Api di TPA Supit Urang Masih Menyisakan Bara pada Hari Kelima

oleh -123 Dilihat
oleh
Api di TPA Supit Urang Masih Menyisakan Bara pada Hari Kelima

Kota Malang | Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, Jawa Timur, masih berlangsung pada hari kelima, Minggu, 25 Oktober 2026. Meski kobaran api mulai berkurang dibandingkan saat kebakaran pertama kali terjadi, kondisi di lokasi belum sepenuhnya aman. Api yang tampak di permukaan bukan satu-satunya persoalan: bara masih tertinggal di dalam tumpukan sampah dan dapat terus menyala meskipun nyala besar telah mereda. Karena itu, proses pemadaman belum dapat dinyatakan tuntas.

Keberadaan bara di bagian dalam timbunan membuat penanganan kebakaran di area pembuangan sampah memerlukan perhatian berkelanjutan. Permukaan yang terlihat lebih tenang tidak selalu menunjukkan bahwa titik panas di bawahnya telah padam. Selama bara masih berada di tumpukan, potensi munculnya kembali api tetap perlu diperhitungkan. Keadaan tersebut menjelaskan mengapa kebakaran masih disebut berlangsung pada hari kelima, sekalipun intensitas kobaran mulai menurun. Pemadaman harus menjangkau bagian dalam timbunan, bukan hanya memadamkan api yang terlihat dari luar.

Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 15 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 7 hektare berada di lahan lama atau old landfill, sedangkan sekitar 8 hektare lainnya mencakup lahan baru atau new landfill. Sebaran pada dua bagian TPA ini menunjukkan skala kebakaran yang cukup luas dan menjadi konteks penting dalam memahami lamanya penanganan. Pada hari kelima, berkurangnya kobaran menjadi perkembangan yang terlihat, tetapi bara yang masih tersisa menandakan pekerjaan belum selesai. Kondisi di Supit Urang pun tetap memerlukan pemantauan dan upaya pemadaman hingga titik-titik panas di dalam timbunan sampah benar-benar tertangani.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengerahkan helikopter untuk membantu memadamkan api di TPA Supit Urang melalui water bombing. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa helikopter tersebut telah menjalankan sebanyak 30 sorti pada Minggu. Operasi dari udara itu menjadi bagian dari upaya penanganan kebakaran yang masih menyisakan bara, terutama di area yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat. Air dijatuhkan dari atas untuk membantu membasahi material dan menekan titik panas. Namun, pengerahan helikopter bukan berarti seluruh sumber api dapat langsung dipastikan padam. Petugas tetap perlu memantau kondisi lapangan dan menggabungkan dukungan udara dengan penanganan dari darat secara hati-hati dan terkoordinasi.

Menurut Khofifah, pengoperasian helikopter tidak berlangsung dalam ruang lingkup kebutuhan lokal saja. Pengerahan armada udara memiliki tantangan karena fasilitas serupa juga dibutuhkan oleh sejumlah daerah lain. Kebutuhan yang bersamaan itu membuat penggunaan helikopter harus memperhatikan ketersediaan dan pengaturan dukungan antardaerah. Khofifah menjelaskan bahwa tidak mudah memastikan armada udara selalu tersedia khusus untuk satu lokasi, sebab wilayah lain pun menghadapi situasi yang memerlukan bantuan sejenis. Karena itu, pengerahan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan yang ada serta koordinasi agar fasilitas dapat dimanfaatkan pada tempat yang memerlukan. Uraian tersebut menunjukkan bahwa operasi water bombing bergantung pada kesiapan armada dan pembagian dukungan, bukan semata-mata keputusan untuk mengirimkan helikopter. Meski demikian, pada Minggu armada itu sudah menjalankan 30 sorti.

Pemadaman api tidak cukup mengandalkan jalur darat, karena bara dapat bersembunyi di dalam timbunan sampah. Kondisi tersebut membuat penyiraman dari udara diperlukan sebagai dukungan bagi upaya petugas. Selain titik panas yang tersembunyi, tumpukan sampah berpotensi ambles. Risiko itu dapat membahayakan petugas pemadam yang bekerja di sekitar lokasi. Khofifah menyebutkan pertimbangan keselamatan ini sebagai alasan penggunaan helikopter untuk water bombing: proses pemadaman tidak bisa hanya ditempuh melalui darat. Bantuan udara diharapkan menjangkau area yang sulit ditangani sekaligus mengurangi paparan personel terhadap bahaya, tanpa menghilangkan kebutuhan untuk berhati-hati. Oleh sebab itu, operasi udara dan pengawasan darat perlu berjalan bersama hingga situasi aman.

Penjabat Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan bahwa upaya pemadaman api di TPA Supit Urang terbantu oleh kolaborasi operasi udara dan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kedua upaya tersebut menjadi bagian dari dukungan penanganan kebakaran yang masih menyisakan bara pada hari kelima. Keterangan itu menjelaskan bahwa pemadaman tidak hanya mengandalkan satu bentuk tindakan, tetapi juga mendapat bantuan melalui operasi udara dan langkah untuk memicu hujan.

Menurut Wahyu, OMC yang dijalankan Pemprov Jawa Timur ditujukan untuk memicu hujan. Keterangan mengenai operasi tersebut disampaikan sebagai salah satu unsur yang membantu penanganan api di kawasan tempat pemrosesan akhir itu. Upaya ini berjalan bersama dukungan operasi udara, sehingga keduanya disebut berkolaborasi dalam membantu pemadaman. Pemerintah Kota Malang menyampaikan perkembangan tersebut di tengah proses penanganan yang masih berlangsung, ketika bara di TPA Supit Urang belum sepenuhnya padam.

Hujan deras yang turun pada sore hingga malam sebelumnya juga membantu mempercepat pemadaman di TPA Supit Urang. Hujan tersebut menjadi bantuan yang dirasakan dalam proses penanganan kebakaran, sejalan dengan dukungan operasi udara dan OMC. Wahyu menyebut peran hujan itu dalam kaitannya dengan upaya mempercepat pemadaman. Dengan demikian, keterangan pemerintah daerah menyoroti kolaborasi beberapa upaya, termasuk turunnya hujan deras, sebagai dukungan dalam menangani api yang masih menyisakan bara.

Informasi tersebut menggambarkan perkembangan penanganan pada hari kelima tanpa menyatakan bahwa kebakaran telah sepenuhnya selesai. Bara yang masih tersisa menunjukkan bahwa upaya pemadaman tetap menjadi perhatian. Penjelasan Wahyu mengenai bantuan operasi udara, OMC, dan hujan deras memberi gambaran mengenai sejumlah dukungan yang turut membantu proses tersebut. Untuk saat itu, hujan pada sore hingga malam sebelumnya disebut mempercepat pemadaman, sementara kolaborasi operasi udara dan operasi modifikasi cuaca dari Pemprov Jawa Timur juga membantu penanganan di TPA Supit Urang.

Penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang masih berlanjut pada hari kelima, terutama untuk mengatasi bara yang tersisa di bawah permukaan tumpukan sampah. Meski kobaran api dapat terlihat berkurang di sejumlah titik, kondisi di dalam timbunan tetap menjadi perhatian karena panas dan bara tersembunyi dapat memicu munculnya api kembali.

Tim darat melakukan pemadaman secara bertahap dengan teknik injeksi air, yakni menyalurkan air ke bagian dalam tumpukan agar dapat menjangkau sumber panas yang tidak mudah dicapai dari permukaan. Petugas juga membongkar dan mengurai tumpukan sampah di area terdampak. Langkah tersebut membantu membuka bagian yang masih menyimpan bara sehingga dapat ditangani, sekaligus mengurangi risiko api kembali menyala setelah permukaan tampak padam.

Proses pembongkaran dilakukan dengan memperhatikan kondisi lapangan dan keselamatan petugas. Penanganan bara tersembunyi membutuhkan pemantauan berkelanjutan, sebab api dapat bertahan di dalam material sampah meskipun asap atau nyala tidak selalu terlihat. Karena itu, tim terus menyisir area terdampak dan menyesuaikan upaya pemadaman dengan perkembangan di lapangan.

Selain pekerjaan dari darat, operasi water bombing berpeluang diteruskan pada Senin, 26 Oktober 2026, apabila cuaca memungkinkan. Pelaksanaan penerbangan untuk menjatuhkan air bergantung pada kondisi cuaca serta persetujuan dan kesiapan operasional. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkoordinasi dengan Lanud Abdulrachman Saleh mengenai izin penerbangan yang diperlukan untuk mendukung operasi tersebut.

Koordinasi itu menjadi bagian dari persiapan, bukan kepastian bahwa pengerahan bantuan udara akan berlangsung pada tanggal tersebut. Keputusan untuk melanjutkan water bombing akan mempertimbangkan kelayakan cuaca dan aspek keselamatan penerbangan. Sementara itu, upaya tim darat untuk memadamkan bara dan menangani timbunan sampah tetap menjadi bagian penting dari penanganan kebakaran di TPA Supit Urang.

Baca juga: Upaya Pemadaman Kebakaran TPA Supit Urang Memasuki Hari Kelima