Kebakaran Lahan Terjadi di Kuningan, Ciamis, dan Grobogan

oleh -122 Dilihat
oleh
Kebakaran Lahan Terjadi di Kuningan, Ciamis, dan Grobogan

Kabupaten Ciamis | BNPB mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hingga Minggu, 25 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB, tim gabungan masih melakukan upaya penanganan, termasuk pemadaman pada titik yang memerlukan tindakan serta pemantauan kondisi di lapangan. Langkah tersebut ditujukan untuk mengendalikan api, mengamati perubahan situasi, dan mencegah kebakaran meluas ke area sekitarnya. Kabupaten Kuningan dan Ciamis di Jawa Barat serta Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah menjadi tiga wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan ini.

Perkembangan di masing-masing daerah tidak sama. Kondisi kebakaran, kebutuhan personel, akses menuju lokasi, dan langkah lanjutan dapat berbeda dari satu titik ke titik lainnya. Karena itu, pemantauan terus dilakukan agar petugas dapat menyesuaikan penanganan berdasarkan keadaan setempat. Pencatatan oleh BNPB menunjukkan adanya kejadian karhutla di wilayah-wilayah tersebut, tetapi tidak berarti seluruh lokasi masih mengalami api aktif pada waktu yang sama. Informasi mengenai status dan tindakan di setiap lokasi perlu dipahami secara terpisah sesuai pembaruan yang tersedia.

Tim gabungan yang terlibat menjalankan tugas sesuai kebutuhan penanganan di lapangan, mulai dari memastikan kondisi titik terdampak hingga mengupayakan pembatasan penyebaran api apabila diperlukan. Pemantauan juga membantu petugas mengenali perubahan situasi dan menentukan langkah berikutnya. Warga di sekitar area yang terdampak diimbau mengikuti arahan petugas serta memperhatikan informasi resmi dari pemerintah daerah dan lembaga terkait. Dengan demikian, perkembangan di Kuningan, Ciamis, dan Grobogan dapat ditangani berdasarkan kondisi masing-masing, sementara upaya pengendalian tetap diarahkan untuk menjaga keselamatan masyarakat dan mencegah dampak kebakaran bertambah luas.

Kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, tepatnya di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan, Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan. Api mulai terdeteksi pada Rabu, 21 Oktober 2026, sekitar pukul 20.44 WIB. Hingga Sabtu, 24 Oktober, penyebab kebakaran masih diselidiki. Petugas belum menyimpulkan sumber api, sementara upaya penanganan terus dilakukan untuk membatasi penyebaran dan mencegah titik panas menyala kembali.

Pemadaman dilakukan melalui penanganan langsung secara manual oleh petugas di lapangan, disertai water bombing untuk menjangkau bagian kawasan yang sulit diakses. Kondisi medan dan sebaran api membuat pemantauan dari udara menjadi bagian penting dalam menentukan langkah berikutnya. Patroli menggunakan pesawat udara tanpa awak dan drone termal membantu mengidentifikasi titik panas, termasuk lokasi yang tidak mudah terlihat dari darat. Data pemantauan tersebut digunakan untuk mengarahkan personel dan mengevaluasi perkembangan penanganan.

Pada Kamis, 22 Oktober, pukul 18.00 WIB, pemantauan mencatat 13 titik api. Jumlah yang terdeteksi turun menjadi 10 pada Jumat, 23 Oktober, pukul 16.00 WIB. Meski angkanya berkurang, petugas tetap meningkatkan kewaspadaan karena titik api masih ditemukan di dalam kawasan hutan. Angka hasil pemantauan menjadi salah satu dasar untuk menilai kondisi, tetapi belum menandakan bahwa seluruh area telah aman.

Pemantauan pada Sabtu pagi dimulai dari Karang Dinding dan mencakup Cipariuk, Bukit Seribu Bintang, Karang Saninten, Gunung Sumbul, serta Gunung Dulang. Dalam patroli tersebut, titik api masih terlihat di dalam kawasan hutan, di sebelah selatan pos pemantauan kebakaran Karang Dinding. Temuan ini menjadi perhatian tim agar penanganan dan pengawasan dapat difokuskan pada area yang masih berpotensi menyimpan bara.

Penanganan berlangsung dalam masa perpanjangan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan di Jawa Barat, untuk periode 1–31 Oktober 2026, berdasarkan keputusan gubernur mengenai perpanjangan status tersebut. Hingga Sabtu, pemadaman masih berlangsung dan pemantauan terus dilakukan. Kerugian materiil masih didata oleh pihak terkait, sedangkan laporan sementara menyebutkan tidak ada korban jiwa.

Kebakaran lahan terjadi pada Jumat, 23 Oktober, sekitar pukul 09.28 WIB, di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. Lokasi yang terdampak meliputi Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, serta Desa Cidolog dan Desa Ambit, Kecamatan Cidolog. Api melanda area lahan di tiga desa tersebut dan memerlukan penanganan bersama dari unsur pemerintah daerah, aparat, serta warga. Hingga laporan awal disusun, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Karena itu, belum ada keterangan resmi mengenai pemicu munculnya api maupun kondisi yang membuat kebakaran meluas. Informasi mengenai lokasi, waktu kejadian, dan perkembangan penanganan dihimpun sebagai bagian dari pemantauan situasi di lapangan.

Berdasarkan hasil pendataan sementara, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 2,254 hektare. Angka tersebut merupakan perkiraan awal, sehingga pendataan terhadap area terdampak tetap menjadi bagian dari proses penanganan. BPBD Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Ciamis untuk mendukung respons di lokasi. Upaya pemadaman juga melibatkan aparat setempat, dinas pemadam kebakaran kabupaten, Babinsa, perangkat desa, dan masyarakat. Koordinasi berbagai unsur ini membantu pelaksanaan penanganan pada beberapa titik di tiga desa, sekaligus mendukung pemantauan kondisi setelah api berhasil dikendalikan. Keterlibatan warga dan perangkat setempat turut memperkuat kerja petugas dalam merespons kebakaran di wilayah tersebut.

Menurut laporan kondisi mutakhir pada Sabtu, 24 Oktober, api telah berhasil dipadamkan. Dengan demikian, tidak ada lagi kebakaran aktif yang dilaporkan pada saat pembaruan kondisi disampaikan. Meski demikian, penanganan belum sepenuhnya selesai karena petugas masih melakukan pendataan luas lahan yang terdampak. Hasil pendataan lanjutan diperlukan untuk memperjelas area yang terbakar dan melengkapi catatan kejadian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Informasi tersebut menjadi bagian penting dari laporan sementara mengenai kebakaran lahan di Ciamis, sementara penyebab kejadian tetap menunggu hasil penyelidikan. BPBD dan unsur terkait terus mengacu pada perkembangan di lapangan untuk melengkapi informasi mengenai dampak dan penanganan. Warga di wilayah terdampak diharapkan mengikuti arahan aparat setempat selama proses pendataan berlangsung, terutama bila petugas memerlukan informasi tambahan mengenai lokasi kebakaran.

Kebakaran lahan terjadi di Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, pada Sabtu, 24 Oktober. Berdasarkan informasi yang diterima, api bermula ketika warga membakar sampah di sekitar permukiman. Kegiatan tersebut kemudian memicu kebakaran yang membesar dan merambat ke rumpun bambu di sekitarnya. Material bambu yang mudah terbakar membantu api menjalar ke area lahan, sehingga kebakaran meluas hingga sekitar satu hektare. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pembakaran sampah di kawasan yang berdekatan dengan vegetasi kering dapat berisiko menimbulkan kebakaran lahan, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran api.

BPBD Kabupaten Grobogan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam menangani kejadian tersebut. Petugas juga melakukan asesmen untuk mengetahui dampak kebakaran dan memastikan kondisi wilayah setelah api berhasil dipadamkan. Berdasarkan laporan pada hari kejadian, api telah padam dan situasi di lokasi dinyatakan aman serta terkendali. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Asesmen lapangan menjadi bagian penting dari penanganan karena membantu memastikan bahwa tidak terdapat titik api tersisa ataupun dampak lain yang memerlukan tindak lanjut. Koordinasi antarpihak juga mendukung pemantauan lokasi dan penyampaian informasi mengenai kondisi terkini kepada masyarakat.

Penanganan kebakaran berlangsung saat Jawa Tengah berada dalam status siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Status tersebut ditetapkan berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Tengah dan berlaku mulai 1 Juni hingga 31 Desember 2026. Periode siaga ini menjadi konteks penting bagi upaya kesiapsiagaan di wilayah, termasuk pemantauan potensi kebakaran dan koordinasi respons ketika kejadian muncul.

Baca juga: Kebakaran Lahan Masih Meluas, Kalteng Jadi Fokus Penanganan BNPB | Kebakaran Tiga Ruko di Suryakencana, Jalan Ditutup Sementara | Kebakaran Hanguskan Tiga Ruko di Suryakencana, Petugas Kerahkan 15 Mobil Damkar