Jakarta | Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, memaparkan kondisi pasar modal Indonesia dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026. Ia menyampaikan bahwa pasar menghadapi tekanan sepanjang tahun, tercermin dari pelemahan sejumlah indikator utama hingga periode terbaru.
Hingga 21 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 38,38 persen secara year-to-date. Pada periode yang sama, indeks LQ45 melemah 36,71 persen. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya dirasakan oleh saham-saham secara keseluruhan, tetapi juga oleh kelompok emiten berkapitalisasi besar dan likuid yang menjadi konstituen LQ45. Pergerakan ini menjadi perhatian bagi pelaku pasar, investor, dan pemangku kepentingan di sektor keuangan.
Friderica mengaitkan tantangan tersebut dengan berbagai faktor eksternal yang saling berpengaruh. Tekanan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, inflasi yang masih tinggi, serta suku bunga yang bertahan pada level tinggi lebih lama menjadi sejumlah kondisi yang membayangi pasar. Kombinasi faktor itu dapat memengaruhi prospek pertumbuhan, biaya pendanaan, arus modal, dan selera risiko investor. Ketika ketidakpastian meningkat, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, sehingga volatilitas dan tekanan jual dapat bertambah.
Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa dinamika bursa domestik tidak sepenuhnya terpisah dari perkembangan di luar negeri. Perubahan kebijakan moneter global maupun eskalasi risiko geopolitik dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap aset di berbagai negara, termasuk Indonesia. Karena itu, pelemahan indeks perlu dibaca dengan mempertimbangkan konteks yang lebih luas, bukan hanya kinerja emiten di dalam negeri. Paparan OJK memberikan gambaran mengenai latar tekanan yang terjadi, sekaligus menegaskan pentingnya mencermati indikator pasar dan perkembangan ekonomi global. Angka penurunan hingga 21 Oktober menjadi tolok ukur kinerja sepanjang tahun, sementara kondisi berikutnya akan bergantung pada perkembangan faktor-faktor tersebut dan respons para pelaku pasar.Pada penutupan perdagangan 30 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 8.646,94. Angka tersebut menjadi titik acuan untuk melihat pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang 2026. Setelah memasuki tahun baru, indeks bergerak dalam tekanan dan mengalami koreksi yang semakin terlihat pada pertengahan tahun. Perubahan level IHSG sepanjang periode ini menunjukkan bahwa kondisi bursa tidak berlangsung secara linear: penurunan tajam sempat diikuti pemulihan terbatas sebelum tekanan kembali menguat.
Hingga 31 Juli 2026, IHSG turun ke posisi 6.236,13. Dibandingkan dengan penutupan akhir 2025, level itu mencerminkan koreksi sebesar 27,88% secara year-to-date. Dengan demikian, dalam tujuh bulan pertama tahun tersebut, indeks telah kehilangan lebih dari seperempat nilainya dari posisi awal periode. Penurunan tersebut menggambarkan besarnya pelemahan yang telah terjadi, meskipun pergerakan harian dan bulanan dapat menunjukkan perubahan arah dalam jangka pendek.
Pada akhir Agustus, IHSG sempat bergerak naik dan mencapai 6.525,48. Kenaikan ini menandai pemulihan dari posisi akhir Juli, tetapi belum cukup untuk menghapus penurunan yang terjadi sejak akhir tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan level 8.646,94 pada 30 Desember 2025, indeks pada akhir Agustus masih terkoreksi 24,53%. Jadi, meskipun terjadi penguatan selama Agustus, posisi bursa tetap berada jauh di bawah titik awal pengukuran.
Tekanan kembali meningkat pada Oktober. Per 21 Oktober 2026, IHSG tercatat di level 5.328,36, lebih rendah daripada posisi akhir Agustus maupun akhir Juli. Sejak awal tahun, indeks telah merosot 38,38%. Perubahan dari 8.646,94 pada penutupan 2025 ke 5.328,36 pada Oktober memperlihatkan pelemahan yang kian dalam setelah sempat ada pemulihan. Urutan data tersebut menegaskan bahwa kenaikan Agustus bersifat terbatas dan tidak berlanjut hingga Oktober. Secara kronologis, IHSG melemah sepanjang paruh pertama tahun, menguat sementara pada Agustus, lalu kembali turun tajam memasuki Oktober. Perbandingan antartitik ini memberikan gambaran mengenai skala koreksi kumulatif, sekaligus memperlihatkan rapuhnya pemulihan yang sempat berlangsung di tengah tekanan global.Indeks LQ45 menjadi salah satu tolok ukur penting untuk melihat kinerja saham-saham berkapitalisasi besar dan aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Indeks ini mencakup 45 emiten yang dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, termasuk likuiditas transaksi, kapitalisasi pasar, serta kondisi fundamental dan kepatuhan perusahaan. Karena berisi saham dengan aktivitas perdagangan relatif tinggi, pergerakan LQ45 kerap digunakan investor untuk membaca arah segmen saham unggulan. Namun, karakteristik tersebut tidak membuat indeks kebal terhadap tekanan pasar yang lebih luas.
Pada 30 Desember 2025, LQ45 berada di level 846,57. Memasuki 2026, indeks bergerak turun seiring tekanan yang juga membayangi pasar saham Indonesia. Pada 31 Juli, posisinya tercatat 621,24, atau terkoreksi 26,22% secara year-to-date dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan bahwa saham-saham berlikuiditas tinggi dan berkapitalisasi besar pun terdampak perubahan sentimen serta dinamika ekonomi dan pasar, sehingga kinerja indeks tidak selalu sejalan dengan harapan investor terhadap emiten-emiten besar.
Tekanan sempat mereda pada Agustus. LQ45 naik ke 643,82 pada akhir bulan tersebut, memberikan pemulihan sementara setelah pelemahan tajam pada paruh pertama tahun. Meski demikian, kenaikan itu belum cukup untuk menghapus kerugian yang telah terjadi. Dibandingkan posisi penutupan 2025, indeks masih lebih rendah 23,95%. Pergerakan ini menggambarkan bahwa penguatan sesaat belum tentu menandai perubahan tren, terutama ketika faktor-faktor yang menekan pasar belum sepenuhnya mereda.
Pelemahan kembali terlihat pada Oktober. Pada 21 Oktober 2026, LQ45 tercatat di level 535,76, turun 36,71% sejak awal tahun. Dibandingkan penutupan 30 Desember 2025, indeks telah kehilangan 310,81 poin. Koreksi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya tercermin pada IHSG, tetapi juga menjangkau kelompok saham unggulan yang menjadi konstituen LQ45. Bagi investor, perubahan indeks ini dapat menjadi pengingat untuk menilai risiko secara cermat, mencermati kinerja setiap emiten, dan tidak mengandalkan kenaikan jangka pendek sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi.
Pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tekanan sejak awal sesi. Indeks dibuka pada level 5.247,97, lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya yang tercatat sebesar 5.328,36. Selisih tersebut menggambarkan bahwa pasar memulai hari dengan posisi yang sudah melemah. Pergerakan awal ini menjadi lanjutan dari kondisi bursa yang sebelumnya menghadapi tekanan, sebagaimana tercermin dalam penurunan IHSG hingga Oktober. Meski pembukaan memberi gambaran awal, perkembangan indeks pada menit-menit berikutnya tetap penting untuk melihat arah perdagangan. Data pada awal sesi memperlihatkan pelemahan yang meluas di saham-saham yang diperdagangkan.
Pada pukul 09.03 WIB, IHSG berada di level 5.246,29 atau turun 1,53%. Angka tersebut menempatkan indeks sedikit di bawah level pembukaan, sekaligus memperlihatkan pelemahan dibandingkan posisi penutupan pada hari sebelumnya. Sebanyak 526 saham tercatat melemah, sehingga tekanan pada banyak saham ikut membebani pergerakan indeks. Data tersebut menunjukkan bahwa penurunan IHSG pada awal perdagangan berlangsung seiring dengan dominasi saham yang bergerak turun. Namun, informasi ini hanya menggambarkan kondisi pada waktu pencatatan tersebut dan tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana indeks akan bergerak sepanjang sesi. Perkembangan selanjutnya dapat dinilai berdasarkan pembaruan data perdagangan berikutnya.
Dengan demikian perdagangan 22 Oktober dimulai dalam.
Baca juga: Purnama 26 Oktober dan Perigee Berpotensi Picu Rob di Pesisir Indonesia | Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Tetap pada 22 Oktober 2026 | Layanan SIM Keliling Bandung Beroperasi di Dua Titik pada 22 Oktober



































