BRIN Uji Model Sebaran Api untuk Memperkirakan Risiko Karhutla

oleh -143 Dilihat
oleh
BRIN Uji Model Sebaran Api untuk Memperkirakan Risiko Karhutla

Jakarta | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan model perambatan api di wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Model ini dirancang untuk membantu memperkirakan bagaimana api berpotensi bergerak apabila kebakaran terjadi, dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah dan kondisi yang memengaruhi penyebaran. Pengembangan tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan riset dan teknologi untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla. Fokusnya adalah menyediakan informasi perkiraan, bukan menyatakan bahwa kebakaran tertentu telah terjadi atau memastikan lokasi yang akan terbakar.

Kepala BRIN Arif Satria menyebut pengembangan model tersebut sebagai bagian dari upaya mitigasi karhutla jangka panjang. Menurutnya, riset diperlukan agar penanganan risiko tidak hanya bergantung pada respons setelah api muncul, tetapi juga ditopang oleh pemahaman mengenai kemungkinan pergerakan api. Perkiraan yang dihasilkan dapat menjadi salah satu masukan bagi pihak terkait dalam menilai potensi ancaman dan menyusun langkah antisipasi. Namun, model tersebut merupakan alat bantu analisis; hasilnya perlu dipahami sebagai perkiraan yang mendukung pengambilan keputusan, bukan sebagai kepastian terjadinya kebakaran.

Arif menyampaikan keterangan itu kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (27/10/2026). Ia menjelaskan bahwa arah riset mitigasi jangka panjang tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan mengembangkan pendekatan berbasis pemodelan, BRIN berupaya memperkuat dukungan ilmiah untuk membaca risiko karhutla dan merencanakan kesiapsiagaan. Informasi tentang potensi sebaran api diharapkan dapat membantu pemangku kepentingan memahami wilayah yang perlu dicermati, sekaligus memperhitungkan dinamika lingkungan. Pengembangan ini menegaskan pentingnya riset sebagai salah satu landasan pencegahan, tanpa menggantikan pemantauan lapangan maupun langkah penanganan yang diperlukan ketika kondisi nyata menuntut respons.

Pengembangan model sebaran api yang dilakukan BRIN telah memasuki tahap validasi. Tahap ini menjadi bagian penting sebelum kemampuan model untuk memperkirakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat dinilai lebih lanjut. Dengan memeriksa hasil pengembangan terhadap data dan kondisi yang relevan, peneliti berupaya memahami sejauh mana pendekatan tersebut dapat menggambarkan potensi kejadian. Proses ini masih berlangsung, sehingga model belum dapat disebut tervalidasi dan belum menghasilkan prediksi operasional yang siap digunakan sebagai dasar keputusan.

BRIN berharap riset tersebut pada akhirnya dapat membantu memperkirakan potensi karhutla dalam rentang tiga hingga enam bulan ke depan. Jangka waktu ini diharapkan memberi ruang bagi pihak terkait untuk mengenali kemungkinan risiko lebih awal, bukan hanya merespons ketika kebakaran sudah terjadi. Namun, harapan mengenai kemampuan perkiraan tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteks pengembangan penelitian. Validasi harus dilakukan terlebih dahulu untuk menilai keandalan model, termasuk kesesuaian hasilnya dengan informasi yang tersedia dan kebutuhan pengguna.

Arif menjelaskan bahwa validasi penting agar pihak-pihak terkait memiliki gambaran mengenai kemungkinan yang dapat terjadi beberapa bulan mendatang. Gambaran tersebut dapat menjadi masukan awal dalam mempertimbangkan kesiapsiagaan dan langkah antisipasi. Informasi perkiraan berjangka tidak dengan sendirinya memastikan bahwa suatu wilayah akan mengalami kebakaran; hasilnya perlu dipahami sebagai indikasi potensi yang masih harus ditelaah bersama faktor lain. Karena itu, proses validasi juga berperan dalam membangun pemahaman tentang batas penggunaan dan tingkat keyakinan terhadap hasil model.

Jika tahap ini menunjukkan bahwa model dapat memberikan informasi yang cukup konsisten dan berguna, riset dapat menjadi salah satu dukungan bagi perencanaan pengurangan risiko karhutla. Untuk saat ini, manfaat tersebut masih merupakan tujuan yang ingin dicapai, bukan kemampuan yang sudah dipastikan. Kelanjutan pengujian akan membantu menentukan apakah perkiraan tiga hingga enam bulan dapat disampaikan secara bertanggung jawab kepada para pemangku kepentingan. Dengan demikian, validasi menjadi penghubung pengembangan ilmiah dan kemungkinan pemanfaatannya dalam kesiapsiagaan, sekaligus memastikan bahwa informasi yang diberikan tidak melampaui bukti yang tersedia.

BRIN merencanakan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk memperkuat penelitian terkait kebakaran hutan dan lahan. Rencana ini menjadi bagian dari upaya memahami bagaimana api dapat menyebar serta bagaimana potensi kebakaran dapat diperkirakan. Keterlibatan kalangan akademik diharapkan mendukung pengembangan pengetahuan dan model prediksi, sehingga kajian mengenai risiko karhutla dapat dilakukan dengan landasan riset yang lebih kuat. Kerja sama tersebut masih disampaikan sebagai rencana, bukan sebagai kegiatan yang telah berjalan. Karena itu, informasi yang tersedia menekankan arah kolaborasi secara umum, tanpa merinci pihak kampus yang akan terlibat ataupun pengaturan pelaksanaannya.

Pengembangan model prediksi membutuhkan pemahaman atas berbagai faktor yang berkaitan dengan kemunculan dan penyebaran api. Melalui rencana kolaborasi ini, BRIN berupaya memperluas dukungan penelitian untuk mengkaji potensi kebakaran secara lebih menyeluruh. Perguruan tinggi dapat menjadi mitra dalam penguatan riset, sementara model yang dikembangkan ditujukan untuk membantu memperkirakan risiko. Penekanan pada penelitian dan pemodelan penting karena perkiraan yang lebih baik dapat menjadi dasar bagi pemahaman terhadap ancaman karhutla. Meski demikian, rincian metode, pembagian peran, maupun keluaran khusus kerja sama belum disebutkan dalam informasi yang tersedia, sehingga tidak dapat diasumsikan lebih jauh.

Rencana melibatkan sejumlah perguruan tinggi juga mencerminkan upaya membangun dukungan keilmuan bagi penelitian kebakaran hutan. Fokusnya adalah memperkuat kajian dan mengembangkan model yang dapat digunakan untuk memperkirakan kemungkinan serta sebaran api. Dengan pemahaman mengenai potensi kebakaran yang lebih baik, risiko karhutla diharapkan dapat dikaji secara lebih terarah. BRIN menyampaikan kolaborasi itu sebagai langkah yang akan dilakukan, sehingga pelaksanaan dan bentuk keterlibatannya masih menunggu penjelasan lebih lanjut. Belum ada dasar untuk menyebut nama institusi tertentu atau menetapkan jadwal. Untuk saat ini, inti rencana tersebut adalah kerja sama riset BRIN dan sejumlah perguruan tinggi guna mendukung pemahaman serta prediksi kebakaran hutan.

Selain mengembangkan model untuk memperkirakan perambatan api, BRIN menjalankan kegiatan pemantauan dan deteksi titik api setiap hari. Kegiatan ini memanfaatkan teknologi satelit serta analisis citra satelit untuk mengenali indikasi kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah. Dengan pemantauan rutin, informasi mengenai titik panas atau titik api yang terdeteksi dapat dihimpun dan disampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang.

Hasil deteksi tersebut dibagikan kepada sejumlah lembaga terkait, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan. Informasi ini dapat menjadi salah satu masukan bagi lembaga penerima dalam menilai kondisi di lapangan dan menentukan tindak lanjut sesuai kewenangan masing-masing. Kecepatan penyampaian data menjadi penting karena kondisi kebakaran dapat berubah, sementara tindakan penanganan memerlukan informasi yang relevan dan terkini.

Arif menerangkan bahwa pemanfaatan citra satelit untuk mendeteksi titik api merupakan salah satu bentuk penggunaan kemampuan BRIN yang berkaitan dengan satelit. Teknologi tersebut memungkinkan pengamatan wilayah yang luas, termasuk lokasi yang tidak mudah dijangkau melalui pemantauan langsung. Data pengamatan kemudian diolah agar indikasi kebakaran dapat dikenali dan informasinya bisa dimanfaatkan oleh lembaga yang membutuhkan. Namun, deteksi satelit memberikan informasi awal dan tetap perlu dipahami sesuai karakteristik serta keterbatasan data yang digunakan.

Kegiatan deteksi harian ini perlu dibedakan dari riset model perambatan api yang sedang dikembangkan BRIN. Deteksi titik api telah dilakukan sebagai pemantauan rutin, sedangkan model perambatan api masih berada dalam tahap pengembangan dan validasi. Model tersebut dirancang untuk memperkirakan bagaimana api berpotensi bergerak dengan mempertimbangkan berbagai faktor, sehingga hasilnya perlu diuji sebelum dapat diandalkan sebagai sarana pendukung keputusan.

Baca juga: BRIN Kembangkan Prediksi Karhutla hingga Enam Bulan ke Depan | BRIN Siapkan Sejumlah Inovasi untuk Mendukung Penanganan Karhutla | Api Karhutla di Gunung Ciremai Tak Lagi Terdeteksi, BNPB Nyatakan Situasi Terkendali