BNPB Catat 1.007 Kejadian Karhutla, Ribuan Hektare Masih Ditangani

oleh -93 Dilihat
oleh
BNPB Catat 1.007 Kejadian Karhutla, Ribuan Hektare Masih Ditangani

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.007 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia hingga Kamis, 22 Oktober 2026. Jumlah tersebut menjadikan karhutla sebagai bencana dengan kejadian terbanyak di berbagai jenis bencana yang tercatat. Data itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, dalam konferensi pers perkembangan bencana. Catatan tersebut menggambarkan akumulasi kejadian yang dilaporkan sampai tanggal tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi salah satu perhatian utama dalam pemantauan kebencanaan nasional.

Pada Kamis itu, BNPB juga menerima laporan dua kejadian karhutla baru, masing-masing di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Boyolali. Kedua laporan tersebut menambah angka kejadian yang dihimpun lembaga itu. Dengan demikian, angka 1.007 menjadi gambaran jumlah kasus yang tercatat hingga hari penyampaian informasi, termasuk laporan terbaru dari dua wilayah tersebut. Keterangan Berton disampaikan sebagai bagian dari pembaruan perkembangan bencana, yang memuat catatan kejadian berdasarkan informasi yang tersedia bagi BNPB. Penyebutan lokasi baru itu menegaskan bahwa laporan karhutla muncul di lebih dari satu daerah.

Angka kejadian menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat skala persoalan dan perkembangan bencana dari waktu ke waktu. Meski begitu, jumlah laporan tidak dengan sendirinya menerangkan luas area yang terdampak, tingkat kerusakan, ataupun status penanganan setiap titik. Informasi mengenai aspek-aspek tersebut perlu merujuk pada keterangan terpisah yang disampaikan otoritas terkait. Dalam konferensi pers itu, BNPB menempatkan data karhutla sebagai bagian dari perkembangan kebencanaan di Indonesia, dengan total laporan mencapai lebih dari seribu kejadian. Pembaruan berkala memungkinkan publik mengikuti perubahan situasi serta mencermati laporan baru yang masuk dari daerah. Hingga Kamis, 22 Oktober 2026, Cilacap dan Boyolali tercatat sebagai lokasi dua kejadian terbaru, sementara akumulasi kejadian nasional berada pada angka 1.007.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatra. Berdasarkan data yang disampaikan BNPB, luas area yang masih terbakar dan ditangani di pulau tersebut mencapai 7.219 hektare. Angka ini mencakup 5.194 hektare di Sumatra Selatan serta 2.025 hektare di Jambi. Dengan demikian, sebagian besar luasan penanganan di Sumatra berada di Sumatra Selatan, sementara Jambi juga masih menghadapi kebakaran yang memerlukan upaya pengendalian. Rincian per provinsi tersebut menggambarkan bahwa pekerjaan penanganan belum selesai dan tetap perlu dilakukan pada lokasi yang terdampak.

BNPB menyatakan tidak ada lagi penanganan karhutla di Riau. Keterangan itu didasarkan pada tidak diterimanya laporan kebakaran di wilayah tersebut, sehingga Riau tidak tercatat dalam luasan yang sedang ditangani. Tidak adanya laporan tersebut perlu dibaca sesuai informasi yang tersedia bagi BNPB, bukan sebagai rincian tambahan mengenai kondisi setiap lokasi. Sementara itu, angka untuk Sumatra Selatan dan Jambi menunjukkan bahwa penanganan di dua provinsi tersebut masih menjadi bagian penting dari respons karhutla di Sumatra. Pemantauan dan pembaruan laporan tetap diperlukan agar perkembangan di lapangan dapat tercatat dengan jelas.

Di Kalimantan, total luas area yang masih dalam penanganan tercatat 11.202 hektare di tiga provinsi. Kalimantan Tengah menyumbang luasan terbesar, yakni 7.939 hektare. Berikutnya, terdapat 1.974 hektare di Kalimantan Selatan dan 1.290 hektare di Kalimantan Barat. Rincian tersebut menempatkan Kalimantan Tengah sebagai wilayah dengan area penanganan terbesar di ketiga provinsi yang disebutkan, sedangkan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat juga masih memiliki area terdampak. Secara keseluruhan, data Sumatra dan Kalimantan memperlihatkan bahwa penanganan karhutla masih berlangsung di beberapa provinsi dengan luasan yang berbeda. Penyebutan angka menurut wilayah membantu menggambarkan sebaran pekerjaan yang masih harus ditangani, sekaligus memberi dasar untuk mengikuti perubahan kondisi saat laporan baru diterima.

BNPB mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 1.191,7 hektare dan tersebar di 11 wilayah, dari Kalimantan Timur hingga Maluku Utara. Dari keseluruhan area tersebut, 52 hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan, sementara lokasi lainnya masih memerlukan penanganan. Sebaran ini menunjukkan bahwa kebakaran terjadi di berbagai jenis kawasan, termasuk lereng gunung, taman nasional, dan wilayah sekitar Ibu Kota Nusantara.

Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi lokasi dengan luasan terbesar dalam daftar, yakni 490 hektare. Berikutnya, kebakaran di kawasan Gunung Sumbing, Jawa Tengah, mencakup 316,2 hektare. Di Maluku Utara, luas lahan terbakar tercatat 179,13 hektare, sedangkan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru di Probolinggo, Jawa Timur, mencatat 75,37 hektare. Area terdampak di Sigi, Sulawesi Tengah, mencapai 60 hektare.

BNPB juga melaporkan kebakaran seluas 42 hektare di Kalimantan Timur dan kawasan Ibu Kota Nusantara. Di Raja Ampat, Papua Barat Daya, serta Taman Nasional Way Kambas, Lampung, masing-masing tercatat 23 hektare. Sementara itu, Mamuju, Sulawesi Barat, mencatat 20 hektare, Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah 10 hektare, dan Minahasa Utara, Sulawesi Utara, 5 hektare. Angka-angka tersebut menggambarkan luas yang dilaporkan pada tiap lokasi.

Kondisi di Karanganyar menjadi perhatian karena api telah mencapai Pos 2 di Cemoro Kandang. Berton memaparkan adanya kabut asap di sekitar lokasi, sementara arah angin tidak menentu sehingga situasi pemadaman dapat berubah. Petugas juga menghadapi medan lereng yang terjal dan curam. Kombinasi asap, perubahan angin, serta akses yang sulit menambah tantangan dalam upaya penanganan kebakaran di area tersebut.

Dengan luasan terbakar terbesar dalam daftar, Karanganyar membutuhkan perhatian khusus, meskipun penanganan juga terus diperlukan di seluruh wilayah terdampak. Data luasan dan perkembangan pemadaman menjadi penting untuk memetakan prioritas, mengerahkan sumber daya, serta memantau risiko kebakaran lanjutan. Kondisi lapangan yang berbeda-beda membuat langkah pemadaman perlu disesuaikan dengan karakter kawasan dan hambatan yang dihadapi petugas.

BNPB mencatat sebanyak 2.188 kejadian bencana di Indonesia sejak Januari hingga 22 Oktober 2026. Angka tersebut mencakup berbagai jenis kejadian yang dilaporkan selama periode itu, termasuk kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Dalam catatan nasional tersebut, karhutla menjadi jenis kejadian dengan jumlah terbanyak, yakni 1.007 kali. Data ini menempatkan kejadian karhutla sebagai bagian dari keseluruhan laporan kebencanaan yang dihimpun BNPB hingga tanggal 22 Oktober. Selain karhutla, laporan itu memuat kejadian banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, tanah longsor, gempa bumi, gelombang pasang atau abrasi, serta erupsi gunung api. Seluruh jenis tersebut tercatat dalam total kejadian bencana sejak awal tahun.

Setelah karhutla, banjir tercatat sebanyak 581 kali dan cuaca ekstrem sebanyak 337 kali. BNPB juga mencatat 123 kejadian kekeringan serta 108 kejadian tanah longsor. Untuk kejadian geologi dan pesisir, terdapat 14 kejadian gempa bumi dan 14 kejadian gelombang pasang atau abrasi. Erupsi gunung api tercatat sebanyak 4 kali. Rincian tersebut menunjukkan pembagian angka berdasarkan jenis kejadian yang masuk dalam catatan BNPB pada periode Januari hingga 22 Oktober 2026. Dengan demikian, seluruh kategori yang dirinci terdiri atas karhutla, banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, tanah longsor, gempa bumi, gelombang pasang atau abrasi, dan erupsi gunung api. Jumlah masing-masing kategori menjadi bagian dari total 2.188 kejadian bencana nasional yang dilaporkan.

BNPB turut mencatat dampak terhadap masyarakat dari kejadian bencana selama periode tersebut. Sebanyak 427 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 21 orang dinyatakan hilang. Jumlah korban luka-luka tercatat sebanyak 3.258 orang.

Baca juga: Karhutla di Jawa Barat: 526 Kejadian dan Lebih dari Seribu Hektare Terdampak pada 2026 | Kadin Soroti Kerentanan Usaha Indonesia terhadap Karhutla dan Cuaca Ekstrem | Jateng Minta Pendakian Gunung Dibatasi untuk Cegah Karhutla Meluas