Napak Tilas Merah Muda Fest Diikuti 500 Pemuda, Isu Pendidikan hingga Karhutla Disuarakan

oleh -549 Dilihat
oleh
Napak Tilas Merah Muda Fest Diikuti 500 Pemuda, Isu Pendidikan hingga Karhutla Disuarakan

Jakarta | Sebanyak 500 pemuda mengikuti napak tilas sejarah Sumpah Pemuda yang digelar PDI Perjuangan melalui Merah Muda Fest 2026 pada Minggu, 25 Oktober 2026. Kegiatan ini mengajak peserta mengenang perjuangan pemuda pada 1928, sekaligus menyampaikan sejumlah tuntutan mengenai persoalan yang masih menjadi perhatian masyarakat, termasuk pendidikan hingga kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Napak tilas tersebut menghubungkan ingatan terhadap peristiwa bersejarah dengan suara generasi muda pada masa kini. Sumpah Pemuda menjadi penanda penting tentang tekad untuk membangun persatuan di tengah keberagaman. Dengan menelusuri kembali sejarahnya, peserta diajak melihat bahwa peran pemuda tidak hanya tercatat dalam perjuangan masa lalu, tetapi juga berkaitan dengan kepedulian terhadap keadaan bangsa saat ini.

Melalui Merah Muda Fest 2026, pengenangan sejarah itu berjalan beriringan dengan penyampaian isu-isu yang dinilai perlu mendapat perhatian. Pendidikan menjadi salah satu pokok yang disuarakan, bersama persoalan karhutla. Kedua isu tersebut menunjukkan bahwa agenda yang dibawa dalam kegiatan ini tidak terbatas pada seremoni peringatan, melainkan juga mencakup tuntutan yang berhubungan dengan kebutuhan publik dan lingkungan.

Keterlibatan 500 pemuda memberi ruang bagi suara generasi muda untuk hadir dalam kegiatan yang bertolak dari sejarah Sumpah Pemuda. Pesan yang disampaikan memuat ajakan untuk menjaga semangat persatuan sekaligus memberi perhatian pada persoalan konkret. Dengan demikian, napak tilas menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan pada 1928 dan menyuarakan harapan mengenai isu-isu yang masih relevan pada masa kini.

Melalui kegiatan tersebut, peringatan sejarah ditempatkan sebagai pengingat bahwa semangat pemuda dapat terus diwujudkan lewat kepedulian dan penyampaian aspirasi. Isu pendidikan dan karhutla menjadi bagian dari tuntutan yang disuarakan peserta. Napak tilas Sumpah Pemuda di Merah Muda Fest 2026 pun memadukan penghormatan terhadap perjuangan terdahulu dengan perhatian pada tantangan yang dihadapi masyarakat sekarang.

Rangkaian napak tilas Merah Muda Fest 2026 dimulai di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta. Dari titik awal tersebut, peserta berjalan mengikuti rute yang mengajak mereka menelusuri sejumlah lokasi penting di pusat kota. Perjalanan kemudian melewati Gereja Katedral Jakarta sebelum berakhir di Lapangan Banteng. Jalur itu menjadi bagian dari kegiatan yang diikuti sekitar 500 pemuda, sekaligus memberi ruang bagi peserta untuk mengenal kembali jejak sejarah di tengah kawasan perkotaan.

Denny Cagur, ketua panitia Merah Muda Fest 2026, menyebut napak tilas tersebut melewati tiga titik bersejarah dalam perjalanan Sumpah Pemuda. Ia menyampaikan keterangan itu di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Museum menjadi titik berangkat sekaligus tempat peserta memperoleh konteks mengenai peristiwa yang diperingati melalui kegiatan tersebut. Setelah itu, rombongan bergerak menuju Gereja Katedral Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan hingga Lapangan Banteng sebagai titik akhir.

Pemilihan rute dari museum menuju Lapangan Banteng menghubungkan kegiatan mengenang sejarah dengan perjalanan bersama di ruang publik. Peserta tidak hanya berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga mengikuti susunan perjalanan yang menandai beberapa titik dalam napak tilas. Kehadiran Gereja Katedral Jakarta di titik awal dan akhir membuat rute tersebut melewati lingkungan dengan latar serta karakter yang beragam. Setibanya di Lapangan Banteng, peserta menuntaskan perjalanan yang telah dimulai dari Museum Sumpah Pemuda. Rute ini menjadi salah satu unsur utama acara, karena memberi bentuk nyata pada kegiatan napak tilas dan mempertemukan ratusan pemuda dalam satu perjalanan. Keterangan panitia mengenai tiga titik bersejarah juga menegaskan bahwa susunan lokasi tersebut dirancang sebagai bagian dari pengalaman mengenang perjalanan Sumpah Pemuda, bukan sekadar jalur menuju lokasi acara berikutnya. Dengan demikian, perjalanan dari museum, melewati katedral, hingga Lapangan Banteng menjadi rangkaian yang dapat diikuti langsung oleh para peserta Merah Muda Fest 2026.

Dalam Napak Tilas Merah Muda Fest, sejumlah peserta menyampaikan aspirasi melalui spanduk yang memuat tuntutan kepada pemerintah. Pesan-pesan itu mengangkat beberapa isu, terutama akses pendidikan, pemberantasan korupsi, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Spanduk menjadi sarana bagi peserta untuk menunjukkan hal-hal yang mereka harapkan mendapat perhatian.

Salah satu tuntutan yang tercantum adalah kuliah gratis. Tuntutan tersebut menyoroti pentingnya akses ke pendidikan tinggi tanpa biaya kuliah, sehingga kesempatan melanjutkan studi tidak semata-mata bergantung pada kemampuan ekonomi. Selain itu, peserta juga menyuarakan pendidikan gratis. Kedua tuntutan itu sama-sama berkaitan dengan biaya pendidikan, sebagaimana dinyatakan dalam pesan yang dibawa peserta.

Di luar isu pendidikan, pemberantasan korupsi turut tercantum sebagai tuntutan. Peserta meminta pemerintah memperhatikan persoalan korupsi, yang mereka masukkan dalam daftar aspirasi pada kegiatan tersebut. Penyebutan tuntutan ini berdampingan dengan pesan mengenai pendidikan, memperlihatkan bahwa spanduk peserta memuat lebih dari satu isu yang mereka nilai penting untuk disuarakan.

Peserta juga menyerukan penghentian kebakaran hutan dan lahan. Tuntutan terkait karhutla itu menegaskan bahwa persoalan lingkungan masuk dalam aspirasi yang dibawa dalam kegiatan. Dengan demikian, pesan yang tertulis pada spanduk mencakup pendidikan gratis, kuliah gratis, pemberantasan korupsi, dan penghentian karhutla. Daftar tersebut merangkum tuntutan yang diberitakan, tanpa perlu menambahkan isu lain yang tidak tercantum.

Melalui spanduk-spanduk tersebut, peserta menyampaikan aspirasi secara terbuka kepada pemerintah. Penyampaian tuntutan dalam kegiatan ini menunjukkan bagaimana isu pendidikan, tata kelola, dan karhutla diangkat bersama dalam ruang publik. Setiap pesan memiliki fokusnya sendiri, tetapi seluruhnya menjadi bagian dari suara peserta yang hadir. Aspirasi itu disampaikan sebagai tuntutan, sementara tindak lanjutnya berada pada pemerintah dan pihak terkait. Rangkaian tuntutan yang tercatat tetap terbatas pada hal-hal yang dinyatakan peserta: akses pendidikan melalui kuliah dan pendidikan gratis, pemberantasan korupsi, serta penghentian kebakaran hutan dan lahan.

Denny Cagur menjelaskan bahwa napak tilas Merah Muda Fest bertujuan mengajak generasi muda mengenang sekaligus meneladani semangat para pemuda yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928. Kegiatan ini tidak berhenti pada mengenang sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga mendorong peserta memahami nilai yang melandasinya: keberanian untuk bersatu, mengutamakan kepentingan bersama, dan berjuang demi masa depan bangsa. Dengan menghadirkan kembali ingatan tentang perjalanan para pemuda terdahulu, panitia berharap sejarah terasa dekat dengan kehidupan anak muda saat ini, bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas atau peringatan tahunan.

Semangat persatuan tersebut dinilai tetap relevan di tengah beragam tantangan yang dihadapi Indonesia. Generasi muda hidup dalam situasi dan zaman yang berbeda dari para pencetus Sumpah Pemuda, tetapi mereka memiliki ruang untuk mengambil peran dalam menjawab persoalan di sekitarnya. Isu pendidikan hingga kebakaran hutan dan lahan menjadi contoh masalah yang membutuhkan perhatian, kepedulian, serta keterlibatan masyarakat. Napak tilas diharapkan dapat membantu peserta melihat bahwa perjuangan tidak selalu berarti mengulang bentuk perlawanan masa lalu. Pada masa kini, perjuangan dapat diwujudkan melalui gagasan, kerja bersama, sikap kritis, dan langkah nyata yang memberi manfaat bagi lingkungan serta masyarakat.

Harapan Denny, nilai persatuan dan perjuangan yang diwariskan generasi terdahulu dapat menginspirasi anak muda untuk tidak bersikap acuh terhadap masa depan bangsa. Perbedaan latar belakang maupun pandangan tidak semestinya menjadi penghalang untuk mencari tujuan bersama. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila disertai kemauan untuk saling mendengar dan bekerja sama. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran sekaligus dorongan untuk bertindak.

Baca juga: Jalur Pendakian Gunung Sumbing Belum Dibuka, Pemerintah Tunggu Evaluasi Karhutla | Hotspot Karhutla di Indonesia Turun Menjadi 317, Pemeriksaan Lapangan Berlanjut | Lewat Silaturahmi, Babinsa Potowaiburu Ajak Warga Waspadai Karhutla