Jakarta | Di tengah pelemahan pasar saham setelah pernyataan MSCI, sejumlah pengendali, direksi, dan komisaris emiten tercatat melakukan pembelian saham perusahaan yang mereka miliki atau kelola. Aktivitas tersebut berlangsung pada 15–19 Oktober 2026, menurut keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Waktu transaksi itu membuat aksi beli para pemangku kepentingan perusahaan menjadi sorotan ketika kondisi pasar sedang tertekan.
Informasi yang dipublikasikan BEI menunjukkan nilai transaksi para pelaku tidak seragam. Besarannya bervariasi, mulai dari ratusan juta rupiah hingga triliunan rupiah. Perbedaan nilai tersebut mencerminkan skala pembelian yang beragam, sekaligus menunjukkan bahwa transaksi dilakukan oleh beberapa pihak dengan posisi dan kepentingan yang berbeda di masing-masing emiten. Rincian keterbukaan mencakup tanggal transaksi, jumlah saham yang dibeli, serta perubahan kepemilikan setelah aksi dilakukan.
Dalam laporan semacam ini, pembelian oleh pengendali maupun anggota direksi dan komisaris merupakan transaksi saham oleh pihak yang memiliki hubungan langsung dengan perusahaan. Informasi tersebut disampaikan melalui mekanisme keterbukaan agar investor dapat mengetahui perubahan kepemilikan orang dalam. Namun, data transaksi saja tidak cukup untuk memastikan alasan setiap pembelian. Tujuan, pertimbangan investasi, dan pandangan masing-masing pihak perlu merujuk pada keterangan resmi yang tersedia, bukan diasumsikan dari waktu transaksi.
Rentang transaksi yang berdekatan dengan pelemahan pasar memberi konteks penting bagi investor yang memantau pergerakan kepemilikan saham emiten. Meski demikian, pembelian oleh pengendali atau petinggi perusahaan tidak dengan sendirinya menjamin perubahan arah harga, kinerja usaha, maupun prospek saham. Investor tetap perlu mencermati nilai dan jumlah saham yang dibeli, posisi kepemilikan sebelum serta sesudah transaksi, dan informasi perusahaan lainnya. Dengan demikian, keterbukaan BEI dapat menjadi salah satu bahan pemantauan, bukan satu-satunya dasar dalam menilai keputusan investasi.
Transaksi terbesar dalam rangkaian aksi korporasi tersebut melibatkan PT Sinergi Graha Kapital dan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Pada 19 Oktober, Sinergi Graha Kapital membeli sebanyak 1.415.652.000 saham WIFI dengan harga Rp2.870 per saham. Nilai keseluruhan transaksi mencapai sekitar Rp4,06 triliun, menjadikannya salah satu transaksi bernilai besar di tengah tekanan pada pasar saham.
Sebelum transaksi itu, Sinergi Graha Kapital belum tercatat memiliki saham WIFI. Setelah pembelian, perusahaan tersebut menguasai 26,667% saham emiten itu. Perubahan kepemilikan dalam jumlah besar tersebut menjadi perhatian investor karena berlangsung ketika saham-saham di pasar tengah mengalami pelemahan. Meski demikian, besarnya porsi saham yang diperoleh tidak serta-merta berarti bahwa pembeli mengambil alih kendali atas perusahaan.
Dalam keterangan mengenai transaksi, Sinergi Graha Kapital menyatakan bahwa pembelian dilakukan untuk tujuan investasi jangka panjang. Perusahaan itu juga menyebut dirinya bukan pengendali WIFI. Pernyataan tersebut penting untuk membedakan perubahan kepemilikan saham dari tindakan pengambilalihan kendali. Investor dapat mencermati informasi kepemilikan dan tujuan transaksi sebagai bagian dari penilaian atas struktur pemegang saham WIFI, tanpa menganggap transaksi tersebut sebagai perubahan pengendali.
Transaksi lain yang turut tercatat terjadi pada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Pada 16 Oktober, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk melakukan transaksi atas 265 juta saham ENRG dengan harga Rp925 per saham, atau bernilai sekitar Rp245,1 miliar. Namun, transaksi ini berstatus repurchase agreement dengan tujuan reverse repo. Karena itu, transaksi tersebut perlu dibedakan dari pembelian saham biasa untuk investasi atau penambahan kepemilikan permanen. Penyebutan jenis transaksi dan tujuannya memberikan konteks yang diperlukan saat membandingkan aksi para pemegang saham maupun pelaku pasar. Dengan demikian, transaksi WIFI dan ENRG memiliki karakter berbeda: satu dinyatakan sebagai investasi jangka panjang, sedangkan transaksi ENRG merupakan bagian dari skema reverse repo.
Di tengah pelemahan saham, transaksi pembelian juga dilakukan pada saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). PT Terang Anugrah Abadi, selaku pemegang saham pengendali perseroan, membeli 4,35 juta saham HRTA pada 16 Oktober dengan harga Rp1.615 per saham. Dua hari berikutnya, pada 19 Oktober, perusahaan tersebut kembali membeli 650.000 saham dengan harga Rp1.505 per saham. Dengan demikian, total saham yang dibeli dalam dua transaksi itu mencapai 5 juta saham. Nilai keseluruhan pembelian diperkirakan sekitar Rp8 miliar. Rangkaian transaksi tersebut menambah kepemilikan pengendali pada emiten perhiasan itu, meski harga pembelian pada transaksi kedua lebih rendah dibandingkan harga pada 16 Oktober.
Perubahan kepemilikan juga tercatat pada PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Direktur George Oetomo membeli 1,8 juta saham pada 16 Oktober, dengan harga Rp1.720 per saham. Nilai transaksi pembelian tersebut mencapai sekitar Rp3,1 miliar. Setelah transaksi, jumlah saham TAPG yang dimiliki George meningkat dari 51.056.100 saham atau setara 0,2572% menjadi 52.856.100 saham atau 0,2662%. George menyatakan pembelian dilakukan untuk tujuan investasi. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya bukan pemegang saham pengendali TAPG. Transaksi itu menjadi salah satu aksi pembelian oleh petinggi emiten di tengah tekanan yang terjadi pada pasar saham.
Selain George, Komisaris TAPG Arif Rachmat turut menambah kepemilikannya. Arif membeli 623.000 saham pada 19 Oktober dengan harga Rp1.685 per saham, sehingga nilai transaksi diperkirakan sekitar Rp1,05 miliar. Kepemilikannya bertambah dari 2.865.000 saham, atau 0,0144%, menjadi 3.488.000 saham, setara 0,0175% dari saham perseroan. Seperti George, Arif menyatakan transaksi tersebut dilakukan untuk investasi dan menegaskan bahwa dirinya bukan pengendali. Dengan pembelian oleh dua pejabat TAPG serta transaksi pemegang saham pengendali HRTA, sejumlah aksi korporasi oleh pihak internal dan pemegang saham besar terjadi dalam periode yang sama. Nilai dan jumlah saham yang dibeli berbeda, tetapi semuanya menambah porsi kepemilikan pihak terkait di emiten masing-masing.
Di tengah pergerakan saham yang melemah, sejumlah direktur emiten tercatat melakukan pembelian saham perusahaan yang mereka kelola. Transaksi tersebut mencakup saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Medela Potentia Tbk (MDLA), dan PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), dengan waktu, harga, serta jumlah pembelian yang berbeda. Rincian transaksi menunjukkan adanya penambahan kepemilikan oleh para petinggi, baik melalui satu maupun beberapa kali pembelian. Nilai transaksi yang dilaporkan berkisar dari sekitar Rp150 juta hingga Rp1,2 miliar, bergantung pada jumlah saham dan harga pembelian masing-masing direktur.
Direktur TPIA, Raymond, melakukan empat transaksi pada 16 Oktober. Seluruh pembelian tersebut tercatat pada harga yang sama, yakni Rp1.205 per saham. Rinciannya terdiri atas 150.000 saham, 400.000 saham, 150.000 saham, dan 300.000 saham. Jika digabungkan, Raymond membeli sebanyak 1 juta saham TPIA dalam satu hari. Dengan harga transaksi tersebut, nilai keseluruhan pembelian diperkirakan mencapai sekitar Rp1,2 miliar. Empat catatan transaksi itu menggambarkan pembelian bertahap, tetapi keseluruhannya dilakukan pada tanggal dan tingkat harga yang sama.
Pada MDLA, Direktur Juliwaty melakukan enam kali pembelian sepanjang 15 dan 16 Oktober. Transaksi pada 15 Oktober tercatat dengan harga Rp208 per saham, sementara pembelian pada 16 Oktober berlangsung pada kisaran Rp187 hingga Rp190 per saham. Total saham yang diperoleh Juliwaty mencapai 1.384.400 lembar, dengan nilai gabungan sekitar Rp276 juta. Sementara itu, Direktur TOTL, Saleh, membeli 114.800 saham pada 16 Oktober dengan harga Rp1.310 per saham.



































