BANDUNG | Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus diperkuat oleh personel gabungan. Dalam upaya pemadaman, sebagian titik api telah berhasil dikendalikan. Perkembangan tersebut membantu mengurangi ancaman langsung terhadap kawasan, tetapi penanganan tetap perlu dilanjutkan agar api tidak kembali menyala atau menjalar ke bagian lain. Kondisi di sekitar area terdampak terus menjadi perhatian petugas, terutama karena perubahan arah dan kekuatan angin dapat memengaruhi pergerakan api. Karena itu, pemadaman dan pengawasan dilakukan sebagai rangkaian upaya yang saling mendukung, bukan hanya tindakan sesaat ketika nyala api terlihat. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kawasan hutan dan lahan di sekitarnya.
Selain memadamkan api, personel gabungan membuat sekat bakar di sepanjang tepi api. Sekat tersebut berfungsi sebagai pembatas yang dapat menghambat penjalaran api menuju vegetasi yang lebih rapat. Dengan adanya jalur pemisah, risiko api merambat ke area yang memiliki bahan bakar lebih banyak diharapkan dapat ditekan. Pembuatan sekat menjadi bagian penting dari strategi pengendalian, khususnya ketika pemadaman harus dilakukan sambil mengantisipasi kemungkinan api bergerak lebih luas. Pekerjaan ini perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tetap mengutamakan keselamatan petugas. Pemantauan terhadap batas api juga penting agar langkah lanjutan dapat dilakukan jika muncul perubahan keadaan.
Upaya pengendalian akan lebih efektif jika disertai kewaspadaan masyarakat. Warga dapat mendukung petugas dengan tidak melakukan kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran, menjaga aktivitas di sekitar kawasan, serta segera menyampaikan informasi apabila melihat asap atau tanda api. Informasi yang cepat membantu pihak terkait menilai keadaan dan menentukan respons yang diperlukan. Masyarakat juga dapat mengikuti arahan petugas dan tidak mendekati area penanganan, sehingga pekerjaan pemadaman berlangsung lebih aman dan tidak terganggu. Kerja sama petugas dan warga menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran meluas. Selama proses penanganan berlangsung, kehati-hatian bersama diperlukan untuk melindungi kawasan TNGC beserta vegetasi di sekitarnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang langsung ke kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada Kamis, 22 Oktober 2026, untuk memantau perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Kehadirannya juga disertai keterlibatan dalam membantu upaya pemadaman di lapangan. Pemantauan tersebut menjadi bagian dari penguatan penanganan kebakaran yang masih membutuhkan kerja bersama, terutama untuk mengendalikan api dan mencegahnya menjalar ke area lain. Dalam situasi seperti ini, koordinasi petugas, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat sekitar dinilai penting. Warga yang memahami kondisi lingkungan setempat dapat membantu menyampaikan informasi serta mendukung langkah pengendalian sesuai arahan petugas. Dedi meminta upaya pemadaman dilakukan secara gotong royong, dengan tetap memperhatikan keselamatan semua pihak yang terlibat.
Salah satu langkah yang didorong ialah membuat sekat bakar di sekitar area yang berisiko. Sekat bakar merupakan jalur yang dibersihkan dari bahan mudah terbakar untuk menghambat pergerakan api. Dedi mengajak komunitas dan warga ikut bergotong royong membuat sekat tersebut sebagai bagian dari penanganan kebakaran di kawasan TNGC. Pembuatan sekat perlu dilakukan dengan memperhatikan lokasi dan arahan petugas, sehingga upaya warga mendukung strategi pemadaman, bukan menambah risiko. Masyarakat juga diharapkan bekerja bersama dan mengikuti instruksi pihak yang memahami kondisi lapangan. Untuk setiap orang yang terlibat dalam upaya tersebut, Dedi menyampaikan akan diberikan upah sebesar Rp250 ribu per hari. Skema upah itu ditujukan kepada warga yang berpartisipasi dalam pekerjaan tersebut.
Ajakan pelibatan masyarakat itu menegaskan bahwa penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada petugas, melainkan juga memerlukan dukungan warga dan komunitas. Gotong royong dapat membantu mempercepat pembuatan sekat bakar, sementara koordinasi diperlukan agar pengerjaan berlangsung terarah. Masyarakat yang ingin berpartisipasi perlu berkomunikasi dengan petugas setempat dan mengikuti ketentuan keselamatan selama berada di kawasan terdampak. Pada hari yang sama, Dedi tidak menghadiri rapat koordinasi nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Rapat tersebut dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Informasi mengenai ketidakhadiran itu disampaikan tanpa keterangan tentang alasan Dedi tidak mengikuti agenda nasional tersebut. Fokus kehadirannya di Jawa Barat pada Kamis itu adalah memantau sekaligus membantu penanganan kebakaran di kawasan TNGC.Selain mengajak warga membantu membuat sekat api, penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ciremai juga direncanakan diperkuat melalui sejumlah langkah lanjutan. Dedi menyampaikan bahwa upaya pemadaman perlu didukung koordinasi lintas lembaga, termasuk kemungkinan memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca dan bantuan dari udara. Rencana tersebut disiapkan sebagai opsi untuk membantu mengendalikan api, terutama apabila kondisi di lapangan membutuhkan dukungan tambahan. Namun, Dedi tidak menyatakan bahwa hujan buatan maupun pengerahan helikopter telah dilaksanakan. Keduanya masih berupa rencana yang perlu dibicarakan dan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak terkait.
Pada Jumat, 23 Oktober, Dedi mengatakan akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemungkinan pembuatan hujan buatan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Koordinasi itu dimaksudkan untuk membahas kelayakan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membantu pemadaman. Pelaksanaannya tentu memerlukan kajian dan kesiapan teknis, termasuk mempertimbangkan kondisi cuaca serta kebutuhan di lokasi kebakaran. Karena itu, rencana tersebut belum dapat dipastikan terlaksana sebelum pembahasan dengan BMKG dilakukan dan keputusan teknis diambil. Dedi menyampaikan rencana koordinasi ini sebagai salah satu langkah yang akan ditempuh, bukan sebagai pengumuman bahwa hujan buatan sudah mulai dilakukan.
Dedi juga menyebut komunikasi dengan Wakil Menteri Pertahanan dan jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) mengenai kemungkinan pengerahan helikopter untuk pemadaman menggunakan metode water bombing. Dalam metode tersebut, helikopter dapat membawa dan menjatuhkan air ke titik api dari udara. Pembicaraan itu diharapkan dapat membuka dukungan apabila pengerahan armada dinilai memungkinkan dan dibutuhkan. Meski demikian, sampai komunikasi dan koordinasi tersebut ditindaklanjuti, penggunaan helikopter masih sebatas rencana. Pernyataan Dedi menegaskan adanya upaya mencari dukungan tambahan, tanpa memastikan jadwal, jumlah pesawat, ataupun pelaksanaan pemadaman udara. Langkah-langkah tersebut direncanakan untuk melengkapi penanganan di darat dan membantu merespons perkembangan kebakaran di kawasan TNGC.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali, pemantauan titik panas atau hotspot terus menjadi bagian dari upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ciremai. Dari posko lapangan, petugas memantau keberadaan hotspot serta memperhatikan arah angin sebagai informasi penting dalam mengawasi kondisi area terdampak. Teten menyampaikan bahwa kedua hal tersebut dipantau untuk membantu petugas memahami kondisi di lapangan dan menjaga kewaspadaan terhadap kemungkinan api menyala kembali. Keterangan ini menegaskan bahwa pemantauan dari posko lapangan dilakukan bersamaan dengan penanganan langsung oleh personel gabungan. Perhatian petugas, menurut Teten, mencakup pemantauan hotspot dan arah angin serta penyisiran area yang dilakukan di lapangan.
Teten juga menerangkan bahwa personel gabungan menyisir area dan menangani bara maupun asap yang masih tersisa. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah penyalaan ulang, sehingga sisa bara dan asap menjadi perhatian dalam proses penanganan. Penyisiran dan pemadaman sisa bara merupakan bagian dari pekerjaan personel di area terdampak, sementara pemantauan terus dilakukan dari posko. Dengan demikian, penanganan mencakup upaya memadamkan sisa yang berpotensi memicu api kembali, bukan hanya mengawasi hotspot. Teten menyebut kegiatan itu sebagai bagian dari langkah pencegahan agar api tidak kembali menyala setelah pemadaman dilakukan. Ia tidak menyampaikan hasil pemantauan terbaru ataupun perkembangan lain di luar kegiatan tersebut.
Menurut keterangan Teten personel.
Baca juga: Dedi Mulyadi Ajak Warga Bantu Padamkan Kebakaran Gunung Ciremai | Satgas TMMD ke-130 Kodim 1808/Mansel, Sosialisasikan Bahaya Karhutla Kepada Warga Kampung Yamboi | Asap Karhutla Way Kambas Ganggu Warga di Sekitar Kawasan Hutan



































