Usulan Bebas Ganjil Genap untuk Mobil Hybrid dan Persaingan Kendaraan Elektrifikasi

oleh -62 Dilihat
oleh
Usulan Bebas Ganjil Genap untuk Mobil Hybrid dan Persaingan Kendaraan Elektrifikasi

Jakarta | Kementerian Perindustrian mendorong pemberian insentif nonfiskal bagi kendaraan elektrifikasi, tidak terbatas pada mobil listrik berbasis baterai. Usulan tersebut mencakup kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), serta range extended electric vehicle (REEV). Salah satu bentuk fasilitas yang disampaikan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji adalah pembebasan dari aturan ganjil genap di kawasan perkotaan. Pemerintah juga mengusulkan penyediaan parkir khusus dan kemungkinan fasilitas pengisian daya bagi kendaraan elektrifikasi yang masih memerlukannya.

Gagasan itu disampaikan Sarmuji setelah bertemu dengan pengurus Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membahas dukungan terhadap perkembangan industri otomotif dan berbagai teknologi kendaraan yang lebih efisien. Menurut Sarmuji, bentuk dukungan tidak harus selalu berupa bantuan fiskal. Kemudahan penggunaan dan akses terhadap fasilitas tertentu dapat menjadi pertimbangan untuk mendorong minat masyarakat terhadap beragam pilihan kendaraan elektrifikasi.

Meski demikian, pembebasan ganjil genap dan fasilitas lainnya masih berstatus usulan. Belum ada kebijakan yang disahkan ataupun ketentuan pelaksanaan yang diumumkan dalam pernyataan tersebut. Penerapan aturan lalu lintas di perkotaan juga melibatkan kewenangan pemerintah daerah, sehingga gagasan ini memerlukan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait. Kriteria kendaraan yang dapat memperoleh fasilitas, wilayah penerapan, serta mekanisme verifikasi pun masih perlu dirumuskan sebelum usulan dapat diterapkan.

Ruang lingkup yang mencakup hybrid, PHEV, dan REEV menunjukkan pendekatan yang mempertimbangkan beragam teknologi elektrifikasi, bukan hanya kendaraan listrik murni. Namun, tiap jenis kendaraan memiliki karakteristik penggunaan energi dan kebutuhan pengisian yang berbeda. Karena itu, rancangan insentif nonfiskal perlu menjelaskan tujuan serta persyaratannya secara terbuka. Kejelasan tersebut penting agar manfaat kebijakan dapat dinilai, tidak menimbulkan kebingungan bagi pengguna jalan, dan memberikan kepastian bagi produsen serta konsumen yang mempertimbangkan kendaraan elektrifikasi.

Sarmuji menyampaikan bahwa insentif bagi kendaraan hybrid dan REEV diharapkan dapat mendukung percepatan transisi energi di sektor transportasi. Menurut pandangannya, kebijakan yang memperluas pilihan kendaraan elektrifikasi dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, termasuk penggunaan BBM bersubsidi. Pada saat yang sama, kendaraan dengan teknologi elektrifikasi berpotensi menekan emisi gas buang dibandingkan kendaraan konvensional, sehingga arah kebijakan transportasi dapat bergerak menuju penggunaan energi yang lebih efisien. Harapan tersebut menjadi dasar usulan agar fasilitas atau dukungan pemerintah tidak hanya terpusat pada satu jenis teknologi, melainkan mempertimbangkan beberapa pilihan yang tersedia bagi konsumen. Besaran dampak tentu bergantung pada pemakaian dan kebijakan yang diterapkan.

Ia juga menyoroti bahwa keistimewaan dalam aturan ganjil genap serta insentif yang dinilai memadai selama ini lebih banyak dinikmati kendaraan listrik berbasis baterai penuh atau BEV. Sementara itu, tambahan dukungan untuk kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dan range-extended electric vehicle (REEV) masih akan dirumuskan. Perbedaan perlakuan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana insentif dapat dirancang agar lebih seimbang di teknologi elektrifikasi. Usulan pembebasan ganjil genap bagi hybrid dan REEV, dalam konteks ini, dipandang sebagai salah satu opsi kebijakan yang dapat dikaji bersama bentuk insentif lainnya. Rincian penerapan dan kelayakannya tetap memerlukan perumusan lebih lanjut oleh pihak terkait.

Teknologi hybrid dan REEV dipandang dapat membantu menghemat konsumsi BBM dan menekan emisi, sembari menawarkan pengalaman penggunaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pengisian daya eksternal. Hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi konsumen yang khawatir mengenai ketersediaan stasiun pengisian atau jarak tempuh kendaraan listrik, yang kerap disebut range anxiety. Pada kendaraan REEV, misalnya, pendekatan penggerak listrik dengan dukungan mesin untuk memperluas jangkauan dapat memberi alternatif bagi pengguna yang belum nyaman mengandalkan infrastruktur pengisian daya. Namun, manfaat tersebut merupakan alasan yang dikemukakan untuk mempertimbangkan teknologi ini, bukan jaminan hasil terukur bagi setiap kendaraan atau pengguna. Karena itu, rancangan insentif perlu melihat kebutuhan transisi energi sekaligus kondisi konsumen dan kesiapan ekosistem.

Sarmuji menilai teknologi kendaraan hybrid memiliki keterkaitan yang lebih dekat dengan kemampuan industri komponen yang sudah berkembang di dalam negeri. Alasannya, kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hybrid biasa, maupun range-extended electric vehicle (REEV) tetap memadukan baterai dengan mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Dengan susunan tersebut, kendaraan elektrifikasi jenis ini tidak sepenuhnya meninggalkan teknologi mesin konvensional yang selama ini menjadi bagian dari rantai produksi otomotif.

Menurut pandangan Sarmuji, keberadaan mesin pembakaran internal membuat sejumlah komponen yang telah diproduksi industri lokal masih berpotensi digunakan atau dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan hybrid. Karena itu, peralihan menuju produksi komponen bagi teknologi tersebut diperkirakan tidak menuntut perubahan menyeluruh pada fasilitas dan kapasitas manufaktur yang ada. Penyesuaian dapat berlangsung lebih bertahap dibandingkan apabila seluruh rantai industri harus beralih langsung ke sistem kendaraan yang hanya mengandalkan motor listrik dan baterai.

Meski demikian, penilaian tersebut perlu dipahami sebagai pandangan mengenai kemudahan adaptasi industri, bukan bukti bahwa seluruh komponen kendaraan hybrid sudah dapat dipasok secara lokal. Pernyataan itu juga tidak dengan sendirinya menunjukkan besaran tingkat kandungan lokal, jumlah investasi yang diperlukan, atau dampak ekonomi yang akan dihasilkan. Informasi kuantitatif mengenai hal-hal tersebut tidak tersedia dalam sumber yang menjadi dasar uraian ini. Kebutuhan tiap teknologi pun dapat berbeda, termasuk pada komponen baterai, sistem penggerak listrik, perangkat kendali, serta integrasi mesin dan motor listrik.

Dengan demikian, argumen Sarmuji menyoroti kesinambungan kemampuan manufaktur otomotif yang telah ada dan kebutuhan produksi kendaraan hybrid. Paduan baterai serta ICE dipandang membuka ruang pemanfaatan kompetensi lama sambil mendorong pengembangan kemampuan baru. Namun, tingkat kesiapan pemasok dan besarnya manfaat bagi industri tetap memerlukan data serta kajian tersendiri. Pembedaan ini penting agar kemudahan penyesuaian yang diperkirakan tidak dianggap sebagai kepastian bahwa seluruh rantai pasok sudah siap atau bahwa dampak ekonominya telah terukur. Kebijakan maupun insentif terkait karena itu sebaiknya menimbang penilaian industri tersebut bersama bukti mengenai kapasitas produksi, kebutuhan komponen, dan kesiapan pemasok domestik.Data wholesales Gaikindo untuk Januari–September 2026 menunjukkan pasar kendaraan elektrifikasi Indonesia semakin kompetitif. Mobil hybrid terdistribusi sebanyak 65.968 unit, setara 9,72% dari total pasar nasional yang mencapai 679.020 unit. Pada periode yang sama, kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV mencatat 117.218 unit, dengan pangsa pasar 17,26%. Angka tersebut memperlihatkan bahwa distribusi BEV telah melampaui hybrid sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, baik dari sisi volume maupun kontribusi terhadap pasar.

Perubahan ini menandai pergeseran dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Hybrid sempat menjadi pemimpin pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia selama 2021–2024. Pilihan teknologi tersebut menarik bagi konsumen yang menginginkan efisiensi bahan bakar tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pengisian daya eksternal. Pada masa itu, ketersediaan model hybrid dan kebiasaan penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak turut membentuk perkembangan pasar. Namun, posisi tersebut tidak bertahan ketika laju penjualan BEV meningkat tajam pada periode berikutnya.

BEV melesat pada 2025 dan berlanjut pada 2026, seiring meningkatnya insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai serta bertambahnya pilihan model dengan harga yang lebih terjangkau. Perkembangan tersebut memperluas alternatif bagi konsumen dan mendorong perhatian terhadap mobil listrik murni. Meski demikian, angka wholesales menggambarkan distribusi kendaraan dari produsen ke jaringan penjualan, bukan secara langsung jumlah pembelian oleh pengguna akhir.

Baca juga: Menperin Dorong Insentif Baru untuk Mobil Hybrid, PHEV, dan REEV | Preferensi Konsumen Ubah Strategi Produk, Harga, dan Persaingan Industri