Rontgen Keliling Sasar 45 Desa di Sumbawa untuk Perluas Deteksi TB

oleh -132 Dilihat
oleh
Rontgen Keliling Sasar 45 Desa di Sumbawa untuk Perluas Deteksi TB

Kabupaten Sumbawa | Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, memperluas upaya deteksi dini tuberkulosis dengan membawa pemeriksaan rontgen portabel langsung ke desa-desa yang memiliki kasus TB tinggi. Program ini menyasar 45 desa, sehingga warga dapat mengikuti skrining lebih dekat dengan tempat tinggal tanpa harus lebih dahulu datang ke fasilitas kesehatan yang lebih jauh. Pendekatan jemput bola tersebut diharapkan membantu menemukan warga yang perlu menjalani pemeriksaan lanjutan dan mempercepat penanganan sesuai kebutuhan.

Kegiatan dimulai sejak September 2026 dan dilaksanakan oleh tim pencegahan, pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan (P3PL) bersama Rumah Sakit Abdul Malik Fadjar Sumbawa. Kolaborasi ini menggabungkan kegiatan lapangan dengan dukungan pemeriksaan menggunakan perangkat rontgen portabel. Dengan alat yang dapat dibawa ke lokasi, tim bisa menjangkau titik-titik di wilayah sasaran dan melakukan skrining secara lebih praktis bagi masyarakat setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Sarip Hidayat, mengatakan tim mendatangi titik-titik di desa untuk melaksanakan skrining. Pemeriksaan tersebut dipadukan dengan program cek kesehatan gratis, sehingga warga dapat mengakses layanan kesehatan dalam satu rangkaian kegiatan. Penggabungan layanan ini juga menjadi cara untuk mendorong partisipasi masyarakat, terutama bagi warga yang mungkin belum memeriksakan kondisi kesehatannya secara rutin.

Rontgen merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat membantu tenaga kesehatan menilai kondisi paru-paru dan mengidentifikasi tanda yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, hasil skrining bukan pengganti diagnosis oleh tenaga medis. Warga yang menunjukkan indikasi tertentu dapat diarahkan untuk mengikuti proses pemeriksaan lanjutan sesuai prosedur kesehatan. Karena itu, kehadiran tim di desa tidak hanya menyediakan akses pemeriksaan, tetapi juga membuka kesempatan untuk memperoleh arahan mengenai langkah berikutnya.

Pemilihan 45 desa dengan kasus TB tinggi menempatkan kegiatan ini pada wilayah yang membutuhkan perhatian lebih dalam pengendalian penyakit. Pelaksanaan secara langsung di tingkat desa membantu mengurangi hambatan jarak dan memudahkan warga memperoleh informasi tentang skrining. Melalui kerja sama dinas kesehatan dan rumah sakit, pemerintah daerah berupaya memperluas jangkauan layanan sekaligus memperkuat penemuan dini kasus tuberkulosis di Sumbawa.

Pemeriksaan rontgen keliling di 45 desa di Kabupaten Sumbawa ditujukan untuk membawa layanan skrining tuberkulosis (TB) lebih dekat kepada masyarakat. Kegiatan ini penting bagi warga yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan atau menghadapi hambatan untuk datang ke puskesmas, misalnya karena jarak, keterbatasan transportasi, maupun kondisi lainnya. Dengan mendatangi desa, petugas dapat memperluas jangkauan pemeriksaan dan membantu menemukan lebih awal orang yang memiliki dugaan TB. Pendekatan aktif ini juga memberi kesempatan kepada warga untuk memperoleh penilaian kesehatan tanpa harus memulai proses dengan perjalanan ke fasilitas yang lebih jauh.

Skrining lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya yang lebih luas, bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Seluruh puskesmas di Kabupaten Sumbawa turut didorong meningkatkan pemeriksaan terhadap masyarakat yang menunjukkan tanda dan gejala TB. Warga dengan keluhan yang mengarah pada penyakit tersebut dapat dikenali melalui pelayanan di puskesmas maupun melalui kegiatan jemput bola di desa. Perpaduan kedua jalur ini membantu memperkuat penemuan kasus: pemeriksaan keliling menjangkau kelompok yang sulit mengakses layanan, sedangkan puskesmas menyediakan pintu pemeriksaan rutin bagi warga di wilayah kerjanya. Peningkatan kewaspadaan dan pemeriksaan di tingkat layanan primer diharapkan mempercepat identifikasi dugaan kasus.

Namun, hasil skrining tidak menjadi akhir dari proses pelayanan. Pemerintah daerah ingin memastikan warga yang terindikasi memperoleh pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi kesehatannya. Karena itu, koordinasi puskesmas dan rumah sakit diperlukan agar hasil pemeriksaan lapangan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan diagnostik yang sesuai. Jika TB terkonfirmasi, pasien perlu memperoleh pengobatan berdasarkan standar yang berlaku serta dukungan untuk menjalani perawatan hingga tuntas. Alur rujukan dan komunikasi yang jelas dapat mengurangi risiko warga terhenti setelah skrining, sekaligus membantu tenaga kesehatan memantau tindak lanjut. Dengan demikian, layanan keliling berfungsi sebagai penghubung penemuan dugaan TB di masyarakat dan akses terhadap diagnosis serta penanganan yang tepat, terkoordinasi, dan berkesinambungan.

Data Sistem Informasi Tuberkulosis per 23 Oktober 2026 menunjukkan dua capaian yang perlu dibaca sebagai indikator berbeda. Pelayanan tuberkulosis (TB) sesuai standar pelayanan minimal (SPM) telah menjangkau 6.708 orang dari target 7.474 orang. Capaian ini setara sekitar 90 persen. Angka tersebut menggambarkan pemenuhan pelayanan sesuai SPM, bukan jumlah kasus baru yang ditemukan selama tahun berjalan.

Adapun penemuan kasus TB baru sepanjang 2026 tercatat sebanyak 676 kasus dari target 1.384 kasus, atau sekitar 49 persen. Dengan demikian, masih terdapat selisih 708 kasus jumlah penemuan saat ini dan target penemuan. Persentase penemuan kasus baru ini tidak dapat disamakan dengan capaian pelayanan SPM: dasar pengukurannya berbeda, begitu pula sasaran yang dihitung. Satu indikator mencatat orang yang menerima pelayanan sesuai standar, sementara indikator lainnya membandingkan kasus baru yang ditemukan dengan target penemuan.

Perbedaan tersebut penting agar angka capaian tidak ditafsirkan secara keliru. Capaian pelayanan SPM sebesar 90 persen tidak berarti target penemuan kasus baru juga telah tercapai pada tingkat yang sama. Sebaliknya, angka penemuan kasus baru sebesar 49 persen tidak menunjukkan bahwa pelayanan sesuai SPM hanya mencapai persentase tersebut. Keduanya memberikan informasi tersendiri mengenai pelaksanaan upaya penanggulangan TB berdasarkan indikator masing-masing.

Selisih 708 kasus dari target penemuan menjadi salah satu alasan perlunya penguatan pemeriksaan aktif, termasuk upaya menjangkau masyarakat untuk mendeteksi TB. Pemeriksaan aktif dapat membantu memperluas kesempatan menemukan orang yang perlu diperiksa, terutama melalui kegiatan yang mendekatkan layanan kepada warga. Namun, data ini hanya menunjukkan capaian hingga 23 Oktober 2026 dan tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab selisih atau hasil kegiatan tertentu. Karena itu, angka pelayanan dan penemuan kasus perlu terus disampaikan secara terpisah saat memantau perkembangan upaya deteksi TB.

Capaian layanan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di sejumlah puskesmas menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Puskesmas Lape mencatat capaian tertinggi, yakni 106 persen, disusul Puskesmas Moyo Hilir sebesar 105 persen dan Puskesmas Unter Iwes sebesar 104 persen. Angka di atas 100 persen menggambarkan realisasi pelayanan yang melampaui target yang ditetapkan. Capaian ini mencerminkan jangkauan layanan puskesmas dalam memenuhi sasaran pelayanan sesuai indikator SPM, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan jumlah kasus tuberkulosis (TB) yang ditemukan.

Di sisi lain, capaian layanan SPM terendah tercatat di Puskesmas Ropang dengan 20 persen, Puskesmas Orong Telu sebesar 28 persen, serta Puskesmas Tarano sebesar 30 persen. Data tersebut perlu dibaca secara terpisah dari data penemuan kasus TB. Dalam penemuan kasus, Puskesmas Lantung berhasil menemukan 11 kasus dari target 10 kasus. Sementara itu, Puskesmas Labangka mencatat tiga kasus, dibandingkan target sebanyak 39 kasus. Perbandingan jumlah temuan dan target memberikan gambaran tersendiri mengenai hasil kegiatan penemuan kasus di masing-masing fasilitas, bukan ukuran capaian layanan SPM.

Kontribusi rumah sakit juga menjadi bagian dari upaya menemukan pasien TB. RS H.L. Manambai Abdulkadir melaporkan 83 kasus, sedangkan RS Umum Sumbawa Besar menemukan 74 kasus. RS Abdul Malik Fadjar Sumbawa mencatat enam kasus. Temuan dari rumah sakit tersebut melengkapi peran puskesmas dalam menjangkau masyarakat dan mengenali kasus yang membutuhkan tindak lanjut. Secara keseluruhan, data pelayanan SPM, temuan puskesmas, dan kontribusi rumah sakit menggambarkan aspek berbeda dalam pelaksanaan upaya penanggulangan TB di Sumbawa.

Baca juga: PEVS 2026 Perluas Sorotan dari Kendaraan Listrik hingga Mobilitas Laut dan Udara