BRIN Paparkan Peluang Energi dari Limbah Sawit kepada Prabowo

oleh -164 Dilihat
oleh
BRIN Paparkan Peluang Energi dari Limbah Sawit kepada Prabowo

Jakarta | Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 27 Oktober 2026, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memaparkan peluang pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi. Ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki limbah sawit dalam jumlah melimpah, sehingga bahan sisa dari kegiatan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit tersebut berpotensi diolah menjadi biogas.

Biogas yang dihasilkan dari pengolahan limbah sawit dapat dimanfaatkan melalui dua jalur. Pertama, gas tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Pemanfaatan ini membuka peluang bagi limbah yang sebelumnya tersisa untuk ikut mendukung penyediaan energi. Kedua, biogas dapat diproses sebagai bahan baku gas tabung yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan demikian, potensi pemanfaatannya mencakup penyediaan listrik maupun bahan bakar untuk penggunaan sehari-hari.

Arif menyampaikan bahwa potensi energi dari limbah sawit merupakan salah satu hal yang ia laporkan kepada Presiden. Laporan tersebut menyoroti kemungkinan mengubah sumber daya yang melimpah di Indonesia menjadi produk energi yang berguna. Biogas menjadi bentuk pemanfaatan yang dibicarakan karena dapat diarahkan untuk pembangkitan listrik dan sebagai bahan baku gas tabung. Kedua kegunaan itu menunjukkan bahwa pengolahan limbah sawit berpotensi menjangkau kebutuhan energi pada skala yang berbeda.

Paparan BRIN dalam pertemuan tersebut berfokus pada peluang, bukan pada rincian target produksi atau pelaksanaan program tertentu. Inti yang disampaikan Arif adalah bahwa limbah sawit dapat memiliki nilai tambah apabila diolah menjadi biogas. Presiden menerima laporan mengenai potensi tersebut sebagai bagian dari pembahasan energi. Gagasan ini menempatkan limbah sawit tidak hanya sebagai sisa pengolahan, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi bagi pembangkit listrik dan kebutuhan rumah tangga. Penjelasan itu menjadi salah satu potensi energi yang disampaikan Kepala BRIN kepada Presiden dalam pertemuan di Istana Kepresidenan.Dalam pemaparan mengenai peluang energi dari limbah sawit, Arif menyampaikan gambaran skala produksi bahan baku dan residu yang dihasilkan industri kelapa sawit di Indonesia. Menurut angka yang ia paparkan, produksi tandan buah segar (TBS) sawit mencapai sekitar 328,43 juta ton per tahun. Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas pengolahan yang berlangsung, sekaligus memberi konteks mengenai jumlah material yang terkait dengan rantai produksi sawit nasional.

Arif juga memperkirakan limbah cair dari proses pengolahan kelapa sawit, atau palm oil mill effluent (POME), mencapai 229,9 juta meter kubik per tahun. Jumlah itu merupakan perkiraan yang disampaikan oleh narasumber, bukan hasil perhitungan baru dalam pembahasan ini. POME muncul sebagai bagian dari kegiatan pengolahan di pabrik kelapa sawit, sehingga volumenya berkaitan dengan skala produksi yang berlangsung. Besarnya perkiraan tersebut membuat pengelolaan limbah cair menjadi aspek yang patut diperhatikan, terutama ketika industri mencari cara untuk memanfaatkan residu secara lebih produktif.

Menurut Arif, POME dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Selain limbah cair tersebut, tandan kosong kelapa sawit juga berpotensi digunakan untuk tujuan serupa. Dengan demikian, perhatian terhadap residu industri tidak hanya berkaitan dengan penanganan limbah, tetapi juga dengan peluang untuk mengubah bahan yang tersisa dari proses produksi menjadi sumber daya. Keduanya memiliki bentuk dan karakter yang berbeda, namun sama-sama disebut Arif sebagai bahan yang bisa dimanfaatkan dalam pengembangan energi.

Uraian mengenai TBS, POME, dan tandan kosong ini memperlihatkan bahwa peluang energi dari limbah sawit bertumpu pada ketersediaan residu dalam skala besar. Angka produksi TBS sekitar 328,43 juta ton per tahun dan estimasi POME 229,9 juta meter kubik per tahun membantu menggambarkan besarnya potensi yang dibicarakan. Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai data perkiraan yang disampaikan Arif. Pemanfaatan lebih lanjut tetap memerlukan pengelolaan dan pengolahan yang sesuai, sehingga limbah dapat diarahkan menjadi sumber energi dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Arif memperkirakan bahwa pemanfaatan limbah dari industri kelapa sawit, khususnya palm oil mill effluent (POME) dan tandan kosong kelapa sawit, berpeluang menghasilkan kapasitas listrik sekitar 3,9 gigawatt. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi energi alternatif yang tersimpan dalam bahan sisa pengolahan sawit. Dengan demikian, limbah yang selama ini perlu ditangani dapat dipandang pula sebagai sumber daya energi, apabila diolah dan dikonversi melalui teknologi yang sesuai.

POME merupakan limbah cair yang berasal dari proses pengolahan buah sawit, sedangkan tandan kosong adalah bagian tandan yang tersisa setelah buahnya dipisahkan. Keduanya tersedia sebagai hasil samping kegiatan perkebunan dan pabrik kelapa sawit. Menurut perkiraan Arif, apabila kedua jenis bahan tersebut dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik, kontribusinya secara potensial dapat mencapai sekitar 3,9 gigawatt. Perkiraan ini menunjukkan peluang yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan energi berbasis limbah.

Kapasitas sekitar 3,9 gigawatt itu tetap perlu dipahami sebagai potensi, bukan sebagai jumlah listrik yang sudah dihasilkan atau kapasitas pembangkit yang telah beroperasi. Pemanfaatannya bergantung pada proses pengumpulan bahan, pengolahan, konversi energi, serta dukungan infrastruktur dan investasi. Karena itu, angka yang disampaikan Arif memberi gambaran mengenai peluang pemanfaatan POME dan tandan kosong, sekaligus menyoroti perlunya upaya lanjutan agar potensi tersebut dapat dinilai dan dikembangkan secara realistis. Energi dari limbah sawit dapat menjadi salah satu pilihan alternatif dalam memperluas sumber energi, tanpa menganggap seluruh perkiraan kapasitas itu telah terealisasi saat ini.

Menurut Arif, pengembangan pemanfaatan limbah sawit tidak harus berhenti pada produksi biogas dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit. Gas yang dihasilkan dapat menjadi bahan bakar untuk kebutuhan energi setempat, sekaligus membuka tahapan pengembangan berikutnya: pemurnian, pengubahan karakteristik gas, lalu penyimpanan dalam tabung. Dengan demikian, sumber energi yang semula dimanfaatkan secara terbatas berpeluang ditangani sebagai produk yang lebih mudah disimpan, dipindahkan, dan digunakan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini penting karena pemanfaatan energi terbarukan perlu mempertimbangkan bukan hanya proses produksinya, tetapi juga cara menyediakan energi secara andal bagi rumah tangga maupun kegiatan usaha. Paparan itu juga menyoroti peluang teknologi penyimpanan gas tersebut.

Dalam memperkenalkan gagasan itu kepada Prabowo, Arif menyampaikan potensi metal-organic framework (MOF) sebagai material untuk menyimpan gas dalam jumlah lebih besar. Teknologi ini menjadi bagian dari kemungkinan pengembangan biogas, agar gas dari limbah sawit dapat diolah dan disimpan dengan cara yang mendukung pemanfaatan lebih luas. Penyimpanan merupakan aspek penting ketika energi perlu disalurkan di luar lokasi produksinya atau digunakan pada waktu berbeda. Jika pengembangan teknologi dapat menjawab kebutuhan tersebut, gas berbasis limbah sawit berpeluang menjadi salah satu pilihan energi yang lebih praktis. Potensi ini juga menempatkan riset material dan pengolahan biogas dalam pembahasan mengenai upaya memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik.

Peluang tersebut berkaitan dengan kebutuhan energi dalam negeri dan ketergantungan pada LPG impor. Arif menyebut Indonesia masih mengimpor LPG dengan nilai sekitar Rp 97 triliun per tahun. Karena itu, gas tabung yang dihasilkan dari limbah sawit diyakini dapat membantu mengurangi impor LPG, apabila teknologi pengolahan dan penyimpanannya berhasil dikembangkan serta diterapkan. Pemanfaatan limbah sebagai sumber energi juga dapat memberi nilai tambah pada hasil samping industri sawit. Menurut Arif, konversi biogas menjadi gas tabung dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia pada masa depan.

Baca juga: Satgas TMMD Ke-130 Kenalkan Peluang Jadi Prajurit TNI AD kepada Pemuda Yamboi Gunung | SIBF 2026 Hubungkan 43 Proyek Investasi dengan Peluang Dagang Regional