IPAL Losari: Kapasitas Besar, Sambungan Warga Masih Perlu Diperluas

oleh -146 Dilihat
oleh
IPAL Losari: Kapasitas Besar, Sambungan Warga Masih Perlu Diperluas

Makassar | Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari di Makassar merupakan fasilitas sanitasi terbesar di kawasan timur Indonesia. Kehadirannya menjadi bagian penting dari upaya kota mengelola limbah domestik secara lebih teratur, sekaligus mengurangi pembuangan air limbah yang tidak diolah ke lingkungan. Namun, kapasitas fasilitas yang besar perlu dibaca bersama dengan cakupan sambungan rumah tangga dan volume limbah yang benar-benar masuk untuk diolah. Angka kapasitas rancangan tidak sama dengan pemakaian aktual saat ini.

Proyek IPAL Losari bernilai sekitar Rp1,2 triliun dan mulai dibangun pada 2019. Fasilitas tersebut kemudian diresmikan pada 2024, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Asian Development Bank (ADB) turut mendukung pembiayaan melalui pinjaman sekitar Rp672 miliar. Pembangunan ini mencakup sistem pengolahan serta jaringan sanitasi yang mengalirkan air limbah dari wilayah layanan menuju instalasi. Infrastruktur tersebut dirancang untuk melayani kebutuhan pengelolaan limbah di empat kecamatan di Makassar.

Saat ini, IPAL Losari terhubung dengan sekitar 14.000 jaringan sanitasi dan mengolah kurang lebih 1.200 meter kubik air limbah per hari. Volume itu merupakan gambaran penggunaan aktual, bukan kapasitas maksimum fasilitas. Dalam perancangan, instalasi ini ditargetkan mampu mengolah hingga 16.000 meter kubik per hari dari empat kecamatan. Selisih angka operasional dan kapasitas rancangan menunjukkan bahwa pemanfaatan fasilitas masih dapat ditingkatkan seiring perluasan sambungan dan bertambahnya aliran limbah ke sistem. Karena itu, keberhasilan IPAL tidak hanya ditentukan oleh besarnya instalasi, tetapi juga oleh jumlah warga dan kawasan yang tersambung. Perluasan jaringan dapat membantu lebih banyak rumah tangga memperoleh layanan sanitasi terkelola dan memungkinkan kapasitas pengolahan digunakan secara lebih optimal. Pemantauan volume masuk dan kinerja jaringan juga penting agar perencanaan pengembangan didasarkan pada kebutuhan nyata. Dengan demikian, IPAL Losari telah menyediakan fondasi infrastruktur berskala besar, sementara perluasan sambungan tetap menjadi pekerjaan penting agar manfaat fasilitas menjangkau lebih banyak warga Makassar.Direktur Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia, Bobur Alimov, meninjau keberlangsungan proyek IPAL Losari pada Rabu, 21 Oktober 2026. Peninjauan tersebut menyoroti bukan hanya kesiapan instalasi, tetapi juga pemanfaatan fasilitas dan peluang agar layanan pengolahan air limbah dapat menjangkau lebih banyak warga. Kapasitas terpasang menjadi salah satu aspek penting dalam melihat perkembangan proyek: fasilitas dirancang untuk mengolah volume yang lebih besar daripada jumlah air limbah yang saat ini masuk dan diproses.

Menurut Bobur, kesenjangan kapasitas yang tersedia dan volume pengolahan saat ini menunjukkan bahwa IPAL Losari belum beroperasi pada kapasitas penuh. Kondisi itu tidak serta-merta berarti fasilitas tidak berfungsi, melainkan menandakan masih terdapat ruang untuk meningkatkan pemanfaatannya. Penambahan sambungan ke jaringan pengolahan dapat membantu memasok lebih banyak air limbah ke instalasi, sehingga kapasitas yang telah dibangun digunakan secara lebih optimal. Dengan demikian, pengembangan layanan dan pengoperasian fasilitas perlu berjalan beriringan.

Perluasan sambungan juga membuka peluang bagi kawasan yang belum terlayani untuk memperoleh akses terhadap sistem sanitasi terpusat. Semakin banyak rumah tangga dan properti komersial yang terhubung, semakin besar potensi volume yang dapat diolah, selama jaringan dan operasional mendukung. Namun, angka jaringan yang telah tersambung tidak boleh ditafsirkan sebagai jumlah rumah tangga atau properti komersial yang terhubung dalam keseluruhan program. Keduanya merupakan ukuran berbeda, sehingga perlu dibaca sesuai konteks pelaporan.

Karena itu, tindak lanjut proyek dapat berfokus pada perluasan sambungan, koordinasi dengan wilayah layanan, serta pemantauan kinerja instalasi. Langkah tersebut membantu memastikan tambahan kapasitas benar-benar diikuti peningkatan aliran yang diolah dan manfaat sanitasi bagi masyarakat. Peninjauan ADB memberi perhatian pada keberlanjutan proyek dalam jangka panjang, termasuk bagaimana aset yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara bertahap. Dengan memperluas akses secara terencana, IPAL Losari berpeluang meningkatkan cakupan layanan tanpa mengabaikan kesiapan jaringan maupun kebutuhan pengelolaan yang andal.

Bobur menilai pertumbuhan kota dan bertambahnya jumlah penduduk membuat kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan limbah cair semakin besar. Ketika kawasan perkotaan berkembang, volume limbah yang perlu ditangani juga meningkat. Karena itu, kapasitas fasilitas sanitasi dan jangkauan layanan perlu diperhatikan agar dapat menjawab kebutuhan warga. Infrastruktur pengolahan limbah bukan sekadar pelengkap pembangunan kota, melainkan bagian penting dari layanan dasar yang mendukung kehidupan sehari-hari. Jika fasilitas yang tersedia belum memadai, limbah cair berpotensi tidak tertangani dengan baik. Kondisi tersebut dapat membawa dampak bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan. Pandangan ini menempatkan sanitasi sebagai kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup dan keberlanjutan kawasan perkotaan.

Pesan utama Bobur adalah bahwa investasi sanitasi memiliki manfaat yang melampaui pembangunan fisik. Pembangunan fasilitas pengolahan limbah memang menyediakan infrastruktur, tetapi tujuan yang lebih luas adalah membantu melindungi kesehatan masyarakat, menjaga lingkungan, serta menjadikan kota lebih layak huni. Penanganan limbah cair yang memadai menjadi salah satu unsur dalam upaya mengurangi risiko persoalan kesehatan dan pencemaran lingkungan. Dengan demikian, perencanaan sanitasi perlu dipandang sebagai bagian dari pengembangan kota, seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan layanan. Bobur menekankan hubungan tersedianya fasilitas, perlindungan warga, dan kondisi lingkungan yang lebih terjaga, tanpa memisahkan ketiganya dari cita-cita membangun kawasan perkotaan yang nyaman untuk ditinggali.

Dalam mendukung upaya tersebut, Asian Development Bank (ADB) menyatakan akan terus mendukung pengembangan fasilitas pengolahan limbah di Indonesia. Dukungan bagi pengembangan fasilitas sanitasi menjadi bagian dari perhatian terhadap kebutuhan pengelolaan limbah di berbagai wilayah. Bobur berharap setiap kota dapat memiliki fasilitas serupa, sehingga limbah cair dapat ditangani dengan lebih baik dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Harapan itu mencerminkan pentingnya memperluas ketersediaan layanan sanitasi, terutama ketika kota dan jumlah penduduk terus bertambah. Keberadaan fasilitas pengolahan limbah di setiap kota diharapkan membantu menjaga kesehatan masyarakat sekaligus melindungi lingkungan. Bagi Bobur, sanitasi yang memadai turut mendukung terwujudnya kota yang lebih layak huni bagi warganya.

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari di Makassar merupakan bagian dari Metropolitan Sanitation Management Investment Program (MSMIP), program pengembangan sanitasi perkotaan yang didukung Asian Development Bank (ADB). Cakupan program ini meliputi tiga kota, yakni Jambi, Makassar, dan Pekanbaru. Dengan demikian, pembangunan di Losari tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan layanan pengolahan air limbah di kawasan perkotaan Indonesia. Program tersebut dirancang untuk menjawab persoalan rendahnya cakupan pembuangan limbah perkotaan, sekaligus memperkuat pengelolaan layanan sanitasi secara berkelanjutan.

Total biaya MSMIP setara US$301,81 juta. Dari jumlah itu, ADB berkontribusi US$79,36 juta dan ASEAN Infrastructure Fund menyediakan US$35,45 juta. Hibah pemerintah Australia mencapai US$47,65 juta, sementara pemerintah Indonesia berkontribusi US$139,35 juta. Investasi tersebut mendukung pembangunan tiga fasilitas pengolahan air limbah di Jambi, Makassar, dan Pekanbaru. Ketiganya memiliki kapasitas rancangan gabungan sebesar 31,7 megaliter per hari. Selain fasilitas pengolahan, program telah memasang jaringan saluran sepanjang 159,4 kilometer untuk mengalirkan air limbah dari kawasan layanan menuju instalasi. Capaian infrastruktur ini menjadi landasan penting, tetapi manfaatnya bergantung pula pada perluasan sambungan ke bangunan pengguna.

Sambungan yang telah terpasang mencakup 1.475 rumah tangga dan 147 properti komersial. Setelah jumlah sambungan bertambah, sistem diperkirakan dapat melayani lebih dari 34.000 rumah tangga serta 10.400 properti komersial.