beberapa merek utama Sea Limited. Garena beroperasi di sektor gim daring, termasuk pengembangan dan penerbitan permainan digital. Shopee menjadi lini e-commerce yang menghubungkan penjual dan pembeli di berbagai pasar. Sementara itu, bisnis keuangan digital grup ini mencakup SeaMoney serta layanan perbankan digital, termasuk SeaBank di Indonesia. Masing-masing lini memiliki kegiatan dan entitas operasional tersendiri, meskipun berada dalam ekosistem korporasi yang sama.

Hubungan tersebut menjelaskan konteks kepemilikan dan kendali SeaBank. Bank ini berada dalam jaringan bisnis keuangan digital Sea Limited, sehingga keterkaitannya dengan grup dapat ditelusuri melalui struktur perusahaan dan entitas terkait. Namun, hal itu tidak berarti Forrest Li memiliki SeaBank secara pribadi. Peran Li sebagai pendiri, CEO, dan tokoh pengendali utama Sea Limited berbeda dari kepemilikan langsung atas sebuah bank. Dengan demikian, SeaBank lebih tepat dipahami sebagai bagian dari ekosistem korporasi Sea Limited, bukan sebagai aset pribadi sang pendiri. Memahami perbedaan kendali pada tingkat grup dan kepemilikan pribadi membantu menjelaskan siapa yang berada di balik bank digital tersebut secara lebih akurat.Sebelum memakai nama SeaBank, lembaga ini dikenal sebagai PT Bank Kesejahteraan Ekonomi, yang umum disebut Bank BKE. Bank tersebut berdiri di Jakarta pada 4 Oktober 1991. Pendirian Bank BKE berawal dari gagasan ekonom senior Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Riwayat awal ini menempatkan bank tersebut sebagai lembaga perbankan yang telah hadir jauh sebelum ekosistem digital Sea Group berkembang di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, perubahan nama menjadi SeaBank merupakan tahap baru dalam perjalanan sebuah bank yang sudah beroperasi selama beberapa dekade, bukan pendirian lembaga perbankan baru pada 2021.

Pada masa awal, fokus Bank BKE adalah menyediakan pembiayaan bagi pegawai negeri sipil. Orientasi tersebut menggambarkan peran awal bank dalam melayani kebutuhan keuangan kelompok tertentu, sebelum kemudian identitas dan arah pengembangannya berubah. Informasi mengenai sejarahnya perlu dibedakan dari perkembangan SeaBank setelah pergantian nama: Bank BKE merupakan nama dan bentuk identitas yang digunakan sebelum masuk ke dalam ekosistem Sea Group. Dengan memahami urutan tersebut, pembaca dapat melihat bahwa akar kelembagaan SeaBank bermula dari bank yang berdiri di Jakarta pada 1991 dan memiliki fokus layanan awal yang spesifik.

Perubahan penting terjadi pada awal 2021, ketika Sea Group mengakuisisi Bank BKE sebagai bagian dari upaya memperluas ekosistem layanan keuangan digital di Asia Tenggara. Setelah itu, bank memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pada Februari 2021 berganti nama menjadi PT Bank SeaBank Indonesia. Kronologi ini menunjukkan peralihan dari nama Bank BKE menuju SeaBank dalam rentang waktu yang berdekatan. Dengan demikian, SeaBank membawa sejarah kelembagaan yang bermula pada 1991 sekaligus identitas baru yang terkait dengan rencana pengembangan layanan digital Sea Group. Rangkaian tanggal tersebut menjelaskan perubahan nama tanpa mengaburkan asal-usul bank maupun menambahkan rincian proses akuisisi yang tidak tersedia.

Peluncuran aplikasi SeaBank secara nasional pada Juli 2021 menandai perubahan penting dalam cara bank tersebut menyampaikan layanannya. Sebelumnya, bank yang kini dikenal sebagai SeaBank beroperasi sebagai bank konvensional dan memiliki fokus pada pembiayaan pegawai negeri sipil (PNS). Setelah akuisisi dan pergantian nama, arah layanan bergeser menuju perbankan digital yang dapat diakses melalui aplikasi. Transformasi ini tidak sekadar mengubah nama atau saluran transaksi, tetapi juga menempatkan layanan berbasis teknologi sebagai bagian utama dari identitas bank. Dengan demikian, SeaBank memasuki segmen layanan yang berbeda dari fokus pembiayaan yang menjadi ciri kegiatan sebelumnya.

Aplikasi tersebut ditujukan kepada pengguna ritel serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sasaran ini menunjukkan cakupan layanan yang lebih luas: bukan hanya individu yang membutuhkan fasilitas perbankan sehari-hari, melainkan juga usaha skala kecil yang memerlukan akses ke layanan keuangan. Penggunaan aplikasi memberi pelanggan jalur digital untuk berinteraksi dengan bank, tanpa harus menjadikan kunjungan ke kantor sebagai satu-satunya titik layanan. Namun, peluncuran dan sasaran pengguna tidak dengan sendirinya membuktikan jumlah nasabah, tingkat penggunaan, atau hasil bisnis tertentu. Karena itu, perkembangan SeaBank sebaiknya dipahami sebagai perubahan model dan fokus layanan, bukan sebagai ukuran keberhasilan yang tidak disertai data.

Peralihan tersebut juga dapat dibaca dalam konteks strategi Sea Limited, perusahaan teknologi yang membangun kegiatan di beberapa bidang digital, termasuk layanan keuangan. Kehadiran SeaBank memperluas keterlibatan grup itu ke ranah perbankan digital, melengkapi ekosistem bisnis yang telah dibangunnya. Strategi ini memberi konteks mengapa bank beralih dari orientasi pembiayaan PNS ke layanan berbasis aplikasi yang menyasar konsumen dan UMKM. Meski demikian, hubungan strategis tersebut tidak berarti setiap layanan bank otomatis terhubung atau memberikan dampak tertentu bagi usaha Sea Limited lainnya. Fakta yang dapat ditegaskan adalah perubahan fokus, peluncuran aplikasi nasional pada Juli 2021, serta sasaran ritel dan UMKM. Ketiganya menjelaskan posisi baru SeaBank dalam upaya grup mengembangkan bisnis keuangan digital di Indonesia.

Dalam daftar orang terkaya versi Forbes yang menjadi acuan bahan sumber, kekayaan bersih Forrest Li diperkirakan mencapai US$6 miliar, atau sekitar Rp93,95 triliun berdasarkan konversi yang dicantumkan. Angka ini merupakan estimasi pada konteks waktu tertentu, bukan nilai tetap yang dapat dianggap berlaku setiap saat. Kekayaan Li terutama bersumber dari kepemilikan sahamnya di Sea Limited, perusahaan teknologi yang ia dirikan dan pimpin. Karena sebagian besar asetnya terkait dengan saham perusahaan tersebut, perubahan harga saham Sea dapat berpengaruh besar terhadap nilai kekayaannya yang dilaporkan. Estimasi kekayaan para miliarder juga dapat berbeda antardaftar, bergantung pada waktu penghitungan dan metode yang digunakan.

Sea Limited menaungi beberapa bisnis utama yang mendukung nilai perusahaan sekaligus menjadi landasan kekayaan Li. Shopee beroperasi di bidang perdagangan elektronik, sementara Garena bergerak dalam industri gim digital. Perusahaan ini juga mengembangkan SeaMoney, layanan keuangan digital yang mencakup berbagai produk pembayaran dan keuangan, serta SeaBank sebagai bagian dari ekosistem tersebut. Kinerja dan prospek bisnis-bisnis itu, bersama sentimen investor terhadap perusahaan teknologi, dapat tercermin dalam valuasi Sea Limited. Oleh sebab itu, kekayaan Li tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan sahamnya, tetapi juga dengan naik turunnya penilaian pasar atas usaha-usaha yang berada di bawah grup Sea.

Pergerakan nilainya terlihat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, ketika saham teknologi mengalami lonjakan, estimasi kekayaan Li sempat berada di kisaran US$20,2 miliar hingga US$22 miliar.

Baca juga: BEI Siapkan Perubahan IHSG, Saham dalam Daftar HSC Akan Dikeluarkan