Jakarta | Presiden Prabowo Subianto mengibaratkan anggota Kabinet Merah Putih seperti pemain dalam sebuah tim sepak bola. Setiap orang memiliki posisi dan tugas berbeda, sehingga kontribusi mereka tidak selalu terlihat dalam bentuk atau waktu yang sama. Perumpamaan itu disampaikan Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu. Ia mengingatkan bahwa kerja pemerintahan membutuhkan pembagian peran, koordinasi, serta kesiapan seluruh anggota untuk menjalankan tanggung jawab ketika diperlukan.
Dalam sebuah tim, tidak semua pemain langsung turun ke lapangan sebagai pemain inti. Ada pula pemain yang menunggu kesempatan dari bangku cadangan, meskipun tetap menjadi bagian penting dari skuad. Gambaran tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa pada awal pemerintahan, tidak setiap pejabat kabinet akan segera memperoleh peran besar atau tampil dalam tugas-tugas yang paling menonjol. Pembagian tanggung jawab dapat berlangsung bertahap, sesuai kebutuhan dan penugasan yang diberikan. Namun, posisi yang belum banyak terlihat bukan berarti seorang pejabat tidak memiliki arti bagi jalannya pemerintahan.
Prabowo meminta para pejabat yang sejauh ini belum banyak dimainkan agar tidak frustrasi. Menurut pesan yang disampaikannya melalui analogi tersebut, kesempatan untuk berkontribusi dapat datang pada waktunya. Karena itu, anggota kabinet diharapkan tetap bersiap, menjaga semangat, dan mendukung pekerjaan pemerintah, baik ketika mendapat tugas utama maupun saat menunggu penugasan berikutnya. Kesabaran menjadi bagian dari sikap profesional dalam menjalankan amanah publik, sementara kesiapan diperlukan agar setiap pejabat dapat segera mengambil peran ketika dibutuhkan.
Pesan itu juga menekankan bahwa ukuran kontribusi tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa sering seseorang tampil di depan publik. Dalam tim, keberhasilan bergantung pada kerja bersama dan kemampuan setiap pemain menjalankan perannya. Begitu pula dalam kabinet, berbagai tugas dan keputusan memerlukan dukungan lintas kementerian serta lembaga. Pejabat yang belum memperoleh sorotan besar tetap dapat membantu melalui tanggung jawab yang sedang diemban. Dengan memberi ruang bagi setiap anggota untuk berkontribusi sesuai kebutuhan, pemerintah diharapkan dapat bekerja sebagai satu kesatuan, bukan sebagai kumpulan individu yang berlomba mendapatkan perhatian.
Dalam menggambarkan pembagian peran di pemerintahan, Prabowo menggunakan perumpamaan sebuah tim yang terdiri atas pemain inti, pemain cadangan, pendukung, dan striker. Setiap unsur memiliki posisi serta tugas yang berbeda, tetapi tetap berada dalam satu kesatuan. Perumpamaan itu menekankan bahwa kerja pemerintahan tidak hanya bergantung pada pejabat yang saat ini tampil di garis depan. Ada pula pihak yang mendukung dari belakang, menyiapkan langkah, atau menunggu kesempatan untuk mengambil tanggung jawab lebih besar. Dengan demikian, perbedaan tingkat keterlibatan bukan berarti perbedaan kepentingan atau tujuan dalam menjalankan pemerintahan.
Prabowo menyebut bahwa sejumlah pemain cadangan mulai merasa gelisah karena menantikan kapan mereka akan dimainkan. Menanggapi keadaan tersebut, ia meminta mereka untuk bersabar. Pesan itu mengakui adanya harapan dari pejabat yang ingin berkontribusi lebih jauh, sekaligus mengingatkan bahwa penugasan dan kesempatan tidak selalu datang pada waktu yang sama bagi setiap orang. Dalam sebuah tim, pergantian peran dapat mengikuti kebutuhan dan situasi. Karena itu, menunggu giliran tidak seharusnya langsung dipahami sebagai tanda bahwa seseorang tidak dibutuhkan atau tidak memiliki kemampuan untuk membantu.
Permintaan untuk bersabar juga bukan pernyataan bahwa kesempatan bagi pejabat yang belum memperoleh peran lebih besar telah tertutup. Sebaliknya, gambaran pemain cadangan menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi mereka untuk masuk dan mengambil bagian ketika waktunya tiba. Mereka tetap menjadi bagian dari tim, meskipun belum berada di posisi yang paling terlihat. Selama menunggu, pejabat dapat menjaga kesiapan dan tetap mendukung pekerjaan yang sedang berjalan. Penekanan Prabowo terletak pada pentingnya memahami pembagian tugas serta tidak terburu-buru menuntut giliran. Pemerintahan masih memiliki waktu dan kebutuhan yang dapat membuka ruang kontribusi bagi berbagai pihak. Dengan tetap tenang dan siap bekerja, pejabat yang belum mendapat sorotan dapat turut mendukung tujuan bersama ketika kesempatan atau tanggung jawab baru diberikan. Pesan tersebut menempatkan kesabaran sebagai bagian dari dinamika kerja tim, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan potensi mereka. Setiap pemain, baik inti maupun cadangan, memiliki kemungkinan untuk berkontribusi sesuai peran dan kebutuhan pemerintahan.
Prabowo menggunakan perumpamaan pertandingan sepak bola untuk menjelaskan bahwa masa pemerintahan lima tahun masih memiliki perjalanan panjang. Dalam analogi itu, dua setengah tahun pertama diibaratkan sebagai babak pertama, sedangkan dua setengah tahun berikutnya merupakan babak kedua. Gambaran tersebut menempatkan masa jabatan sebagai satu pertandingan utuh yang belum selesai hanya karena sebagian waktu telah berlalu. Setiap babak memiliki waktunya sendiri, dan kontribusi para pejabat dapat hadir pada tahap yang berbeda sesuai kebutuhan serta dinamika pemerintahan.
Ia menegaskan bahwa pemerintahan saat itu bahkan belum mencapai jeda antarbabak. Dengan kata lain, perjalanan belum sampai pada titik ketika babak pertama berakhir dan para pemain beristirahat sebelum melanjutkan pertandingan. Perumpamaan ini mengingatkan bahwa waktu yang telah berjalan belum sepatutnya dipandang sebagai kesempatan yang sudah tertutup. Masih ada tahapan berikutnya dalam masa jabatan, sehingga perubahan peran, penugasan, maupun peluang untuk bekerja dapat terjadi seiring perkembangan situasi. Analogi sepak bola membantu menjelaskan hal itu secara sederhana, tanpa menyamakan seluruh proses pemerintahan dengan pertandingan secara harfiah.
Pesan tersebut berkaitan dengan imbauan Prabowo kepada pejabat kabinet agar tidak gelisah menanti giliran untuk berkontribusi. Ia meminta mereka bersabar karena pemerintahan masih berjalan dan kesempatan untuk mengambil bagian tidak hanya terbatas pada satu momen. Seperti pemain yang perlu memahami jalannya pertandingan dan menunggu waktu yang tepat untuk turun atau menjalankan perannya, pejabat diharapkan tetap siap serta menjaga komitmen terhadap tugas. Penantian, dalam gambaran itu, bukan berarti tidak memiliki peran atau diabaikan, melainkan bagian dari proses yang berlangsung bertahap. Dengan masa lima tahun yang dianalogikan sebagai dua babak, Prabowo menekankan bahwa masih tersedia waktu bagi para pejabat untuk memberi sumbangsih. Karena jeda babak pun belum tercapai, ia mendorong mereka untuk tetap tenang, bekerja sesuai tanggung jawab, dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kesempatan telah berlalu. Fokusnya adalah menjaga kesiapan selama pemerintahan melanjutkan perjalanan hingga seluruh masa jabatan selesai.
Selain meminta para pejabat kabinet bersabar menanti kesempatan untuk berkontribusi, Prabowo juga menyampaikan keprihatinan mengenai kondisi kesehatan anggota pemerintahannya. Ia menyoroti bahwa pada babak pertama pemerintahan, sudah ada pejabat kabinet yang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pelaksanaan tugas pemerintahan perlu ditunjang oleh kondisi fisik yang memadai, terutama bagi para pejabat dengan tanggung jawab besar.
Prabowo meminta agar pemeriksaan kesehatan bagi menteri, wakil menteri, dan kepala badan dilakukan secara lebih teliti. Pemeriksaan yang cermat dinilai penting untuk membantu mengetahui keadaan kesehatan para pejabat dan memastikan mereka memperoleh perhatian yang sesuai. Pesan itu ditujukan kepada jajaran kabinet secara umum, tanpa menyebut identitas pejabat yang sedang dirawat maupun menjelaskan penyebab kondisi tersebut.
Ia juga menyarankan para pejabat agar memperhatikan kebutuhan vitamin sebagai salah satu upaya menjaga kondisi tubuh. Imbauan ini menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari. Dengan jadwal dan tanggung jawab yang dapat menuntut banyak tenaga, menjaga kebugaran merupakan bagian dari kesiapan untuk mengemban tugas publik. Namun, pernyataan yang disampaikan tidak merinci jenis vitamin tertentu ataupun memberikan petunjuk medis khusus.
Keprihatinan tersebut melengkapi pesan.
Baca juga: Prabowo Samakan Kabinet dengan Tim Sepak Bola, Menteri Diminta Bersabar | Sidang Kabinet Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pejabat Mulai Hadir di Istana | Prabowo Apresiasi Kabinet Merah Putih dan Soroti Tantangan bagi Indonesia



































