Strategi Investasi Indonesia Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

oleh -32 Dilihat
oleh
Strategi Investasi Indonesia Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun ke depan. Kebutuhan investasi tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Besarnya nilai investasi yang diperlukan menunjukkan skala sasaran ekonomi yang hendak dicapai dalam periode tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Rosan di Jakarta pada 8 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa target investasi lebih dari Rp13.000 triliun merupakan bagian dari upaya memenuhi sasaran pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kebutuhan investasi tersebut ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam agenda pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen.

Rosan menegaskan, pemenuhan kebutuhan investasi dalam lima tahun mendatang berkaitan langsung dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. Angka Rp13.000 triliun menjadi gambaran nilai investasi yang perlu dipenuhi untuk mendukung sasaran tersebut. Pernyataan ini menempatkan investasi sebagai bagian utama dari strategi menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen, sesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah.

Dalam konteks penyampaian tersebut, kebutuhan investasi tidak hanya disebut sebagai angka perencanaan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi. Pemerintah memerlukan dukungan investasi lebih dari Rp13.000 triliun selama lima tahun ke depan agar target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dapat menjadi arah yang ingin dicapai. Rosan menyampaikan kebutuhan dan tujuan tersebut secara bersamaan dalam keterangannya di Jakarta.

Pernyataan Menteri Investasi dan Hilirisasi itu memberikan inti gambaran mengenai skala pembiayaan yang diperlukan Indonesia dalam lima tahun mendatang. Lebih dari Rp13.000 triliun investasi ditargetkan untuk mendukung upaya memenuhi sasaran pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan, termasuk target pertumbuhan hingga 8 persen.

Rosan menjelaskan bahwa kebutuhan investasi lebih dari Rp13.000 triliun tidak ditetapkan secara terpisah dari agenda pembangunan nasional. Angka tersebut merupakan hasil perhitungan atas kebutuhan pembiayaan yang harus dipenuhi apabila Indonesia ingin mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Dengan demikian, target investasi itu berfungsi sebagai ukuran kapasitas pendanaan yang diperlukan untuk memperluas kegiatan ekonomi, meningkatkan produktivitas, serta mendorong penciptaan nilai tambah di berbagai sektor.

Peran Bappenas dalam penetapan sasaran tersebut berkaitan dengan proses perencanaan pembangunan jangka menengah. Lembaga ini menghitung kebutuhan investasi berdasarkan sasaran pertumbuhan yang telah ditetapkan pemerintah, kemudian menerjemahkannya ke dalam target sektoral dan kelembagaan. Dalam penjelasan Rosan, Bappenas memberikan target investasi lebih dari Rp13.000 triliun kepada Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Penugasan itu menunjukkan bahwa kementerian tersebut memiliki peran penting dalam mengoordinasikan penghimpunan investasi, baik dari sumber domestik maupun internasional.

Target tersebut juga memiliki batas waktu yang jelas. Kebutuhan investasi dihitung untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029, sehingga pelaksanaannya perlu disusun secara bertahap dan konsisten sebelum tahun sasaran. Hubungan ketiga unsur ini bersifat langsung: sasaran pertumbuhan menentukan skala kegiatan ekonomi yang hendak dicapai, skala tersebut menentukan besarnya kebutuhan pembiayaan investasi, sedangkan target waktu menjadi acuan untuk mengukur kecepatan realisasi. Oleh karena itu, angka Rp13.000 triliun bukan sekadar proyeksi, melainkan instrumen perencanaan yang menghubungkan visi pertumbuhan dengan agenda investasi dan hilirisasi. Keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan pemerintah memperbaiki iklim usaha, mempercepat perizinan, menyediakan infrastruktur, dan memastikan investasi menghasilkan dampak ekonomi yang luas hingga 2029.

Rosan menyampaikan bahwa kontribusi investasi terhadap perekonomian Indonesia terus menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan keterangan tersebut, pada tahun sebelumnya kontribusi investasi rata-rata berada di kisaran 28 hingga 29 persen. Angka itu menjadi gambaran mengenai porsi investasi dalam keseluruhan aktivitas perekonomian pada periode tersebut, sebagaimana disampaikan oleh Rosan.

Dalam keterangan yang sama, Rosan menyebutkan bahwa kontribusi investasi saat ini telah mendekati 38 sampai 39 persen. Dengan demikian, data yang dikemukakan memperlihatkan adanya perubahan pada besaran kontribusi investasi dibandingkan dengan rata-rata pada tahun sebelumnya. Penyebutan angka tersebut merujuk pada informasi yang disampaikan Rosan mengenai perkembangan kontribusi investasi di Indonesia.

Selain menjelaskan perubahan persentase kontribusi, Rosan juga menyampaikan data mengenai nilai investasi dalam rentang waktu yang lebih panjang. Dalam sepuluh tahun terakhir, nilai investasi kurang lebih mencapai Rp9.100 triliun. Nilai tersebut merupakan akumulasi investasi selama periode satu dekade, sesuai dengan keterangan yang diberikan Rosan.

Data mengenai kontribusi dan nilai investasi itu mencakup dua ukuran yang berbeda. Persentase 28 hingga 29 persen pada tahun sebelumnya serta kisaran 38 sampai 39 persen saat ini menggambarkan kontribusi investasi, sedangkan angka kurang lebih Rp9.100 triliun merujuk pada nilai investasi selama sepuluh tahun terakhir. Seluruh angka tersebut disampaikan Rosan dalam penjelasannya mengenai perkembangan investasi di Indonesia. Informasi ini dapat menjadi bagian dari pembahasan mengenai posisi investasi dalam agenda pertumbuhan ekonomi nasional, tanpa menambahkan tafsiran di luar data yang telah dikemukakan.

Realisasi investasi Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Rosan menyebutkan bahwa nilai investasi yang terealisasi pada 2024 mencapai sekitar Rp1.714 triliun. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar Rp1.931 triliun pada 2025. Perkembangan ini mencerminkan bertambahnya nilai penanaman modal yang masuk dan menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8 persen.

Meski demikian, pemerintah berharap pertumbuhan investasi tidak hanya terlihat dari kenaikan nominalnya. Investasi yang masuk perlu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan pekerjaan. Dengan demikian, keberhasilan investasi tidak semata-mata diukur berdasarkan besarnya dana yang ditanamkan, tetapi juga berdasarkan kemampuannya membuka kesempatan kerja dan memperluas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi.

Rosan menyampaikan bahwa sekitar 2,4 juta lapangan pekerjaan tercipta pada tahun lalu. Angka tersebut menunjukkan adanya keterkaitan realisasi investasi dan kesempatan kerja yang tersedia bagi masyarakat. Namun, pemerintah tetap menekankan perlunya memastikan agar investasi yang terus berkembang menghasilkan pekerjaan yang nyata dan dapat diakses secara luas.

Karena itu, Rosan menegaskan pentingnya investasi berkualitas. Investasi semacam ini tidak hanya menambah nilai modal yang masuk, tetapi juga memiliki orientasi pada penciptaan lapangan pekerjaan serta manfaat ekonomi yang lebih luas. Penekanan tersebut menjadi dasar agar peningkatan realisasi investasi berjalan seiring dengan tujuan pembangunan dan kebutuhan masyarakat.