Hujan Semalaman Picu Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah Cilacap

oleh -123 Dilihat
oleh
Hujan Semalaman Picu Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah Cilacap

Kabupaten Cilacap | BPBD Kabupaten Cilacap melaporkan hujan berintensitas sedang hingga tinggi memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Hujan mulai turun pada Jumat, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, lalu berlangsung hingga Sabtu, 31 Oktober 2026, sekitar pukul 05.00 WIB. Curah hujan selama rentang waktu tersebut menyebabkan genangan di sejumlah lokasi dan mendorong terjadinya longsor. Informasi awal mengenai kejadian ini disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo.

Pendataan sementara yang dilakukan hingga Sabtu pukul 08.00 WIB mencatat genangan terjadi di permukiman warga, pekarangan, area persawahan, serta beberapa ruas jalan. Lokasi terdampak yang telah teridentifikasi berada di Kecamatan Maos, Kroya, dan Jeruklegi. Data tersebut masih bersifat sementara, sehingga cakupan dan kondisi di masing-masing titik dapat diperbarui seiring berlanjutnya proses pemeriksaan lapangan oleh petugas.

Rangkaian hujan semalaman menjadi awal kejadian yang ditangani BPBD di beberapa kecamatan tersebut. Banjir dan longsor tercatat sebagai dampak berbeda dari cuaca yang berlangsung sejak malam hingga dini hari. Sementara itu, air yang menggenangi kawasan permukiman dan pekarangan menunjukkan dampak yang dirasakan di lingkungan warga, sedangkan genangan di sawah dan ruas jalan turut menjadi bagian dari laporan awal.

Keterangan Taryo menjadi sumber informasi mengenai waktu hujan, jenis bencana, serta hasil pendataan sementara. Hingga batas waktu pencatatan tersebut, BPBD telah menghimpun laporan dari Maos, Kroya, dan Jeruklegi, tetapi informasi yang tersedia belum merinci jumlah titik terdampak, ketinggian genangan, luas sawah yang terendam, maupun tingkat kerusakan akibat longsor. Karena itu, angka dan rincian kejadian perlu merujuk pada pembaruan resmi berikutnya. Laporan awal ini menggambarkan kondisi yang diketahui pada Sabtu pagi, setelah hujan berhenti sekitar pukul 05.00 WIB, dan menjadi dasar pemantauan lanjutan terhadap lokasi-lokasi yang telah dilaporkan.

Di Kecamatan Maos, dampak hujan semalaman terlihat di sejumlah titik dengan kondisi genangan yang berbeda-beda. Air menggenangi pekarangan dan lahan persawahan di Desa Mrenek, sementara di Desa Karangreja genangan mulai merambah kawasan permukiman. Perbedaan lokasi tersebut juga tampak pada ketinggian air yang dilaporkan warga dan pemerintah setempat.

Di Desa Mrenek, genangan terjadi di RT 01 RW 08. Air yang terkumpul di pekarangan dan area persawahan diperkirakan mencapai 10–20 sentimeter. Meski mengganggu aktivitas di sekitar rumah dan lahan pertanian, genangan di lokasi ini dilaporkan masih terbatas pada area tersebut. Kondisinya berbeda dengan beberapa bagian Desa Karangreja yang airnya mulai masuk ke lingkungan tempat tinggal warga.

Di Karangreja, titik yang terdampak lain RT 02 RW 04 serta RT 02 dan RT 03 RW 3 di Dusun Krikil. Ketinggian air di halaman rumah disebut sekitar 50 sentimeter, sedangkan air di dalam rumah mencapai kurang lebih 20 sentimeter. Angka tersebut menunjukkan bahwa genangan tidak hanya berada di luar rumah, tetapi telah memasuki sebagian ruang hunian di titik-titik terdampak. Kondisi dapat berbeda antarlokasi, sehingga pemantauan tetap diperlukan.

Hingga informasi tersebut disampaikan, warga di kawasan terdampak Karangreja belum mengungsi. Pemerintah desa menyiapkan dapur umum di balai desa Karangreja sebagai langkah antisipasi apabila keadaan banjir berkembang dan kebutuhan warga meningkat. Kesiapan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi kemungkinan perubahan kondisi, sekaligus memastikan dukungan dapat disediakan jika diperlukan. Warga dan aparat setempat tetap perlu memperhatikan perkembangan ketinggian air, terutama di permukiman yang genangannya sudah masuk ke dalam rumah.

Hujan yang turun semalaman juga menyebabkan genangan di sejumlah titik di Kecamatan Kroya. Di Desa Mujur Lor, air menggenangi area sekitar Masjid Istiqomah serta kawasan pertokoan Kota Baru di Dusun Pecangakan. Ketinggian genangan di lokasi tersebut dilaporkan sekitar 20 sentimeter. Kondisi ini membuat sebagian area yang biasa digunakan warga dan pengunjung untuk beraktivitas tertutup air, sehingga mobilitas di sekitar titik terdampak perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.

Genangan juga dilaporkan di RT 24 RW 2, Dusun Karangchengsi, Desa Sikampuh. Air mula-mula memenuhi pekarangan, kemudian mulai masuk ke sejumlah rumah warga. Ketinggiannya berkisar 10 hingga 20 sentimeter. Meski kedalamannya berbeda-beda, air yang telah mencapai bagian dalam rumah dapat mengganggu kegiatan sehari-hari dan berisiko membasahi barang-barang milik warga. Warga perlu terus memantau perubahan permukaan air, terutama apabila hujan kembali turun dan aliran belum surut.

Di wilayah Desa Sikampuh, perhatian juga tertuju pada anak Sungai Silunjar, tepatnya di Jalan Sikampuh–Bejen RT 34 RW 3, kompleks Embung Baru. Tumpukan eceng gondok menyumbat bagian aliran sungai. Untuk menyingkirkan material tersebut, bantuan alat berat telah diminta. Penanganan diperlukan agar sumbatan dapat dibersihkan dengan lebih efektif dan aliran air tidak terus tertahan. Keberadaan tumbuhan yang menumpuk di jalur air menjadi perhatian karena dapat mengurangi ruang aliran, khususnya ketika debit meningkat setelah hujan berkepanjangan.

Sumbatan itu dikhawatirkan menghambat aliran air dari kawasan sekitar. Jika tidak segera ditangani, air yang tertahan berpotensi memperparah genangan maupun banjir di lingkungan yang sudah terdampak. Permintaan bantuan alat berat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi hambatan tersebut, sementara kondisi di titik-titik genangan tetap perlu dipantau. Informasi mengenai ketinggian air dan lokasi terdampak membantu menggambarkan situasi di Kroya, termasuk kebutuhan penanganan pada saluran yang tersumbat. Warga di sekitar sungai dan area rendah diharapkan tetap terhadap perubahan kondisi, terutama selama hujan masih berlangsung atau aliran air belum kembali lancar.

Banjir juga dilaporkan terjadi di Desa Cilibang, Kecamatan Jeruklegi. Genangan air merendam lapangan desa dan kemudian melimpas hingga ke ruas Jalan Raya Jeruklegi–Wangon. Kondisi tersebut menjadi bagian dari laporan kejadian banjir di sejumlah wilayah Cilacap setelah hujan semalaman. Informasi mengenai lokasi dan keadaan jalan ini disampaikan berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dengan demikian, laporan di Cilibang mencatat dua area yang terdampak genangan, yaitu lapangan desa dan sebagian ruas jalan raya yang berada di kawasan Jeruklegi.

Air yang melimpas ke Jalan Raya Jeruklegi–Wangon tidak membuat ruas tersebut tertutup bagi pengguna jalan. Menurut laporan BPBD, jalan masih dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Keterangan ini menunjukkan bahwa akses pada jalan tersebut tetap tersedia bagi kedua jenis kendaraan, meskipun air dilaporkan melimpas ke ruas jalan. Informasi itu juga menjadi penjelasan mengenai kondisi lalu lintas yang disebutkan dalam laporan, tanpa menyatakan adanya pembatasan atau penutupan jalan.

Untuk Desa Cilibang, laporan yang tersedia menyebut genangan di lapangan desa serta limpasan air ke Jalan Raya Jeruklegi–Wangon. Status jalan tetap dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat, sebagaimana dicatat BPBD. Laporan ini terbatas pada lokasi genangan dan kondisi akses jalan tersebut. Tidak ada keterangan lain yang disertakan mengenai dampak lanjutan, langkah penanganan, ataupun keadaan longsor di wilayah ini. Dengan demikian, informasi utama dari Cilibang adalah adanya genangan di lapangan desa, air yang melimpas ke ruas jalan, dan akses yang masih dapat dilewati oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Baca juga: BSU 2026: Batas Penghasilan Berbeda Menurut Wilayah, Ini Syarat Penerimanya