BI Tahan Suku Bunga Acuan, Deposit Facility Naik di Tengah Tekanan Rupiah

oleh -135 Dilihat
oleh
BI Tahan Suku Bunga Acuan, Deposit Facility Naik di Tengah Tekanan Rupiah

Jakarta | Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21 Oktober 2026. Pada saat yang sama, bank sentral menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5%, sementara suku bunga lending facility tetap sebesar 6,5%. Dengan demikian, penyesuaian dilakukan pada fasilitas simpanan, bukan pada suku bunga acuan maupun fasilitas pinjaman BI. Keputusan tersebut disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil RDG di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Kebijakan suku bunga itu ditempuh dengan mempertimbangkan sejumlah perkembangan yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan keuangan. Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi perhatian karena perubahannya dapat memengaruhi arus modal, kondisi pasar keuangan, serta nilai tukar. Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga menjadi faktor yang diperhitungkan oleh BI dalam menetapkan arah kebijakan. Pada saat bersamaan, keadaan ekonomi domestik turut menjadi pertimbangan agar keputusan moneter tetap memperhatikan kondisi perekonomian nasional. Kombinasi faktor tersebut membuat bank sentral perlu menimbang kebutuhan menjaga stabilitas dengan perkembangan ekonomi dalam negeri.

Perbedaan keputusan pada tiga suku bunga menunjukkan bahwa BI mempertahankan BI Rate, tetapi menyesuaikan salah satu instrumen dalam koridor suku bunganya. Deposit facility merupakan fasilitas bagi perbankan untuk menempatkan dana di BI, sedangkan lending facility berkaitan dengan fasilitas pinjaman bagi bank. Perubahan tingkat deposit facility dapat memengaruhi insentif penempatan likuiditas dan suku bunga pasar uang, meskipun dampaknya bergantung pada kondisi pasar serta respons pelaku keuangan. Sementara itu, tetapnya lending facility di 6,5% menandakan bahwa tingkat fasilitas tersebut tidak berubah dalam keputusan RDG kali ini.

Keputusan ini menjadi bagian dari langkah BI merespons tekanan nilai tukar dan ketidakpastian eksternal tanpa mengubah suku bunga acuan. Dampak kebijakan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan global, pergerakan rupiah, dan kondisi ekonomi domestik. Karena itu, pelaku pasar dan masyarakat dapat mencermati komunikasi BI serta keputusan RDG berikutnya untuk memahami bagaimana bank sentral menilai perubahan risiko dan menyesuaikan instrumen kebijakannya.

Destry menjelaskan bahwa keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan berlangsung di tengah ketidakpastian eksternal yang masih tinggi. Salah satu sumber risiko adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang dapat memengaruhi persepsi risiko global dan mendorong perubahan arus modal. Pada saat yang sama, ekspektasi bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap ketat turut menjadi perhatian. Suku bunga AS yang bertahan tinggi berpotensi menjaga daya tarik aset berbasis dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Tekanan tersebut tercermin pada pergerakan nilai tukar. Rupiah berada di level Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, melemah 0,61% dibandingkan posisi akhir September 2026. BI mengaitkan tekanan terhadap rupiah dengan sejumlah faktor, yaitu dinamika geopolitik global, arah kebijakan moneter AS, serta pergeseran sentimen investor asing di pasar saham. Perubahan persepsi risiko dan keputusan investor untuk menata kembali portofolio dapat memengaruhi permintaan terhadap aset domestik maupun valuta asing, sehingga menambah tantangan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam menghadapi perkembangan tersebut, BI menekankan pentingnya memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Koordinasi antarkebijakan diperlukan agar respons terhadap tekanan eksternal berjalan searah, mendukung stabilitas ekonomi, dan menjaga kepercayaan pasar. Bank sentral juga menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah dengan mengoptimalkan instrumen moneter yang tersedia. Langkah ini ditujukan untuk meredam volatilitas dan mengelola tekanan pasar, tanpa mengabaikan perkembangan ekonomi serta risiko global. Dengan demikian, pemantauan terhadap kondisi eksternal, arus modal, dan sentimen investor menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan nilai tukar di tengah ketidakpastian.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap solid, dengan kisaran 4,9% hingga 5,7%. Proyeksi tersebut menggambarkan rentang pertumbuhan yang diperkirakan dapat dicapai selama tahun berjalan. Dalam melihat komponen permintaan domestik, BI menilai konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap terjaga. Konsumsi merupakan salah satu unsur penting dalam kegiatan ekonomi, dan dalam proyeksi ini dukungannya berkaitan dengan stimulus fiskal pemerintah. Dengan demikian, belanja rumah tangga diperkirakan masih menjadi bagian dari penopang aktivitas ekonomi nasional sepanjang 2026. Gambaran tersebut disampaikan bersama perkiraan pertumbuhan tahunan, bukan sebagai perubahan terhadap angka pertumbuhan yang sudah terealisasi. Rentang proyeksi BI juga menunjukkan bahwa kinerja ekonomi diperkirakan berada pada kisaran yang telah disebutkan, tanpa menetapkan satu angka tunggal.

Selain konsumsi, investasi diperkirakan mendapat dukungan dari belanja pemerintah dan mulai pulihnya investasi swasta. Kedua unsur itu menjadi bagian dari proyeksi aktivitas investasi yang menopang pertumbuhan. Belanja pemerintah diperkirakan memberikan dukungan, sementara investasi swasta menunjukkan tanda mulai pulih. Dalam konteks ini, BI menyampaikan prospek ekonomi yang mencakup konsumsi rumah tangga serta investasi, dengan kisaran pertumbuhan 4,9%–5,7% untuk keseluruhan 2026. Pernyataan tersebut memberi gambaran mengenai beberapa komponen yang diperkirakan berkontribusi terhadap kegiatan ekonomi, tanpa mengubah rentang proyeksi yang telah ditetapkan. Perkiraan konsumsi yang terjaga dan investasi yang didukung pemerintah serta mulai pulihnya sektor swasta menjadi bagian dari pembahasan prospek pertumbuhan Indonesia.

Di sisi harga, inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan, meningkat dibandingkan 3,19% pada Agustus. Rincian inflasi September menunjukkan inflasi inti sebesar 2,88%. Komponen harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi 3,02%, sedangkan pangan bergejolak mengalami inflasi 5,03%. Angka-angka tersebut menggambarkan perkembangan masing-masing komponen dalam data inflasi bulanan yang dirujuk. Perubahan tingkat inflasi tahunan dari Agustus ke September tercatat sebesar 0,09 poin persentase. Sementara itu, perbedaan angka antar-komponen menunjukkan besaran inflasi yang tercatat pada kelompok inti, harga yang diatur pemerintah, dan pangan bergejolak. Data tersebut melengkapi proyeksi pertumbuhan ekonomi BI untuk 2026 dengan informasi mengenai perkembangan harga pada September.

Di tengah tekanan terhadap rupiah dan perubahan kondisi pasar keuangan, kinerja penyaluran kredit menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan tetap kuat. Pada September 2026, kredit perbankan tumbuh 13,21% secara tahunan. Angka ini mencerminkan berlanjutnya peran bank dalam menyalurkan dana kepada rumah tangga dan dunia usaha, sekaligus mendukung kegiatan ekonomi. Pertumbuhan yang tersebar pada beberapa jenis pembiayaan juga memperlihatkan adanya kebutuhan pendanaan dari berbagai sektor. Meski demikian, perkembangan kredit tetap perlu dicermati bersama kondisi likuiditas, kualitas aset, dan kemampuan debitur agar ekspansi pembiayaan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.

Kontributor utama pertumbuhan kredit berasal dari pembiayaan investasi, yang meningkat 23,2% secara tahunan. Kenaikan tersebut menggambarkan kuatnya permintaan pendanaan untuk kebutuhan jangka panjang, termasuk pengembangan kapasitas usaha dan kegiatan produktif. Kredit modal kerja turut bertambah 9,89%, mendukung kebutuhan operasional perusahaan, seperti pembelian bahan baku dan pemenuhan kewajiban usaha. Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 4,6%, sejalan dengan pembiayaan untuk kebutuhan rumah tangga. Perbedaan laju pertumbuhan pada ketiga segmen ini menunjukkan bahwa dorongan pembiayaan paling besar datang dari investasi, sedangkan pembiayaan modal kerja dan konsumsi tetap berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi.

Bank Indonesia menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi dan pasar keuangan. Langkah tersebut ditempuh seiring upaya memperkuat koordinasi dengan pemerintah.

Baca juga: Tekanan Rupiah Jadi Pertimbangan BI untuk Menahan Suku Bunga Acuan | BI Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75% Meski Mayoritas Analis Prediksi Kenaikan | BI Pertahankan Suku Bunga Acuan, Perkuat Langkah Menjaga Rupiah