Konser dan Agenda Kreatif Dorong Perputaran Ekonomi Jakarta

oleh -154 Dilihat
oleh
Konser dan Agenda Kreatif Dorong Perputaran Ekonomi Jakarta

Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti besarnya peran ekosistem kreatif dalam menggerakkan perekonomian ibu kota. Menurutnya, kegiatan seperti konser, festival olahraga, pameran, dan program belanja tidak hanya menjadi hiburan atau agenda publik. Berbagai acara tersebut turut mendatangkan pengunjung, mendorong aktivitas usaha, serta menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Dampaknya dapat dirasakan oleh penyelenggara, pekerja kreatif, pelaku usaha, hingga sektor pendukung seperti transportasi, perhotelan, kuliner, dan perdagangan.

Untuk menggambarkan skala pengaruh itu, Pramono menyebut sejumlah angka dari acara yang berlangsung di Jakarta. Konser Kanye West pada pekan sebelumnya, misalnya, disebut menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp450 miliar. Sementara itu, konser The Weeknd disebut memberikan kontribusi Rp250 miliar. Pada kegiatan olahraga, Jakarta Running Festival tercatat dengan angka Rp175 miliar. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa acara dengan jenis dan skala berbeda dapat menarik aktivitas ekonomi, baik melalui kehadiran penonton maupun kebutuhan operasional selama kegiatan berlangsung.

Pramono juga mencontohkan agenda berskala besar yang telah lama menjadi bagian dari kalender Jakarta. Jakarta Fair disebut memiliki dampak ekonomi sebesar Rp8,2 triliun, sedangkan Jakarta Great Sale mencapai Rp26,8 triliun. Angka tersebut menggambarkan besarnya transaksi dan kegiatan usaha yang dapat terhubung dengan penyelenggaraan acara serta program promosi di kota. Namun, keseluruhan angka itu merupakan contoh dampak ekonomi yang disampaikan Pramono, bukan ukuran tunggal untuk menilai seluruh manfaat sosial maupun budaya dari setiap kegiatan. Penyebutan berbagai contoh tersebut menegaskan bahwa ekosistem kreatif memiliki keterkaitan luas dengan perekonomian Jakarta. Saat acara mampu menarik partisipasi publik, aktivitas belanja, layanan, dan usaha di sekitarnya berpeluang meningkat. Karena itu, konser dan agenda kreatif dapat dipahami sebagai salah satu penggerak perputaran ekonomi, sekaligus bagian dari upaya menjadikan Jakarta kota yang aktif, terbuka, dan memiliki daya tarik bagi warga maupun pengunjung. Besaran yang disebutkan juga memperlihatkan ragam kontribusi kegiatan, mulai dari hiburan musik dan olahraga hingga pameran serta promosi ritel, dengan skala dampak yang berbeda-beda.

Keterangan Pramono mengenai konser Ye di Jakarta memberi gambaran tentang bagaimana sebuah acara berskala besar dapat menarik pengunjung dari luar negeri. Ia menyebut sekitar 30.000 orang asing menghadiri konser tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa agenda hiburan dapat menjadi alasan bagi orang untuk datang ke kota, selain menjadi tontonan bagi warga setempat. Dalam keterangannya, dampak kunjungan itu terlihat pula pada tingkat hunian hotel: hampir semua hotel disebut terisi. Contoh ini menempatkan konser bukan hanya sebagai pertunjukan musik, melainkan juga sebagai kegiatan yang menghadirkan arus pengunjung ke Jakarta. Keterangan tersebut memberi konteks bagi pembahasan mengenai hubungan agenda kota, mobilitas pengunjung, dan aktivitas ekonomi yang menyertai kunjungan itu.

Pramono juga menggambarkan suasana di Blok M yang terasa ramai seperti Seminyak. Perbandingan tersebut menekankan kesan ramainya kawasan itu ketika konser berlangsung, tanpa mengubahnya menjadi ukuran pasti tentang dampak ekonomi. Saat pengunjung berkumpul dan kawasan terasa hidup, kegiatan di sekitar acara ikut menjadi bagian dari pengalaman kunjungan mereka di Jakarta. Namun, keterangan yang disampaikan berfokus pada jumlah orang asing, kondisi hotel, dan suasana Blok M; tidak merinci nilai belanja ataupun pendapatan usaha. Karena itu, contoh konser Ye dapat dipahami sebagai ilustrasi tentang potensi acara dalam mendatangkan pengunjung dan menghidupkan suasana kota, bukan sebagai dasar untuk menyimpulkan besaran keuntungan bagi sektor usaha tertentu.

Dari contoh tersebut, Pramono menyampaikan gagasan untuk memperbanyak acara yang ia sebut sebagai “epicentrum event”. Istilah itu merujuk pada agenda yang dapat menjadi pusat perhatian dan menarik orang untuk hadir. Arah pemikirannya adalah menjadikan lebih banyak acara sebagai daya tarik bagi kunjungan ke Jakarta. Bila konser Ye memperlihatkan bagaimana satu kegiatan dapat menghadirkan puluhan ribu pengunjung asing, usulan tersebut menempatkan penyelenggaraan acara sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam agenda kota. Dampak yang dapat digambarkan dari keterangannya mencakup ramainya kawasan Blok M dan hampir penuhnya hotel, sedangkan rincian lain tidak disebutkan. Dengan demikian, memperbanyak “epicentrum event” merupakan gagasan Pramono untuk mendorong kehadiran pengunjung melalui kegiatan kreatif dan hiburan di Jakarta.

Dalam keterangannya, Pramono menyebut sejumlah agenda hiburan yang diharapkan dapat menarik pengunjung dan menggerakkan aktivitas ekonomi di Jakarta. Salah satu yang paling dinantikan adalah kedatangan BTS, yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari pada akhir tahun. Rangkaian acara tersebut diperkirakan menghadirkan penonton dari berbagai daerah, bahkan berpotensi menarik penggemar dari luar negeri. Karena itu, kontribusi ekonomi dari kehadiran BTS diperkirakan lebih besar dibandingkan acara lain, meski besarnya dampak tersebut belum dapat dinyatakan sebagai angka pasti.

Agenda berikutnya mencakup penampilan Guns N’ Roses serta acara hip-hop pada bulan setelahnya. Pada Januari, Westlife juga dijadwalkan hadir untuk menyapa para penggemarnya. Kehadiran musisi dengan genre dan basis penggemar yang beragam memberi Jakarta peluang untuk menjangkau lebih banyak kelompok penonton. Pengunjung konser dapat turut membelanjakan uang untuk transportasi, penginapan, makanan, dan kebutuhan lain, sehingga manfaat acara tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara, tetapi juga pelaku usaha di sekitar lokasi.

Pramono mendorong agar kegiatan di Jakarta dirancang lebih menarik dan dikelola secara profesional. Menurutnya, penyelenggaraan yang tertata penting untuk memberikan pengalaman yang baik bagi penonton, sekaligus membangun kepercayaan musisi, promotor, serta pengunjung terhadap kota. Perhatian perlu diberikan pada kelancaran akses, keamanan, kenyamanan, dan koordinasi antarpihak. Dengan persiapan yang memadai, agenda hiburan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat daya tarik Jakarta sebagai tempat penyelenggaraan acara berskala besar.

Ia juga menyinggung pentingnya kondisi cuaca yang mendukung, terutama untuk kegiatan lari. Pramono mengatakan pemerintah melakukan operasi modifikasi cuaca agar kegiatan semacam itu dapat berlangsung dengan lebih baik. Upaya tersebut menunjukkan bahwa perencanaan acara tidak hanya menyangkut panggung dan hiburan, tetapi juga faktor operasional di ruang terbuka. Jika agenda disusun dengan cermat dan dikelola secara profesional, konser maupun kegiatan kreatif berpeluang menghadirkan pengalaman yang aman bagi peserta serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi Jakarta.

Pramono meyakini kontribusi pendapatan daerah dari penyelenggaraan konser dan berbagai agenda kreatif pada tahun depan berpeluang melampaui capaian tahun ini. Keyakinan tersebut didukung oleh rangkaian insentif yang disiapkan pemerintah untuk memperkuat daya tarik Jakarta sebagai tujuan kegiatan berskala besar. Menurutnya, acara kreatif tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Pengunjung yang datang dapat meningkatkan belanja untuk transportasi, makanan, akomodasi, serta layanan lain di sekitar lokasi acara. Dampaknya berpotensi dirasakan pelaku usaha dan pekerja lokal, sekaligus menambah penerimaan daerah. Karena itu, pemerintah ingin mendorong penyelenggaraan kegiatan yang mampu menarik lebih banyak pengunjung tanpa mengabaikan tata kelola yang baik.

Salah satu bentuk dukungan yang disampaikan ialah subsidi bagi hotel-hotel di Jakarta. Bantuan tersebut diharapkan memungkinkan pengelola menawarkan harga kamar dengan potongan atau diskon kepada masyarakat. Dengan biaya menginap yang lebih terjangkau, calon pengunjung dapat memiliki alasan tambahan untuk menghadiri konser maupun agenda kreatif lainnya, termasuk mereka yang datang dari luar kota. Pramono berharap kebijakan itu meningkatkan minat masyarakat, memperpanjang waktu kunjungan, dan mendorong lebih banyak transaksi di sektor pariwisata.

Baca juga: Agenda Ekonomi Indonesia: Insentif Hybrid, Proyek Gas, dan Stimulus Akhir Tahun | Demo di Jakarta Pusat Ubah Operasional Sejumlah Rute Transjakarta | Cegah Pelajar Ikut Aksi Unjuk Rasa ke Jakarta, Aipda Ilyas Berikan Imbauan Kamtibmas di SMPN 2 Cikupa