BRIN Kembangkan Prediksi Karhutla hingga Enam Bulan ke Depan

oleh -71 Dilihat
oleh
BRIN Kembangkan Prediksi Karhutla hingga Enam Bulan ke Depan

Jakarta | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat riset untuk memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam rentang tiga hingga enam bulan ke depan. Pengembangan prediksi tersebut diarahkan untuk membantu pemerintah melakukan antisipasi lebih dini, sebelum risiko kebakaran berkembang menjadi kejadian yang lebih luas. Dengan informasi mengenai potensi bahaya dalam jangka menengah, langkah persiapan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terencana.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan rencana itu setelah mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa. Menurut Arif, Presiden Prabowo Subianto meminta BRIN melakukan riset sebagai bagian dari penguatan penanganan karhutla untuk jangka menengah dan panjang. Permintaan tersebut menempatkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu unsur dalam upaya menghadapi ancaman kebakaran.

Prediksi dengan cakupan waktu tiga sampai enam bulan dapat memberi ruang bagi pemangku kepentingan untuk menyiapkan respons lebih awal. Informasi tentang potensi karhutla, apabila tersedia sebelum periode rawan, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan prioritas kesiapsiagaan dan koordinasi. Pendekatan ini berbeda dari penanganan yang baru bergerak setelah api muncul, karena perhatian juga diberikan pada upaya membaca risiko sejak awal.

Riset BRIN diharapkan membantu memperkuat dasar pengambilan keputusan dalam menghadapi kemungkinan kebakaran hutan dan lahan. Perkiraan untuk beberapa bulan mendatang dapat mendukung perencanaan yang tidak hanya berorientasi pada respons sesaat, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan penanganan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, hasil riset menjadi masukan yang dapat digunakan bersama oleh pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kesiapan.

Meski demikian, prediksi merupakan alat pendukung, bukan jaminan bahwa kebakaran pasti terjadi atau dapat sepenuhnya dicegah. Nilainya terletak pada kemampuan memberikan gambaran potensi risiko agar persiapan dapat disesuaikan lebih awal. BRIN kini memperkuat kerja riset sesuai arahan Presiden, dengan sasaran menyediakan perkiraan karhutla yang berguna bagi antisipasi nasional dalam rentang tiga hingga enam bulan serta mendukung penguatan penanganan dalam jangka menengah dan panjang.

Riset model prediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dikembangkan BRIN terus berjalan dan kini memasuki tahap validasi. Menurut Arif, pekerjaan ini merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan untuk memperkirakan potensi karhutla pada horizon waktu yang lebih panjang. Pengembangan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kemampuan operasional sebelum melewati pemeriksaan yang diperlukan. Tahap validasi menjadi penghubung proses penelitian model dan pemanfaatannya sebagai dasar informasi mengenai potensi karhutla. Karena itu, perkembangan riset ini perlu dipahami sebagai proses pengembangan yang masih berlangsung, bukan sebagai pernyataan bahwa kemampuan prediksi telah siap digunakan. Penilaian terhadap kesiapan model tetap menunggu proses validasi tersebut selesai.

Arah riset mencakup perkiraan potensi karhutla untuk tiga bulan dan enam bulan ke depan. Dua rentang waktu itu menunjukkan sasaran pengembangan kemampuan prediksi yang sedang dibangun, yakni melihat kemungkinan risiko dalam waktu menengah hingga lebih jauh. Namun, penyebutan sasaran tersebut tidak berarti bahwa ramalan untuk kedua periode itu sudah tersedia atau dapat langsung dijadikan acuan. Model masih berada dalam proses penelitian, dan validasi menjadi tahapan yang harus dilalui sebelum hasil pengembangannya dapat digunakan. Dengan begitu, jangka waktu prediksi yang dituju dapat disampaikan secara jelas tanpa mengesankan bahwa kemampuan tersebut telah diterapkan ataupun menghasilkan keluaran tertentu. Arif menegaskan perlunya pemeriksaan sebelum penggunaan.

Validasi diperlukan untuk menilai model sebelum kemampuan memperkirakan potensi karhutla digunakan. Dalam konteks ini, Arif menempatkan validasi sebagai prasyarat, bukan sekadar tahap administratif yang dapat dilewati. Selama proses tersebut belum selesai, tidak tepat menyimpulkan bahwa prediksi tiga atau enam bulan telah siap dimanfaatkan. Riset yang sedang berjalan memberi gambaran tentang tujuan pengembangan, sementara validasi menentukan apakah kemampuan yang dirancang dapat digunakan. Belum ada dasar dalam keterangan ini untuk menyebut hasil prediksi atau tingkat akurasi tertentu. Oleh sebab itu, informasi yang dapat dipastikan terbatas pada kemajuan riset dan kebutuhan untuk menuntaskan validasi sebelum penggunaannya. Penjelasan ini menjaga perbedaan target riset dan kemampuan yang sudah tersedia.

Upaya BRIN dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada pengembangan model prediksi untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya kebakaran. Riset juga diarahkan untuk memahami pola perambatan api di wilayah yang mengalami karhutla. Aspek ini penting karena kebakaran dapat berkembang dengan cepat dan menjalar ke area lain, sementara kondisi lapangan maupun lingkungan di setiap lokasi tidak selalu sama. Dengan mengkaji bagaimana api bergerak, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai dinamika kebakaran, bukan sekadar mengetahui potensi kemunculannya.

Informasi mengenai arah dan pola penyebaran api diharapkan membantu memperkirakan seberapa luas kebakaran dapat meluas. Perkiraan tersebut dapat menjadi masukan bagi pihak terkait untuk menyiapkan langkah antisipasi lebih awal, termasuk menentukan area yang perlu mendapat perhatian dan merencanakan penanganan secara lebih terarah. Jika kemungkinan perluasan dapat dipahami sebelum api mencapai wilayah berikutnya, persiapan dan koordinasi dapat dilakukan dengan waktu yang lebih memadai. Karena itu, kajian perambatan api melengkapi prediksi kejadian kebakaran: keduanya memberi informasi berbeda, tetapi sama-sama berguna untuk mendukung kesiapsiagaan.

BRIN juga merencanakan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi untuk mengembangkan riset mengenai prediksi kebakaran dan pola perambatan api. Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat kajian melalui keterlibatan beragam keahlian dan mendukung pengembangan pengetahuan yang relevan bagi kondisi di lapangan. Prediksi dinilai penting bukan hanya untuk mengetahui risiko atau memperkirakan kapan kebakaran mungkin terjadi, melainkan juga untuk memperkuat pencegahan dan penanganan. Pendekatan yang berorientasi ke depan memberi kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk menyiapkan tindakan sebelum dampak kebakaran meluas. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada respons setelah api muncul, tetapi juga pada upaya mengurangi risiko dan membatasi penyebarannya sedini mungkin.

BRIN melakukan deteksi titik api setiap hari dengan memanfaatkan citra satelit. Kegiatan ini menjadi bagian dari pemantauan yang membantu menyediakan informasi mengenai indikasi kebakaran hutan dan lahan. Melalui citra satelit, BRIN dapat mengidentifikasi titik api dan menyusun hasil pemantauan untuk disampaikan kepada pihak yang berkepentingan. Pelaksanaan deteksi secara harian memungkinkan informasi diperbarui mengikuti hasil pengamatan yang dilakukan, sehingga lembaga terkait memperoleh bahan informasi dalam mendukung penanganan karhutla. Pemanfaatan citra satelit juga mencerminkan penggunaan teknologi pengamatan untuk mengenali indikasi titik api tanpa mengesampingkan kebutuhan koordinasi antarlembaga. Informasi tersebut berfokus pada hasil deteksi dan menjadi salah satu dukungan bagi upaya penanganan kebakaran.

Informasi hasil pemantauan dibagikan kepada lembaga terkait, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan. Dengan menerima informasi tersebut, instansi-instansi itu memiliki bahan yang dapat digunakan untuk mendukung penanganan karhutla sesuai peran masing-masing. Penyampaian hasil pemantauan menjadi penghubung kegiatan deteksi yang dilakukan BRIN dan kebutuhan lembaga dalam merespons kebakaran hutan dan lahan. Informasi titik api bukan pengganti langkah penanganan, tetapi dapat menjadi salah satu masukan untuk mendukungnya. Karena itu, pemantauan harian dan pembagian hasilnya merupakan bagian penting dari dukungan informasi antarlembaga. BRIN menyediakan hasil pengamatan, sementara informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak terkait dalam menjalankan tugas penanganan. Koordinasi melalui berbagi informasi membantu memastikan hasil deteksi tidak hanya tersedia, tetapi juga dapat diterima oleh lembaga yang relevan.

Arif menjelaskan bahwa BRIN memiliki kewenangan terkait pemanfaatan satelit dan citra satelit untuk berbagai keperluan. Salah satu pemanfaatannya adalah mendeteksi titik api.

Baca juga: BRIN Siapkan Sejumlah Inovasi untuk Mendukung Penanganan Karhutla | Api Karhutla di Gunung Ciremai Tak Lagi Terdeteksi, BNPB Nyatakan Situasi Terkendali | Hujan di Kotawaringin Barat Diikuti Penurunan Tajam Titik Panas Karhutla