Pencegahan Jadi Sorotan dalam Penguatan Ketahanan Kesehatan Indonesia

oleh -502 Dilihat
oleh
Pencegahan Jadi Sorotan dalam Penguatan Ketahanan Kesehatan Indonesia

Jakarta | Pakar kardiologi University College London, Prof. John Deanfield, menekankan bahwa pencegahan penyakit perlu dimulai jauh sebelum seseorang membutuhkan perawatan medis. Dalam paparannya, ia mengajak masyarakat membangun kebiasaan sehat yang realistis dan dapat dijalankan secara konsisten, bukan mengandalkan perubahan drastis yang sulit dipertahankan. Langkah sederhana, seperti lebih aktif bergerak, memilih makanan bergizi, menjaga kualitas tidur, dan menghindari rokok, dapat membantu mengurangi risiko penyakit apabila menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (Siera III), yang diselenggarakan Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (Pertasindo) di Jakarta pada 21 Oktober 2026.

Deanfield menggarisbawahi perlunya menggeser perhatian dalam penguatan ketahanan kesehatan. Selama ini, sistem kesehatan kerap lebih berfokus pada pengobatan setelah penyakit muncul. Pendekatan tersebut tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menjawab beban penyakit yang terus berkembang. Upaya pencegahan dan pengurangan faktor risiko perlu mendapat tempat lebih besar, baik dalam kebijakan maupun dalam layanan kesehatan. Dengan mengenali risiko lebih awal dan mendorong perilaku yang lebih sehat, peluang untuk mencegah penyakit atau menunda kemunculannya dapat meningkat. Perubahan fokus ini juga membantu masyarakat memahami bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh penanganan di fasilitas medis, tetapi turut dibentuk oleh keputusan sehari-hari dan lingkungan yang mendukung pilihan sehat.

Menurut gagasan yang disampaikan Deanfield, pencegahan tidak harus berarti program yang rumit atau tuntutan untuk menjalani gaya hidup sempurna. Kebiasaan yang dapat dilakukan berulang kali lebih berpeluang bertahan dan memberi manfaat dalam jangka panjang. Karena itu, edukasi kesehatan perlu menyampaikan langkah yang praktis, sesuai dengan kondisi masyarakat, serta mudah diterapkan. Pada saat yang sama, dukungan dari tenaga kesehatan, komunitas, dan pembuat kebijakan dapat membantu mengurangi hambatan, misalnya keterbatasan akses pada ruang aktivitas fisik atau pilihan pangan yang baik. Menguatkan ketahanan kesehatan Indonesia, dengan demikian, membutuhkan keseimbangan: pengobatan yang responsif ketika dibutuhkan serta pencegahan yang terencana untuk menekan risiko sejak dini. Pesan ini menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dari strategi kesehatan, bukan sekadar pelengkap layanan kuratif.

Survei yang dipaparkan Deanfield terhadap 2.000 penduduk Indonesia menunjukkan penerimaan yang kuat terhadap program cek kesehatan gratis (CKG). Sebanyak 92 persen responden mengapresiasi program pemerintah tersebut. Angka ini mencerminkan bahwa akses terhadap pemeriksaan kesehatan dipandang sebagai langkah penting untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi tubuh dan memahami risiko kesehatan sejak dini. Namun, dukungan terhadap pemeriksaan belum dengan sendirinya menjamin bahwa hasilnya diikuti perubahan perilaku. Nilai program kesehatan juga ditentukan oleh sejauh mana masyarakat dapat memahami dan menerapkan saran yang diperoleh dalam rutinitas sehari-hari. Karena itu, upaya pencegahan perlu menghubungkan pemeriksaan dengan rekomendasi yang relevan, mudah dipahami, dan memungkinkan untuk dijalankan.

Harapan masyarakat terhadap saran kesehatan turut terlihat dalam hasil survei tersebut. Sebanyak 77 persen responden menginginkan rekomendasi kesehatan pemerintah disesuaikan agar lebih realistis untuk dilakukan. Temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan beragam kebiasaan, kebutuhan, serta kondisi hidup masyarakat ketika merancang anjuran. Saran yang terlalu jauh dari situasi keseharian berisiko sulit diterapkan secara berkelanjutan, meskipun tujuannya dipahami dan didukung. Sebaliknya, panduan yang sesuai dengan kemampuan dan konteks warga dapat memberi titik awal yang lebih jelas. Dengan demikian, komunikasi kesehatan bukan hanya menyampaikan apa yang ideal, melainkan juga menjelaskan pilihan tindakan yang praktis dan dapat dilakukan secara bertahap.

Survei juga menemukan bahwa 82 persen responden percaya alternatif yang lebih baik dapat membantu masyarakat beralih menuju gaya hidup sehat. Menurut Deanfield, perubahan tidak harus dimulai dengan langkah drastis. Anjuran kesehatan perlu memperhitungkan kebiasaan dan kondisi masyarakat, lalu menawarkan pilihan yang dapat dimasukkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Langkah sederhana, seperti membuat perubahan kecil pada rutinitas, dapat menjadi awal selama dilakukan secara konsisten. Pendekatan bertahap ini membuat rekomendasi lebih mudah diterima dan dipertahankan, dibandingkan tuntutan perubahan besar yang sulit dijalankan. Apresiasi terhadap CKG karena itu perlu disertai dorongan untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan: memahami rekomendasi, memilih langkah yang realistis, dan menjalankannya secara berulang. Perpaduan akses pemeriksaan dan saran yang dapat diterapkan berpotensi memperkuat pencegahan serta mendukung kebiasaan sehat di tengah masyarakat Indonesia.

Menurut Deanfield, pencegahan yang efektif tidak cukup mengandalkan perubahan perilaku individu. Upaya ini memerlukan dukungan inovasi medis, kebijakan yang tepat, serta kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan industri. Setiap pihak memiliki peran dalam menghasilkan pengetahuan, menyediakan pilihan yang lebih baik, dan membangun lingkungan yang mendukung kesehatan. Kerja sama tersebut juga membantu memastikan bahwa inovasi dapat dinilai secara terbuka dan diterapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat.

Dalam membahas pilihan sehari-hari, Deanfield menyebut contoh alternatif konsumsi seperti produk dengan kandungan gula lebih rendah atau tanpa gula, serta beras multigrain. Contoh tersebut menggambarkan bagaimana pilihan dapat disesuaikan untuk mendukung pola konsumsi yang lebih sehat. Namun, manfaat suatu pilihan bergantung pada keseluruhan pola makan, kondisi kesehatan, dan cara produk digunakan. Karena itu, informasi yang jelas dan pemahaman terhadap kandungan produk tetap diperlukan, alih-alih menganggap satu alternatif sebagai solusi tunggal.

Bahan acara juga menyebut produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa yang tetap menggunakan nikotin. Penyebutan ini tidak berarti produk tersebut bebas risiko atau aman bagi kesehatan. Nikotin bersifat adiktif, dan penggunaan produk tembakau maupun produk yang mengandung nikotin tetap memiliki risiko. Produk semacam itu tidak ditujukan bagi orang yang tidak merokok, anak-anak, atau remaja. Pertimbangan terhadap alternatif harus disampaikan dengan cermat, tanpa menyamakan pengurangan paparan tertentu dengan ketiadaan bahaya.

Dengan demikian, pencegahan perlu berpijak pada bukti ilmiah dan mempertimbangkan risiko dari setiap pilihan, termasuk manfaat, keterbatasan, serta dampak jangka panjangnya. Kebijakan dan komunikasi publik sebaiknya tidak hanya mempromosikan inovasi, tetapi juga menjelaskan ketidakpastian dan siapa yang mungkin terdampak. Pendekatan berbasis bukti membantu masyarakat dan tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih tepat sesuai keadaan masing-masing, sekaligus mencegah klaim yang berlebihan.

Deanfield menekankan bahwa ketahanan kesehatan bukan semata-mata kemampuan menghadapi penyakit atau krisis ketika terjadi. Ketahanan juga berarti menjaga masyarakat tetap sehat dalam jangka panjang melalui pencegahan yang konsisten, pilihan yang dipertimbangkan secara matang, dan sistem kesehatan yang mampu belajar dari bukti. Dengan cara itu, inovasi dan kebijakan dapat mendukung kesehatan publik tanpa mengabaikan risiko yang perlu dipahami.

Ketua Pertasindo, Mayjen TNI (Purn.) dr. dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi, menilai ketahanan kesehatan nasional semakin penting di tengah tantangan yang terus berkembang. Penyakit menular, populasi yang menua, dan perubahan iklim dapat meningkatkan tekanan terhadap layanan kesehatan serta kesiapan negara. Karena itu, penguatan sistem perlu dirancang secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada penanganan ketika krisis telah terjadi. Upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan kemampuan memulihkan layanan menjadi bagian penting dari ketahanan tersebut.

Melalui Siera III, Dian mendorong kerangka 5M sebagai landasan untuk meninjau kebutuhan dan kapasitas sistem kesehatan. Unsur man mencakup tenaga kesehatan dan sumber daya manusia lain yang diperlukan; money merujuk pada pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan; material meliputi obat, alat kesehatan, serta kebutuhan pendukung. Sementara itu, machine mencakup teknologi dan peralatan, sedangkan methods berkaitan dengan metode kerja, kebijakan, koordinasi, dan tata kelola.

Baca juga: ANTAM Catat Kenaikan Laba dan Kaji Opsi Penguatan Bisnis | Bekal Kesehatan dan Persiapan Kontingen Indonesia Menuju YOG Dakar 2026 | Aksesi OECD Indonesia: Progres Bab, Konvensi Antisuap, dan Agenda Penguatan Integritas