Jakarta | Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan tiga rekomendasi yang dihasilkan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Jakarta pada Jumat. Rekomendasi tersebut dirumuskan sebagai langkah bersama untuk memperkuat daya tahan dunia usaha Indonesia di tengah perubahan ekonomi global yang cepat dan penuh ketidakpastian. Melalui hasil rapat pimpinan ini, Kadin menegaskan pentingnya respons yang terarah agar pelaku usaha dapat menghadapi tekanan sekaligus menangkap peluang baru.
Tiga rekomendasi itu ditujukan untuk mendukung ketahanan kegiatan usaha, memperkuat kemampuan perusahaan beradaptasi terhadap tantangan, dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional. Tantangan global dapat mencakup perubahan kondisi perdagangan, tekanan terhadap rantai pasok, dinamika investasi, serta perkembangan teknologi. Karena itu, dunia usaha perlu memiliki landasan yang kuat untuk menjaga keberlangsungan operasional, sementara pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya berperan menciptakan iklim usaha yang mendukung.
Anindya menyampaikan bahwa hasil Rapimnas menjadi masukan bagi upaya memperkuat kontribusi dunia usaha terhadap perekonomian nasional. Rekomendasi Kadin diharapkan dapat mendorong koordinasi pelaku usaha, pemerintah, dan berbagai pihak terkait, sehingga kebijakan maupun langkah di lapangan dapat saling melengkapi. Kolaborasi tersebut penting agar tantangan tidak hanya ditangani secara terpisah, tetapi juga melalui pendekatan yang mempertimbangkan kebutuhan industri dan kondisi pasar.
Dengan daya tahan usaha yang lebih baik, perusahaan Indonesia diharapkan mampu mempertahankan produktivitas, memperluas pasar, serta meningkatkan kualitas produk dan layanan. Penguatan kapasitas ini juga menjadi bekal untuk bersaing dengan pelaku usaha dari negara lain. Hasil Rapimnas 2026, dengan demikian, menempatkan ketahanan dan daya saing sebagai perhatian penting bagi masa depan ekonomi Indonesia. Tindak lanjut atas rekomendasi tersebut akan menentukan sejauh mana gagasan yang disampaikan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata dan memberi manfaat bagi dunia usaha secara luas.
Rekomendasi pertama Kadin untuk menjaga daya tahan dunia usaha Indonesia adalah memperkuat bantalan ekonomi agar kegiatan usaha lebih siap menghadapi guncangan global. Bantalan ini mencakup sejumlah kondisi yang saling berkaitan, mulai dari kemampuan perusahaan mengelola arus kas, kesehatan fiskal pemerintah pusat dan daerah, hingga daya beli rumah tangga. Menurut Anindya, perhatian terhadap ketiga aspek tersebut penting untuk menopang usaha rakyat dan industri ketika tekanan dari luar negeri memengaruhi perekonomian.
Arus kas yang terjaga memberi pelaku usaha ruang untuk memenuhi kewajiban operasional, membayar pekerja, serta mempertahankan kegiatan produksi dan layanan. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, kelancaran penerimaan dan pengeluaran dapat membantu perusahaan mengelola kebutuhan sehari-hari. Upaya menjaga arus kas dunia usaha karena itu menjadi bagian dari penguatan ketahanan, baik bagi perusahaan berskala besar maupun pelaku usaha rakyat yang memiliki ruang penyesuaian lebih terbatas.
Pada saat yang sama, kondisi fiskal pemerintah pusat dan daerah perlu tetap diperhatikan. Kapasitas fiskal yang terjaga berkaitan dengan kemampuan pemerintah menjalankan fungsi dan programnya. Kesehatan anggaran di tingkat pusat maupun daerah menjadi salah satu unsur dalam menciptakan kondisi ekonomi yang mendukung aktivitas usaha. Kadin menempatkan hal tersebut sebagai bagian dari bantalan yang diperlukan ketika perekonomian menghadapi perubahan dan tekanan global.
Aspek berikutnya adalah daya beli rumah tangga. Permintaan masyarakat berhubungan langsung dengan penjualan barang dan jasa, sehingga daya beli yang terjaga dapat mendukung aktivitas produksi dan distribusi. Jika rumah tangga tetap mampu memenuhi kebutuhan dan berbelanja, usaha memiliki pasar untuk mempertahankan kegiatan ekonominya. Perhatian terhadap daya beli juga melengkapi upaya menjaga arus kas perusahaan serta kondisi fiskal pemerintah.
Dengan memperhatikan ketiga sisi tersebut secara bersamaan, bantalan ekonomi diharapkan membantu usaha rakyat dan industri mempertahankan daya serap yang kuat. Daya serap yang terjaga memungkinkan kegiatan usaha terus berjalan dan menopang penyerapan hasil produksi. Rekomendasi ini menempatkan ketahanan arus kas, kondisi fiskal, dan daya beli sebagai unsur penting dalam menghadapi guncangan global, tanpa memisahkan kebutuhan dunia usaha dari kondisi rumah tangga dan pemerintah.
Ketersediaan bahan baku merupakan salah satu penopang penting bagi keberlangsungan kegiatan produksi. Karena itu, rekomendasi kedua Kadin menekankan perlunya menjaga agar kebutuhan bahan baku tetap dapat dipenuhi secara memadai. Perhatian ini terutama ditujukan untuk mendukung produksi rakyat, yang bergantung pada kelancaran pasokan agar aktivitas usaha dapat terus berjalan. Ketika bahan baku sulit diperoleh atau pasokannya tidak terjaga, proses produksi berisiko terganggu. Dampaknya dapat merambat pada kemampuan pelaku usaha mempertahankan kegiatan sehari-hari dan memenuhi kebutuhan pasar. Menjaga ketersediaan bahan baku, dengan demikian, bukan hanya persoalan pengadaan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan daya tahan dunia usaha. Langkah tersebut juga membantu menciptakan landasan yang lebih stabil bagi pelaku produksi untuk merencanakan dan menjalankan usahanya. Dalam menghadapi ketidakpastian, perhatian terhadap kesinambungan pasokan menjadi semakin relevan bagi perekonomian nasional.
Upaya menjaga pasokan perlu disertai penguatan rantai pasok yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir. Hubungan yang terintegrasi memungkinkan setiap bagian dalam alur produksi dan distribusi saling mendukung, sehingga ketersediaan bahan baku dapat dikelola secara lebih menyeluruh. Pendekatan ini menghindari penanganan yang terpisah-pisah dan mendorong kesinambungan sumber pasokan, kegiatan produksi, serta penyaluran hasil. Gagasan tersebut dikenal sebagai sistem closed loop, yakni sistem yang memandang rangkaian kegiatan usaha sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Dengan keterhubungan semacam itu, pelaku dalam rantai pasok dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan dan kelancaran aliran bahan baku. Penguatan integrasi juga memberi kerangka untuk mengenali titik-titik yang memerlukan perhatian, tanpa mengabaikan kebutuhan produksi rakyat. Fokusnya adalah memastikan bahwa rantai pasok mendukung proses usaha secara berkelanjutan.
Melalui sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir, penjagaan ketersediaan bahan baku dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan dunia usaha Indonesia. Rantai pasok yang saling terhubung diharapkan membantu menjaga kesinambungan produksi, sekaligus mendukung pelaku usaha agar tidak menghadapi pasokan sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Prinsip closed loop menempatkan keterkaitan antarbagian sebagai dasar dalam menjaga kelancaran kegiatan. Dengan demikian, rekomendasi Kadin mengarahkan perhatian pada dua hal yang berjalan bersama: memastikan bahan baku tersedia dan membangun hubungan pasok yang terintegrasi. Keduanya penting terutama agar produksi rakyat memperoleh dukungan yang diperlukan untuk tetap berlangsung. Penekanan pada kesinambungan dan keterhubungan ini memperkuat upaya menjaga aktivitas ekonomi di tengah berbagai tantangan. Bagi dunia usaha, pasokan yang terjaga menjadi fondasi bagi kegiatan produksi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Kepastian berusaha menjadi salah satu prasyarat agar dunia usaha Indonesia mampu bersaing lebih kuat di pasar global. Pelaku usaha membutuhkan aturan yang jelas, konsisten, dan dapat diprediksi, serta proses perizinan yang tidak berubah-ubah. Kepastian tersebut membantu perusahaan menyusun rencana investasi, memperluas kapasitas produksi, dan membangun kemitraan jangka panjang. Karena itu, Kadin mendorong kebijakan yang mendukung kegiatan usaha sekaligus memberi ruang bagi Indonesia untuk memanfaatkan peluang perdagangan internasional secara lebih optimal.
Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 7 miliar dolar AS pada tahun ini. Capaian tersebut menunjukkan adanya peluang untuk memperluas perdagangan, meski upaya peningkatan ekspor tetap perlu berjalan beriringan dengan penguatan daya saing produk. Kadin menilai peluang itu dapat dikembangkan melalui perjanjian perdagangan baru yang membuka akses pasar dan memperluas jejaring dagang.
Baca juga: Menjaga Kesegaran Bahan Pangan: Tantangan Dapur dan Inovasi TCL | Menjaga Swasembada Pangan agar Berkelanjutan: Benih, Teknologi, dan Pasokan | Delapan Agenda Dunia Usaha AS untuk Mendukung Target Pertumbuhan Indonesia



































