Ajudan Gubernur Kaltim Akui Kesalahan dan Janji Tak Mengulangi Sikap terhadap Mahasiswa

oleh -124 Dilihat
oleh
Ajudan Gubernur Kaltim Akui Kesalahan dan Janji Tak Mengulangi Sikap terhadap Mahasiswa

Samarinda | Briptu Asky Rizal Toding, ajudan Gubernur Kalimantan Timur, menyampaikan permintaan maaf setelah rekaman dirinya saat bersikap terhadap mahasiswa demonstran ramai beredar di media sosial. Video tersebut menjadi sorotan publik dan memicu perhatian terhadap tindakan yang tampak dalam rekaman. Dalam pernyataan permintaan maafnya, Asky mengakui bahwa tindakannya keliru dan menyampaikan penyesalan atas sikap yang telah ia tunjukkan. Ia juga menyadari bahwa perbuatannya menimbulkan ketidaknyamanan bagi mahasiswa maupun pihak lain yang menyaksikan atau terdampak oleh kejadian tersebut.

Dalam rekaman permintaan maaf itu, Asky tidak berusaha membenarkan tindakannya. Ia menyatakan bahwa tidak ada pembenaran atas perbuatan tersebut, sekaligus menegaskan bahwa dirinya bertanggung jawab atas sikap yang ditunjukkan. Pengakuan ini menjadi bagian utama dari pesan yang disampaikannya setelah video beredar luas. Dengan mengakui kesalahan secara terbuka, ia menyampaikan bahwa perilakunya tidak semestinya terjadi, terlepas dari situasi yang melatarbelakangi interaksi dengan mahasiswa demonstran. Permintaan maaf tersebut juga menunjukkan kesadaran bahwa tindakan seorang aparat yang bertugas sebagai ajudan pejabat publik dapat menjadi perhatian masyarakat.

Asky turut berjanji tidak akan mengulangi sikap serupa di kemudian hari. Pernyataan itu disampaikan sebagai komitmen untuk memperbaiki diri dan menjaga perilaku dalam menjalankan tugas maupun ketika berhadapan dengan masyarakat. Ia menyadari bahwa permintaan maaf perlu disertai perubahan sikap agar kejadian serupa tidak terulang. Beredarnya video membuat tindakannya dinilai dan dibicarakan oleh banyak orang, sehingga pesan penyesalan tersebut menjadi respons langsung terhadap perhatian publik. Dalam pernyataannya, ia mengakui dampak yang timbul, menolak mencari pembenaran, dan menyampaikan tekad untuk bertindak lebih baik. Janji tersebut menjadi penutup dari permintaan maafnya kepada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman akibat kejadian itu, termasuk mahasiswa yang berada dalam peristiwa tersebut.

Asky menjelaskan bahwa sikapnya terhadap mahasiswa terjadi secara spontan. Ia menyatakan tindakan tersebut bukan dilakukan atas instruksi atau arahan dari siapa pun. Dengan demikian, menurut penjelasannya, sikap yang ditunjukkan saat itu merupakan tindakannya sendiri, bukan bagian dari perintah pihak lain. Pernyataan ini disampaikan sebagai pengakuan mengenai bagaimana tindakan tersebut terjadi, tanpa menyebut adanya pihak yang meminta atau menyuruhnya bersikap demikian.

Dalam permintaan maafnya, Asky mengakui bahwa tindakannya berlebihan. Pengakuan itu menjadi bagian penting dari penjelasannya atas sikap yang ditujukan kepada mahasiswa. Ia menyampaikan permohonan maaf atas tindakan tersebut dan tidak menepis bahwa cara yang ia tunjukkan telah melampaui batas. Pernyataan itu juga menegaskan bahwa ia memahami tindakannya sebagai sesuatu yang perlu diakui, bukan dibenarkan dengan mengaitkannya pada instruksi orang lain.

Asky turut menyampaikan janji untuk tidak mengulangi sikap serupa. Komitmen tersebut disampaikan bersamaan dengan permintaan maaf dan pengakuan bahwa tindakannya berlebihan. Ia menyatakan bahwa peristiwa itu dilakukan secara spontan dan tanpa instruksi dari siapa pun, lalu berjanji agar tindakan tersebut tidak terulang. Isi penjelasan dan permintaan maafnya berfokus pada pengakuan atas tindakan pribadi, permohonan maaf, serta komitmen untuk tidak mengulanginya. Tidak ada alasan lain yang ia kemukakan dalam keterangan tersebut. Karena itu, pokok pernyataannya dapat dirangkum pada tiga hal: tindakan itu dilakukan spontan, tidak ada instruksi dari pihak lain, dan ia mengakui tindakannya berlebihan serta berjanji tidak mengulanginya. Asky menyampaikan permintaan maaf atas sikapnya kepada mahasiswa, sekaligus mengakui tanggung jawab atas tindakan yang ia lakukan sendiri.

Ketegangan yang kemudian menjadi perhatian publik bermula dari aksi unjuk rasa mahasiswa di Samarinda. Sejak siang, para peserta menyampaikan sejumlah persoalan, termasuk kebakaran hutan dan lahan serta penilaian mereka terhadap kinerja Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud. Aksi tersebut berlangsung ketika mahasiswa berupaya meminta perhatian pemerintah daerah atas isu yang mereka anggap penting. Namun, menurut situasi yang tergambar dalam kronologi kejadian, para pengunjuk rasa merasa aspirasi yang disampaikan belum mendapat tanggapan atau belum didengar secara langsung oleh gubernur.

Karena belum memperoleh kesempatan untuk menyampaikan tuntutan kepada Rudy, para mahasiswa kemudian menunggu rombongan gubernur di sekitar Masjid Nurul Mu’minin, Samarinda. Lokasi itu menjadi tempat mereka berharap dapat bertemu dan berbicara dengan kepala daerah. Pada Senin, 19 Oktober 2026, rombongan Rudy tiba di area masjid. Seorang mahasiswa lantas bertanya mengapa gubernur tidak menemui mereka, sementara mereka telah berunjuk rasa sejak siang dan menunggu kedatangannya di sana. Pertanyaan tersebut disampaikan dalam suasana yang masih diwarnai ketegangan akibat belum adanya pertemuan.

Dalam kejadian itu, Rudy terlihat tersenyum setelah mendengar pertanyaan dari pengunjuk rasa. Ia kemudian bergegas menuju masjid, tanpa berhenti untuk berdialog dengan mahasiswa di lokasi tersebut. Pada saat rombongan bergerak, seorang ajudan tampak berada dekat dengan mahasiswa yang sedang merekam kedatangan mereka. Ajudan itu terlihat sengaja menyenggolkan badan ke arah mahasiswa tersebut. Momen tersebut terekam dan kemudian menjadi bagian dari video yang beredar. Dengan demikian, sebelum rekaman itu menarik perhatian, latar situasinya mencakup aksi yang telah berlangsung berjam-jam, upaya mahasiswa menunggu gubernur, pertanyaan mengenai kesediaannya menemui mereka, serta interaksi fisik yang terjadi ketika rombongan melintas. Kronologi ini menjelaskan mengapa adegan dalam video tidak berdiri sendiri, melainkan berlangsung dalam konteks aspirasi yang dirasakan belum ditanggapi dan suasana yang mulai memanas di sekitar masjid.Rekaman berdurasi sekitar 30 detik yang memperlihatkan interaksi ajudan Gubernur Kalimantan Timur dengan mahasiswa tersebut menyebar luas di media sosial. Potongan video itu kemudian menjadi bahan perhatian publik, terutama setelah sikap ajudan di dalam rekaman dinilai sejumlah pengguna media sosial tidak mencerminkan komunikasi yang pantas. Dalam waktu singkat, cuplikan tersebut dibagikan ulang dan dibicarakan di berbagai platform, sehingga persoalan yang semula berlangsung dalam sebuah pertemuan turut menjadi sorotan yang lebih luas. Peredaran video membuat warganet menaruh perhatian pada cara pejabat maupun orang-orang di sekitarnya merespons aspirasi mahasiswa.

Setelah video itu viral, warganet ramai mendatangi akun Instagram @askyandlaura yang diduga milik Asky. Kolom komentar akun tersebut dipenuhi tanggapan negatif, termasuk kritik terhadap perilaku yang terlihat dalam rekaman. Sebagian komentar menyampaikan kekecewaan dan meminta agar pihak terkait memberi penjelasan, sementara komentar lain menyoroti pentingnya menjaga sikap saat berhadapan dengan masyarakat. Identitas pemilik akun itu disebut sebagai dugaan, sehingga belum dapat dipastikan hanya berdasarkan aktivitas pengguna media sosial. Tak lama setelah menjadi sasaran perhatian dan komentar, akun Instagram tersebut menghilang atau tidak lagi dapat diakses. Perubahan itu ikut memunculkan pembicaraan, meski tidak serta-merta menjelaskan alasan akun tersebut tak terlihat.

Respons tersebut menunjukkan bahwa rekaman singkat dapat memicu perhatian besar ketika menyangkut perilaku orang yang berada di lingkungan pemerintahan. Warganet tidak hanya membahas isi video, tetapi juga mengaitkannya dengan harapan publik agar hubungan pejabat, staf, dan mahasiswa berlangsung dengan saling menghormati. Sejumlah pengguna menyayangkan sikap yang mereka nilai arogan, terlebih ketika sikap semacam itu ditampilkan oleh seseorang yang bekerja di sekitar pusat kekuasaan. Bagi masyarakat, perilaku demikian dinilai tidak semestinya terjadi dalam alam demokrasi, yang memberi ruang bagi kritik, dialog, serta penyampaian aspirasi. Pernyataan itu mencerminkan kekecewaan yang muncul dalam percakapan publik terkait video tersebut, tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan baru mengenai peristiwa maupun pihak-pihak yang terlibat.

Baca juga: Satgas TMMD ke 130 Kodim 1808/Mansel, Bersihkan Gereja Wujud Kepedulian Terhadap Kenyamanan ibadah Masyarakat Kampung Yamboi | Aksi Masyarakat Sipil dan Mahasiswa Warnai Peringatan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran | Sengketa Merek Denza Memanas: Gugatan Balik Rp9,5 Triliun terhadap BYD