Suroso Isnandar Jadi Dirut PLN, Berikut Perjalanan Pendidikan dan Kariernya

oleh -132 Dilihat
oleh
Suroso Isnandar Jadi Dirut PLN, Berikut Perjalanan Pendidikan dan Kariernya

Batam | Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT PLN (Persero) menetapkan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN pada Rabu, 14 Oktober 2026. Penetapan tersebut menandai pergantian kepemimpinan di perusahaan listrik negara itu. Suroso menggantikan Darmawan Prasodjo, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PLN.

Dengan keputusan RUPS Luar Biasa tersebut, Suroso kini mengemban jabatan tertinggi dalam jajaran direksi PLN. Pergantian ini menjadi pokok utama dari keputusan pemegang saham pada tanggal tersebut. Sementara itu, Darmawan tidak lagi tercatat sebagai pemimpin perusahaan setelah posisinya digantikan oleh Suroso, berdasarkan penetapan yang diumumkan dalam rapat.

Sebelum ditetapkan sebagai Direktur Utama, Suroso menjabat Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN. Jabatan itu merupakan posisi yang sebelumnya ia emban di dalam perusahaan. Dengan demikian, perjalanan penugasannya di PLN berlanjut dari direktorat yang menangani manajemen proyek serta energi baru terbarukan menuju jabatan direktur utama.

Penetapan tersebut sekaligus memperjelas susunan kepemimpinan PLN setelah RUPS Luar Biasa. Suroso menjadi tokoh yang menggantikan Darmawan pada posisi Direktur Utama, sedangkan jabatan Suroso sebelumnya adalah Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan. Kedua informasi itu menempatkan keputusan rapat dalam konteks perubahan jabatan yang berlangsung di tingkat pimpinan perusahaan.

Informasi mengenai pergantian ini berpusat pada waktu penetapan, nama pejabat yang ditunjuk, pemimpin yang digantikan, serta jabatan Suroso sebelum keputusan tersebut. RUPS Luar Biasa berlangsung pada Rabu, 14 Oktober 2026, dan menetapkan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero). Ia menggantikan Darmawan Prasodjo setelah sebelumnya menduduki posisi Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN. Dengan susunan fakta tersebut, pembaca dapat melihat secara jelas perubahan kepemimpinan sekaligus jabatan yang menjadi latar belakang penugasan Suroso di perusahaan.

Suroso Isnandar lahir di Klaten pada 12 Agustus 1971. Perjalanan pendidikannya di bidang teknik dimulai di Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat ia menempuh pendidikan sarjana. Pada 1994, ia menamatkan studi tersebut dengan bidang power system engineering atau sistem tenaga listrik. Pilihan bidang ini menjadi titik awal rekam pendidikan formalnya yang secara khusus berhubungan dengan sistem tenaga listrik. Tahun kelulusan sarjana itu menandai tahap pertama dalam urutan pendidikan Suroso, sebelum ia melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Dengan demikian, riwayat akademiknya dimulai dari pendidikan sarjana di ITB, berfokus pada power system engineering, dan kemudian berlanjut pada pendalaman bidang terkait di luar negeri.

Lima tahun setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Suroso meraih gelar Master of Science dari University of Abertay. Gelar tersebut diperolehnya pada 1999 dalam bidang power system engineering and management. Urutan pendidikannya memperlihatkan bahwa setelah menuntaskan studi sarjana yang berfokus pada sistem tenaga listrik, ia melanjutkan ke jenjang magister dengan cakupan bidang yang mencakup power system engineering dan management. Informasi pendidikan ini melengkapi catatan akademiknya setelah kelulusan pada 1994. Jarak waktu lima tahun kedua pencapaian tersebut menjadi penanda kronologis dalam perjalanan studinya, dari program sarjana di ITB hingga program Master of Science di University of Abertay. Kedua tahap itu sama-sama berkaitan dengan bidang sistem tenaga listrik.

Perjalanan akademik Suroso berlanjut kembali di Institut Teknologi Bandung. Pada 2025, ia menyelesaikan pendidikan doktor bidang teknik elektro di ITB. Pencapaian tersebut menjadi tahap terbaru dalam riwayat pendidikan yang mencakup jenjang sarjana, magister, dan doktor. Jika disusun berdasarkan waktu, Suroso menamatkan pendidikan sarjana power system engineering pada 1994, meraih Master of Science dalam power system engineering and management lima tahun kemudian, lalu menyelesaikan pendidikan doktor teknik elektro pada 2025. Rangkaian tersebut mencatat keterkaitan bidang studi yang ditempuhnya dengan sistem tenaga listrik dan teknik elektro. Dari kelahiran di Klaten pada 1971 hingga penyelesaian pendidikan doktor, data tersebut memberikan gambaran kronologis mengenai latar pendidikan Suroso Isnandar.

Rekam jejak Suroso Isnandar di PLN menunjukkan pengalaman memimpin sejumlah unit dengan cakupan kerja yang berbeda, mulai dari pembangkitan dan penyaluran listrik hingga pengaturan beban serta teknologi informasi. Urutan jabatan tersebut menggambarkan keterlibatannya dalam pengelolaan sistem ketenagalistrikan dan pengembangan kapabilitas perusahaan.

Pada 2019–2021, Suroso menjabat General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Sulawesi. Dalam posisi ini, lingkup tanggung jawabnya berkaitan dengan pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik di wilayah Sulawesi. Kedua fungsi tersebut merupakan bagian penting dari rantai penyediaan listrik: pembangkit menghasilkan energi, sementara sistem penyaluran membawa pasokan menuju jaringan dan pengguna. Pengalaman memimpin unit ini memberinya paparan terhadap pengelolaan aset serta infrastruktur kelistrikan dalam cakupan regional.

Kariernya berlanjut pada 2021–2022 sebagai pemimpin PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali. Unit tersebut berhubungan dengan pengaturan beban pada sistem tenaga listrik di kawasan dengan kebutuhan pasokan yang besar. Pengelolaan beban membantu menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan listrik, sehingga pengalaman ini menambahkan dimensi operasional yang berbeda dari tugasnya sebelumnya di bidang pembangkitan dan penyaluran. Perpindahan peran tersebut juga memperluas pemahamannya mengenai keterkaitan berbagai unsur dalam sistem kelistrikan.

Pada 2022–2023, Suroso dipercaya menjadi Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi pada Direktorat Utama PLN Kantor Pusat. Penugasan ini menempatkannya pada ranah transformasi digital dan teknologi informasi. Peran tersebut melengkapi pengalaman operasionalnya dengan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi di tingkat perusahaan. Secara berurutan, perjalanan jabatannya mencakup pembangkitan, penyaluran, pengaturan sistem tenaga listrik, infrastruktur kelistrikan, dan digitalisasi.

Selain pengalaman tersebut, Suroso memiliki sertifikasi Qualified Risk Governance Professional (QRG). Sertifikasi ini berkaitan dengan tata kelola dan manajemen risiko, dua aspek yang relevan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan organisasi. Kombinasi pengalaman lintas unit serta pengetahuan tata kelola risiko memberi gambaran tentang beragam bidang yang pernah menjadi bagian dari tanggung jawab profesionalnya di PLN.

Pergantian direktur utama PLN berlangsung sebagai estafet kepemimpinan, dengan mandat untuk melanjutkan agenda transformasi perusahaan. Penunjukan Suroso Isnandar menandai babak kepemimpinan berikutnya, sementara berbagai program yang telah berjalan tetap menjadi bagian penting dari arah kerja PLN. Dalam konteks pergantian tersebut, perusahaan menekankan kesinambungan upaya memperkuat sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan mutu pelayanan. Dengan demikian, transisi pimpinan tidak hanya menjadi perubahan pada tingkat manajemen, tetapi juga momentum untuk meneruskan prioritas yang telah ditetapkan bagi perusahaan dan pelanggan.

Agenda yang diuraikan PLN mencakup beberapa bidang utama. Pertama, memperkuat keandalan sistem agar pasokan listrik dapat semakin terjaga. Kedua, membangun infrastruktur ketenagalistrikan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan kegiatan ekonomi. PLN juga melanjutkan pengembangan energi baru terbarukan sebagai bagian dari upaya menuju sistem energi yang semakin bersih. Di sisi pelayanan, peningkatan layanan pelanggan tetap menjadi salah satu fokus, termasuk memastikan kebutuhan pengguna listrik ditangani dengan baik. Rangkaian prioritas ini menjadi pekerjaan berkelanjutan yang akan dihadapi di bawah kepemimpinan baru, seiring perubahan kebutuhan energi dan tuntutan publik terhadap layanan.

Dalam kesempatan tersebut, PLN menyampaikan apresiasi kepada Darmawan Prasodjo atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengawal transformasi perusahaan. Penghargaan itu menjadi bagian dari proses serah terima kepemimpinan, sekaligus mengakui peran pimpinan sebelumnya dalam menjalankan agenda perusahaan. Pergantian ini berlangsung ketika perhatian publik juga tertuju pada gangguan listrik di Batam, Kepulauan Riau. Konteks tersebut dapat dicatat sebagai latar pemberitaan mengenai PLN, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa gangguan itu berkaitan sebab-akibat dengan perubahan direktur utama.

Baca juga: Ungu Tandai Tiga Dekade Perjalanan Musik Lewat Konser di Senayan | MA Batalkan Putusan PTUN dalam Sengketa Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran | Kasasi MA Soal Suket Pendidikan Gibran: Putusan, Penggugat, dan Perkembangan Perkara